Senin, 23 Desember 2013

Kolaborasi Maha Dahsyat Burgerkill Bersama Iwan Fals

Setelah pada pertengahan 2013 lalu berhasil menyabet penghargaan "Metal As F*ck" di ajang penghargaan bergengsi di Inggris, Metal Hammer "Golden Gods Awards 2013", dan melakukan tur "Spit The Venom" yang merupakan tur terpanjang yang pernah dilakukan selama karir Burgerkill, yaitu menyinggahi lebih dari 30 kota. Kali Burgerkill berhasil membuat sejarah baru dalam karir maupun skena musik bawah tanah Indonesia, yaitu berkolaborasi bersama musisi lengendaris Indonesia, Iwan Fals. Ebenz, sang gitaris beberapa waktu lalu dalam "Extreme Moshpit", salahsatu acara program mingguan di radio lokal, menyebutkan bahwa keinginan untuk berkolaborasi bersama musisi yang mempunyai nama asli Virgiawan Listanto tersebut sudah terlintas sejak tahun 2011 silam, namun bisa terlaksana akhir tahun ini. Kolaborasi maha dahsyat tersebut terjadi di gelaran "Rebel Meet Rebel", pada Sabtu malam (21/12), bertempat di Lapangan Brigif, Cimahi, dengan keadaan cuaca yang kurang baik, sejak sore hari sudah di guyur hujan. Jam menunjukan 18:30 WIB, ketika Burgerkill masih men-setting perlatan tempur supaya penampilan yang disuguhkan maksimal, namun para Begundal (sebutan penggemar Burgerkill) sudah mulai angkat kaki dari tempat berteduh untuk memadati area moshpit. Bahkan tidak sedikit pula terlihat yang beratribut OI (sebutan penggemar Iwan Fals) di area lapangan bercampur baur bersama para Begundal. Jam menunjukan 19.45 WIB, riuh penontonpun mulai terdengar ketika intro dari lagu "Resah Derah Jiwa" diputar. Entah kenapa jika mendengar intro tersebut, pasti selalu membuat bulu kuduk merinding. Pertanda 'kekacauan' pun dimulai Ketika lagu pertama dimainkan, "Under The Scars" disambut dengan aksi tidak terlalu liar oleh para begundal. Karena waktu itu keadaan lapangan yang becek dan berlumpur akibat hujan yang tak kunjung reda dari sore. Tapi tidak membuat semangat para penonton yang berada dilapangan berkurang walau dalam keadaan di guyur hujan. Tidak sedikit juga penonton yang memadati area tribun, walau jarak antara panggung dan tribun lumayan jauh, tapi bisa menikmati aksi spektakuler malam itu lewat layar dengan ukuran lumayan besar yang berada di samping kiri dan kanan panggung. Tanpa banyak basa-basi langsung digeber ke lagu selanjutnya, “Suffer To Death”. Dari lagu pertama sampai lagu kedua dimainkan, sound gitar Ebenz terdengar kurang keras, tidak sebanding dengan raungan suara sound gitar Agung, menyebabkan terdengar kurang maksimal. Tapi semua itu tertutupi dengan permainan dari Ebenz dan kawan-kawan yang apik dan rapih. Satu lagu dari album “Dua Sisi” yang sangat jarang sekali dibawakan, malam itu “Sakit Jiwa“ di utus menjadi salahsatu sajian spesial dari Burgerkill. Seketika sang vokalis, Vicky meneriakan sepenggal lirik lagu tersebut, “Jiwaku Terperangkap dalam Sekam dan tak pernah lepas”, sontak saja langsung diikuti oleh para Begundal dengan teriakan yang lantang. Lagu “Penjara Batin” dan “Shadow of Sorrow” juga mengisi setlist Burgerkill malam itu. Seusai puas membawakan sekitar 5 lagu ciptaan sendiri, Burgerkill sekarang memainkan lagu milik Iwan Fals yang berjudul “Air Mata Api”. Lagu tersebut dirubah total dengan karakter musik yang intens. Setelah lagu tersebut beres dimainkan, seketika lighting dipadamkan secara total, membuat para penonton yang menyaksikan terheran-heran. Setelah berhenti beberapa saat, tiba-tiba sebuah cahaya lampu menyorot kepada seseorang yang sedang mulai memainkan piano. Ternyata orang tersebut adalah Vicky Mono, tidak di sangka-sangka di balik kegaharan Vicky sebagai vokalis band beraliran keras, ternyata vicky juga pandai memainkan piano, membawakan “Puing” lagu milik Iwan Fals. Di lagu tersebut Vicky menyanyi tanpa teriakan atau scream yang biasa di lakukan di panggung-panggung, alias suara biasa. Ketika di tengah-tengah permain, sesosok musisi legenda hidup Indonesia yang di nanti-nanti muncul dari pintu layar tengah bagian belakang panggung, disambut oleh teriakan dan tepuk tangan yang meriah dari para Begundal dan OI yang memadati lapangan, dan kolaborasipun terjadi, lagu tersebut dimainkan sangat ciamik. Beres kolaborasi di lagu tersebut, Burgerkill pun ke belakang panggung untuk istirahat sejenak sekaligus persiapan nanti di penghujung acara. Kini giliran Iwan Fals beraksi menguasai panggung. Iwan Fals juga sempat membawakan lagu “Angkuh” milik Burgerkill dengan versinya sendiri. Setelah memainkan sekitar 8 lagu, Iwan Fals membawakan kembali lagu milik Burgerkill, “Tiga Titik Hitam” dengan petikan gitar akustik dan suaranya yang khas. Di tengah-tengah lagu terjadilah kembali momen yang sangat ditunggu-tunggu ketika para personil Burgerkill bermunculan dan mulai mengikuti alunan musik lagu tersebut. Jika diresapi, lagu tersebut akan terasa ada aura berbeda serta membuat merinding dari awal lagu dimainkan sampai dengan selesai, serasa ada sesosok Almarhum Ivan ‘Scumbag’ Firmasyah menyaksikan malam itu. Selanjutnya sekarang kolaborasi bersama full Band Iwan Fals, membawakan lagu dari Band Hardcore lawas, Puppen, “Atur Aku” versi Burgerkill. Di lagu ini, walaupun sudah tua, tapi salut buat Iwan Fals yang terlihat sangat semangat menyanyikan lagu tersebut dengan teriakan yang lantang serta energik mengikuti alunan musik Burgerkill. “Bongkar” dipilih sebagai lagu pamungkas, di ikuti kemeriahkan pesta kembang api tanpa henti sepanjang lagu dimainkan. Kolaborasi ini sangat impresif, di dukung dengan panggung dan tata cahaya yang megah. Sujud syukur dilakukan oleh Burgerkill dan Iwan Fals & Band bersama-sama di atas panggung, sekaligus menandakan acara “Rebel Meet Rebel” telah selesai. BERSATU DALAM PERBEDAAN Banyak pembelajaran dan hal positif yang bisa di ambil dari konser kolaborasi ini, salahsatunya walaupun Burgerkill dan Iwan Fals sangat berlintas aliran, tapi bisa menyatu menghasilkan karya yang maha dahsyat. Bisa dilihat juga dari segi penonton, dari acara dimulai sampai selesai, tidak ada sedikitpun keributan antara Begundal dan OI. Hal tersebut menunjukan rasa cinta damai walaupun berbeda, tapi kita sama-sama saling menghargai perbedaan, karena perbedaan itu indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar