Rabu, 22 Juli 2026

Balik Ke Setelan Pabrik : Bring Me The Horizon Rilis Dehumanized ,Lagu Dethcore Pertama Setelah 20 Tahun

Dehumanized, lagu terbaru dari Bring Me The Horizon kayaknya bikin banyak fans-nya happy nih. Single yang masuk ke album “Count Your Blessings | Repented” ini jadi lagu deathcore terbaru mereka sejak album “Count Your Blessings” dirilis tahun 2006. Album “Count Your Blessings | Repented” sendiri tuh album yang direproduksi dan bakal dirilis utuh 10 Juli 2026 nanti. Gimana gimana? Suka sama lagunya gak nih?

SERINGAI ‘IV: Anastasis’ ALBUM REVIEW High Octane Production. April 15th, 2026 Heavy metal

Ikatan antara pendengar dan band/musisi itu, kalau dipikir-pikir, mirip banget sama relasi interpersonal antar manusia. Tapi seperti hubungan manusia pada umumnya, gak semua koneksi antara pendengar dan musisi mampu bertahan di frekuensi yang sama selamanya. Kadang selera pendengarnya yang jalan lebih dulu, sementara bandnya masih nyaman dan anteng di titik yang sama, padahal referensi dan preferensi si pendengar udah melebar ke mana-mana. Kadang juga terjadi sebaliknya, band-nya berevolusi ke arah yang justru ditolak mentah-mentah para fans-nya sendiri, efek si pendengar mungkin masih keras kepala dan terpaku pada formula lama, sementara bandnya sudah sibuk menyongsong horison yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya. Ada juga momen baik band/musisi dan pendengar sama-sama berubah seiring waktu, tapi keduanya melangkah ke arah berbeda, sampai akhirnya segala keterikatan yang dulu terasa kuat perlahan memudar begitu saja. Perkenalan ogut dengan SERINGAI sebenarnya agak telat (jadi gak bisa dibilang fans garis keras), karena baru mulai masuk radar sekitar tahun 2008, setahun setelah mereka merilis debut legendaris ‘Serigala Militia’. Pertemuan gua dengan SERINGAI, yang berbarengan sama obsesi baru gua terhadap KOMUNAL dan GHAUST di kurun waktu yang hampir bersamaan, bisa dibilang cukup krusial, karena mereka mampu menggeser atensi gua terhadap musik underground lokal ke ranah di luar tech/brutal death. Momennya pun juga pas banget, karena waktu itu gua lagi keracunan katalog label macam Rise Above, Relapse, Hydra Head, Southern Lord, dan Translation Loss Records, jadi pas nemu tiga band lokal yang bermain di frekuensi serupa, bikin gua makin senang menyelami scene lokal.
Namun, perlahan keterikatan gua dengan musik SERINGAI mulai memudar sejak mereka merilis ‘Taring’ tahun 2012 silam. Bukan berarti albumnya jeblok secara kualitas, cuma entah kenapa, komposisi yang mereka tulis untuk rilisan tersebut, terasa terlalu hingar-bingar dan party-oriented banget, kalau dari tangkapan kuping gua pribadi saat itu. Pas gua nonton mereka manggung sih, energinya masih dapet banget, tapi ketika diputer pas lagi sendirian, mayoritas lagu-lagunya gak terlalu beresonansi secara personal, dan hanya “Gaza”, “Serenada Membekukan Api”, dan “Tragedi” saja yang mampu meresap. Mungkin juga karena di periode itu preferensi pribadi gua mulai terkunci, sekaligus makin tenggelam ke spektrum doom yang lebih gelap nan suram, death metal primitif, sampai black metal diluar second wave atau swedish-an, yang kebetulan selaras sama kondisi mental yang lagi acak-acakan waktu itu. Jadi, meskipun sempet lama denial seraya menghirup dalam-dalam copium, karena masih ikut ngantri pas SERINGAI ngerilis 7 inch ‘Tragedi / Sang Lelaki’ dan reissue ‘High Octane Rock’, ketika ‘Seperti Api’ keluar gua cuma denger sekilas tanpa ngerasa apa-apa, alias udah masuk fase full dikesampingkan begitu saja. Sampai akhirnya SERINGAI kembali lewat album penuh keempat mereka, ‘IV: Anastasis’, yang dilepaskan pasca periode sangat berat bagi band ini, menyusul wafatnya Ricky Siahaan (Rest In Power) pada awal tahun 2025 lalu. Jujur aja, gua nyemplung ke album ini tanpa harapan muluk apa-apa, cuma sekadar penasaran aja sama album terbaru mereka. Bahkan single yang udah dilepas duluan pun, sengaja gua lewatin biar kesan sayatan pertamanya gak kena spoiler duluan. Dan ternyata, dengan bangsatnya, ‘Anastasis’ langsung bisa bikin rahang mangap bin menganga. Hampir tiap beberapa menit sekali selalu ada momen yang bikin gua refleks ngomong “god damn” atau “Hell Yea Brother” dalam hati. Lebih gilanya lagi, pas albumnya selesai bergema, bawaannya langsung pengen muter ulang lagi dari awal. Sensasinya kayak baru bangun tidur, belum sempet mandi, malah tiba-tiba langsung kena gampar PowerSlap hall of famer, Layne “Koa” Viernes. Tapi alih-alih tumbang dan terkapar, gua malah makin berapi-api dan adrenalin langsung tak terkendali. Serigala yang di artwork sampul ‘Serigala Militia’ dan ‘Taring’ sudah jadi tulang belulang, kini bangkit kembali dari Helheim karena gerah dengan kondisi Indonesia yang semakin semrawut dan absurd beberapa tahun terakhir. SERINGAI sendiri langsung menyalak penuh murka kependem lewat “Melunaskan Dendam”, diamana secara fondasi masih setia di jalur heavy rock khas mereka, yang telah membawa grup ini menjadi raksasa di kancah musik keras nasional selama hampir dua dekade. Belum sempat ngambil napas setelah diajak berpacu dalam agresi di lagu pertama, pendengar langsung dihajar “Matinya Kepakaran” yang punya aroma-aroma HIGH ON FIRE kuat, namun dengan belokan tajam di bagian pertengahan. Ditambah lagi, di sisa 44 detik terakhir, SERINGAI malah bikin pangling karena turut memasukan groove super renyah ala CARCASS, lalu diakhiri eksplosi riff macam CAVE IN. Kekuatan terbesar ‘Anastasis’, selain terletak pada tingkat variasinya yang gak ada duanya, juga ada pada kekuatan songwriting-nya yang efektif dan langsung nancep tanpa resistensi. Mulai dari sing-along anthem “Sejati”, dengan chorus yang punya daya nyantol sinting, berlanjut ke “Senarai Feses”, sebuah nomor penuh api dendam beroktan tinggi, yang bisa dijadikan alat justifikasi untuk mengumpat “Anjing… Bangsat… Jahanam” di tempat umum. Biasanya gua rada masa bodo dan cenderung males, kalau ada band yang masukin cover song ke dalam album (walaupun ada pengecualian seperti “Necropolis” dari MANILLA ROAD, yang dibawakan ulang oleh VISIGOTH dalam debut LP mereka), tapi harus diakui, “Perang Bintang” merupakan pilihan fantastis, sebuah tembang new wave dari PUNK MODERN BAND, yang digubah menjadi trek hard rock adiktif, yang rasanya cuma kurang cowbell aja. Belum cukup sampai di situ, SERINGAI menggelontorkan bonus personal lewat rekaman ulang nomor favorit gua dari periode 2010’an, yang sekarang terdengar lebih menggigit dan bertenaga dari versi 7 inch-nya dulu. Masuk fase kedua (Side B) ‘Anastasis’, SERINGAI masih belum kehabisan pertamax turbo, walaupun begitu, biar pendengar tak kelewat kelojotan, mereka akhirnya menyisipkan sebuah nomor buat cooling down dikit. Tapi jangan salah men!, alih-alih menyodorkan tembang semi-power ballad atau ambient/instrumental interlude, SERINGAI justru melontarkan sebuah mid-tempo heavy metal banger, yang sangat mujarab dalam menjaga momentum tetap menyala, sekaligus jadi sebuah jari tengah kepada manusia-manusia narsistik yang merasa dirinya paling rebel, tapi ujung-ujungnya paling jadi pahlawan kemarin sore. Memasuki sisa enam belas menit menuju akhir, materi yang ditawarkan justru makin gelap, diawali dengan track bernuansa d-beat, “Membungkam 98”, yang menolak memori kelam tragedi Mei 98 disterilkan oleh narasi resmi penguasa, sebuah sejarah yang pengen ditutup-tutupi oleh pemangku kekuasaan, demi mengaburkan borok para dalang. Lagu berikutnya tak kalah muram, “Habis Gelap Terbitlah Suram”, lagu tentang kerakusan manusia bikin bumi makin sekarat, yang singkat, lugas, dengan groove NWOAHM-ish lumayan sakit. Sedangkan “Pulang” membahas isu lebih personal, yang sangat relatable bagi mereka yang sedang bergelut dengan depresi dan suicidal thoughts, dimana blackened shrieks-nya layaknya menjelma jadi bisikan-bisikan setan yang sedang menggiring kepala ke jurang nestapa paling dalam, penulisan liriknya juga tajam dan presisi, bait seperti “kembali ke semesta, selesai aku berdarah” dan ‘badan hanyalah sebuah wadah, jiwa hampa aku ingin pulang”, punya muatan emosional yang gak main-main, belum lagi extended instrumental section yang melodis di bagian akhir, mampu jadi ruang katarsis untuk meluapkan segala luka yang terpendam di dalam jiwa. “Akar” berhasil tampil sebagai lagu instrumental yang sangat bernyawa, bukan sekadar selingan atau intermisi sekedar numpang lewat, baik penjiwaan, progresi hingga strukturnya jelas terarah, seandainya ‘Anastasis’ diakhiri dengan “Akar” tokk!, album keempat SERINGAI ini sebenarnya sudah punya finalitas yang sangat paripurna. Seperti api perlawanan yang masih menolak padam, lewat kobaran distorsi meraung-raung di 68 detik penghabisan “Akar”, SERINGAI ternyata belum selesai menendang bokong kalian, karena “Tirani Lagi” sudah disiapkan sebagai agresi pamungkas. Sebuah manifesto pembangkangan dan penolakan terhadap fasisme, yang masih menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Lagu yang punya aransemen beraura BOLT THROWER tersebut, juga menandai kontribusi perdana Angga Kusuma (BILLFOLD, COLLAPSE, SSSLOTHHH, ASIA MINOR, ex-TARING) sebagai peramu aransemen di tubuh SERINGAI. Ditempa selama kurang lebih delapan tahun, ‘Anastasis’ menjelma sebagai warisan yang membanggakan dari sang riffmeister, Ricky Siahaan. Tiap detiknya digarap dengan intensi yang tegas dan terukur. Tracklist-nya padat tanpa filler, semua lagu ditempatkan secara taktis, dan keputusan menjaga durasi untuk stay di bawah 40 menit sangatlah tepat. Karena menurut gua, album metal non-avant-garde atau non-progresif, idealnya memang dipatok jangan sampe melebar diatas 40 menit. ‘Anastasis’ bahkan jadi album SERINGAI pertama yang gak punya satupun lagu yang skippable, karena ‘Serigala Militia’ sekalipun kadang masih bisa bikin gua pencet tombol skip/next 1-2 nomor tergantung mood. ‘Anastasis’ bukan hanya album terbaik yang pernah SERINGAI rilis, tapi juga sangat pantas kalau dinobatkan sebagai salah satu album rock terbaik dalam sejarah musik Indonesia. Lebih jauh lagi, dari sisi tata suara, separasi instrumen, arsitektur sonik, kejernihan sound, performa, energi, eksekusi hingga tonase suaranya, berhasil membuat ‘’Anastasis’ jadi album heavy metal lokal dengan produksi terbaik yang pernah gua dengar. Dengan ‘IV: Anastasis’, SERINGAI mendirikan monumen raksasa yang rasanya bakal jadi tolok ukur baru bagi para pengusung heavy rock/metal lokal di kemudian hari. Dan kalau mengingat momen di Synchronize Fest 2025 lalu, Khemod sempat berkelakar: “Selagi SERINGAI gak ada, BURGERKILL, KOMUNAL, dan semua band metal, nikmatilah saat kalian”, dan lewat album sebrengsek ini, the riff-lords themselves sudah kembali turun gelanggang untuk merebut singgasana musik keras di belantika musik bawah tanah Indonesia.

Gitaris Seringai, Ricky Siahaan Meninggal karena Serangan Jantung

Musisi dan DJ Jepang, Freya Fox mengabarkan Ricky Siahaan meninggal dan sudah dikonfirmasi polisi Tokyo karena mengalami serangan jantung.
Ricky Siahaan, gitaris band metal Seringai meninggal pada Sabtu, 19 April 2025 pukul 22.10 waktu Jepang dalam usia 48 tahun di Tokyo karena mengalami serangan jantung. Ia meninggal di tengah tur yang digelar Seringai bertajuk Seringai Wolves of Asia Tour. Dalam lawatan ke Jepang, Seringai tengah mengikuti Gekiko Fest yang digelar malam ini. Ricky dikabarkan meninggal seusai tampil bersama bandnya. Musisi dan disjoki Jepang, Freya Fox mengabarkan berita duka ini melalui cuitannya di X. "BREAKING NEWS FROM TOKYO: band rock heavy metal Indonesia terkenal. Drummer Seringai tiba-tiba meninggal dalam konser mereka di Tokyo," cuitnya tiga jam lalu. Ia belum mengetahui posisi Ricky di Seringai. Kematian Ricky Siahaan Dikonfirmasi Kepolisian Tokyo Satu jam lalu, Freya mengoreksi kekeliruannya. "Koreksi: Gitaris Ricky Siahaan meninggal secara tragis karena serangan jantung. Sumber dekat saya mengonfirmasi dari kepolisian Tokyo," tulisnya.

Suguhan Musik Cepat dan Singkat Negatifa di Album Perdana

Negatifa adalah unit powerviolence asal Jakarta yang menandai kemunculan mereka lewat perilisan album perdana bertajuk self-titled. Personel Negatifa terdiri dari anggota band keras lokal seperti Seringai, Masakre, Stride, dan Cryptical Death. Negatifa adalah Arian 13 (vokal), Dimas Tirta Arwana (bas), Darma Respati Putra (gitar), dan Indrawan Juniarsyah (drum). Dalam unggahan Instagram-nya, Arian sempat bercerita bahwa proyek ini dibentuk sejak tahun lalu. “Awalnya ingin menjalankan kembali band hardcore/powerviolence, Aparatmati, dengan almarhum Eben, tapi selepas Eben pergi, proyek band tersebut kandas,” tulis Arian. Setelah menjalani proses penggarapan lagu-lagu sejak akhir tahun lalu dan selesai di bulan Maret 2025, Negatifa akhirnya hadir dengan album bernuansa hardcore punk yang cepat dan singkat. Berisikan 11 lagu dalam durasi 11 menit, album S/T Negatifa turut menyisipkan elemen sludge metal seperti Noothgrush, terkadang thrashy, juga blast beat grindcore. Dari sisi lirik, band mengangkat tema-tema tentang berbagai tema seperti betapa menyebalkannya orang-orang di dalam skena tertentu, sampai bagaimana para penegak keadilan memperlakukan orang dengan semena-mena. Selain diluncurkan di berbagai layanan streaming musik, album perdana ini juga sudah dilepas dalam format cakram padat via Grimloc Records. Videoklip untuk trek pertama “Unity/Ruang Aman” juga sudah bisa disaksikan via kanal YouTube NEGATIFA. Negatifa akan melangsungkan show perdana mereka di acara The Chosen Few garapan Ordo Nocturno hari Kamis (22/05) dan berbagi panggung dengan Kilat, Rassuk, Feral Wound, dan Spitrage. Kabarnya, dalam acara tersebut band akan menjual merchandise berupa kaus. Mari saksikan.

Rabu, 04 Maret 2026

Burgerkill Rilis Single ‘Kontinum”, Era Baru Kembalinya Vicky Mono

Burgerkill merilis single terbaru mereka berjudul “Kontinum” pada 1 Februari 2026 melalui kanal resmi YouTube band; dipresentasikan sebagai “kesinambungan yang utuh tanpa jeda mutlak,” trek ini menjadi manifesto padat tentang kesinambungan, konfrontasi, dan pembaruan. Lagu ini dibuka dengan intro atmosferik yang sarat ketegangan, lalu meledak dengan suara menghantam khas Burgerkill , riff ketat yang menggiling, serangan ritmis presisi, dan bobot tonal tanpa kompromi – menjadikan musik itu sendiri wadah bagi lengkung ritual liriknya. Secara lirik, Kontinum bergerak melalui imaji api, darah, pelindung, dan empati yang terkubur, menegaskan bahwa luka dan sejarah bukanlah titik akhir melainkan bahan mentah untuk transformasi. Tuntutan chorus “Berikan pijar Matahari” hadir sebagai imperatif bagi cahaya katalis dan kejelasan. Referensi filosofis seperti taruk pati, amor fati, dan nomos menambatkan trek ini dalam pemikiran eksistensial dan sosial, mengubah penyerahan diri menjadi tindakan disiplin, serta menyerukan pertanggungjawaban moral yang mengonfigurasi ulang diri dan tatanan sosial. Lagu ini menampilkan kesinambungan sebagai praksis, membingkai ulang kelelahan dan luka sebagai bukti bertahan hidup, dan menggunakan imaji alkimia tentang pembakaran serta kelahiran kembali untuk menandai metamorfosis, bukan sekadar kehancuran. Aransemen lagu mengontraskan segmen sederhana dengan ledakan perkusi yang padat, bergantian antara bisikan mantera dan teriakan komando, serta membangun dari keheningan forensik menuju pelepasan katarsis. Pilihan produksi mencerminkan pergerakan lirik dari keruntuhan menuju kondisi yang berakar kuat. Pembukaan atmosferik mempersiapkan pendengar untuk kekuatan penuh suara khas Burgerkill dan memperkuat momentum ritualistik yang menyusul. Saat Burgerkill merilis Kontinum, mereka menghadirkan lebih dari sekadar sebuah lagu – ini adalah sebuah deklarasi. Kontinum menegaskan bahwa sejarah, rasa sakit, dan ingatan adalah bahan pembaruan; trek ini menyalurkan energi murni sekaligus kedalaman reflektif, menghadapi apa yang telah terjadi, menolak berakhir secara mudah, dan menuntut cahaya di saat nalar meredup. “Kontinum membingkai ulang sejarah dan rasa sakit sebagai bahan bakar untuk kelahiran kembali dan transformasi. Trek ini menuntut sebuah pertanggungjawaban: ia mengubah luka menjadi bahan bakar dan ingatan menjadi ritual.” Burgerkill adalah band metal Indonesia yang dikenal dengan penampilan intens dan visi artistik tanpa kompromi. Kontinum menandai sebuah babak baru: sebuah pernyataan arang sekaligus reflektif yang menempatkan suara khas band dalam kerangka filosofis dan komunal. Artwork by Dady Dwi Satrya, music composed by Agung Ridho, lyrics by Vicky Mono, arranged by Burgerkill

Senin, 02 Februari 2026

Setelah 4 Tahun, Vicky Mono 'Pulang' ke Burgerkill

Grup band beraliran metal asal Bandung, Burgerkill, mengumumkan kembalinya sang vokalis, Vicky Mono. Vicky menjadi frontman menggantikan Ronald Alexander Radja Haba yang berpisah sejak akhir tahun 2025. Ronald telah menjadi vokalis Burgerkill sejak 2021. Materi vocalnya di Burgerkill punya karakter yang memberi sentuhan warna baru dalam rilisan lagu seperti 'Roar of Chaos', 'Resilient Blood' hingga Hollow. Sementara Vicky Mono, memutuskan bergabung dengan grup band death metal, DeadSquad. Bersama sang gitaris, Stevi Item, karakter vocal monster Vicky begitu terasa dalam lagu 'Enigmatic Pandemonium' hingga kolaborasi dalam lagu Il Sogno bersama Isyana Sarasvati. Setelah empat tahun, Vicky Mono memutuskan untuk bereuni dengan Burgerkill. Di band cadas asal Ujungberung, Bandung itu, karakter vocal Vicky Mono memang tak tergantikan dan begitu membekas di hati para Begundal, sebutan untuk fans Burgerkill. Pengumuman reuni Vicky Mono dan Burgerkill disampaikan langsung DeadSquad. Sebagai gantinya, DeadSquad kemudian merekrut vokalis baru bernama Awan Graham. "Big announcement untuk Pasukan Mati dan seluruh pecinta musik extreme di mana pun berada. Kami DeadSquad dengan ini menetapkan 1 Februari 2026 sebagai momentum dalam menghormati permintaan pribadi Vicky Mono untuk kembali ke Burgerkill. Kami menyetujui langkah ini sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar dari kami, yaitu para penggemar musik keras terutama para Begundal. Kembalinya Vicky Mono ke Burgerkill adalah momen yang lama dirindukan oleh Begundal," tulis pengumuman di akun Instagram DeadSquad sebagaimana dilihat detikJabar, Senin (2/2/2026). "Vicky Mono telah menjadi bagian dari perjalanan DeadSquad dan akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar DeadSquad dan Pasukan Mati. Ini bukan perpisahan, melainkan perjalanan. Di saat yang sama, kami meneruskan perjalanan ini bersama Awan Graham sebagai vocalis DeadSquad, sebagai bentuk komitmen kami untuk tetap berada di jalur musik extreme dan terus berkarya di sini, selamanya." "Saat informasi ini diumumkan, kami tengah menjalani tour di Taiwan. Kami sangat senang bisa kembali ke Taiwan dan bertemu dengan teman-teman komunitas Indonesian Metalhead Taiwan di Taichung, Taipe dan Kaohsiung. Doakan kami, guys! We love you, Vicky! Welcome, Awan!" tutup pengumuman tersebut. Kembalinya Vicky ke Burgerkill memang sudah menjadi rumor di kalangan Begundal. Pria bernama lengkap Yupi Yupiki itu telah menjadi vokalis Burgerkill sejak 2007, sepeninggalan vokalis fenomenal, Ivan Scumbag. Sementara, Burgerkill belum memberikan pengumuman resmi setelah bereuni dengan Vicky Mono. Namun pada Minggu (1/2) malam, sebuah konser bertajuk 'Kontinum Unleashed The Uprising' di Braga Sky, Bandung, telah digelar dengan membawa Vicky Mono di posisi vokalis.

Selasa, 30 Desember 2025

Burgerkill Umumkan Perpisahan dengan Sang Vokalis, Ronald

Band metal asal Bandung, Burgerkill, mengumumkan vokalis mereka, Ronald A. Radja Haba, kini sudah tidak jadi bagian dari band. Informasi ini disampaikan lewat akun Instagram resmi Burgerkill, Selasa (30/12). "Burgerkill telah berpisah dengan Ronald A. Radja Haba. Kami berterima kasih atas dedikasi, energi, dan momen-momen yang telah dibagikan di atas dan di luar panggung," tulis Burgerkill. Ronald diketahui jadi vokalis Burgerkill sejak 2021, menggantikan Vicky Mono. Ronald ikut Burgerkill tampil di berbagai panggung musik, termasuk panggung luar negeri. Sampai saat ini Burgerkill belum memberi penjelasan soal alasan di balik perpisahan tersebut. Burgerkill menyebut keputusan ini artinya membuka lembaran baru ke depan bagi band. "Kami mendoakan kekuatan dan kesuksesan baginya di jalan selanjutnya," lanjut Burgerkill. Burgerkill kini beranggotakan Agung (gitar), Ramdan (bass), dan Puput (drum). Band metal itu memastikan bahwa aktivitas mereka terus berlanjut, meski tanpa Ronald di posisi vokal. "Perjalanan berlanjut. Babak baru sedang ditulis. Sampai jumpa di tahun 2026," tutup Burgerkill.