Senin, 08 Juni 2020

Forgotten Janjikan Amunisi Lebih Sompral Di Album Terbaru Mereka Yang Akan DatangSetelah “Kaliyuga” Forgotten menggoda kita dengan album baru mereka yang akan datang

Amunisi sompral memang sudah menjadi makanan sehari hari bagi unit Deathmetal asal Bandung ini, Forgotten baru baru ini telah dikabarkan akan kembali dengan album terbarunya yang akan datang.

Saat ini album tersebut masih dalam proses pengerjaan, berdasarkan postingan terbaru mereka di instagram, album tersebut masuk ke tahap tracking Bass, sebelumnya mereka menyelesaikan tracking Drum beberapa hari yang lalu
Kemarin lebih tepatnya tanggal 16 Mei 2020, Forgotten telah memberikan informasi terkait album baru di DCDC Ngabuburit Virtual bareng Forgotten
Forgotten terakhir kali merilis karya terbarunya bertajuk album Full Length “Kaliyuga” yang keluar melalui SEM Records pada tanggal 20 Maret 2020, album terbaru Forggoten lanjutan dari album “Kaliyuga” diharapkan akan keluar ditahun 2020

Jumat, 29 Mei 2020

Burgerkill Rilis Album EP yang Berjudul 'Killchestra'


Band metal asal kota Bandung, Burgerkill telah merilis album mini terbaru mereka bertajuk ‘Killchestra’. Uniknya, album ini meng-kolaborasikan instrumen orchestra didalam nya.

“Yes, Finally @burgerkill’s official new EP Album ‘Killchestra @burgerkillofficial’s new EP Album ‘Killchestra’ will be released on April 19th, 2020 as limited 300 copies of Boxset Vinyl + CD and Gatefold Vinyl.” Tulis Burgerkill di akun Instagram mereka.

“Ini adalah salah satu album tereklektik yang pernah kami kerjakan dengan ide vital yang luas dan hal baru dalam aransemen musik kami,” lanjut Burgerkill.

Total akan ada enam buah lagu yang terdapat di mini album tersebut, mulai dari “Anjing Tanah”, “Penjara Batin”, “An Elegy”, “Only the Strong”, “Angkuh” dan “Tiga Titik Hitam”.

Untuk aransemen musik dalam lagu tersebut dipercayakan kepada Alvin Witarsa. Dalam album tersebut Burgerkill juga dibantu oleh Czech Symphony Orchestra, sebuah orkestra dari Praha, Republik Ceko


Jumat, 25 Oktober 2019

Burgerkill Siap 'Hajar' Amerika Lewat 'Adamantine American Tour 2019'

14 kota, 16 titik pertunjukan.

Kurang lebih 24 tahun lamanya, unit metalcore asal Bandung, Burgerkill terbentuk. Dan selama itu pula, band yang kini diperkuat oleh Eben (gitar), Agung Hellfrog (gitar), Vicky (vokal), Ramdan (bass), dan Putra Pra Ramadhan (drum) terus bergerak dan tak berhenti berinovasi.

Segala rintangan dan tantangan selama ini telah dihadapi dengan jawaban sebuah karya yang selalu beda di tiap albumnya. Terbukti semangat tersebut membawa Burgerkill menembus beberapa festival musik cadas bergengsi dan legendaris dunia seperti Soundwave Fest 2019, Big Day Out 2010 di Australia, Wacken Open Air 2015 dan mendapat Golden Gods Awards kategori ‘Metal As Fu*k’ dari majalah musik ternama Inggris, Metal Hammer.

Di tahun 2018 lalu, Burgerkill pun menggelar tur panjang ke beberapa tempat di benua Eropa, Asia, Amerika dan negara Australia. Sayangnya, saat ingin tampil di benua Amerika tertunda karena masalah legal.

Tahun 2019, mimpi Burgerkill terus berlanjut seiring promo album teranyar ‘Adamantine’, akhirnya mereka akan menghajar ‘jalanan’ 14 kota negara bagian Amerika Serikat dengan 16 titik venue.

Yups, Burgerkill dipastikan bakal beraksi dan membuat panas penikmat musik cadas di Amerika Serikat mulai 16 – 31 Oktober 2019 dalam rangkaian ‘Adamantine American Tour 2019’. Dalam pertunjukan mendatang, Burgerkill akan ditemani oleh band Indonesia yang sudah dinaturalisasi bernama Suaka.

Bagi teman-teman yang berada di Amerika Serikat, bersiap deh kunjungi venue ‘Ademantine American Tour 2019’ Burgerkill. Untuk informasi lebih lengkap langsung aja kepoin sosial media @burgerkillofficial.

Senin, 21 Oktober 2019

Album Review Dead Vertical XVII

Bertahan selama 17 tahun dalam belantika musik underground di Indonesia bukanlah perkara mudah, jadi pantas lah salah satu unit grindcore paling berbisa ibu kota, DEAD VERTICAL merilis sebuah album selebrasi karir mereka yang bakalan genap delapan belas tahun pada bulan November besok. Sepanjang karirnya grup musik yang dimotori oleh Boy, Bonz, dan Arya tetap stay trve menggerinda jiwa dan raga penggilanya di penjuru tanah air dengan modal repertoire dari diskografi mereka yang mentereng, bodo amat dengan tren musik yang digemari anak muda tanah air yang datang dan mati silih berganti, DEAD VERTICAL tetap setia dalam jalurnya menyiarkan musik ngebut tanpa basa-basi terinspirasi senior mereka di benua seberang laut sana seperti TERRORIZER, NAPALM DEATH, NASUM dan MISERY INDEX.

    Tapi mereka bukan hanya sebuah monolith yang mengandalkan amunisi yang ituitu saja, setiap album penuh yang DEAD VERTICAL lontarkan sudah pasti menawarkan nuansa baru, warna baru dan pengaruh musikal baru, memang kadang hal baru yang diperkenalkan bisa membuat fans berat mereka keder apalagi di kalangan grindcore puritan, seperti pada Perang Neraka Bumi (2011) yang menukarkan lagu-lagu kritik sosial pedas dalam lagu berdurasisatu-dua menitan membabi buta dalam Infecting The World (2008) dengan atmosfir kelam keliaran medan perang terinspirasi unit Death metal legendaris BOLT THROWER dikemas dalam gaya deathgrind modern penuh kocokan, betotan dan gebukan ngethrash dan kadang groovy ala SEPULTURA. Angkasa Misteri (2016) yang dirilis lima tahun setelahnya yang lebih banyak membahas tema-tema personal namun masih ugal-ugalan tidak terlalu banyak mengubah blueprint dari ‘Perang Neraka Bumi’.

    Pada album ke-5 sepertinya tidak mau ribet-ribet mencari judul album yang tepat, cukup dengan angka tujuh belas dalam angka romawi ‘XVII’, penamaan tersebut juga pas mengingat kumpulan lagu kali ini merupakan sebuah album selebrasi perjalanan grup musik ini dari semenjak dulu dibentuk pada tahun 2001, Bekerja sama dengan BlackAndje Records, DEAD VERTICAL memuntahkan tujuh belas track beringas (ditambah satu hidden track) yang menggambil segala elemen yang mereka tulis semenjak Fenomena Akhir Zaman (2001) dan merangkumnya kedalam lagu-lagu in your face yang mampu membakar sound system anda sekalian, ‘XVII’ bisa dibilang album semi back to the roots bagi DEAD VERTICAL, mengembalikan lagi komposisi ngegass poll ala Infecting The World, bukan berarti mereka lupa dengan perkembangan kamus bermusik mereka selama satu dekade terakhir.

    Layaknya sebuah perjalanan karir semakin kebawah lagu yang disajikan menunjukan evolusi musik DEAD VERTICAL dari nomor-nomor awal yang lebih straightforward ke pertengahan album yang berisikan materi yang lebih kompleks dan teknikal, walau tetap dalam durasi yang dibatasi satu-dua menitan hingga sisi eksperimental trio ini dalam lagu instrumental ‘17+’ yang menampilkan style Industrial metal layaknya GODFLESH dan NINE INCH NAILS, dari segi kontek lirik yang disemburkan kali ini Boy kembali lagi banyak membahas permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat sekarang, mulai dari intoleransi, penyebaran kebohongan/pembodohan yang makin menjadi-jadi, kritik terhadap manusia sekarang yang terlalu terkekang dengan teknologi era modern, hingga ‘Bulungan Bergetar’ lagu anthemic pembakar massa yang bisa jadi theme song Bulungan Outdoor setiap ada acara.

    Turut mengundang teman seperjuangan untuk berpesta bersama yaitu Daniel Mardhany (DEADSQUAD) pada ‘Doktrinator Terror’. Bagi yang sudah menunggu-nunggu album terbaru DEAD VERTICAL dari kemarin sudah pasti bakal terpuaskan dengan ‘XVII’, apalagi dengan materi lagu-lagu kali ini yang langsung menginjak pedal gas tanpa kasih kendor semenjak detik pertama, langsung nampol tanpa perlu piker panjang dan langsung bikin ngos-ngosan ketika track terakhir selesai berkumandang. Baitbait berbisa dan riff yang disajikan Boy tetap berbahaya dan catchy beudh, saya yakin betul lagu ‘Bloody Roads’ misalnya yang main riff nya rada MEGADETH-esque tak perlu waktu lama untuk membuat pendengarnya ngangguk-ngangguk, begitu juga bassline dari Bonz yang siap siaga mencabik-cabik rambut telinga, dan jangan ditanya kegaharan Arya dalam membabat setiap bar dengan gebukan-gebukan mautnya. Sebagai sebuah perayaan ‘XVII’saya sudah berhasil menghasilkan pesta liar yang gak bakal membuat pendengarnya mengeluh sama sekali, kecuali anda tetangga sebelah yang bakal ngamuk kalau tengah malam pun anda masih memutar album ini kencangkencang, jadi hati-hati saja jangan sampai di satroni pak RT nanti.

Jumat, 18 Oktober 2019

JASAD Finally release new Album

Album yang ditunngu penggemar band brutal death asal kota kembang Bandung ini akhir nya release pada 29 Sept lalu. Album yang bertitile “5” yang sudah banyak di nanti para fans Jasad di release oleh rottrevore records dan di distribusikan oleh extremesouls production. Jasad menggelar launch album 5 di acara hearing sessions first day selling di Bandung jawabarat. Banyak response positive dari album baru band yang sudah go international ini datang dari penggemar death metal nusantara.

Sabtu, 16 Maret 2019

Mini Album Review: Revenge The Fate - 'Awakening'

Berjeda empat tahun pasca Redemption, Revenge The Fate akhirnya menelurkan sebuah mini album dengan tajuk Awakening. Terdapat lima buah lagu yang disertakan, termasuk "Paranoid" yang sudah dirilis terlebih dahulu. "Siapa yang hari ini tidak kenal Revenge The Fate?" Jika pertanyaan ini dilontarkan sekitaran tahun 2009-2013, sepertinya akan banyak yang mengacungkan jari, meski sebenarnya mereka resmi terbentuk di tahun 2009. Nama mereka total melejit setelah merilis album perdananya, Redemption di tahun 2014. Album ini yang mengantarkan mereka ke jajaran grup musik dengan penggemar paling banyak, bisa juga dikatakan sebagai band yang "memperkenalkan" deathcore dengan lebih luas. Meski pasti ada band yang memainkan musik deathcore sebelum Revenge The Fate (di Indonesia), rasanya kita perlu mengakui bahwa merekalah yang membuat istilah tersebut menjadi lebih familiar di telinga pendengar musik cadas. Selain karena Redemption menawarkan hal baru di tengah musik ekstrim, mereka juga mengemas pesta perilisannya dengan cerdik, di mana mereka merayakannya dalam format festival dan mengundang beberapa kawan band yang sudah "punya nama" di ranah musik independen, seperti Burgerkill, Jasad, Rosemary, Don Lego dan lain-lain. Hal ini berdampak pada kemudahan penyebaran informasi, mengingat band-band (selain Revenge The Fate) tentu mengundang banyak massa yang pada akhirnya juga turut "sadar" tentang hadirnya Revenge The Fate, tanpa mengesampingkan pesona dari Revenge The Fate itu sendiri. Pasca Redemption, Revenge The Fate beberapa kali menelurkan karya. Yang terbaru adalah sebuah EP dengan titel Awakening, dirilis pada 10 November 2018. Mereka kemudian menyelenggarakan pesta perilisan tanggal 2 Desember 2018 di Spasial, Bandung tanpa mendapat "amunisi tambahan" seperti yang mereka lakukan empat tahun silam. Mereka lah yang menjadi penguasa panggung, berinteraksi langsung dengan Colony. Ternyata, hari ini mereka memang sudah membentuk pasarnya sendiri. Menjadi satu-satunya band yang tampil tidak serta merta membuat area depan panggung menjadi kosong, karena jumlah sekaligus loyalitas dari Colony sudah semakin menguat. Tapi, bukan tentang penyelenggaraan konser tunggal yang akan menjadi fokus di sini. Mari kita membahas tentang karya Awakening, sebuah bentuk pengejawantahan tentang bangkitnya Revenge The Fate setelah menghadapi dinamika, salah satunya ketika Cikhal tak lagi ada dalam tubuh Revenge The Fate. Kehadiran Mow dan Gery di lini gitar tentu memengaruhi bagaimana materi Revenge The Fate terkini, tanpa mengesampingkan peran personil lain yang tetap bertahan. Jadi, bagaimana hasilnya kali ini? Terdapat lima buah lagu dalam Awakening, yaitu "Katarsis", "Frail", "Continuous", "Enormity" dan "Paranoid". Dari lima buah lagu ini, satu yang sudah saya dengar sebelum konser tunggal adalah "Paranoid", dan lagu ini total mengubah pandangan saya tentang Revenge The Fate. Ibarat kata, mereka semacam me-redefinisi deathcore, "meningkatkan" level deathcore di Indonesia. Sejak itu, saya merasa wajar untuk menganggap bahwa karya lainnya dalam Awakening amat menjanjikan. "Katarsis" menjadi track pertama pada EP ini. Sejak petikan gitar beserta efek dimainkan di awal lagu, atmosfer yang gelap kontan terbangun. Tak lama setelahnya, instrumen lain turut menghantam kencang, saling tumpang tindih menciptakan musik yang rapat. Anggi, yang lebih memilih mendominasi vokal dengan teknik growl berperan besar dalam memperkuat nuansa yang sejak awal sudah dibangun. Sisipan melodi gitar yang rumit dan latar suara yang diciptakan dari sampling juga ambil bagian. Belum lagi, permainan instrumen drum yang memberondong sepanjang lagu membuat "Katarsis" jelas membuka Awakening dengan sajian yang penuh nutrisi. Tak jauh berbeda di track kedua, "Frail". Meski secara tempo tidak secepat "Katarsis", namun tetap lagu ini membuat panas telinga. Pola permainan break down di tengah lagu dan sedikit jeda menuju akhir lagu semacam memberi ruang untuk kita bernafas sejenak. Tidak untuk waktu lama, karena Revenge The Fate jelas tidak berniat untuk memberi ampun. Lagu ketiga adalah "Continuous". Semacam jadi "peringatan", teror sejak lagu sebelumnya memang dilanjutkan di sini. Seperti dua lagu sebelumnya, lagu dibuka dengan harmonisasi gitar dan disambut riuh permainan instrumen lain. Nada-nada berat dan rendah berkat senar tujuh dan delapan pada gitar dan senar lima pada bas yang dipakai terdengar jelas. Melodisasi gitar juga kembali terdengar di tengah lagu, memainkan nada-nada minor yang ditonjolkan dengan dilatari suara sang vokalis yang sedang merapal. Sedikit banyak, "Continuous" mengingatkan pada karya Revenge The Fate di album sebelumnya. Hanya saja, kembali lagi, Awakening menawarkan sesuatu yang baru, memperlihatkan kapabilitas Revenge The Fate yang makin matang. Lagu selanjutnya adalah "Enormity". Pada track ke-empat ini, dinamika Revenge The Fate makin terdengar. Di tengah lagu, mereka menyisipkan pola vokal macam choir, paduan dari clean vocal dan teknik throat singing, memberi sedikit kemungkinan untuk bisa dinyanyikan oleh para Colony ketika menyaksikan Revenge The Fate tampil secara live. Suara kibor yang minor juga sarat terdengar pada lagu ini, makin membangun citra seram dan horor. Tempo yang dinamis juga disajikan dengan sangat apik dalam lagu ini, nyaris tanpa cela. Awakening ditutup oleh "Paranoid". Sekali lagi, inilah lagu yang membuat saya berharap banyak pada Awakening. Nyatanya, bisa dibilang saya memang tidak salah kira. Lagu ini semacam menjadi spoiler bahwa banyak eksplorasi baru yang bisa kita temukan pada materi terbaru Revenge The Fate. Para personil semacam tak ragu-ragu untuk saling unjuk kemampuan, makin berani untuk "bermain-main" dan "bersenang-senang". Setiap bagan dan permainan musiknya benar-benar menunjukan bahwa penggarapan materi teranyar Revenge The Fate memang diramu sedemikian rupa, tidak menjadi EP yang "sekadar jadi". Jika boleh memberi predikat, saya rasa Awakening adalah salah satu album mini terbaik di tahun 2018. Memang sudah sepatutnya Revenge The Fate "menyelamatkan diri", karena hari ini deathcore sudah jadi pilihan banyak orang untuk membuat karya dan mereka pun tidak kalah berkualitas. Kehadiran Mow dan Gery nyatanya memberi efek yang total positif untuk Revenge The Fate. Standarisasi Revenge The Fate menjadi makin tinggi lewat Awakening, dan tugas mereka ke depannya menjadi semakin berat. Haram hukumnya jika mereka berpuas diri dengan Awakening, karena dengan ini para Colony pasti menantikan sesuatu yang makin berbahaya dari Revenge The Fate. Jangan sampai tidak mendengarkan Awakening! Silakan nikmati dan perkaya nutrisi dengan lima materi yang padat gizi ini. Tapi, harap diingat bahwa seluruh materi dalam Awakening sangat bising dan melelahkan. Jika kamu tidak sanggup menikmati musik macam ini, kalian masih punya seabrek band pop punk untuk jadi pilihan. https://youtu.be/FeqDTHAheZ4

Minggu, 04 Februari 2018

Promo Album Review: Bangkitnya Kembali Karya dari Nalar Neraka

Setelah absen beberapa tahun dalam membuat sebuah karya, Forgotten kembali dan menggebrak ranah bawah tanah. terlibat di penyalahgunaan drugs, sex before married, atau dikejar beberapa orang untuk digebukin sampai menuju mati.” Saya: (tertawa) “Tapi, banyak juga sih, Pak, band-band yang hidupnya baik-baik aja.” Addy Gembel: “Kalau gitu, kenapa negara ini gak maju-maju, ya? Atau mungkin masalah negara ini adalah mereka-mereka?” (tertawa) Saya: (kembali tertawa) “Mereka pun mungkin bilang hal yang sama ke Forgotten. Mereka mungkin bilang begini ‘ini band kok menggerutu aja terus, gak ada bersyukur-bersyukurnya.’” Addy Gembel: terbahak-bahak dan mengumpat saya. Tapi, memang benar. Kapan kita pernah mendengar Forgotten mengumandangkan kalimat-kalimat yang nyaman didengar dalam pola musik yang mudah dicerna? Seolah-olah, Forgotten membentuk standarisasi dalam pengolahan konsep musik mereka sendiri, di mana isi dari standarisasi itu adalah dilarang lupa untuk kritis, dilarang berpikir positif, dan buatlah musik yang mewakili amarah juga rasa muak semua orang. Secara garis besar, itu lah hal yang saya tangkap dari album-album Forgotten sejak dirilis di akhir tahun ‘90an. Dimulai dari Future Syndrome (1997/Palapa Records), Obsesi Mati (2000/Extreme Soul Productions), Tiga Angka Enam (2003 & 2008/Rottrevore Records), hingga Laras Perlaya (2011/Rock Records). Tahun ini, Forgotten kembali masuk dapur rekaman untuk menggarap album terbaru bertajuk Kaliyuga. Addy Gembel sempat memberi CD promo untuk saya review. Hal pertama yang saya lakukan adalah bersiap-siap untuk terjun bebas ke utopia neraka. “Tumbal Post Kolonial”, “Berhala Kelas Kuasa”, dan “Terlaknat” adalah judul dari tiga lagu yang ada dalam promo album Forgotten. Album ini dirilis oleh Sulung Extreme Musick Records (SEM Records), yang berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Saya sempat menanyakan tentang hal ini pada Addy Gembel, “kenapa harus jauh-jauh ke pulau seberang untuk merilis album?”. Addy Gembel menjawab, “mereka mau, antusias, bermodal besar, ya kenapa tidak?”. Jawaban yang realistis, sangat Addy Gembel, dan kasus ditutup. Satu persatu, lagu dalam promo album Kaliyuga saya dengarkan. Saya terkejut ketika menyimak “Tumbal Post Kolonial” sebagai lagu di track pertama. Jujur, saya tidak mengenali Forgotten sampai setengah menit. Ada string section (Addy Gembel mewanti-wanti saya untuk menyadari bahwa ini bukan electune, hahaha) dengan suara serupa orgel yang mengiringi ketukan drum, gitar, dan bass. Rasa-rasanya seperti mendengar intro dari band symphonic black metal yang biasanya disambut dengan choir. Tetapi, bagian choir itu digilas habis oleh teriakan Addy Gembel, oleh tempo yang mendadak cepat dan menderu-deru, oleh agresivitas tingkat dewa di tiap instrumen, sesuai dengan Forgotten yang saya kenal. String section itu terdengar sampai akhir lagu dan muncul di beberapa bagian. Sejak itu, saya sadar bahwa saya harus mulai membiasakan diri dengan hadirnya unsur itu dalam lagu Forgotten. "Tumbal Post Kolonial" mengkritik bahkan menghujat keras keadaan politik, ekonomi, hukum, dan sosial yang masih acak-acakan di negeri ini. Frontal dan vulgar masih mewarnai setiap kata yang diramu, bait demi bait. Masalah lirik, Forgotten masih keukeuh di pakemnya. Biarlah. Memang sudah seharusnya Forgotten adalah band yang grumpy. Jangan pernah berubah menjadi band yang liriknya aman-aman saja, apalagi menjadi melankolis. Jangan pernah. Jangan! Lagu ini memang menabrak ekspektasi saya, tapi bukan ke arah yang mengecewakan. Mereka tidak kehilangan karakternya, sama sekali tidak. “Tumbal Post Kolonial” seolah menyeret saya untuk masuk ke satu ruang yang tidak familiar, tempat di mana Forgotten bermeditasi dan bersemayam selama enam tahun dari rilisan terakhirnya. Di tempat ini lah, Forgotten resmi mengucapkan selamat datang di neraka baru. Lanjut pada “Berhala Kelas Kuasa”. Sejak lagu ini dimulai, aura Forgotten sudah kental terasa. Aah.. ternyata di ruang baru Forgotten masih disisakan pojok nostalgia. Betotan bass dan riff gitar yang intens, drum yang dihajar habis-habisan, saling sambut dengan parau suara Addy Gembel, lagu ini memang sangat Forgotten. Masih bersuara miring tentang keadaan yang terinspirasi dari carut marut negara, Forgotten cenderung lebih spesifik untuk lirik dalam "Berhala Kelas Kuasa". Di sini, kecaman Addy Gembel tertuju langsung pada pihak-pihak yang "menuhankan" dirinya, berorientasi pada kekayaan, dan tidak ragu menginjak banyak kepala demi dompet yang semakin tebal. Tapi, tidak hanya mengepalkan tangan pada sang penguasa, ada sisi di mana Forgotten sedang menampar para pekerja yang hanya manut dan mengiyakan setiap mandat. Seperti ada pesan terselubung untuk membangkitkan nalar seorang pemberontak agar bergerak, maju, dan melawan. Kembali pada musiknya, mereka kembali menepuk bahu untuk kembali ke pola baru Forgotten ketika string section hadir lagi di tengah lagu. Bukan ini yang membuat saya terbelalak untuk kedua kali, karena nyatanya saya memang sudah terbiasa, tetapi bagian melodi gitar (yang jarang saya temukan dalam Forgotten) yang dimainkan setelah lagu diputar sekitar dua setengah menit. Meski hanya beberapa detik, bagian ini memberi warna lain untuk Forgotten. Bagian ini mempersilakan kita bermain-main dengan nuansa, menari-nari dalam hutan belantara yang gelap gulita, dan lalu berlari ketakutan karena akan dimangsa. Selanjutnya, lagu terakhir dalam promo album Kaliyuga, “Terlaknat”. Lagu ini dibuka dengan betotan solo bass yang kuat dan lalu dihantam dengan instrumen lain yang sudah gatal menunggu giliran. Pola di lagu ini hampir sama dengan “Berhala Kelas Kuasa”, di mana Forgotten lawas terdengar sampai ¾ lagu, dan masuk ke dunia baru mereka di menit setelahnya. Tapi, porsi melodi gitar lebih panjang di sini. Lagu ini dinamis, dengan pattern yang menghipnotis siapapun untuk menganggukan kepalanya. Tema yang diangkat di lagu ini paling berbeda dibandingkan dua lagu sebelumnya. Jika di dua lagu sebelumnya kebencian tertuju pada orang lain, di lagu ini liriknya cenderung depresif, self-destructive, dengan rasa benci yang ditujukan pada diri sendiri. Kekecewaan dan putus asa sangat kentara di tiap katanya. Seolah-olah, ini adalah lirik yang diciptakan ketika terlalu banyak kesalahan yang dilakukan, keadaan sekitar yang memeras batin, tenaga, maupun logika, dan emosi itu tumpah ruah menjelma menjadi rentetan diksi yang mencaci maki diri sendiri. Tadinya, saya mencanangkan lagu ini sebagai favorit saya. Tetapi, ketika saya mendengar tiga materi dalam Kaliyuga belasan kali, saya urung. Predikat favorit itu saling rebut. Saya tidak bisa menentukan yang mana yang bisa saya sebut sebagai yang terbaik, karena pada akhirnya saya harus mengakui bahwa tiga lagu ini memberi warna yang berbeda dalam satu garis yang sama. Saya menaruh harapan yang sangat tinggi untuk Kaliyuga. Jika tiga materi ini adalah perwakilan dari seluruh materi yang sedang digarap Forgotten, maka sudah seharusnya album ini masuk ke jajaran album yang harus diwaspadai. Semoga, Forgotten tidak akan menemukan titik akhir dan kehabisan ide untuk meluapkan cercaan yang sebenarnya mewakili banyak suara, tetapi orang lain terlalu pengecut untuk berteriak tentang itu. Tanpa saya sadari, review ini diunggah bersamaan dengan ulang tahun Addy Gembel. Maka, selamat ulang tahun untuk tokoh yang selalu saya kagumi. Sehat selalu, tetap kaya akan ide, dan jangan berhenti menjadi misionaris dari neraka!