Minggu, 04 Februari 2018

Promo Album Review: Bangkitnya Kembali Karya dari Nalar Neraka

Setelah absen beberapa tahun dalam membuat sebuah karya, Forgotten kembali dan menggebrak ranah bawah tanah. terlibat di penyalahgunaan drugs, sex before married, atau dikejar beberapa orang untuk digebukin sampai menuju mati.” Saya: (tertawa) “Tapi, banyak juga sih, Pak, band-band yang hidupnya baik-baik aja.” Addy Gembel: “Kalau gitu, kenapa negara ini gak maju-maju, ya? Atau mungkin masalah negara ini adalah mereka-mereka?” (tertawa) Saya: (kembali tertawa) “Mereka pun mungkin bilang hal yang sama ke Forgotten. Mereka mungkin bilang begini ‘ini band kok menggerutu aja terus, gak ada bersyukur-bersyukurnya.’” Addy Gembel: terbahak-bahak dan mengumpat saya. Tapi, memang benar. Kapan kita pernah mendengar Forgotten mengumandangkan kalimat-kalimat yang nyaman didengar dalam pola musik yang mudah dicerna? Seolah-olah, Forgotten membentuk standarisasi dalam pengolahan konsep musik mereka sendiri, di mana isi dari standarisasi itu adalah dilarang lupa untuk kritis, dilarang berpikir positif, dan buatlah musik yang mewakili amarah juga rasa muak semua orang. Secara garis besar, itu lah hal yang saya tangkap dari album-album Forgotten sejak dirilis di akhir tahun ‘90an. Dimulai dari Future Syndrome (1997/Palapa Records), Obsesi Mati (2000/Extreme Soul Productions), Tiga Angka Enam (2003 & 2008/Rottrevore Records), hingga Laras Perlaya (2011/Rock Records). Tahun ini, Forgotten kembali masuk dapur rekaman untuk menggarap album terbaru bertajuk Kaliyuga. Addy Gembel sempat memberi CD promo untuk saya review. Hal pertama yang saya lakukan adalah bersiap-siap untuk terjun bebas ke utopia neraka. “Tumbal Post Kolonial”, “Berhala Kelas Kuasa”, dan “Terlaknat” adalah judul dari tiga lagu yang ada dalam promo album Forgotten. Album ini dirilis oleh Sulung Extreme Musick Records (SEM Records), yang berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Saya sempat menanyakan tentang hal ini pada Addy Gembel, “kenapa harus jauh-jauh ke pulau seberang untuk merilis album?”. Addy Gembel menjawab, “mereka mau, antusias, bermodal besar, ya kenapa tidak?”. Jawaban yang realistis, sangat Addy Gembel, dan kasus ditutup. Satu persatu, lagu dalam promo album Kaliyuga saya dengarkan. Saya terkejut ketika menyimak “Tumbal Post Kolonial” sebagai lagu di track pertama. Jujur, saya tidak mengenali Forgotten sampai setengah menit. Ada string section (Addy Gembel mewanti-wanti saya untuk menyadari bahwa ini bukan electune, hahaha) dengan suara serupa orgel yang mengiringi ketukan drum, gitar, dan bass. Rasa-rasanya seperti mendengar intro dari band symphonic black metal yang biasanya disambut dengan choir. Tetapi, bagian choir itu digilas habis oleh teriakan Addy Gembel, oleh tempo yang mendadak cepat dan menderu-deru, oleh agresivitas tingkat dewa di tiap instrumen, sesuai dengan Forgotten yang saya kenal. String section itu terdengar sampai akhir lagu dan muncul di beberapa bagian. Sejak itu, saya sadar bahwa saya harus mulai membiasakan diri dengan hadirnya unsur itu dalam lagu Forgotten. "Tumbal Post Kolonial" mengkritik bahkan menghujat keras keadaan politik, ekonomi, hukum, dan sosial yang masih acak-acakan di negeri ini. Frontal dan vulgar masih mewarnai setiap kata yang diramu, bait demi bait. Masalah lirik, Forgotten masih keukeuh di pakemnya. Biarlah. Memang sudah seharusnya Forgotten adalah band yang grumpy. Jangan pernah berubah menjadi band yang liriknya aman-aman saja, apalagi menjadi melankolis. Jangan pernah. Jangan! Lagu ini memang menabrak ekspektasi saya, tapi bukan ke arah yang mengecewakan. Mereka tidak kehilangan karakternya, sama sekali tidak. “Tumbal Post Kolonial” seolah menyeret saya untuk masuk ke satu ruang yang tidak familiar, tempat di mana Forgotten bermeditasi dan bersemayam selama enam tahun dari rilisan terakhirnya. Di tempat ini lah, Forgotten resmi mengucapkan selamat datang di neraka baru. Lanjut pada “Berhala Kelas Kuasa”. Sejak lagu ini dimulai, aura Forgotten sudah kental terasa. Aah.. ternyata di ruang baru Forgotten masih disisakan pojok nostalgia. Betotan bass dan riff gitar yang intens, drum yang dihajar habis-habisan, saling sambut dengan parau suara Addy Gembel, lagu ini memang sangat Forgotten. Masih bersuara miring tentang keadaan yang terinspirasi dari carut marut negara, Forgotten cenderung lebih spesifik untuk lirik dalam "Berhala Kelas Kuasa". Di sini, kecaman Addy Gembel tertuju langsung pada pihak-pihak yang "menuhankan" dirinya, berorientasi pada kekayaan, dan tidak ragu menginjak banyak kepala demi dompet yang semakin tebal. Tapi, tidak hanya mengepalkan tangan pada sang penguasa, ada sisi di mana Forgotten sedang menampar para pekerja yang hanya manut dan mengiyakan setiap mandat. Seperti ada pesan terselubung untuk membangkitkan nalar seorang pemberontak agar bergerak, maju, dan melawan. Kembali pada musiknya, mereka kembali menepuk bahu untuk kembali ke pola baru Forgotten ketika string section hadir lagi di tengah lagu. Bukan ini yang membuat saya terbelalak untuk kedua kali, karena nyatanya saya memang sudah terbiasa, tetapi bagian melodi gitar (yang jarang saya temukan dalam Forgotten) yang dimainkan setelah lagu diputar sekitar dua setengah menit. Meski hanya beberapa detik, bagian ini memberi warna lain untuk Forgotten. Bagian ini mempersilakan kita bermain-main dengan nuansa, menari-nari dalam hutan belantara yang gelap gulita, dan lalu berlari ketakutan karena akan dimangsa. Selanjutnya, lagu terakhir dalam promo album Kaliyuga, “Terlaknat”. Lagu ini dibuka dengan betotan solo bass yang kuat dan lalu dihantam dengan instrumen lain yang sudah gatal menunggu giliran. Pola di lagu ini hampir sama dengan “Berhala Kelas Kuasa”, di mana Forgotten lawas terdengar sampai ¾ lagu, dan masuk ke dunia baru mereka di menit setelahnya. Tapi, porsi melodi gitar lebih panjang di sini. Lagu ini dinamis, dengan pattern yang menghipnotis siapapun untuk menganggukan kepalanya. Tema yang diangkat di lagu ini paling berbeda dibandingkan dua lagu sebelumnya. Jika di dua lagu sebelumnya kebencian tertuju pada orang lain, di lagu ini liriknya cenderung depresif, self-destructive, dengan rasa benci yang ditujukan pada diri sendiri. Kekecewaan dan putus asa sangat kentara di tiap katanya. Seolah-olah, ini adalah lirik yang diciptakan ketika terlalu banyak kesalahan yang dilakukan, keadaan sekitar yang memeras batin, tenaga, maupun logika, dan emosi itu tumpah ruah menjelma menjadi rentetan diksi yang mencaci maki diri sendiri. Tadinya, saya mencanangkan lagu ini sebagai favorit saya. Tetapi, ketika saya mendengar tiga materi dalam Kaliyuga belasan kali, saya urung. Predikat favorit itu saling rebut. Saya tidak bisa menentukan yang mana yang bisa saya sebut sebagai yang terbaik, karena pada akhirnya saya harus mengakui bahwa tiga lagu ini memberi warna yang berbeda dalam satu garis yang sama. Saya menaruh harapan yang sangat tinggi untuk Kaliyuga. Jika tiga materi ini adalah perwakilan dari seluruh materi yang sedang digarap Forgotten, maka sudah seharusnya album ini masuk ke jajaran album yang harus diwaspadai. Semoga, Forgotten tidak akan menemukan titik akhir dan kehabisan ide untuk meluapkan cercaan yang sebenarnya mewakili banyak suara, tetapi orang lain terlalu pengecut untuk berteriak tentang itu. Tanpa saya sadari, review ini diunggah bersamaan dengan ulang tahun Addy Gembel. Maka, selamat ulang tahun untuk tokoh yang selalu saya kagumi. Sehat selalu, tetap kaya akan ide, dan jangan berhenti menjadi misionaris dari neraka!

Sabtu, 02 Desember 2017

Momen Burgerkill Guncang Eropa dalam Film Dokumenter

Film Burgerkill-Blasting Europe/SATIRA YUDATAMA/PR GITARIS Burgerkill True Megabenz "Ebenz" (kiri) menyampaikan penjelasan perihal materi film "Burgerkill-Blasting Europe" saat konferensi pers "DVD Release & Movie Screening" di CGV Blitz Paskal 23, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Rabu 29 November 2017. Film ini memuat kiprah personel Burgerkill pada ajang "Wacken Open Air 2015" (Jerman) dan "Bloodstock Open Air" (Inggris).* Wujudkan mimpi Personel Burgerkill True Megabenz "Ebenz" (gitar), Agung Hellfrog (gitar), Ramdan (bas), Vicky Mono (vokal) menggarap langsung sinematografi. Mereka merangkai arsip video dari Refan Ramadhan, Bow Medialab, dan tim "Wacken Open Air". Dalam film, drummer Putra belum bergabung. Posisinya masih terisi Abah Andris yang kini hengkang sebagai drummer Burgerkill. Ketika konferensi pers, Ebenz menyebutkan, perilisan film merupakan bagian dari deretan mimpi personel sejak lama. Proses penggarapan film relatif berjalan lancar, walau sempat tertunda karena perlu menunggu konfirmasi pihak terkait. "Penggunaan video milik panitia ("Wacken Open Air") bukan perkara sembarangan karena memerlukan biaya lumayan besar. Sementara kami tak punya uang untuk mendapatkan video itu," ucap Ebenz. Terdapat hal yang melebihi dugaan, Ebenz mengatakan, panitia memberikan video, termasuk izin pemanfaatannya dengan kesepakatan tertentu. Kualitas paket video plus muatan suara pemberian panitia begitu mumpuni. Ini cerminan dari penggarapan ajang dengan mengedepankan profesionalisme. Hal itu sangat menunjang untuk penyusunan film, tanpa perlu ada proses pengolahan tambahan. Dia berharap, tayangan film dapat mendorong motivasi sesama pemusik underground agar terus mengembangkan karier, berani bersaing di tingkat internasional. Andaikan punya kesempatan, Ebenz mewakili rekan bandnya ingin menyelenggarakan roadshow pemutaran film ke sejumlah kota, sekalian mempererat silaturahmi dengan unit scene underground. "Untuk menjadi band keren tak mesti mengandalkan jalur arus utama. Pemusik underground juga bisa mengepakkan sayap sejauh mungkin, asal memiliki komitmen kuat," ujar Ebenz. Hasil kerja keras Mantan drummer Burgerkill Abah Andris turut hadir saat konferensi pers. Ia menyampaikan pengalamannya tampil di Eropa. Dia mengaku sangat bangga sempat menjadi bagian Burgerkill, menunjukkan karya sampai ke luar negeri. "Capaian itu merupakan hasil dari ketekunan dengan tahapan proses panjang, bukan terjadi secara tiba-tiba," ucap dia. Sementara itu, Agung tampak terharu seusai pemutaran film. Terngiang kenangan manis sekitar dua tahun lalu. Agung bangga, dapat mempersembahkan film kepada publik.***

Rabu, 13 September 2017

Burgerkill Perkenalkan Putra Drummer Terbaru Burgerkill 2017 Pengganti Abah Andris Yang Hengkang

Drummer Baru Burgerkill 2017 - Burgerkill merupakan sebuah band Cadas beraliran Metalcore yang berasal dari kota Bandung, Namun pada akhir bulan Mei 2016 yang lalu kabar duka menyelimuti Burgerkill soalnya sang penggebuk drum Abah Andris resmi keluar dari tubuh Burgerkill Nah lalu siapa pengganti Abah Andris??? Ini jawaban nya, Pengganti Abah Andris telah terlihat pada saat Burgerkill tampil di Event Nortblash 2016 di Medan, nah di event itu lah awal debut pertama Burgerkill tidak di barengi lagi oleh sang drummer Abah Andris, namun pada saat itu Abah Andris gantikan oleh drummer dari band Inwise dia bernama Gema Pada acara Event Nortblast 2016 di Medan Burgerkill berpersonil masih sama formasi seperti dulu yaitu Vokalis Vicky, dua gitaris Agung dan Eben, serta pemain bas Ramdan lalu di posisi drummer tadi sudah di sebutkan yakni Gema Manggala dari Inwise. Gema bermain bersama Burgerkill pada saat itu berstatus sebagai Drummer sementara atau bisa di sebut juga pembantu Nah setelah Event Northblast 2016 berakhir lalu Vicky Mono dan Personil lainya menggelar sebuah Audisi Pencarian untuk Drummer terbaru pengganti Abah Andris untuk di bawa ke acara berikut nya Sonic Fair 2016 Karna waktu yang mepet selang satu hari setelah Burgerkill tampil di Northblast 2016 dan besok nya harus di lanjut lagi segera tampil di festival Sonic Fair 2016, Burgerkill memboyong Putra Sebagai Pemukul drum Burgerkill untuk tampil di Sonic Fair 2016 yang lalu Ngomong Ngomong tentang Putra, Putra merupakan mantan drummer dari band Killing Me Inside, kebetulan pada saat itu juga Putra juga sama harus memutuskan keluar dari band lama nya Killing Me Inside, setelah keluar Putra langsung di panggil oleh Burgerkill untuk Menggantikan Abah Andris yang keluar dari kursi Drummer Burgerkill Sampai sekarang pada tahun 2017 ini Drummer Burgerkill masih di isi oleh Putra dan sepertinya Putra akan di angkat menjadi Drummer Resmi Burgerkill untuk mengisi kekosongan anggotanya pada posisi Drum Perjuangan Putra untuk menggantikan Abah Andris di posisi penggebuk Drum Burgerkill perkara yang mudah karna saat itu Putra harus berjuang dalam audisi bersama kontestan kontestan lainnya yakni Putra, Gema, serta pemain drum Noxa juga Paper Gangster yakni Alvin Eka Putra. Dan dari ke 4 kontestan itu yang lolos tahap seleksi adalah Putra Jadi kesimpulan akhir dari artikel ini adalah?? Sosok pengganti Abah Andris Drummer Burgerkill adalah Putra mantan dari Drummer Killing Me Inside, Selamat yah Buat mas Putra hhe, oh iya hampir lupa setelah abah andris keluar dari Burgerkill kini abah andris bergabung bersama band cadas lainnya yaitu Nectura :) bye bye

Sabtu, 23 Juli 2016

HELLSHOW 2015: KEEP IT IN A FAMILY \M/

HELLSHOW 2015:KEEP IT A FAMILY \m/ Adalah november 2015,ketika eben menelpon saya dan mengajak untuk bermain bersama burgerkill di sebuah konser reunian 2p tahun burgerkill di hellshow 2015.Yang pertama kali terlintas oleh saya seriuskan ajakan ini ? Namun saya tahu eben sangat serius.Seingat saya,sejak eben merilis dokumenter 17 tahun perjalanan burgerkill,we will bleed,The movie,januari 2012,cita-cita untuk bernostalgia reunian sudah eben gulirkan.Ia berkisah,burgerkill saat itu sudah berjalan jauh dengan begitu banyak pencapaian yang spektakuler yang tercapai.Namun ia merasa ada banyak mata rantai yang kabur dalam perjalanan Burgerkill, baik dalam orientasi yang harus dituju, mau pun di rel perjalanan grup ini. Ini terjadi baik di dalam internal keluarga besar Burgerkill mau pun di ranah pecinta musik dan pergerakan kreatif Burgerkill. Di ranah yang lebih luas ia melihat bagaimana anak-anak muda tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dilakukan Burgerkill. Dan pemahaman ideal dalam pemikiran Eben, hanya bisa diberikan melalui sebuah karya atau pertunjukan yang memuat sisi kesejarahan. Saat itulah wacana reunian mulai digulirkan. Lebih jauh Eben sempat mengutarakan keinginannya untuk membuat sebuah album back to roots di mana Burgerkill memainkan musik-musik yang selama ini membentuk Burgerkill baik secara musikalitas maupun secara ideologi. Pertunjukan lalu diteruskan dengan masuknya Ugunk pada gitar dan Andris pada bass di dua lagu dari album Berkarat, dan dua lagu selanjutnya masih dri album Berkarat, Agung masuk menggantikan Ugunk. Usai 10 lagu dua album Dua Sisi dan Berkarat, mulailah Andris pindah ke peranti drum dan bass diisi Ramdhan—personil Burgerkill yang kini dikenal luas oleh ranah musik metal Indonesia. Burgerkill memainkan lagu-lagu dari album Beyond Coma And Despair, Venomous, serta lagu cover “Air Mata Api” dari Iwan Fals dan konser ditutup dengan “Undefeated”, singel terakhir Burgerkill yang dirilis pada Hellshow 2014. Burgerkill juga mengundang Yuli Jasad, sosok yang di tahun 1990an sangat banyak membantu Burgerkill. Yuli Jasad bermain dobel bas bersama Ramdhan di lagu “Atur Aku”. Adalah sebuah kebanggaan bagi saya untuk kembali tampil bersama Burgerkill. Sejak terakhir tampil bersama Burgerkill tahun 2000—15 tahun yang lalu—saya sama sekali tidak pernah membayangkan bisa kembali berada di sana bersama Eben dan Toto. Siang dan malam saya mempersiapkan diri mempelajari lagu-lagu Dua Sisi. Saya meminjam bass milik Agung dan memainkan lagu-lagu yang akan saya mainkan nanti, setiap hari saat bangun tidur dan sebelum tidur sesempat saya. Semalam menjelang Hellshow 2015 saya merasakan gugup yang semakin hebat. Saya tak bisa tidur dan terus berlatih sendiri sepanjang malam.

Kamis, 18 Februari 2016

Buku ‘Rock Memberontak’ tentang Robi 'Navicula' dan Che 'Cupumanik' Siap Diterbitkan

Robi, vokalis dan gitaris Navicula bersama Che, vokalis Cupumanik. YouTube/Eko Prabowo Sebuah buku baru berjudul Rock Memberontak siap diterbitkan pada 28 November mendatang. Buku dengan ketebalan 120 halaman dan dicetak pada kertas berukuran A5 ini akan mengambil fokus pada kisah proses kreatif Che, vokalis Cupumanik dan Robi, vokalis sekaligus gitaris Navicula dalam menciptakan lagu untuk band masing-masing. Sidebar Gitaris Navicula Akan Gelar Tur Mini di Prancis » “Rock Memberontak akan mengupas cara mereka berdua [Che dan Robi] menulis lagu. Bahasan yang diangkat antara lain adalah dari mana ide mereka berasal, apa saja sumber referensi tema dan bunyi mereka, bagaimana proses produksi lagi, hingga penjelasan khusus mengenai beberapa lagu terbesar mereka seperti ‘Grunge Harga Mati’ dan ‘Busur Hujan’,” demikian menurut siaran pers yang diterima oleh Roling Stone. Buku tersebut ditulis oleh Eko Prabowo atau yang lebih akrab disapa Wustuk. Sebelumnya ia pernah menulis buku Dua Senja Pohon Tua dan Saya Ada di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal. Eko tak sendirian, ia turut dibantu oleh beberapa nama seperti; Rudi Adriyanto Kadarman sebagai desainer, David Rorimpandey sebagai ilustrator, Gede Manggala (selaku pihak Edraflo), Raditya Adi Nugraha sebagai videografer, Adi Tamtomo sebagai fotografer, serta Denny Andriyana sebagai pemegang kendali media sosial. Sampul buku 'Rock Memberontak'. (Eko Prabowo)

Kamis, 27 Agustus 2015

Suasana Intim Perilisan “Eleven Heroes” Album Terbaru Dari Beside

Album persembahan Beside untuk korban tragedi AACC Akhirnya, setelah delapan tahun absen membuat album, Beside unit melodic metalcore asal Bandung ini mengeluarakan album penuh kedua mereka mendekati penghujung tahun ini. Untuk merayakannya band beranggotakan Beby (drum), Qq Bokirk (gitar), Izal (bas), Roy (gitar), dan Artgog (vokal) ini mengadakan sebuah acara peluncuran album yang nggak biasa pada Selasa (18/08/15) lalu di Queen Rose Lounge, jalan Pasirkalilki, Bandung. Nah, kenapa disebut nggak biasa? Karena kalau pada umumnya dalam pesta peluncuran album selalu di barengi dengan penampilan langsung si pemilik album, kali ini justru mereka meghilangkan acara tersebut. Tanpa mengurangi kemeriahan acara, jusrtu malah keintiman yang terjalin. Setelah sesi dengar album yang di beri judul Eleven Heroes ini, semua yang hadir pada malam itu berkesempatan menyimak diskusi singkat antara Kimung (Ujung Berung Rebels), Ebenz (Burgerkill), dan Satriyo (Pure Saturday). Yang lebih menyenangkan lagi, semua yang hadir pada malam tersebut bisa bertanya dan berdiskusi secara langsung dengan para personil Beside dengan suasana yang sangat santai ala-ala tongkrongan. “Release party emang sebaiknya seperti ini. Akrab, dan kita bisa ngobrol banyak tentang karya si band itu sendiri,” ujar Ebenz. Bicara tentang album Eleven Heroes ini sendiri juga sangat menarik, karena album ini merupakan persembahan bagi sebelas korban meninggal pada Tragedi AACC, Februari 2008 lalu. Dari segi musik baik aransemen dan lirik, album ini menawarkan sesuatu yang baru dan segar dari Beside. Album yang di garap sejak 2012 lalu ini menyuguhkan sepuluh lagu bertempo tinggi dan sebuah track instrumental yang cukup melodius. Untuk lirik sendiri, Beside cukup apik bermain dengan konsep storytelling, yang membuat album ini terasa ringan dan anthemic tanpa harus mengurangi kualitas album itu sendiri. Sangat berbeda dengan album perdana mereka pada 2007 silam, Againts Ourself. “Kami sengaja menggunakan konsep storytelling, agar lebih memudahkan kami dalam bercerita mengenai apa saja yang yang ingin kami ceritkan dan hal-hal yang sudah kami lalui selama pengerjaan album ini atau selama perjalan kami bermain musik,” tambah Bebi dalam sesi tanya jawab. Eleven Heroes ini dirilis oleh Sulung Extreme Musick (SEM Records) sebuah label rekaman asal Samarinda. Sementara untuk produksi album mereka kali ini dibantu oleh Zoteng (Forgotten) sebagai sound engineer. Sebelumnya, sejak Juni 2015 mereka telah melepas dua single terlebih dahulu yang bejudul “Under Hollow” dan “ Death Of War” yang merupakan bagian dari album Eleven Heroes ini. Mengakhiri pesta perilisan album Eleven Heroes, Beside memberikan kenang-kenangan kepada perwakilan dari keluarga korban tragedi AACC. Seluruh anggota band dan juga yang hadir malam itu menyempatkan untuk berdoa bersama sejenak untuk sebelas korban meninggal dunia dalam peristiwa yang terjadi enam tahun silam tersebut. Bebi juga menambahkan, “ Kesebelas orang yang sudah pergi tersebut tetap akan menjadi bagian dari sejarah Beside.” Suasana penuh suka cita pun begitu terasa malam tersebut terlebih saat Ibu dari salah satu korban memberikan ucapan selamat dan menyemangati Beside untuk tetap maju dan terus berkarya. Selamat buat Beside untuk album barunya, buat yang penasaran dengan album mereka bih P! kasih denger salah satunya. Sikat!

Kamis, 30 Juli 2015

Bandung Blasting 2015: Indonesia Metal Global Attack

By: Kimun666 Cita-cita untuk berbaur di dunia metal internasional sesungguhnya sudah dipupuk oleh para musisi metal kita sejak awal terbangunnya ranah musik ini di awal 1990an. Namun demikian, perbincangan yang serius mengenai semakin mendesaknya kebutuhan metal Indonesia untuk go internasional mulai mengemuka tahun 2008 pasca tragedi AACC di Bandung. Saat itu band-band metal besar Bandung seperti Burgerkill, Forgottten, Jasad, Beside, dan lain-lain di-blacklist oleh pihak aparat karena berpotensi mengundang keramaian (5000 sampai 15.000 audiens sekali Burgerkill manggung) dan meresahkan aparat. Band-band ini susah sekali manggung di Indonesia sehingga muncul kesadaran bahwa negara ini sudah semakin kecil untuk mereka dan karenanya mereka harus segera mencari ranah permainan yang lebih luas : dunia. Hal selanjutnya adalah regenerasi yang sangat cepat di ranah musik metal. Puluhan band metal baru lahir setiap tahunnya, ratusan demo dan karya musik dirilis seiring dengan kelahiran band-band baru ini. Sementara itu ranah musik metal, masyarakat secara umum, aparat pemerintah, dan juga penggiat industri musik masih saja gagal mewadahi potensi yang luar biasa ini. Ketiadaan panggung untuk band-band baru ini menampilkan karya membuat kondisi semakin tidak kondusif dan daya cipta tak tersalurkan. Sementara, panggung-panggung pergelaran musik masih saja dikuasai nama-nama lama: Burgerkill, Jasad, Forgotten, dan lain-lain. Kita bisa melihat headliner dalam festival-festival musik keras seperti Bandung Berisik, Hellprint, Hammersonic, Rock in Solo, Rock in Celebes, Soundrenaline, dan masih banyak festival lain, bandnya ya itu lagi, itu lagi. Jika di tahun depan festival-festival ini masih saja didominasi nama-nama band lama tersebut maka jelas itu menunjukkan fenomena industri musik dan dinamika komunitas musik yang tidak sehat. Maka band-band headliners ini memang harus mengalah. Mereka harus menyerahkan tahta mereka kepada band-band yang lebih muda agar kondisi musik metal tetap segar. Mereka harus segera mencari ranah permainan yang lebih luas yakni dunia. Pergaulan dengan ranah musik dunia juga setidaknya mengkondisikan musik metal Indonesia untuk go internasional. Sejak 2007, Indonesia dibanjiri kedatangan band-band metal internasional di mana band-band lokal juga turut tampil—dikondisikan oleh event organizer hanya sebagai pembuka band-band tersebut. Padahal secara kualitas tentu saja berani diadu. Namun yang bicara saat itu tentu bukan masalah kualitas namun masalah mentalitas. Kecenderungan pendewaan band produk asing harus didobrak, salah satunya adalah band Indonesia harus tampil sejajar dengan band asing. Sebetulnya, jika saja penggiat event organizer ini bisa melihat di akar rumput bahwa hari ini audiens Indonesia lebih bangga menjadi fans band lokal seperti Burgerkill atau Jasad daripada band-band asing yang tidak mereka kenal, maka mereka tentu akan menempatkan band-band lokal ini sejajar dengan band-band asing. Visi ini benar saja dibuktikan dengan prestasi internasional Burgerkill yang meraih penghargaan Metal As Fuck 2013 dari Golden Gods Metal Hammer mengalahkan band-band dunia lainnya. Penghargaan tngkat dunia juga mampir kepada band-band Bandung, Godless Symptons dan Nemesis, walau hanya sampai di tahap nominator. Kiprah promotor Jason Hutagalung, orang Indonesia yang tinggal di Australia, serta gelombang kedatangan para intelektual asing ke Indonesia sejak 2008 hingga 2012 memperkuat kekuatan lokalitas ini. John Resborn, Lena Resborn, Philip Heilmeyer, Jack Frost, Jorg Bruggemann, dan tentu saja Dom Lawson dari Metal Hammer Magazine, mengatakan bahwa kekuatan sebenarnya dari metal Indonesia adalah mereka sanggup membangun ranah musik ini seperempat abad terakhir dengan konten lokal yang kuat. Dom bahkan menyatakan kekagumannya kepada Bandung Berisik, event tahunan metal yang sangat kuat mengangkat konten lokal dan tetap bertahan bahkan menjadi legenda pergelaran musik metal Indonesia. Jikalaupun kemudian ada konten band asing di dalam pergelarannya maka pasti berhubungan erat dengan sejarah perkembangan musik metal terutama di Ujungberung Rebels, Bandung, dan Indonesia. John Resborn dan Dom Lawson bahkan kemudian menjadi jembatan band-band Indonesia—terutama Bandung—untuk tampil di panggung musik metal Eropa. Melalui jejaring John dan Dom, dua band utama Indonesia, Burgerkill dan Jasad akhinrya tampil di tiga festival utama dunia tahun ini: Obscene Extreme Metal Fest di Cekoslovakia, Wacken Festival di Jerman, dan Bloodstock Festival di Inggris. Sepanjang tahun ini ranah musik metal Bandung—terutama Ujungberung Rebels bahu membahu mempersiapkan hal ini. Mereka membuat satu program terobosan bernama Bandung Blasting 2015. Untuk selanjutnya program ini akan dipertahankan sehingga setiap tahun bisa memberangkatkan band-band metal Bandung untuk bergulat di percaturan dunia internasional. Sebelumnya, partisipasi Kimung dan Felencia Hutabarat di podium Aalto University School of Economic and Business, Helsinki, Finlandia, sebagai pembicara di Modern Heavy Metal Conference 2015 bisa dikatakan memperkuat wacana semakin butuhnya ranah musik metal Indonesia menggebrak dunia internasional. Melalui konferensi ini ditegaskan bahwa tak hanya infrastruktur industri musik yang harus dibangun, namun juga infrastruktur pemikiran, ideologi, termasuk jejaring intelektual tingkat universitas harus sudah mulai dibimbing agar terbuka kepada kemajuan ranah musik metal Indonesia dan posisinya di dunia, sehingga secara strategis bisa menempatkan diri sebaik-baiknya di tengah percaturan ranah musik metal dunia. Bandung Blasting 2015 pada gilirannya bisa menjembatani pembangunan intelektualitas serta infrastrutur ranah musik metal tersebut. Kompleksnya program yang melibatkan kerja sama berbagai kelompok masyarakat, aparat pemerintah, dan industri musik ini membuat wacana mengenainya menjadi luas dan strategis untuk diperbincangkan. And here we go now! Bandung Blasting 2015 memberangkatkan dua band metal utama Indonesia, Jasad dan Burgerkill. Dalam rngkaian program ini Jasad akan tampil di Oscene Extreme Metal Fest di Cekoslovakia tanggal 7 Juli 2015 dan kemudian di Bloodstock Festival tanggal 8 Agustus 2015 di Inggris. Sementara itu Burgerkill akan tampil di Wacken Festival, tanggal 31 Juli 2015, di Jerman, dan akan bertemu Jasad di Bloodstock Festival, tanggal 8 Agustus 2015 di Inggris. Didukung penuh oleh The Metal Rebel yang dimotori John Resborn dari Swedia, rangkaian program Indonesia global metal ini tentu akan membukakan banyak pintu Indonesia bagi dunia dan mebangun jalan bagi band-band metal Indonesia untuk bertempur di ranah yang sama dengan band-band dunia ainnya. Ini tentu harus disambut dengan optimistik. Bukan hanya oleh ranah musik metal namun juga oleh aparat pemerintah dan juga kelompok masyarakat. Banyak kini yang harus dibangun. Mungkin, sarana pergelaran musik metal, studio latihan yang bagus, studio rekaman, bantuan bagi sekolah-sekolah musik, dukungan kepada riset-riset mengenai musik metal, pembangunan jejaring akademik tingkat universitas, bantuan pada usaha kecil menengah yang selama ini secara mandiri digarap dan setelah seperempat abad ini menciptakan Kota Bandung sebagai kota kreatif, banyak hal. Namun satu hal yang pertama dan utama sebelum itu semua : keterbukaan pada potensi anak muda ini, bahwa mereka ini ada, besar, dan potensial. Semoga sukses selalu untuk kita semua! #BandungBlasting2015