Selasa, 05 November 2013

Panceg Dina Galur’, Buku Tentang Ujung Berung Rebels

Di tahun yang ke-24 sejak ranah musik ini terbentuk tahun 1989 hingga hari ini, banyak sekali yang sudah dibuat oleh Ujungberung Rebels dalam upaya membangun komunitas dan ranah musiknya. Telah melahirkan aktor-aktor yang berperan di dunia musik nasional bahkan internasional, dan memiliki satu pandangan baru mengenai pembangunan komunitas yang sistematis, terhitung, terukur, dan tertata. Buku Ujungberung Rebels, ‘Panceg Dina Galur’ adalah salah satu upaya membangun narasi sejarah serta catatan-catatan harian terkini. Buku ini juga dibuat dalam upaya melengkapi sistem literasi dan merupakan manifestasi dari kampanye dokumentasi yang dilakukan oleh komunitas Ujungberung Rebels. Kimung, sang penulis, mengalami semua fase kehidupan Ujungberung Rebels, dari awal hingga hari ini. Ia aktif terlibat di dalamnya, melahirkan karya-karya musik bersama Disinherit, Sonic Torment, Burgerkill, Nicfit, The Clown, Karinding Attack, dan Paperback. Kimung juga menulis tiga buku monumental babon sejarah Ujungberung Rebels yang juga berkorelasi kuat dengan Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur : Myself Scumbag Beyond Life and Death (2007), Memoar Melawan Lupa (2011), dan Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels (2011). Sebelumnya, Kimung merilis buku fenomenal Tiga Angka Enam (2005), kisah-kisah ilustrasi lirik-lirik lagu karya Addy Gembel untuk bandnya, Forgotten, salah satu band pionir Ujungberung Rebels. Buku ini adalah buku ke empat mengenai Ujungberung Rebels. Isinya adalah kisah sejarah sejak awal komunitas ini mulai terbentuk di tahun 1989 hingga kisah jurnal harian yang ditulis Kimung sejak tahun 2008—ketika buku ini mulai ditulis—hingga 28 Februari 2013, ketika ia memutuskan menyudahi kepenulisan buku ini. ‘Panceg Dina Galur’ tebalnya mencapai 869 halaman. Ia dibantu oleh para editor Yusandi Ojel, Yasmin Kartikasari, dan Andrenalin Katarsis; bekerja sama dengan kru White Paper Class dan Creature of Earth dalam penggarapan desain tata letak buku dan sampul depan, serta kembali mempercayakan desain sampul jaket/bokset kepada True Megabenz. Kimung juga menyertakan aksara Sunda kuna yang ditulis oleh Sinta Ridwan dan Arief Budiman dalam 6 babad dan 26 bab buku ini, serta satu epilog yang ditulis oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto, berjudul “Produk Budaya dari Pinggiran.” Dalam proses riset, Kimung banyak sekali difasilitasi Common Room Network Foundation, sementara dalam proses produksi, ia mendapat dukungan penuh dari PT Djarum dan Atap Promotion. Membaca buku ini kita akan disuguhi kisah 24 tahun sejarah Ujungberung Rebels, salah satu komunitas metal tertua dan terkuat di Indonesia; komunitas yang berasal dari kota pinggiran di ujung Kota Bandung paling Timur, Ujungberung, satu kawasan peralihan antara agaris dan industri, yang justru dalam segala keterbatasannya mampu memberikan iklim yang luar biasa bagi berkembangnya sebuah ranah musik yang patut diperhitungkan bahkan di dunia metal global. Akan terkuak pula bagaimana kerja para aktor dan pola jejaring ranah musik metal yang terbentuk di Ujungberung Bandung, Indonesia, Asia, bahkan dunia melalui chaos pusaran metal Ujungberung Rebels.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar