Jumat, 04 Juni 2021

Peran Saparua sebagai Counter-Culture Bandung Era ‘90-an

GOR Saparua sebagai jantung musik arus pinggir Bandung di era ‘90-an memang bukan hanya sekedar mitos. Tempat tersebut merupakan saksi bisu dari gejolak semangat para pemberdaya musik mandiri, terutama jika berbicara mengenai Bandung. Selain sebagai arena yang bersifat magnetis untuk para penggemar musik-musik underground, eksisnya Saparua juga sempat menjadi bidan dari kelahiran beberapa subkultur dari berbagai pergerakan yang tengah berjalan di era itu. Istilah kerennya, counter-culture. Kita mungkin sudah mendengar banyak cerita mengenai tempat bersejarah untuk penggerakan musik arus pinggir lokal yang sudah dibangun sejak tahun 1969 ini. Tak sedikit juga band-band era tersebut yang masih eksis hingga hari ini sebagai saksi bagaimana panggung Saparua sangat menghidupi ekosistem musik underground saat itu. Dimulai dari sana lahirlah komunitas-komunitas kecil, edaran zine sebagai sarana bertukar informasi, serta pandangan hidup yang masih diadaptasi dari musik. Pergerakan-pergerakan mandiri tersebut akhirnya menjadi sebuah counter-culture yang aktif untuk beberapa subkultur yang tengah berlaku di era ‘90-an. Bagaimana tidak? Di saat era itu Nirvana sedang banyak dipertontonkan di layar kaca. Cobain dan koleganya seakan menjadi demam baru lewat “Smells Like Teen Spirit” serta fashion statement mereka. Grunge pun mulai dianggap sebagai the new mainstream era itu. Imbas dari fenomena grunge tersebut pun menyulut beberapa musisi cetakan yang dikemas lebih ‘pop’ di ranah lokal semacam Nugie dan Oppie Andaresta.
Di sisi lain, band-band rock jebolan Log Zhelebour seperti Boomerang dan Jamrud pun sedang banyak diminati pada era itu. Atau jika kita membahas yang lebih populis lagi untuk ranah nasional, rasanya grup-grup pop rock dengan dalih cinta semacam Dewa 19 atau Ada Band pun mulai berdatang dari ranah mayor label. Fenomena tersebut seakan membuat tahun itu mempunyai ilusi bahwa masa itu era yang besar untuk musik rock. Padahal kenyataannya, semua yang disajikan secara populer terasa cukup generik dan membosankan. Di sinilah Saparua memegang peran krusial dan unik sebagai bentuk counter-culture dengan cara yang lebih hardcore, yaitu dengan menyatukan berbagai aliran musik ke dalam satu arena yang dipadati scenesters arus pinggir. Selain sebagai angin segar yang menjadi alternatif dari tren musik populer, panggung musik di GOR Saparua mampu memberikan spotlight untuk beragam band dengan musiknya sendiri ke dalam ekosistemnya. Buktinya tidak hanya band-band underground macam metal atau punk yang bisa berhura-hura di Saparua, band-band pop seperti Pure Saturday dan Cherry Bombshell pun punya nama tersendiri bagi para individu yang mengalami masa kejayaan Saparua di waktu itu. Selain menjadi angin segar untuk asupan musik kancah lokal lewat helatan mandiri, berbagai subkultur yang terseret oleh musik yang berkaitan dengannya pun hidup dan berkembang di lingkup para pelaku di dalamnya. Tak dapat dipungkiri, semua aspek yang berkaitan dengan musik apa pun yang dimainkan di era Saparua menjadi suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan mau tidak mau, para pelakunya pun harus bisa memahami (atau mengamalkan) semua aspek “kebudayaan” atau “pergerakan” yang membuntutinya.
Sebagai contohnya, beberapa komunitas kecil lahir dari “tongkrongan” musik Saparua dan mulai mengakuisisi beberapa titik di kota Bandung. Seperti tongkrongan PI (yang saat ini dikenal sebagai BIP) dan Riotic, distro pertama yang lahir di scene musik dan berawal di Cijerah, hingga Sadar 181. Kolektif-kolektif tersebut lahir dari scene hardcore. Dari komunitas-komunitas yang memiliki perbedaan acuan subkultur tersebut, maka lahirlah pula zine sebagai salah satu media favorit para pelaku di era tersebut untuk menyuarakan opininya sekaligus mempromosikan subkultur yang mereka emban. Poros zine di era Saparua memang terhitung gencar dan marak. Keterbatasan informasi menjadikan produk fisik jauh lebih efisien ketimbang digital. Ketika akses internet tak semudah hari ini, maka zine pun menjadi penopang informasi untuk bertukar referensi dan wawasan. Bahkan mengetahui beberapa kabar terkini di dunia arus pinggir. Contohnya, zine yang diproduksi dari Sadar 181 berjudul Bandung Edge News.
Selain upaya dari komunitas tersebut, spirit straight edge tentu menyelusup lewat band-band yang tampil di era Saparua. Band-band straight edge lokal yang sempat bermain di Saparua seperti Blind To See dan Manusia Buatan tak tentu tak lepas dari peran mengamanahi gaya hidup straight edge untuk diminati di kancah hardcore lokal. Saparua seakan menjadi salah satu sentral budaya tandingan dari budaya populer yang sedang berjalan di eranya. Memantik berbagai pergerakan untuk bergerilya dan menciptakan ekosistem yang berjalan seiringan. Meskipun saat ini arena Saparua sudah tak lagi berfungsi sebagai daratan gigs underground, namun dampak yang ditinggalkannya seakan tak pernah terhapus. Beberapa dari counter-culture tersebut masih berjalan hingga hari ini, tentu peran Saparua tak dapat lepas di dalamnya.

Sabtu, 22 Mei 2021

Pentolan Behemoth, Nergal Kembali Terseret Kasus Penistaan Agama Di Polandia

Vokalis merangkap gitaris Behemoth, Adam Darski yang beken dengan nama panggung Nergal, telah kembali terseret ke dalam kasus penistaan agama di negara asalnya, Polandia. Nergal dituduh telah menyakiti perasaan religius banyak orang. Tuduhan itu berasal dari postingan media sosial tahun 2019 Nergal yang menunjukkan kaki Nergal menginjak lukisan Bunda Maria. Menurut media Notes From Polandia, Nergal diperintahkan untuk membayar denda sebesar 15.000 złoty (sekitar US$ 4.000) dan biaya pengadilan hampir 3.500 zloty (sekitar us$ 942). Namun, kasus tersebut akan disidangkan karena Nergal menggugat putusan tersebut. Jika terbukti bersalah di persidangan, musisi extreme metal itu terancam hukuman dua tahun penjara. Sebagai pentolan band black/death metal yang lagu-lagunya sarat tema “blasphemy” alias penistaan agama, postingan Nergal di media sosial tersebut sudah biasa bagi para metalhead di Polandia. Namun, karena status Nergal sebagai musisi “pseudo-selebriti” di negara Katolik yang taat itu, terutama setelah penampilannya sebagai juri di The Voice of Poland, acara bakat vokal populer di TV, tindakan Nergal telah menarik perhatian lebih. Ada sekelompok orang di luar scene metal yang tidak terima. Setelah Nergal membuat postingan yang menghina Bunda Maria, kelompok hukum konservatif Ordo Iuris dan sebuah organisasi yang dikenal sebagai Towarzystwo Patriotyczne (“Masyarakat Patriotik”) memberi tahu pihak berwenang bahwa Nergal telah “menyinggung perasaan religius empat orang”, termasuk seorang politikus dari Polandia yang menguasai koalisi konservatif. “Dalam proses persidangan, pihak-pihak yang dirugikan ditanyai dan mereka dengan jelas menyatakan bahwa perasaan keagamaan mereka tersinggung,” kata Aleksandra Skrzyniarz, juru bicara kantor kejaksaan distrik Warsaw. Bukti jaksa didukung oleh keterangan saksi dari seorang “ahli studi agama” yang menilai bahwa “menginjak dengan sepatu di gambar Bunda Tuhan adalah pelanggaran terhadap perasaan agama,” menurut Skrzyniarz. Investigasi tersebut juga mengutip Pasal 196 hukum pidana Polandia: “Siapa pun yang menyinggung perasaan religius orang lain dengan menghina secara terbuka suatu objek ibadat keagamaan, atau tempat yang ditetapkan untuk upacara keagamaan publik, dikenai denda, dibatasi atau dirampas kebebasannya untuk jangka waktu hingga dua tahun”. Undang-undang kuno tersebut telah diperdebatkan oleh Amnesty International, yang sebelumnya meminta pemerintah Polandia untuk mencabut atau mengamandemen undang-undang tersebut. Undang-undang yang selama ini sudah dikenal oleh Nergal dan Behemoth. Pada tahun 2018, Nergal secara resmi didakwa oleh pemerintah lantaran artwork merchandise tur Behemoth “Republic of the Unfaithful”, yang konon “menghina” lambang nasional. Yang paling terkenal, Nergal menghadapi dakwaan (yang kemudian doi dibebaskan) karena merobek Alkitab di atas panggung saat konser Behemoth di Gdynia pada tahun 2007. Nergal baru-baru ini membandingkan pemerintah Polandia dengan “masa lalu Abad Pertengahan yang menakutkan”. Dalam hal ini, doi merujuk pada larangan aborsi yang hampir total di negara itu yang diberlakukan akhir bulan lalu, mengkritik Polandia dalam postingan Instagram-nya yang telah dihapus

Senin, 10 Mei 2021

Merayakan 25 Tahun Burgerkill, Ebenz Berbagi 10 Lagu Favoritnya

Kancah musik keras Indonesia adalah termasuk yang terbesar di dunia. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya jumlah band yang berkecimpung di dalamnya, begitu pula bila ditilik dari jumlah penonton yang selalu memenuhi festival-festival metal besar tanah air. Dari sekian band yang bermunculan dari kancah musik keras tanah air yang muncul dari era pertengahan 1990-an, tersebut satu yang namanya berkibar tinggi hingga sekarang, Burgerkill.

Dibentuk di Bandung pada tahun 1995 silam, Burgerkill muncul dari Ujungberung Rebels sebuah tongkrongan yang menjadi inkubator skena metal di Jawa Barat. Mengusung hardcore, band ini menjadi angsa hitam di Ujungberung yang mayoritas bandnya bermain di ranah extreme metal.

Burgerkill di Bloodstock Festival 2015 di Inggris

Lahir dan bertumbuh dari ranah underground dan bertahan hingga sekarang, dan menjadi salah satu band musik keras papan atas nasional bukan lah perkara mudah. Dalam perjalanannya Burgerkill beberapa kali mengalami pergantian personilnya, hingga momentum ketika mereka kehilangan sosok vokalis karismatik, Ivan Scumbag. Fragmen kehidupan Ivan terekam dalam buku My Self: Scumbag, Beyond Life and Death yang ditulis oleh Kimung – yang notabene adalah juga mantan pemain bass Burgerkill. Tapi dinamika dan problem yang harus mereka hadapi tidak membuat mereka kendur yang ada malah membuat mereka semakin kuat, line-up Burgerkill sekarang diperkuat oleh Ebenz (gitar), Ramdan (bass), Vicky (vokal), Agung (gitar), dan Putra Ramadhan (drum).

Buah dari persistensi dan integritas Burgekill pun ditunjukkan dengan meraih Best Metal Productions di AMI Awards untuk album Berkarat pada tahun 2004, hingga Metal Hammer Golden Gods Awards untuk kategori Metal As F*ck di tahun 2013 lalu. Bukan hanya itu, Burgerkill pun mendapat pengakuan sebagai salah satu band metal terbaik sepanjang masa dari majalah ternama Metal Hammer. Apresiasi global juga mereka capai dengan menjajal panggung-panggung di luar negara, seperti Big Day Out dan Soundwave di Australia, Wacken Open Air di Jerman, Bloodstock Festival di Inggris, hingga menggeber tur ke Eropa dan Amerika Serikat. Pencapaian yang tidak bisa dipandang sebelah mata, dan jelas membutuhkan kerja keras.

Burgerkill di panggung Wacken Open Air 2015 di Jerman

Berawal sebagai sebuah band hardcore, secara musik, Burgerkill juga berevolusi dalam setiap fase yang mereka lewati dalam tiap album yang mereka lepas. Dari album Dua Sisi (2000), Berkarat (2003), Beyond Coma and Despair (2006), Venomous (2011), Adamantine (2018) – yang masuk dalam 50 Best Metal Albums of 2018 di majalah Metal Hammer – hingga Killchestra yang baru saja dirilis, yang dengan unik melebur metal dan orkestra.

Di bulan Mei 2020 ini, Burgerkill merayakan 25 tahun eksistensi mereka sebagai band. Tak terasa ternyata sudah seperempat abad mereka mewarnai kancah musik nasional. Untuk momentum ini maka kami menodong orang yang perannya dalam mempertahan band ini jelas tidak bisa dianggap enteng, Ebenz, untuk membuat daftar 10 lagu Burgerkill yang paling istimewa bagi dirinya. Yang mana saja lagunya? Bagaimana ceritanya? Silakan disimak ulasannya berikut ini.

Revolt!

Lagu ini adalah peluru awal yang memperkenalkan musik Burgerkill ke khalayak HC/Punk di Indonesia dan Asia Tenggara. “Revolt!” merupakan salah satu dari tiga lagu di dalam demo Burgerkill yang kami rekam di Palapa Studio, Ujungberung awal tahun 1996 dan kami sebarkan secara gratis ke teman-teman di komunitas dan media. Lewat single ini kami menerima banyak ajakan untuk berpartisipasi di beberapa kompilasi garapan teman-teman Bandung, Jakarta dan Malaysia. Lagu ini menggambarkan besarnya pengaruh New School HC dalam musik Burgerkill dan menjadi benchmark arah musik kami selanjutnya.

Sakit Jiwa

Ide penulisan riff dasar lagu ini berawal ketika tanpa sengaja saya mendengarkan sebagian nada instrumen seruling dari lagu dangdut ‘Terlanjur Basah’ milik Meggie Z di salah satu warung nasi di sekitaran Ujungberung. Nadanya terus menempel di kepala sampai akhirnya saya aplikasikan ke riff gitar dengan tempo yang lebih cepat. Lirik lagu ini ditulis oleh Kimung dan Ivan yang bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami gangguan jiwa dan sering berkeliaran di daerah Ujungberung, selain itu dia sering dilecehkan dan diperlakukan tidak pantas oleh banyak orang. Dan setelah beberapa kali kami mainkan di atas panggung, lagu ini mendapat banyak mendapat respon positif dan menjadi lagu wajib yang selalu diminta oleh penonton di setiap panggung Burgerkill.

Tiga Titik Hitam

Sebuah lagu yang membawa kami ke area baru dalam eksplorasi bermusik. Berawal ketika saya ditugasi untuk mewawancarai Fadly dari Padi di sebuah hotel di Bandung untuk artikel di sebuah majalah musik. Dari perkenalan itu pembicaraan kami melebar hingga timbul ide memberanikan diri berkolaborasi memadukan dua genre musik yang berbeda, hingga akhirnya kami sepakat untuk memasukan lagu tersebut ke dalam album kedua Burgerkill yang kebetulan sedang dalam masa penggarapan. Lagu ini juga yang mempertemukan kami dengan label Sony Music Entertainment yang akhirnya merilis album ke dua kami Berkarat di tahun 2004. Lirik lagu ini ditulis oleh saya, Ivan dan Fadly yang bercerita tentang pengakuan dosa, penyesalan dan berserah diri kepada Yang Maha Esa, dan entah kenapa lagu ini seperti memiliki ruh yang kuat. Bahkan sampai hari ini saya selalu mendadak cengeng ketika mendengarkan nya.

Shadow Of Sorrow

Track ketiga dari album Beyond Coma And Despair yang sangat agresif ini bercerita tentang pengalaman Ivan Scumbag yang pada saat itu mulai mengalami banyak masalah dengan kehidupan pribadi dan kesehatan nya. Di lagu ini juga saya mulai memasukan unsur musik Death Metal dalam aransemennya, sebagai tanda bahwa eksplorasi musik Burgerkill tidak stagnan. Dan “Shadow Of Sorrow” merupakan lagu terakhir yang kami kerjakan bersama Toto sebelum memutuskan untuk resign dari Burgerkill. Sebuah track yang pas buat ugal-ugalan di moshpit dan menyenangkan untuk dimainkan.

Unblessing Life

Bagi saya pribadi lagu ini memiliki banyak komposisi riff yang bagus dan unik di dalamnya, dibalut dengan lirik depresi dan kemarahan yang sangat dalam oleh Ivan, membuat lagu ini sangat powerful ketika dibawakan di atas panggung. Rasanya ini merupakan salah satu aransemen terbaik yang pernah dibuat oleh Burgerkill. Saya ingat betul bagaimana kondisi Ivan saat melakukan sesi take vokal lagu ini, kondisi tubuhnya terlihat sangat lelah melawan penyakit yang di deritanya. Di bagian tengah lagu terdapat potongan puisi ungkapan bagaimana putus asa nya dia. Ditemani mikrofon dan sebuah ember kecil di dalam studio untuk membuang dahaknya, dia tetap ngotot untuk menyelesaikan tugasnya meski batuknya terus mengganggu. Dan hasilnya luar biasa, he’s a true legend..

Under The Scars

Sebuah track agresif yang saya tulis untuk mengenang tragedi duka di gedung ACC Bandung yang menewaskan 11 orang selepas konser tunggal perilisan album perdana Beside. Track ini sebagai bentuk sikap perlawanan atas pelarangan konser Burgerkill di kota Bandung selama hampir 2 tahun karena di anggap berpotensi menimbulkan kejadian yang serupa. Melalui video klip “Under The Scars” hasil garapan tim Cerahati, Burgerkill kembali menyita perhatian banyak pihak dan album Venomous berhasil menerima banyak review positif dari banyak media internasional. Bahkan majalah Metal Hammer UK menawarkan secara langsung untuk penayangan perdana video tersebut di website mereka, dari sana lah musik kami dikenal lebih luas lagi yang berimbas berdatangan tawaran untuk tampil di beberapa festival heavy metal di Eropa. “We were born to bleed, and we are here to dominate..

Only The Strong

Melalui lagu ini kami berusaha untuk menawarkan nuansa baru dalam musik Burgerkill secara lirik dan komposisi nada, sebagai tanda pergantian era dari Ivan ke Vicky yang punya latar belakang kehidupan yang berbeda. Saat itu kami sepakat ingin berbicara ke arah yang lebih positif dalam tema album dan penulisan lirik, tidak lagi berbicara soal depresi atau sisi gelap manusia. “Only The Strong” menjadi indikator arah musik kami selanjutnya, dilengkapi lirik yang penuh pesan pentingnya kebersamaan, tekad bulat dan kerja keras untuk tetap survive demi mengejar visi besar dalam kehidupan kita. I love this song so much, lagu ini membantu banyak teman kami untuk bangkit dari keterpurukan mereka.

An Elegy

Sejak awal lagu ini sengaja ditulis untuk mengenang kepergian sahabat kami Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah. Lewat lagu ini saya ingin menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam dan bagaimana istimewanya sosok Ivan di mata kami. Dalam proses kreatifnya “An Elegy” banyak sekali terpengaruh oleh nuansa musik New Wave dan Rock Ballad, sebuah area baru yang belum pernah kami jajaki sebelumnya. Secara mood dan dinamika lagu yang dihasilkan sesuai dengan harapan kami, itulah salah satu alasan kenapa kami memilih lagu ini untuk di aransemen ulang dengan memasukan unsur orkestra di mini album Killchestra sebagai penambahan kesan magis lagu tersebut.

Integral

Single pertama dari album Adamantine ini adalah salah satu lagu yang paling asyik ketika dimainkan di atas panggung. Di lagu ini baik secara lirik dan aransemen kami ingin menunjukan kepada dunia luas bagaimana solidnya Burgerkill saat ini. Sebagai band yang cukup berumur, disini kami juga ingin memperlihatkan kematangan dan lebih berani dalam memainkan dinamika yang progresif. Dengan bergabungnya Putra ke tubuh Burgerkill menjadi sebuah tantangan juga energi baru bagi kami di Burgerkill untuk step up ke level berikutnya dan bermain lebih presisi namun tetap enerjik. This is one of my all time favorites, and i’m so proud of it..

United Front

This is a Hardcore song dude! Komposisi ketukan dan riff di lagu ini banyak terpengaruh oleh band-band New York HC ala Vision Of Disorder, Neglect, Madball dengan sedikit sentuhan modern Heavy Metal pada aransemen nya. Lagu ini memang sengaja kami siapkan untuk proyek kolaborasi antara Burgerkill dan sahabat kami Dom Lawson seorang jurnalis musik dan vokalis sekaligus pemain bass dari band punk asal London, Oaf. Ide proyek ini lahir dari percakapan santai saya dan Vicky bersama Dom Lawson juga Devin Townsend di backstage Golden Gods Awards 2013, London selepas kami menerima award kategori “Metal As F*ck”. Gagasan untuk menulis sebuah lagu yang bercerita tentang nilai persaudaraan dalam musik yang tidak mengenal perbedaan, karena kita semua sama dan layak untuk di apresiasi juga dihargai. Saya suka sekali lagu ini, ada nilai optimisme yang kuat dalam liriknya. Harus saya akui Dom berhasil menulis lirik yang sederhana namun membakar, cocok banget buat mood booster sebelum manggung.

Sabtu, 27 Maret 2021

Buku Sejarah Karinding Priangan

Kebangkitan kembali karinding tahun 2008 telah menginspirasi gerakan baru yang dilakukan oleh generasi muda musisi tradisional dengan segala inovasi dan pola pergerakan yang sama sekali baru dan segar. Berbagai pola dan teknik permainan karinding dimainkan dan dikembangkan oleh para musisi, tak hanya secara individual, namun juga dalam bentuk band yang memproduksi aransemen baru atas lagu-lagu buhun dan penciptaan lagu-lagu sendiri karinding. Pengembangan karinding yang dilakukan oleh para musisi dengan latar belakang musisi bawahtanah yang memiliki sistem Do It Yourself atau independen juga melahirkan pola pergerakan yang baru yang sangat berbeda dengan pola pergerakan musik tradisional yang ada sebelumnya. Mereka perlahan namun pasti membentuk sosok-sosok baru yang menjadi patron dalam ranah musik karinding sekaligus membangun jejaring yang solid antar musisi karinding di seluruh Jawa Barat dan Banten, dan juga di Indonesia dan dunia. Mereka juga membangun segala hal yang berkaitan dengan industri musik independen seperti ruang-ruang pertemuan, produksi dan distribusi karya musik, membangun komunitas dan ranah musik sendiri, pernak-pernik merchandising dengan ragam desain bercorak buhun hingga modern, pergelaran-pergelaran musik karinding sendiri, memproduski ilmu pengetahuan dan teknologi perekaman dan pergelaran musik karinidng, melakukan berbagai pencatatan dan dokumentasi mengenai karinding buhun dan karinding kiwari, menjalin hubungan yang baik dengan media, bergerak menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan alam, lingkungan, dan tata kehidupan, serta melakukan hal-hal lain yang lazim dilakukan dalam sebuah ranah musik secara umum. Perlahan, karinding juga mengalami pemaknaan baru. Ia bertransformasi dari waditra kalangenan menjadi waditra sosial, waditra pertunjukan dan sumber penghasilan ekonomi bagi para pengrajin dan musisinya, dan kemudian juga menjadi waditra pergerakan sosial, politik, dan budaya. Walau juga terus dijaga nilai-nilai kesakralannya, karinding terus maju sebagai musik generasi muda Sunda dan bahkan menjadi identitas baru bagi Kota Bandung serta rakyat Sunda di masa kini. Yang unik, karinding lalu tidak terjebak hanya dimainkan hanya di ruang-ruang sosiologis, elitis, dan seremonial seperti halnya waditra tradisional lainnya. Ia tampil merakyat, mudah, murah, massal, menyenangkan, dan yang paling penting membukakan gerbang pemahaman seni dan Sunda yang lebih dalam dan arif kepada para pemainnya. Buku Sejarah Karinding Priangan memotret secara lengkap kisah-kisah sejarah karinding yang ada di Priangan dan Banten. Kisahnya dituliskan sejak kemunculannya dalam naskah-naskah kuno, foklor-folklor yang muncul di berbagai daerah di Priangan dan Banten, hasil-hasil perekaman pertama karinding tahun 1893, 1920an, 1968, 1970an, 1980, 1990an, dan tahun 2000an, hingga kemudian dibangkitkan kembali secara massal melalui munculnya Giri Kerenceng dan Karinding Attack. Setelah itu direkonstruksi kisah-kisah sejarah karinding yang ada di kota di Banten dan Priangan, dari Banten, Bogor hingga Banjar. Harapannya, kemunculan buku ini akan melengkapi khazanah musik Sunda dan Nusantara, juga semakin memperkuat identitas generasi muda dan masyarakat Sunda agar mengetahui akar sejarah dan budayanya sendiri, sehingga memiliki pegangan yang kuat atas apa yang akan dibangun di masa yang akan datang. Untuk merekonstruksi kisah sejarah karinding Priangan harus mewawancara sekitar 1300an orang nara sumber utama yang berusia antara 5 tahun hingga 90 tahun, terdiri dari pembuat karinding, musisi umum dan musisi karinding, budayawan, akademisi, para penata suara di studio dan panggung, event organizer, aparat pemerintah, tokoh masyarakat, penggiat ekonomi komunitas karinding, dan masyarakat umum yang bersinggungan secara langsung mau pun tidak langsung dengan karinding. Penelitian dilakukan di daerah Banten dan Priangan, terdiri dari Ciamis, Panjalu, Kawali, Banjar, Pangandaran, Parigi, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Batujajar, Padalarang, Cianjur, Cipanas, Bogor, Sukabumi, Banten, Jakarta, Karawang, Purwakarta, Subang, Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan Kuningan. Penelitian juga dilakukan atas kantong-kantong komunitas lintas kota yang bergerak di internet dalam membangun jejaring karinding secara lokal dan global dan secara aktif menyebarkan informasi karinding serta mempersatukan dan membentuk simpul pergerakan karinding. Sumber-sumber juga harus dicari hingga ke Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat. Di Belanda, data-data mengenai karinding Priangan berada di Volkenkunde Museum, Tropen Museum, dan KITLV mencakup 200an artefak harpa mulut Indonesia, termasuk belasan karinding yang dibawa ke Belanda antara tahun 1831 hingga 1967, serta artefak hasil rekaman karinding di Bandung oleh Jaap Kunst tahun 1920an. Di Amerika, data-data mengenai karinding Priangan berada di Smithsonian Institute dan Field Museum Chicago mencakup artefak rekaman karinding pertama di dunia yang dimainkan oleh musisi Parakan Salak dan Sinagar dan direkam di Chicago tahun 1893 oleh Benjamin Ives Gilman dengan fonograf buatan tangan Thomas Alfa Edison. Deskripsi mengenai perekaman karinding di Chicago sendiri berada di Library of Congress Amerika Serikat. Di Prancis, data-data karinding mencakup artefak perekaman karinding di Banjaran yang dilakukan oleh Ernst Heins tahun 1968 dan terjaga rapi di Ocora Record, Paris. Data-data perekaman karinding tahun 1970an hingga kini relatif masih terjaga di beberapa tempat di Bandung dan Jakarta, terserak di para etnomusikolog senior seperti Endo Suanda dan Asep Nata, juga musisi progresif seperti Harry Roesli, Sapto Rahardjo, Doel Sumbang, dan Chrisye. Riset dilakukan sejak Juni 2013 hingga November 2017 sebelum kemudian melalui proses edit dan tata letak. Rencananya Juli 2019 buku Sejarah Karinding Priangan sudah bisa diterbitkan dan dibaca bersama-sama. Jika semua lancar, buku ini akan menjadi buku pertama sejarah karinding yang pernah ditulis. Selain itu hasil riset juga akan didokumentasikan secara audio dan visual dalam bentuk kompilasi karinding Priangan dan film dokumenter mengenai ranah musik karinding Banten dan Jawa Barat. Riset buku Sejarah Karinding Priangan terdiri dari : 1.Riset Indepeden, antara 2008 hingga 2014 2.Riset SAM, tahun 2015 3.Program Karinding Goes To Europe, sebelumnya sudah digelar tahun 2016 ketika Kimung dan Diah Paramitha diundang untuk presentasi di 9th Midterm Conference of the RN-Sociology of the Arts ini digelar oleh ESA, atau Jaringan Penelitian Sosiologi Seni, tanggal 8 sampai 10 September 2016 di Fakultas Seni dan Humaniora, University of Porto, Portugal. Mewakili Indonesia dalam konferensi tersebut adalah Iman Rahman Anggawiria Kusumah atau Kimung dan Diah Paramitha Tri Pusitasari dari kelompok riset ATAP Class, membawakan presentasi berjudul “The Dynamics of Karinding: the Role of Bandung Underground Metal and Punk Music Movement in Generating Karinding as the Traditional Instrument from West Java, Indonesia, and Its Unique Relationship”. Didukung juga oleh DCDC, program dilanjut ke riset di Museum Volkenkunde di ‘s-Gravenzande dan menemui tiga tokoh International Jewsharp Society di Belanda (Daniel Hentschel, Harm Linsen, dan Phons Bakx) di Belanda serta Profesor Tran Quang Hai di Prancis. Riset ini berhasil mengumpulkan 156 data mengenai karinding dan harpa mulut Indonesia yang kemudian menjadi sumber utama buku Sejarah Karinding Priangan dan titik awal riset buku Ragam Harpa Mulut Indonesia. 4.Karinding Goes To Europe II merupakan prgram riset lanjutan yang sudah dirintis tahun 2016. Kini tempat yang menjadi tujuan utama riset adalah Tropenmuseum di Amsterdam, Ocora Records Radio France di Paris, dan Musee de L’Homme di Paris. Program Karinding Goes To Europe II juga masih dinaungi oleh sekolah ATAP Class dan kembali akan menggandeng DCDC sebagai sponsor utama. Kali ini tim Karinding Goes To Europe II akan terdiri dari Iman Rahman Anggawiria Kusumah dan Diah Ayu Hediati Kusuma. Dalam perjalanan kali ini ada enam tempat yang menyimpan data kesejarahan karinding dan harpa mulut Nusantara yang akan kami kunjungi di Prancis dan Belanda. Selain itu kami juga akan menemui enam penggiat IHJS untuk bertukar informasi mengenai ranah karinding yang sudah rata-rata mereka teliti sejak tahun 1985, selain tentu saja semakin mempererat hubungan jejaring internasional antar para pemain karinding. Hubungan jejaring internasional ini sangat penting karena akan semakin memperkukuh keberadaan karinding di Jawa Barat dan harpa mulut di Nusantara sebagai bagan penting warisan budaya dunia. Tempat-tempat riset yang dikunjungi adalah Tropenmuseum, Amsterdam; Ocora Records, Radio France, Paris; dan Musee de L’Homee, Paris, Prancis. 5.Naratas Akar, Atap Class Eurasia merupakan program perjalanan pelenitian dan pendokumentasian artefak sejarah musik di Eropa dan Asia yang berhubungan dengan Indonesia. Perjalanan Naratas Akar dimulai tanggal 24 Juni hingga 7 Juli 2018, dilakukan oleh Astria Fadhilah Primantari, Dini Nurdiyanti, Hinhin Agung Daryana, dan Kimung. Yang berkaitan dengan karinding terutama di Kuching, Sarawak, Malaysia, ketika tim Naratas Akar meliput penampilan Karinding Attack di Rainforest Fringe Festival berkolaborasi dengan Wendy Teo, serta pameran harpa mulut koleksi Kimung. Rainforest Fringe Festival merupakan ajang pemanasan Rainforest Festival, digelar tak hanya menampilkan musik, namun berbagai kolaborasi antar berbagai hasrat kreatif yang kemudian melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru di ranah-ranah yang saling berkolaborasi. Dana perjalanan riset-riset tersebut mencapai angka sekitar Rp 300.000.000,00 terdiri dari dana hibah, sponsor, dan setengah dari biaya tersebut diambil dari dana pribadi. ISI BUKU TUTUNGGULAN PIRIGAN 1 SEJARAH KARINDING KLASIK PIRIGAN 2 JEJAK-JEJAK REKAM KARINIDNG YANG PERTAMA PIRIGAN 3 KEARIFAN LOKAL DI BALIK KARINDING PIRIGAN 4 SUNDA UNDERGORUND KARINDING ATTACK PIRIGAN 5 KARINDING CIAMIS PIRIGAN 6 KARINDING TASIKMALAYA PIRIGAN 7 KARINDING GARUT PIRIGAN 8 KARINDING SUMEDANG PIRIGAN 9 KARINDING KABUPATEN BANDUNG PIRIGAN 10 KARINDING KOTA BANDUNG PIRIGAN 11 KARINDING CIMAHI PIRIGAN 12 KARINDING BANDUNG BARAT PIRIGAN 13 KARINDING CIANJUR PIRIGAN 14 KARINDING SUKABUMI PIRIGAN 15 KARINDING BOGOR PIRIGAN 16 KARINDING BANTEN, TANGERANG, JAKARTA PIRIGAN 17 KARINDING BEKASI, KARAWANG, PURWAKARTA PIRIGAN 18 KARINDING SUBANG PIRIGAN 19 KARINDING INDRAMAYU CIREBON PIRIGAN 20 KARINDING KUNINGAN PIRIGAN 21 KARINDING MAJALENGKA PIRIGAN 22 KARINDING GOES TO EUROPE PAMUNAH SUMBER-SUMBER Buku Sejarah Karinding Priangan cetakan pertama hanya akan dicetak hingga 666 buku. Sistem pencetakan dan penerbitannya print on demand. Buku akan terbit secara berkala sesuai pesanan untuk dicetak. Harga buku Rp 666.666,-. Pemesanan buku bisa dilakukan di website www.pangaubankarinding.com atau bisa hubungi akun Instagram @pangaubankarinding dan @kimun666. J.p.//pangaubankarinding//01

ALBUM REVIEW: CARNIVORED – LABIRIN

CARNIVORED akhirnya back with vengeance dengan album terbarunya tahun ini, tidak terasa sudah hampir tujuh tahun lama nya semenjak grup death metal asal Pamulang, Tangsel ini memuntahkan album kedua mereka ‘No Truth Found’ tahun 2014 silam. Album tersebut bersama ‘In Praise of Devastation’ dari FUNERAL INCEPTION dan rilisan debut EXHUMATION ‘Hymn To Your God’ telah menjadi artefak penting scene bawah tanah dalam negeri era 2010, selain materi ketiga-nya tergolong lebih fresh dibandingkan mayoritas para pembawa panji-panji death metal tanah air saat itu, yang mayoritas masih bergelut dengan pakem brutal death metal, ketiga album tersebut juga didukung kualitas produksi yang berkelas dan diatas rata-rata, gak kalah dengan hasil garapan musisi-musisi kelas internasional. Selama lebih dari setengah dekade pasca pelepasan ‘No Truth Found’, CARNIVORED tak lantas cepat puas dengan pencapaian mereka dalam album tersebut, disela-sela kesibukan naik turun panggung gigs, CARNIVORED pelan tapi pasti merancang cetak biru untuk album ketiga mereka semenjak tahun 2015, dan bukan CARNIVORED namanya kalau tak memberikan kejutan pada tiap-tiap album baru, dan saya rasa publik bakal sedikit kaget dengan pergeseran gaya death metal yang ada dalam ‘Labirin’. Bagi mereka yang beruntung sempat mendapatkan ‘Demo 2018’, berisikan tiga buah lagu dulu, pasti sudah gak bakalan kaget lagi dengan materi yang CARNIVORED lemparkan kali ini, Tapi bagi yang udah terlanjur berekspektasi telalu tinggi seperti saya, single pertama dari album Labirin yaitu ‘Rintih Mengemis’ sudah bikin kecele.
Memang dalam ‘No Truth Found’ sendiri sudah banyak di susupi oleh groove–groove model GOJIRA dan MESHUGGAH (contoh “Heresy Of The Priest”, “Angel of Piggish” dan “Living Peace In Slavery” misalnya) meskipun masih dalam konteks tech death, ‘Labirin’ masih sangat masuk akal, kurang lebih gaya bermusik CARNIVORED sekarang sejalan seperti ketika DECAPITATED memutuskan untuk meggodok materi death metal yang lebih groove based pasca reuni. ‘Labirin’ dibuka dengan lagu paling lembek dalam album yaitu “Tunduk Raga”, dimana aransemen nya lebih cocok jadi b-sides LAMB OF GOD dan DEVILDRIVER era ‘Pray for Villains’, ‘Labirin’ bakal lebih nendang apabila dibuka dengan “Tools of Silence” yang jauh lebih sukses memamerkan new approach CARNIVORED sekarang, sebuah nomer ganas layaknya kombinasi antara OPETH – “Ghost of Perdition” dengan riff Florida death metal sangar MALEVOLENT CREATION dan sisi melodius FIT FOR AN AUTOPSY. Namun tak semua pendeketan baru yang ditampilkan band ini berhasil, “Sekarat Asa” dan “Sekutu Hitam” menurut saya masih terasa setengah matang dan kurang bumbu sama seperti lagu pembuka “Tunduk Raga”, untung nya album ini diselamatkan dua centerpiece album “Paranoia” lalu “Industrial Casualties”, keduanya berhasil di eksekusi hampir sempurna, cuma “Industrial Casualties” ada baiknya kalau di dengarkan jangan secara ketengan diluar konteks album tanpa sang pengantar (“Paranoia”). Kalau banyak album dipasaran yang terasa sekali front-loaded alias momen-momen terbaiknya berada pada awal album, ‘Labirin’ justru kebalikanya, “Death Invest” bersama “Terjerat Senyap” merupakan dua nomor terbaik dalam album, tetapi posisi dua lagu tersebut dalam tracklist sebenernya bisa ditukar biar pacing berikut flow nya lebih ngena dan masuk akal. Selanjutnya trek semi-paripurna “Angkuh Menjalar” merupakan komposisi paling jauh dari akar death metal yang pernah ditulis CARNIVORED, namun groove yang disajikan lumayan renyah plus bagian verse dan chorus sangat memorable, meski pada bagian breakdown rada terlalu mirip FIT FOR AN AUTOPSY. ‘Labirin’ akhirnya ditutup dengan title track instrumental epik dimana CARNIVORED turut mengundang Stevi Item untuk menyumpangkan permainan lead fantastis nya, penutup tersebut juga menjadi nomor paling ambisius sekaligus progresif dalam ‘Labirin’, punya nuansa dan feels mirip musik pengiring saat melawan Final Boss dalam video game aksi atau RPG, dan eitss jangan langsung menekan tombol eject pemutar CD kalian dulu, karena masih ada hidden track “Geriliya Voodoo” bagi kalian penggemar djent. Meskipun jauh diluar ekspektasi dan ada beberapa lagu yang saya rasa bisa di cut saja, kenekatan CARNIVORED untuk sedikit pindah jalur patut di beri jempol walau eksekusi di beberapa tempat nya masih agak kurang nampol. Kita lihat saja eksplorasi apalagi yang bakal CARNIVORED siapkan dalam album berikutnya, dan semoga gak terlalu lama jaraknya lagi seperti yang sekarang ini.

Rabu, 27 Januari 2021

Enam Tahun Berdir,Debut Album Penuh Sufism:''Republik Rakyat Jelata'' Di Rilis

Untuk para penyuka musik brutal death metal dengan aransemen sederhana, vokal growl dengan artikulasi jelas, tune gitar yang berat, suara bas yang menonjol dan permainan drum yang cepat, 'Republik Rakyat Jelata' dari Sufism dirasa tepat untuk masuk ke daftar dengar. Kuartet death metal asal Cangkuang, Bandung Selatan, Sufism meluncurkan album penuh perdana mereka. Tepatnya pada 13 Desember 2020 di bawah bendera Brutal Mind, Republik Rakyat Jelata dirilis baik dalam bentuk digital maupun fisik. Terdapat sepuluh buah lagu yang disertakan dalam debut album mereka. Berturut-turut,nomer cadas dalam album terbaru Sufism adalah "Republik Rakyat Jelata","Sayatan Nadi Takdir Kebencian","Duruwiksa","Munajat Bejad","Palastra","Rogahala","Kalawasana","Syaitan","Darkness In Your Candle" dan "Mufakat Jahat" Album ini di rasa cocok untuk penyuka musik Brutal Death Metal dengan aransemen yang sederhana,karakter vokal growl dengan artikulasi jelas,tune gitar yang berat,suara bas yang menonjol dan permainan drum yang cepat.
Yang membuat album ini unik terletak pada artwork yang dipakai. Jika biasanya artwork dari album-album death metal dihiasi unsur-unsur kegelapan dan menyeramkan, setan, darah, hingga kematian, justru keasrian suasana pedesaan jadi pilihan Sufism untuk sampul album Republik Rakyat Jelata. Memperlihatkan suasana pedesaan yang sejuk, pematang sawah yang hijau hingga aktivitas petani dan pasar tradisional, sepertinya Sufism berusaha memperlihatkan seperti apa lingkungan hidup para personil sehari-hari. Artwork-nya digarap oleh Aghy R. Purakusuma. Album dari band yang diperkuat oleh Nanang (vokal), Sandy (gitar), Iman (bas) dan Ari (drum) ini direkam di Yeah Music Studio dengan dioperatori oleh Bimo. Untuk urusan mixing & mastering dipercayakan pada Simon (Sanwa Home Recording). Kini, Republik Rakyat Jelata sudah bisa dinikmati lewat cakram padat atau lewat kanal musik streaming, seperti Spotify, Apple Music dan Bandcamp.

Sabtu, 02 Januari 2021

‘Silalatu’ : Bunga Api dan Fragmen Multi Dimensi Dari Forgotten

‘Silalatu’ merupakan sebutan untuk bunga api yang beterbangan tatkala jilatan api membesar. Hal tersebut kemudian Forgotten jadikan sebagai simbol narasi utama, lanjutan dari album Kaliyuga, yang mereka rilis dua tahun lalu Forgotten, salah satu pionir band death metal asal Ujung berung, yang terbentuk pada tahun 1994 lalu ini menjalani 26 tahun perjalannya dengan beberapa buah album dan single berbahaya yang patut disimak. Band yang tumbuh dengan kontroversi serta isian lirik yang bernas dengan ramuan musik death metal ini sejak awal kemunculannya langsung dikenal sebagai band yang menyuarakan hal-hal yang tidak familiar untuk diaminkan banyak orang, yang juga mampu menyulut kontroversi dibanyak kalangan. Tema seputar politik, sosial, ekonomi, hingga yang berkolerasi dengan prinsip pribadi menjadi fokus yang mereka angkat. Forgotten menjadi band yang paling diperhitungkan, ketika band ini mampu meramu lirik yang terbilang frontal ke dalam isian lagu-lagunya. Lagu-lagu semisal “Tuhan Telah Mati”, atau “Selangkangan Agama”, secara estetika dan isiannya, menjadi lagu dengan hujan kritik yang berani, karena banyak bermain diranah sensitif, perihal hal-hal dogmatis, yang berkembang di masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahkan ketika mereka bicara cinta pun, mereka punya sudut pandang yang berbeda lewat padanan lirik “nyatakan cinta dengan lemparan batu”, di lagu mereka yang berjudul “Aku Jatuh Cinta”. Melanjutkan epsiode perjalanan bermusiknya, Forgotten kembali menawarkan karya cipta terbarunya, yang kali ini semua nyala kreasinya bermuara di album berjudul Silalatu. Dilansir dari rilisan pers yang DCDC terima, nama Silalatu merupakan sebutan untuk bunga api yang beterbangan tatkala jilatan api membesar. Hal tersebut kemudian mereka jadikan sebagai simbol narasi utama sebagai lanjutan dari album Kaliyuga, yang mereka rilis dua tahun lalu. Lebih jauh tentang albumnya, diakui pula oleh mereka jika Silalatu merupakan potret dari konflik yang lahir dari krisis multi dimensi yang hari ini hadapi. Mereka membuka album dengan alunan seruling sunda yang mewakili kondisi kehidupan selaras manusia dengan alam, dan tiba-tiba runtuh oleh gemuruh riff mencekam, deru ritme drum dan gedoran bass dan teriakan reportase tentang penjarahan, perampasan ruang hidup, korosi total, fabrikasi ‘kebenaran’, tentang negara sebagai alat destruksi. Tentang sunyi yang dibaliknya tersembunyi rencana-rencana jahat untuk merubah tatanan keselarasan antara manusia dan alam sekitarnya. Berisikan 7 lagu, album Silalatu merupakan kesatuan fragmen dari pembabakan panjang cerita tentang awal proses penghancuran dan upaya-upaya yang kerap hadir menolaknya. Ditulis sebelum pengesahan Omnibus Law dan gelombang aksi protes yang menyertainya akhir-akhir ini, Silalatu merupakan salah satu album lokal yang merepresentasikan kondisi terkini dari proses itu. Dengan kemegahan yang mencekam, riff old-school, agresi dan kecepatan tanpa kompromi, Silalatu adalah Death Metal yang kita kenal dari Forgotten. Dengan pengaruh kental dari death metal Florida semacam Malevolent Creation dan Death, para eksponen NY seperti Cannibal Corpse dan Suffocation hingga melodi bandband death metal Swedia seperti At The Gates dan Dismember. Info lebih lanjut tentang album terbaru Forgotten ini, bisa disimak melalui akun instagram @grimlocrecords