Bandung kerap kali dikenal sebagai penghasil band-band keras jempolan di masa berjayanya musik underground di sekitar medio ‘90-an. Terlebih, kota dengan julukan Kota Kembang ini juga sempat menjadi arena tempat berlaganya musik arus pinggir dengan minat termasif yang pernah dicatat sejarah musik dalam negeri lewat berbagai helatan yang terselengara di kota tersebut.
Ujungberung menjadi salah satu rumah tempat lahirnya band-band tersebut. Tak terkecuali nama Burgerkill yang besar di sana. Mengawali langkahnya di tahun 1995, lima tahun setelahnya mereka pun mengenalkannya secara utuh (sebelumnya sempat melepas beberapa isinya melalui berbagai kompilasi) mahakarya hardcore sekaligus debut album penuh dengan tajuk Dua Sisi (2000).
Dua Sisi adalah salah satu artefak hardcore terpenting di kancah lokal. Sebelum kemudian mereka memuntahkan legacy selanjutnya melalui Berkarat (2003), album ini rasanya menjadi rilisan vital yang membangun pondasi konsistensi mereka (baik dalam musik maupun spirit) hingga hari ini.
Formasi klasik berisikan Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah (vokal), True ‘Eben’ Megabenz (gitar), Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias ‘Kimung’ (bas), dan Toto Supriatin (drum) merakit berbagai suara yang kala itu masih banyak dipengaruhi oleh beragam senyawa hardcore. Mulai dari New York hardcore, European hardcore, hingga old school hardcore.
Di bawah bendera Riotic Records milik Dadan Ketu (saat ini manajer Burgerkill), mereka memadati Dua Sisi dengan muatan 12 trek berisikan; “Heal The Pain”, “Revolt”,”Let’s Fight”, “M.T.P.M”, “Hancur”, “Sakit Jiwa”, “My Self”, “Rendah”, “Homeless Crew”, “Blank Proudnes”, “Everything Sux!”, serta trek cover “Guilty Of Being White” milik Minor Threat.
Album ini sempat di-re-issue oleh Sony Music pada tahun 2005. Namun, kali ini “Guilty Of Being White” harus dihapuskan karena urusan izin. Konon, pihak Minor Threat hanya mempersilahkan lagunya dipakai dalam koridor independen. Sehingga mereka pun menggantinya dengan “Everlasting Hope Never Ending Pain”.
Jika saya, sebagai generasi streaming menikmatinya hari ini melalui layanan musik digital, mungkin nomor ke-12 (baik “Guilty Of Being White” atau “Everlasting Hope Never Ending Pain”) tidak pernah termuat. Beruntung mereka yang berhasil mengamankan rilisan fisiknya jauh-jauh hari sebelum saya menyadari bahwa album ini brilian. Meskipun sebenarnya, trek tersisa pun bisa dibilang lebih dari cukup.
Dua Sisi hampir tak memberikan celah bagi pendengar untuk tidak ikut merasakan kemuakan yang mereka lepehkan dengan tingkat agresivitas di atas rata-rata band hardcore lokal sejawatnya. Sebagai salah satu bentuk dari upaya counter-culture arus utama yang (saat itu dan memang selalu) membosankan, tentu album ini dinilai cukup revolusioner dalam menyampaikan spirit hardcore kepada publik.
Dua Sisi tentu sangat layak dimasukan dalam deretan album hardcore lokal terbaik. Bahkan setelah dua dekade pasca perilisannya. Spirit yang akan terus mengalir dari generasi pembangkang terdahulu ke generasi pembangkang selanjutnya. Sehingga kurun waktu tak lagi berlaku dan akan digantikan dengan kata “sepanjang masa”.
Belum lama keluar dari jeruji besi, ada kabar mengejutkan lagi dari Daniel Mardhany. Doi resmi keluar dari DeadSquad!
"Terima kasih kepada Daniel Mardhany atas semua kontribusinya dalam perjalanan karir DeadSquad sejak tahun 2009." tulis akun Instagram @deadsquad.official, singkat.
Memantau akun Instagram Daniel yakni @possessedtomerch, nama DeadSquad memang sudah nggak ada di bio.
Bio Instagram Daniel berisi segala proyek musik dan bisnis yang ia kerjakan, plus nama sang istri.
Kini, DeadSquad telah dihapus dari daftar.
Mantan drummer sekaligus salah satu pendiri band Slipknot, Joey Jordison, meninggal dunia di usia 46 tahun. Hal itu diumumkan pihak keluarga mendiang pada Selasa (27/7) waktu Amerika Serikat.
"Kami sedih mengabarkan berita bahwa Joey Jordison, drummer, musisi, dan seniman yang produktif meninggal dunia dengan damai dalam tidurnya pada 26 Juli, 2021," kata pihak keluarga dalam pernyataan kepada Billboard yang dirilis pada Selasa (27/7) waktu setempat.
"Kematian Joey menjadi kehampaan dalam hati kami dan meninggalkan rasa duka tak terkira. Kepada siapapun yang mengetahui Joey, memahami kecerdasannya yang cepat, kepribadiannya yang lembut, hati yang besar, dan kecintaannya pada semua hal tentang keluarga dan musik," lanjutnya.
"Keluarga Joey telah meminta kepada teman-teman, penggemar, dan media untuk menghormati kebutuhan kami akan privasi dan kedamaian di momen yang sulit ini. Pihak keluarga akan mengadakan pemakaman secara privat dan meminta media dan publik menghargai keinginan mereka," kata pernyataan tersebut.
Kalau ditanya hal apa yang paling saya kangenin ketika pandemi ini, maka jawaban saya adalah datang ke micro-gigs. Selain tentunya jadi salah satu tempat favorit buat ketemu sama teman-teman sepermainan, lewat micro-gigs juga saya sering menemukan band-band ajaib nan underrated yang belum terlalu dikenal banyak orang. Bisa dibilang semacam menemukan harta karun.
Karena belakangan ini sedang ramai banyak band-band emo yang muncul dan dibahas, saya jadi ingat salah satu band emo yang saya temukan melalui acara micro-gigs pada saat itu. Band yang saya maksud adalah Aillis, unit midwest-emo/skramz asal Bandung beranggotakan Fikri Suryatama (Gitar/Vocal), Akhyar Mustofa (Vokal), Yudha Rizkia (Bass), dan Haris Suryadinata (Drum). Band yang terbentuk sejak tahun 2015 tersebut cukup sering mengisi berbagai micro-gigs, terutama pada acara yang diadakan oleh para sobat emo ataupun sobat hardcore punk.
Selain penampilannya yang selalu enerjik dan emosional, ada beberapa hal lain yang membuat saya cukup mengingat Aillis, salah satu di antaranya adalah mereka membawakan musik perpaduan antara midwest-emo dan juga skramz. Sesuatu yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan formula dari band-band lokal yang biasanya hanya cenderung untuk condong ke salah satunya saja.
Fusi antara aransemen midwest-emo yang nggak terlalu heavy lalu kemudian digabungkan dengan pendekatan vokal agresif ala skramz menjadi suguhan utama yang disajikan oleh Aillis pada keseluruhan lagunya. Jadi, kalian tetap bisa mendengarkan permainan gitar dengan sound twinkly, dengan iringan permainan drum bertempo sedang, khas komposisi midwest-emo, namun kemudian ditambahkan dengan teriakan pada bagian vokal. Bayangkan jika Tiny Moving Parts bertemu dengan Suis La Lune, maka hasilnya adalah Aillis. Sebuah kombinasi yang cukup unik.
Hingga saat ini, Aillis baru mengeluarkan 1 buah EP, ‘Believe 114’, dan 2 buah single, yaitu ‘Alive’ dan ‘Suarakala’. Kalau dibandingkan dengan usia bandnya, yaa menurut saya hal tersebut masih terbilang kurang produktif, sih. Sebuah hal yang saya sayangkan banget. Padahal secara materi, mereka menyuguhkan sesuatu yang terbilang segar, di tengah banyaknya band emo yang bermunculan namun membawakan formula musik yang bisa dibilang masih terlalu generic.
Selain itu, narasi pada lirik yang dibawakan oleh Aillis juga terbilang cukup unik dan berbeda dibandingkan para koleganya. Jika kebanyakan band lokal yang membawa identitas “emo” masih bermain aman dengan narasi klise mengenai percintaan, kuartet tersebut keluar dari jalur dengan membawakan lirik yang membicarakan mengenai kehidupan, sehingga terasa sangat cocok sebagai pengiring kontemplasi diri. Bahkan, pada lagu-lagu yang ada di EP perdananya, Aillis menulis lirik dengan makna spiritual, mengenai hubungan antara makhluk dengan Sang Penciptanya.
Aillis seakan membuktikan bahwa band emo itu nggak melulu harus membawakan narasi sedih mengenai percintaan, bisa juga membawakan lirik yang kontemplatif seperti yang mereka lakukan. Membuat kita bisa berintrospeksi dan berkomunikasi dengan diri sendiri. Kalau menurut saya mah, hal itu juga emo banget.
Rasanya, jika Aillis ingin merilis sesuatu yang baru, sekarang adalah waktu yang tepat, karena saat ini sudah banyak orang yang mulai aware dan mendengarkan musik midwest-emo/skramz jika dibandingkan ketika awal kemunculan mereka.
Saya selalu menunggu kabar ataupun rilisan terbaru dari roster Benalu Records tersebut. Semoga dalam waktu dekat ada kejutan yang dihadirkan oleh Aillis bagi para pendengarnya. Nah, buat kamu yang bosan denger band-band emo yang membawakan narasi soal percintaan atau kalau kalian pecinta permainan gitar muruluk ala Tiny Moving Parts, maka Aillis adalah salah satu alternatif yang bisa kamu dengarkan.
GOR Saparua sebagai jantung musik arus pinggir Bandung di era ‘90-an memang bukan hanya sekedar mitos. Tempat tersebut merupakan saksi bisu dari gejolak semangat para pemberdaya musik mandiri, terutama jika berbicara mengenai Bandung. Selain sebagai arena yang bersifat magnetis untuk para penggemar musik-musik underground, eksisnya Saparua juga sempat menjadi bidan dari kelahiran beberapa subkultur dari berbagai pergerakan yang tengah berjalan di era itu. Istilah kerennya, counter-culture.
Kita mungkin sudah mendengar banyak cerita mengenai tempat bersejarah untuk penggerakan musik arus pinggir lokal yang sudah dibangun sejak tahun 1969 ini. Tak sedikit juga band-band era tersebut yang masih eksis hingga hari ini sebagai saksi bagaimana panggung Saparua sangat menghidupi ekosistem musik underground saat itu. Dimulai dari sana lahirlah komunitas-komunitas kecil, edaran zine sebagai sarana bertukar informasi, serta pandangan hidup yang masih diadaptasi dari musik.
Pergerakan-pergerakan mandiri tersebut akhirnya menjadi sebuah counter-culture yang aktif untuk beberapa subkultur yang tengah berlaku di era ‘90-an. Bagaimana tidak? Di saat era itu Nirvana sedang banyak dipertontonkan di layar kaca. Cobain dan koleganya seakan menjadi demam baru lewat “Smells Like Teen Spirit” serta fashion statement mereka. Grunge pun mulai dianggap sebagai the new mainstream era itu. Imbas dari fenomena grunge tersebut pun menyulut beberapa musisi cetakan yang dikemas lebih ‘pop’ di ranah lokal semacam Nugie dan Oppie Andaresta.
Di sisi lain, band-band rock jebolan Log Zhelebour seperti Boomerang dan Jamrud pun sedang banyak diminati pada era itu. Atau jika kita membahas yang lebih populis lagi untuk ranah nasional, rasanya grup-grup pop rock dengan dalih cinta semacam Dewa 19 atau Ada Band pun mulai berdatang dari ranah mayor label. Fenomena tersebut seakan membuat tahun itu mempunyai ilusi bahwa masa itu era yang besar untuk musik rock. Padahal kenyataannya, semua yang disajikan secara populer terasa cukup generik dan membosankan.
Di sinilah Saparua memegang peran krusial dan unik sebagai bentuk counter-culture dengan cara yang lebih hardcore, yaitu dengan menyatukan berbagai aliran musik ke dalam satu arena yang dipadati scenesters arus pinggir. Selain sebagai angin segar yang menjadi alternatif dari tren musik populer, panggung musik di GOR Saparua mampu memberikan spotlight untuk beragam band dengan musiknya sendiri ke dalam ekosistemnya. Buktinya tidak hanya band-band underground macam metal atau punk yang bisa berhura-hura di Saparua, band-band pop seperti Pure Saturday dan Cherry Bombshell pun punya nama tersendiri bagi para individu yang mengalami masa kejayaan Saparua di waktu itu.
Selain menjadi angin segar untuk asupan musik kancah lokal lewat helatan mandiri, berbagai subkultur yang terseret oleh musik yang berkaitan dengannya pun hidup dan berkembang di lingkup para pelaku di dalamnya. Tak dapat dipungkiri, semua aspek yang berkaitan dengan musik apa pun yang dimainkan di era Saparua menjadi suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan mau tidak mau, para pelakunya pun harus bisa memahami (atau mengamalkan) semua aspek “kebudayaan” atau “pergerakan” yang membuntutinya.
Sebagai contohnya, beberapa komunitas kecil lahir dari “tongkrongan” musik Saparua dan mulai mengakuisisi beberapa titik di kota Bandung. Seperti tongkrongan PI (yang saat ini dikenal sebagai BIP) dan Riotic, distro pertama yang lahir di scene musik dan berawal di Cijerah, hingga Sadar 181. Kolektif-kolektif tersebut lahir dari scene hardcore. Dari komunitas-komunitas yang memiliki perbedaan acuan subkultur tersebut, maka lahirlah pula zine sebagai salah satu media favorit para pelaku di era tersebut untuk menyuarakan opininya sekaligus mempromosikan subkultur yang mereka emban.
Poros zine di era Saparua memang terhitung gencar dan marak. Keterbatasan informasi menjadikan produk fisik jauh lebih efisien ketimbang digital. Ketika akses internet tak semudah hari ini, maka zine pun menjadi penopang informasi untuk bertukar referensi dan wawasan. Bahkan mengetahui beberapa kabar terkini di dunia arus pinggir. Contohnya, zine yang diproduksi dari Sadar 181 berjudul Bandung Edge News.
Selain upaya dari komunitas tersebut, spirit straight edge tentu menyelusup lewat band-band yang tampil di era Saparua. Band-band straight edge lokal yang sempat bermain di Saparua seperti Blind To See dan Manusia Buatan tak tentu tak lepas dari peran mengamanahi gaya hidup straight edge untuk diminati di kancah hardcore lokal.
Saparua seakan menjadi salah satu sentral budaya tandingan dari budaya populer yang sedang berjalan di eranya. Memantik berbagai pergerakan untuk bergerilya dan menciptakan ekosistem yang berjalan seiringan. Meskipun saat ini arena Saparua sudah tak lagi berfungsi sebagai daratan gigs underground, namun dampak yang ditinggalkannya seakan tak pernah terhapus. Beberapa dari counter-culture tersebut masih berjalan hingga hari ini, tentu peran Saparua tak dapat lepas di dalamnya.
Vokalis merangkap gitaris Behemoth, Adam Darski yang beken dengan nama panggung Nergal, telah kembali terseret ke dalam kasus penistaan agama di negara asalnya, Polandia. Nergal dituduh telah menyakiti perasaan religius banyak orang. Tuduhan itu berasal dari postingan media sosial tahun 2019 Nergal yang menunjukkan kaki Nergal menginjak lukisan Bunda Maria.
Menurut media Notes From Polandia, Nergal diperintahkan untuk membayar denda sebesar 15.000 złoty (sekitar US$ 4.000) dan biaya pengadilan hampir 3.500 zloty (sekitar us$ 942). Namun, kasus tersebut akan disidangkan karena Nergal menggugat putusan tersebut. Jika terbukti bersalah di persidangan, musisi extreme metal itu terancam hukuman dua tahun penjara.
Sebagai pentolan band black/death metal yang lagu-lagunya sarat tema “blasphemy” alias penistaan agama, postingan Nergal di media sosial tersebut sudah biasa bagi para metalhead di Polandia. Namun, karena status Nergal sebagai musisi “pseudo-selebriti” di negara Katolik yang taat itu, terutama setelah penampilannya sebagai juri di The Voice of Poland, acara bakat vokal populer di TV, tindakan Nergal telah menarik perhatian lebih. Ada sekelompok orang di luar scene metal yang tidak terima.
Setelah Nergal membuat postingan yang menghina Bunda Maria, kelompok hukum konservatif Ordo Iuris dan sebuah organisasi yang dikenal sebagai Towarzystwo Patriotyczne (“Masyarakat Patriotik”) memberi tahu pihak berwenang bahwa Nergal telah “menyinggung perasaan religius empat orang”, termasuk seorang politikus dari Polandia yang menguasai koalisi konservatif.
“Dalam proses persidangan, pihak-pihak yang dirugikan ditanyai dan mereka dengan jelas menyatakan bahwa perasaan keagamaan mereka tersinggung,” kata Aleksandra Skrzyniarz, juru bicara kantor kejaksaan distrik Warsaw.
Bukti jaksa didukung oleh keterangan saksi dari seorang “ahli studi agama” yang menilai bahwa “menginjak dengan sepatu di gambar Bunda Tuhan adalah pelanggaran terhadap perasaan agama,” menurut Skrzyniarz. Investigasi tersebut juga mengutip Pasal 196 hukum pidana Polandia: “Siapa pun yang menyinggung perasaan religius orang lain dengan menghina secara terbuka suatu objek ibadat keagamaan, atau tempat yang ditetapkan untuk upacara keagamaan publik, dikenai denda, dibatasi atau dirampas kebebasannya untuk jangka waktu hingga dua tahun”.
Undang-undang kuno tersebut telah diperdebatkan oleh Amnesty International, yang sebelumnya meminta pemerintah Polandia untuk mencabut atau mengamandemen undang-undang tersebut. Undang-undang yang selama ini sudah dikenal oleh Nergal dan Behemoth. Pada tahun 2018, Nergal secara resmi didakwa oleh pemerintah lantaran artwork merchandise tur Behemoth “Republic of the Unfaithful”, yang konon “menghina” lambang nasional. Yang paling terkenal, Nergal menghadapi dakwaan (yang kemudian doi dibebaskan) karena merobek Alkitab di atas panggung saat konser Behemoth di Gdynia pada tahun 2007.
Nergal baru-baru ini membandingkan pemerintah Polandia dengan “masa lalu Abad Pertengahan yang menakutkan”. Dalam hal ini, doi merujuk pada larangan aborsi yang hampir total di negara itu yang diberlakukan akhir bulan lalu, mengkritik Polandia dalam postingan Instagram-nya yang telah dihapus
Kancah musik keras Indonesia adalah termasuk yang terbesar di dunia. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya jumlah band yang berkecimpung di dalamnya, begitu pula bila ditilik dari jumlah penonton yang selalu memenuhi festival-festival metal besar tanah air. Dari sekian band yang bermunculan dari kancah musik keras tanah air yang muncul dari era pertengahan 1990-an, tersebut satu yang namanya berkibar tinggi hingga sekarang, Burgerkill.
Dibentuk di Bandung pada tahun 1995 silam, Burgerkill muncul dari Ujungberung Rebels sebuah tongkrongan yang menjadi inkubator skena metal di Jawa Barat. Mengusung hardcore, band ini menjadi angsa hitam di Ujungberung yang mayoritas bandnya bermain di ranah extreme metal.
Burgerkill di Bloodstock Festival 2015 di Inggris
Lahir dan bertumbuh dari ranah underground dan bertahan hingga sekarang, dan menjadi salah satu band musik keras papan atas nasional bukan lah perkara mudah. Dalam perjalanannya Burgerkill beberapa kali mengalami pergantian personilnya, hingga momentum ketika mereka kehilangan sosok vokalis karismatik, Ivan Scumbag. Fragmen kehidupan Ivan terekam dalam buku My Self: Scumbag, Beyond Life and Death yang ditulis oleh Kimung – yang notabene adalah juga mantan pemain bass Burgerkill. Tapi dinamika dan problem yang harus mereka hadapi tidak membuat mereka kendur yang ada malah membuat mereka semakin kuat, line-up Burgerkill sekarang diperkuat oleh Ebenz (gitar), Ramdan (bass), Vicky (vokal), Agung (gitar), dan Putra Ramadhan (drum).
Buah dari persistensi dan integritas Burgekill pun ditunjukkan dengan meraih Best Metal Productions di AMI Awards untuk album Berkarat pada tahun 2004, hingga Metal Hammer Golden Gods Awards untuk kategori Metal As F*ck di tahun 2013 lalu. Bukan hanya itu, Burgerkill pun mendapat pengakuan sebagai salah satu band metal terbaik sepanjang masa dari majalah ternama Metal Hammer. Apresiasi global juga mereka capai dengan menjajal panggung-panggung di luar negara, seperti Big Day Out dan Soundwave di Australia, Wacken Open Air di Jerman, Bloodstock Festival di Inggris, hingga menggeber tur ke Eropa dan Amerika Serikat. Pencapaian yang tidak bisa dipandang sebelah mata, dan jelas membutuhkan kerja keras.
Burgerkill di panggung Wacken Open Air 2015 di Jerman
Berawal sebagai sebuah band hardcore, secara musik, Burgerkill juga berevolusi dalam setiap fase yang mereka lewati dalam tiap album yang mereka lepas. Dari album Dua Sisi (2000), Berkarat (2003), Beyond Coma and Despair (2006), Venomous (2011), Adamantine (2018) – yang masuk dalam 50 Best Metal Albums of 2018 di majalah Metal Hammer – hingga Killchestra yang baru saja dirilis, yang dengan unik melebur metal dan orkestra.
Di bulan Mei 2020 ini, Burgerkill merayakan 25 tahun eksistensi mereka sebagai band. Tak terasa ternyata sudah seperempat abad mereka mewarnai kancah musik nasional. Untuk momentum ini maka kami menodong orang yang perannya dalam mempertahan band ini jelas tidak bisa dianggap enteng, Ebenz, untuk membuat daftar 10 lagu Burgerkill yang paling istimewa bagi dirinya. Yang mana saja lagunya? Bagaimana ceritanya? Silakan disimak ulasannya berikut ini.
Revolt!
Lagu ini adalah peluru awal yang memperkenalkan musik Burgerkill ke khalayak HC/Punk di Indonesia dan Asia Tenggara. “Revolt!” merupakan salah satu dari tiga lagu di dalam demo Burgerkill yang kami rekam di Palapa Studio, Ujungberung awal tahun 1996 dan kami sebarkan secara gratis ke teman-teman di komunitas dan media. Lewat single ini kami menerima banyak ajakan untuk berpartisipasi di beberapa kompilasi garapan teman-teman Bandung, Jakarta dan Malaysia. Lagu ini menggambarkan besarnya pengaruh New School HC dalam musik Burgerkill dan menjadi benchmark arah musik kami selanjutnya.
Sakit Jiwa
Ide penulisan riff dasar lagu ini berawal ketika tanpa sengaja saya mendengarkan sebagian nada instrumen seruling dari lagu dangdut ‘Terlanjur Basah’ milik Meggie Z di salah satu warung nasi di sekitaran Ujungberung. Nadanya terus menempel di kepala sampai akhirnya saya aplikasikan ke riff gitar dengan tempo yang lebih cepat. Lirik lagu ini ditulis oleh Kimung dan Ivan yang bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami gangguan jiwa dan sering berkeliaran di daerah Ujungberung, selain itu dia sering dilecehkan dan diperlakukan tidak pantas oleh banyak orang. Dan setelah beberapa kali kami mainkan di atas panggung, lagu ini mendapat banyak mendapat respon positif dan menjadi lagu wajib yang selalu diminta oleh penonton di setiap panggung Burgerkill.
Tiga Titik Hitam
Sebuah lagu yang membawa kami ke area baru dalam eksplorasi bermusik. Berawal ketika saya ditugasi untuk mewawancarai Fadly dari Padi di sebuah hotel di Bandung untuk artikel di sebuah majalah musik. Dari perkenalan itu pembicaraan kami melebar hingga timbul ide memberanikan diri berkolaborasi memadukan dua genre musik yang berbeda, hingga akhirnya kami sepakat untuk memasukan lagu tersebut ke dalam album kedua Burgerkill yang kebetulan sedang dalam masa penggarapan. Lagu ini juga yang mempertemukan kami dengan label Sony Music Entertainment yang akhirnya merilis album ke dua kami Berkarat di tahun 2004. Lirik lagu ini ditulis oleh saya, Ivan dan Fadly yang bercerita tentang pengakuan dosa, penyesalan dan berserah diri kepada Yang Maha Esa, dan entah kenapa lagu ini seperti memiliki ruh yang kuat. Bahkan sampai hari ini saya selalu mendadak cengeng ketika mendengarkan nya.
Shadow Of Sorrow
Track ketiga dari album Beyond Coma And Despair yang sangat agresif ini bercerita tentang pengalaman Ivan Scumbag yang pada saat itu mulai mengalami banyak masalah dengan kehidupan pribadi dan kesehatan nya. Di lagu ini juga saya mulai memasukan unsur musik Death Metal dalam aransemennya, sebagai tanda bahwa eksplorasi musik Burgerkill tidak stagnan. Dan “Shadow Of Sorrow” merupakan lagu terakhir yang kami kerjakan bersama Toto sebelum memutuskan untuk resign dari Burgerkill. Sebuah track yang pas buat ugal-ugalan di moshpit dan menyenangkan untuk dimainkan.
Unblessing Life
Bagi saya pribadi lagu ini memiliki banyak komposisi riff yang bagus dan unik di dalamnya, dibalut dengan lirik depresi dan kemarahan yang sangat dalam oleh Ivan, membuat lagu ini sangat powerful ketika dibawakan di atas panggung. Rasanya ini merupakan salah satu aransemen terbaik yang pernah dibuat oleh Burgerkill. Saya ingat betul bagaimana kondisi Ivan saat melakukan sesi take vokal lagu ini, kondisi tubuhnya terlihat sangat lelah melawan penyakit yang di deritanya. Di bagian tengah lagu terdapat potongan puisi ungkapan bagaimana putus asa nya dia. Ditemani mikrofon dan sebuah ember kecil di dalam studio untuk membuang dahaknya, dia tetap ngotot untuk menyelesaikan tugasnya meski batuknya terus mengganggu. Dan hasilnya luar biasa, he’s a true legend..
Under The Scars
Sebuah track agresif yang saya tulis untuk mengenang tragedi duka di gedung ACC Bandung yang menewaskan 11 orang selepas konser tunggal perilisan album perdana Beside. Track ini sebagai bentuk sikap perlawanan atas pelarangan konser Burgerkill di kota Bandung selama hampir 2 tahun karena di anggap berpotensi menimbulkan kejadian yang serupa. Melalui video klip “Under The Scars” hasil garapan tim Cerahati, Burgerkill kembali menyita perhatian banyak pihak dan album Venomous berhasil menerima banyak review positif dari banyak media internasional. Bahkan majalah Metal Hammer UK menawarkan secara langsung untuk penayangan perdana video tersebut di website mereka, dari sana lah musik kami dikenal lebih luas lagi yang berimbas berdatangan tawaran untuk tampil di beberapa festival heavy metal di Eropa. “We were born to bleed, and we are here to dominate..”
Only The Strong
Melalui lagu ini kami berusaha untuk menawarkan nuansa baru dalam musik Burgerkill secara lirik dan komposisi nada, sebagai tanda pergantian era dari Ivan ke Vicky yang punya latar belakang kehidupan yang berbeda. Saat itu kami sepakat ingin berbicara ke arah yang lebih positif dalam tema album dan penulisan lirik, tidak lagi berbicara soal depresi atau sisi gelap manusia. “Only The Strong” menjadi indikator arah musik kami selanjutnya, dilengkapi lirik yang penuh pesan pentingnya kebersamaan, tekad bulat dan kerja keras untuk tetap survive demi mengejar visi besar dalam kehidupan kita. I love this song so much, lagu ini membantu banyak teman kami untuk bangkit dari keterpurukan mereka.
An Elegy
Sejak awal lagu ini sengaja ditulis untuk mengenang kepergian sahabat kami Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah. Lewat lagu ini saya ingin menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam dan bagaimana istimewanya sosok Ivan di mata kami. Dalam proses kreatifnya “An Elegy” banyak sekali terpengaruh oleh nuansa musik New Wave dan Rock Ballad, sebuah area baru yang belum pernah kami jajaki sebelumnya. Secara mood dan dinamika lagu yang dihasilkan sesuai dengan harapan kami, itulah salah satu alasan kenapa kami memilih lagu ini untuk di aransemen ulang dengan memasukan unsur orkestra di mini album Killchestra sebagai penambahan kesan magis lagu tersebut.
Integral
Single pertama dari album Adamantine ini adalah salah satu lagu yang paling asyik ketika dimainkan di atas panggung. Di lagu ini baik secara lirik dan aransemen kami ingin menunjukan kepada dunia luas bagaimana solidnya Burgerkill saat ini. Sebagai band yang cukup berumur, disini kami juga ingin memperlihatkan kematangan dan lebih berani dalam memainkan dinamika yang progresif. Dengan bergabungnya Putra ke tubuh Burgerkill menjadi sebuah tantangan juga energi baru bagi kami di Burgerkill untuk step up ke level berikutnya dan bermain lebih presisi namun tetap enerjik. This is one of my all time favorites, and i’m so proud of it..
United Front
This is a Hardcore song dude! Komposisi ketukan dan riff di lagu ini banyak terpengaruh oleh band-band New York HC ala Vision Of Disorder, Neglect, Madball dengan sedikit sentuhan modern Heavy Metal pada aransemen nya. Lagu ini memang sengaja kami siapkan untuk proyek kolaborasi antara Burgerkill dan sahabat kami Dom Lawson seorang jurnalis musik dan vokalis sekaligus pemain bass dari band punk asal London, Oaf. Ide proyek ini lahir dari percakapan santai saya dan Vicky bersama Dom Lawson juga Devin Townsend di backstage Golden Gods Awards 2013, London selepas kami menerima award kategori “Metal As F*ck”. Gagasan untuk menulis sebuah lagu yang bercerita tentang nilai persaudaraan dalam musik yang tidak mengenal perbedaan, karena kita semua sama dan layak untuk di apresiasi juga dihargai. Saya suka sekali lagu ini, ada nilai optimisme yang kuat dalam liriknya. Harus saya akui Dom berhasil menulis lirik yang sederhana namun membakar, cocok banget buat mood booster sebelum manggung.