Sabtu, 16 Maret 2019

Mini Album Review: Revenge The Fate - 'Awakening'

Berjeda empat tahun pasca Redemption, Revenge The Fate akhirnya menelurkan sebuah mini album dengan tajuk Awakening. Terdapat lima buah lagu yang disertakan, termasuk "Paranoid" yang sudah dirilis terlebih dahulu. "Siapa yang hari ini tidak kenal Revenge The Fate?" Jika pertanyaan ini dilontarkan sekitaran tahun 2009-2013, sepertinya akan banyak yang mengacungkan jari, meski sebenarnya mereka resmi terbentuk di tahun 2009. Nama mereka total melejit setelah merilis album perdananya, Redemption di tahun 2014. Album ini yang mengantarkan mereka ke jajaran grup musik dengan penggemar paling banyak, bisa juga dikatakan sebagai band yang "memperkenalkan" deathcore dengan lebih luas. Meski pasti ada band yang memainkan musik deathcore sebelum Revenge The Fate (di Indonesia), rasanya kita perlu mengakui bahwa merekalah yang membuat istilah tersebut menjadi lebih familiar di telinga pendengar musik cadas. Selain karena Redemption menawarkan hal baru di tengah musik ekstrim, mereka juga mengemas pesta perilisannya dengan cerdik, di mana mereka merayakannya dalam format festival dan mengundang beberapa kawan band yang sudah "punya nama" di ranah musik independen, seperti Burgerkill, Jasad, Rosemary, Don Lego dan lain-lain. Hal ini berdampak pada kemudahan penyebaran informasi, mengingat band-band (selain Revenge The Fate) tentu mengundang banyak massa yang pada akhirnya juga turut "sadar" tentang hadirnya Revenge The Fate, tanpa mengesampingkan pesona dari Revenge The Fate itu sendiri. Pasca Redemption, Revenge The Fate beberapa kali menelurkan karya. Yang terbaru adalah sebuah EP dengan titel Awakening, dirilis pada 10 November 2018. Mereka kemudian menyelenggarakan pesta perilisan tanggal 2 Desember 2018 di Spasial, Bandung tanpa mendapat "amunisi tambahan" seperti yang mereka lakukan empat tahun silam. Mereka lah yang menjadi penguasa panggung, berinteraksi langsung dengan Colony. Ternyata, hari ini mereka memang sudah membentuk pasarnya sendiri. Menjadi satu-satunya band yang tampil tidak serta merta membuat area depan panggung menjadi kosong, karena jumlah sekaligus loyalitas dari Colony sudah semakin menguat. Tapi, bukan tentang penyelenggaraan konser tunggal yang akan menjadi fokus di sini. Mari kita membahas tentang karya Awakening, sebuah bentuk pengejawantahan tentang bangkitnya Revenge The Fate setelah menghadapi dinamika, salah satunya ketika Cikhal tak lagi ada dalam tubuh Revenge The Fate. Kehadiran Mow dan Gery di lini gitar tentu memengaruhi bagaimana materi Revenge The Fate terkini, tanpa mengesampingkan peran personil lain yang tetap bertahan. Jadi, bagaimana hasilnya kali ini? Terdapat lima buah lagu dalam Awakening, yaitu "Katarsis", "Frail", "Continuous", "Enormity" dan "Paranoid". Dari lima buah lagu ini, satu yang sudah saya dengar sebelum konser tunggal adalah "Paranoid", dan lagu ini total mengubah pandangan saya tentang Revenge The Fate. Ibarat kata, mereka semacam me-redefinisi deathcore, "meningkatkan" level deathcore di Indonesia. Sejak itu, saya merasa wajar untuk menganggap bahwa karya lainnya dalam Awakening amat menjanjikan. "Katarsis" menjadi track pertama pada EP ini. Sejak petikan gitar beserta efek dimainkan di awal lagu, atmosfer yang gelap kontan terbangun. Tak lama setelahnya, instrumen lain turut menghantam kencang, saling tumpang tindih menciptakan musik yang rapat. Anggi, yang lebih memilih mendominasi vokal dengan teknik growl berperan besar dalam memperkuat nuansa yang sejak awal sudah dibangun. Sisipan melodi gitar yang rumit dan latar suara yang diciptakan dari sampling juga ambil bagian. Belum lagi, permainan instrumen drum yang memberondong sepanjang lagu membuat "Katarsis" jelas membuka Awakening dengan sajian yang penuh nutrisi. Tak jauh berbeda di track kedua, "Frail". Meski secara tempo tidak secepat "Katarsis", namun tetap lagu ini membuat panas telinga. Pola permainan break down di tengah lagu dan sedikit jeda menuju akhir lagu semacam memberi ruang untuk kita bernafas sejenak. Tidak untuk waktu lama, karena Revenge The Fate jelas tidak berniat untuk memberi ampun. Lagu ketiga adalah "Continuous". Semacam jadi "peringatan", teror sejak lagu sebelumnya memang dilanjutkan di sini. Seperti dua lagu sebelumnya, lagu dibuka dengan harmonisasi gitar dan disambut riuh permainan instrumen lain. Nada-nada berat dan rendah berkat senar tujuh dan delapan pada gitar dan senar lima pada bas yang dipakai terdengar jelas. Melodisasi gitar juga kembali terdengar di tengah lagu, memainkan nada-nada minor yang ditonjolkan dengan dilatari suara sang vokalis yang sedang merapal. Sedikit banyak, "Continuous" mengingatkan pada karya Revenge The Fate di album sebelumnya. Hanya saja, kembali lagi, Awakening menawarkan sesuatu yang baru, memperlihatkan kapabilitas Revenge The Fate yang makin matang. Lagu selanjutnya adalah "Enormity". Pada track ke-empat ini, dinamika Revenge The Fate makin terdengar. Di tengah lagu, mereka menyisipkan pola vokal macam choir, paduan dari clean vocal dan teknik throat singing, memberi sedikit kemungkinan untuk bisa dinyanyikan oleh para Colony ketika menyaksikan Revenge The Fate tampil secara live. Suara kibor yang minor juga sarat terdengar pada lagu ini, makin membangun citra seram dan horor. Tempo yang dinamis juga disajikan dengan sangat apik dalam lagu ini, nyaris tanpa cela. Awakening ditutup oleh "Paranoid". Sekali lagi, inilah lagu yang membuat saya berharap banyak pada Awakening. Nyatanya, bisa dibilang saya memang tidak salah kira. Lagu ini semacam menjadi spoiler bahwa banyak eksplorasi baru yang bisa kita temukan pada materi terbaru Revenge The Fate. Para personil semacam tak ragu-ragu untuk saling unjuk kemampuan, makin berani untuk "bermain-main" dan "bersenang-senang". Setiap bagan dan permainan musiknya benar-benar menunjukan bahwa penggarapan materi teranyar Revenge The Fate memang diramu sedemikian rupa, tidak menjadi EP yang "sekadar jadi". Jika boleh memberi predikat, saya rasa Awakening adalah salah satu album mini terbaik di tahun 2018. Memang sudah sepatutnya Revenge The Fate "menyelamatkan diri", karena hari ini deathcore sudah jadi pilihan banyak orang untuk membuat karya dan mereka pun tidak kalah berkualitas. Kehadiran Mow dan Gery nyatanya memberi efek yang total positif untuk Revenge The Fate. Standarisasi Revenge The Fate menjadi makin tinggi lewat Awakening, dan tugas mereka ke depannya menjadi semakin berat. Haram hukumnya jika mereka berpuas diri dengan Awakening, karena dengan ini para Colony pasti menantikan sesuatu yang makin berbahaya dari Revenge The Fate. Jangan sampai tidak mendengarkan Awakening! Silakan nikmati dan perkaya nutrisi dengan lima materi yang padat gizi ini. Tapi, harap diingat bahwa seluruh materi dalam Awakening sangat bising dan melelahkan. Jika kamu tidak sanggup menikmati musik macam ini, kalian masih punya seabrek band pop punk untuk jadi pilihan. https://youtu.be/FeqDTHAheZ4

Minggu, 04 Februari 2018

Promo Album Review: Bangkitnya Kembali Karya dari Nalar Neraka

Setelah absen beberapa tahun dalam membuat sebuah karya, Forgotten kembali dan menggebrak ranah bawah tanah. terlibat di penyalahgunaan drugs, sex before married, atau dikejar beberapa orang untuk digebukin sampai menuju mati.” Saya: (tertawa) “Tapi, banyak juga sih, Pak, band-band yang hidupnya baik-baik aja.” Addy Gembel: “Kalau gitu, kenapa negara ini gak maju-maju, ya? Atau mungkin masalah negara ini adalah mereka-mereka?” (tertawa) Saya: (kembali tertawa) “Mereka pun mungkin bilang hal yang sama ke Forgotten. Mereka mungkin bilang begini ‘ini band kok menggerutu aja terus, gak ada bersyukur-bersyukurnya.’” Addy Gembel: terbahak-bahak dan mengumpat saya. Tapi, memang benar. Kapan kita pernah mendengar Forgotten mengumandangkan kalimat-kalimat yang nyaman didengar dalam pola musik yang mudah dicerna? Seolah-olah, Forgotten membentuk standarisasi dalam pengolahan konsep musik mereka sendiri, di mana isi dari standarisasi itu adalah dilarang lupa untuk kritis, dilarang berpikir positif, dan buatlah musik yang mewakili amarah juga rasa muak semua orang. Secara garis besar, itu lah hal yang saya tangkap dari album-album Forgotten sejak dirilis di akhir tahun ‘90an. Dimulai dari Future Syndrome (1997/Palapa Records), Obsesi Mati (2000/Extreme Soul Productions), Tiga Angka Enam (2003 & 2008/Rottrevore Records), hingga Laras Perlaya (2011/Rock Records). Tahun ini, Forgotten kembali masuk dapur rekaman untuk menggarap album terbaru bertajuk Kaliyuga. Addy Gembel sempat memberi CD promo untuk saya review. Hal pertama yang saya lakukan adalah bersiap-siap untuk terjun bebas ke utopia neraka. “Tumbal Post Kolonial”, “Berhala Kelas Kuasa”, dan “Terlaknat” adalah judul dari tiga lagu yang ada dalam promo album Forgotten. Album ini dirilis oleh Sulung Extreme Musick Records (SEM Records), yang berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Saya sempat menanyakan tentang hal ini pada Addy Gembel, “kenapa harus jauh-jauh ke pulau seberang untuk merilis album?”. Addy Gembel menjawab, “mereka mau, antusias, bermodal besar, ya kenapa tidak?”. Jawaban yang realistis, sangat Addy Gembel, dan kasus ditutup. Satu persatu, lagu dalam promo album Kaliyuga saya dengarkan. Saya terkejut ketika menyimak “Tumbal Post Kolonial” sebagai lagu di track pertama. Jujur, saya tidak mengenali Forgotten sampai setengah menit. Ada string section (Addy Gembel mewanti-wanti saya untuk menyadari bahwa ini bukan electune, hahaha) dengan suara serupa orgel yang mengiringi ketukan drum, gitar, dan bass. Rasa-rasanya seperti mendengar intro dari band symphonic black metal yang biasanya disambut dengan choir. Tetapi, bagian choir itu digilas habis oleh teriakan Addy Gembel, oleh tempo yang mendadak cepat dan menderu-deru, oleh agresivitas tingkat dewa di tiap instrumen, sesuai dengan Forgotten yang saya kenal. String section itu terdengar sampai akhir lagu dan muncul di beberapa bagian. Sejak itu, saya sadar bahwa saya harus mulai membiasakan diri dengan hadirnya unsur itu dalam lagu Forgotten. "Tumbal Post Kolonial" mengkritik bahkan menghujat keras keadaan politik, ekonomi, hukum, dan sosial yang masih acak-acakan di negeri ini. Frontal dan vulgar masih mewarnai setiap kata yang diramu, bait demi bait. Masalah lirik, Forgotten masih keukeuh di pakemnya. Biarlah. Memang sudah seharusnya Forgotten adalah band yang grumpy. Jangan pernah berubah menjadi band yang liriknya aman-aman saja, apalagi menjadi melankolis. Jangan pernah. Jangan! Lagu ini memang menabrak ekspektasi saya, tapi bukan ke arah yang mengecewakan. Mereka tidak kehilangan karakternya, sama sekali tidak. “Tumbal Post Kolonial” seolah menyeret saya untuk masuk ke satu ruang yang tidak familiar, tempat di mana Forgotten bermeditasi dan bersemayam selama enam tahun dari rilisan terakhirnya. Di tempat ini lah, Forgotten resmi mengucapkan selamat datang di neraka baru. Lanjut pada “Berhala Kelas Kuasa”. Sejak lagu ini dimulai, aura Forgotten sudah kental terasa. Aah.. ternyata di ruang baru Forgotten masih disisakan pojok nostalgia. Betotan bass dan riff gitar yang intens, drum yang dihajar habis-habisan, saling sambut dengan parau suara Addy Gembel, lagu ini memang sangat Forgotten. Masih bersuara miring tentang keadaan yang terinspirasi dari carut marut negara, Forgotten cenderung lebih spesifik untuk lirik dalam "Berhala Kelas Kuasa". Di sini, kecaman Addy Gembel tertuju langsung pada pihak-pihak yang "menuhankan" dirinya, berorientasi pada kekayaan, dan tidak ragu menginjak banyak kepala demi dompet yang semakin tebal. Tapi, tidak hanya mengepalkan tangan pada sang penguasa, ada sisi di mana Forgotten sedang menampar para pekerja yang hanya manut dan mengiyakan setiap mandat. Seperti ada pesan terselubung untuk membangkitkan nalar seorang pemberontak agar bergerak, maju, dan melawan. Kembali pada musiknya, mereka kembali menepuk bahu untuk kembali ke pola baru Forgotten ketika string section hadir lagi di tengah lagu. Bukan ini yang membuat saya terbelalak untuk kedua kali, karena nyatanya saya memang sudah terbiasa, tetapi bagian melodi gitar (yang jarang saya temukan dalam Forgotten) yang dimainkan setelah lagu diputar sekitar dua setengah menit. Meski hanya beberapa detik, bagian ini memberi warna lain untuk Forgotten. Bagian ini mempersilakan kita bermain-main dengan nuansa, menari-nari dalam hutan belantara yang gelap gulita, dan lalu berlari ketakutan karena akan dimangsa. Selanjutnya, lagu terakhir dalam promo album Kaliyuga, “Terlaknat”. Lagu ini dibuka dengan betotan solo bass yang kuat dan lalu dihantam dengan instrumen lain yang sudah gatal menunggu giliran. Pola di lagu ini hampir sama dengan “Berhala Kelas Kuasa”, di mana Forgotten lawas terdengar sampai ¾ lagu, dan masuk ke dunia baru mereka di menit setelahnya. Tapi, porsi melodi gitar lebih panjang di sini. Lagu ini dinamis, dengan pattern yang menghipnotis siapapun untuk menganggukan kepalanya. Tema yang diangkat di lagu ini paling berbeda dibandingkan dua lagu sebelumnya. Jika di dua lagu sebelumnya kebencian tertuju pada orang lain, di lagu ini liriknya cenderung depresif, self-destructive, dengan rasa benci yang ditujukan pada diri sendiri. Kekecewaan dan putus asa sangat kentara di tiap katanya. Seolah-olah, ini adalah lirik yang diciptakan ketika terlalu banyak kesalahan yang dilakukan, keadaan sekitar yang memeras batin, tenaga, maupun logika, dan emosi itu tumpah ruah menjelma menjadi rentetan diksi yang mencaci maki diri sendiri. Tadinya, saya mencanangkan lagu ini sebagai favorit saya. Tetapi, ketika saya mendengar tiga materi dalam Kaliyuga belasan kali, saya urung. Predikat favorit itu saling rebut. Saya tidak bisa menentukan yang mana yang bisa saya sebut sebagai yang terbaik, karena pada akhirnya saya harus mengakui bahwa tiga lagu ini memberi warna yang berbeda dalam satu garis yang sama. Saya menaruh harapan yang sangat tinggi untuk Kaliyuga. Jika tiga materi ini adalah perwakilan dari seluruh materi yang sedang digarap Forgotten, maka sudah seharusnya album ini masuk ke jajaran album yang harus diwaspadai. Semoga, Forgotten tidak akan menemukan titik akhir dan kehabisan ide untuk meluapkan cercaan yang sebenarnya mewakili banyak suara, tetapi orang lain terlalu pengecut untuk berteriak tentang itu. Tanpa saya sadari, review ini diunggah bersamaan dengan ulang tahun Addy Gembel. Maka, selamat ulang tahun untuk tokoh yang selalu saya kagumi. Sehat selalu, tetap kaya akan ide, dan jangan berhenti menjadi misionaris dari neraka!

Sabtu, 02 Desember 2017

Momen Burgerkill Guncang Eropa dalam Film Dokumenter

Film Burgerkill-Blasting Europe/SATIRA YUDATAMA/PR GITARIS Burgerkill True Megabenz "Ebenz" (kiri) menyampaikan penjelasan perihal materi film "Burgerkill-Blasting Europe" saat konferensi pers "DVD Release & Movie Screening" di CGV Blitz Paskal 23, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Rabu 29 November 2017. Film ini memuat kiprah personel Burgerkill pada ajang "Wacken Open Air 2015" (Jerman) dan "Bloodstock Open Air" (Inggris).* Wujudkan mimpi Personel Burgerkill True Megabenz "Ebenz" (gitar), Agung Hellfrog (gitar), Ramdan (bas), Vicky Mono (vokal) menggarap langsung sinematografi. Mereka merangkai arsip video dari Refan Ramadhan, Bow Medialab, dan tim "Wacken Open Air". Dalam film, drummer Putra belum bergabung. Posisinya masih terisi Abah Andris yang kini hengkang sebagai drummer Burgerkill. Ketika konferensi pers, Ebenz menyebutkan, perilisan film merupakan bagian dari deretan mimpi personel sejak lama. Proses penggarapan film relatif berjalan lancar, walau sempat tertunda karena perlu menunggu konfirmasi pihak terkait. "Penggunaan video milik panitia ("Wacken Open Air") bukan perkara sembarangan karena memerlukan biaya lumayan besar. Sementara kami tak punya uang untuk mendapatkan video itu," ucap Ebenz. Terdapat hal yang melebihi dugaan, Ebenz mengatakan, panitia memberikan video, termasuk izin pemanfaatannya dengan kesepakatan tertentu. Kualitas paket video plus muatan suara pemberian panitia begitu mumpuni. Ini cerminan dari penggarapan ajang dengan mengedepankan profesionalisme. Hal itu sangat menunjang untuk penyusunan film, tanpa perlu ada proses pengolahan tambahan. Dia berharap, tayangan film dapat mendorong motivasi sesama pemusik underground agar terus mengembangkan karier, berani bersaing di tingkat internasional. Andaikan punya kesempatan, Ebenz mewakili rekan bandnya ingin menyelenggarakan roadshow pemutaran film ke sejumlah kota, sekalian mempererat silaturahmi dengan unit scene underground. "Untuk menjadi band keren tak mesti mengandalkan jalur arus utama. Pemusik underground juga bisa mengepakkan sayap sejauh mungkin, asal memiliki komitmen kuat," ujar Ebenz. Hasil kerja keras Mantan drummer Burgerkill Abah Andris turut hadir saat konferensi pers. Ia menyampaikan pengalamannya tampil di Eropa. Dia mengaku sangat bangga sempat menjadi bagian Burgerkill, menunjukkan karya sampai ke luar negeri. "Capaian itu merupakan hasil dari ketekunan dengan tahapan proses panjang, bukan terjadi secara tiba-tiba," ucap dia. Sementara itu, Agung tampak terharu seusai pemutaran film. Terngiang kenangan manis sekitar dua tahun lalu. Agung bangga, dapat mempersembahkan film kepada publik.***

Rabu, 13 September 2017

Burgerkill Perkenalkan Putra Drummer Terbaru Burgerkill 2017 Pengganti Abah Andris Yang Hengkang

Drummer Baru Burgerkill 2017 - Burgerkill merupakan sebuah band Cadas beraliran Metalcore yang berasal dari kota Bandung, Namun pada akhir bulan Mei 2016 yang lalu kabar duka menyelimuti Burgerkill soalnya sang penggebuk drum Abah Andris resmi keluar dari tubuh Burgerkill Nah lalu siapa pengganti Abah Andris??? Ini jawaban nya, Pengganti Abah Andris telah terlihat pada saat Burgerkill tampil di Event Nortblash 2016 di Medan, nah di event itu lah awal debut pertama Burgerkill tidak di barengi lagi oleh sang drummer Abah Andris, namun pada saat itu Abah Andris gantikan oleh drummer dari band Inwise dia bernama Gema Pada acara Event Nortblast 2016 di Medan Burgerkill berpersonil masih sama formasi seperti dulu yaitu Vokalis Vicky, dua gitaris Agung dan Eben, serta pemain bas Ramdan lalu di posisi drummer tadi sudah di sebutkan yakni Gema Manggala dari Inwise. Gema bermain bersama Burgerkill pada saat itu berstatus sebagai Drummer sementara atau bisa di sebut juga pembantu Nah setelah Event Northblast 2016 berakhir lalu Vicky Mono dan Personil lainya menggelar sebuah Audisi Pencarian untuk Drummer terbaru pengganti Abah Andris untuk di bawa ke acara berikut nya Sonic Fair 2016 Karna waktu yang mepet selang satu hari setelah Burgerkill tampil di Northblast 2016 dan besok nya harus di lanjut lagi segera tampil di festival Sonic Fair 2016, Burgerkill memboyong Putra Sebagai Pemukul drum Burgerkill untuk tampil di Sonic Fair 2016 yang lalu Ngomong Ngomong tentang Putra, Putra merupakan mantan drummer dari band Killing Me Inside, kebetulan pada saat itu juga Putra juga sama harus memutuskan keluar dari band lama nya Killing Me Inside, setelah keluar Putra langsung di panggil oleh Burgerkill untuk Menggantikan Abah Andris yang keluar dari kursi Drummer Burgerkill Sampai sekarang pada tahun 2017 ini Drummer Burgerkill masih di isi oleh Putra dan sepertinya Putra akan di angkat menjadi Drummer Resmi Burgerkill untuk mengisi kekosongan anggotanya pada posisi Drum Perjuangan Putra untuk menggantikan Abah Andris di posisi penggebuk Drum Burgerkill perkara yang mudah karna saat itu Putra harus berjuang dalam audisi bersama kontestan kontestan lainnya yakni Putra, Gema, serta pemain drum Noxa juga Paper Gangster yakni Alvin Eka Putra. Dan dari ke 4 kontestan itu yang lolos tahap seleksi adalah Putra Jadi kesimpulan akhir dari artikel ini adalah?? Sosok pengganti Abah Andris Drummer Burgerkill adalah Putra mantan dari Drummer Killing Me Inside, Selamat yah Buat mas Putra hhe, oh iya hampir lupa setelah abah andris keluar dari Burgerkill kini abah andris bergabung bersama band cadas lainnya yaitu Nectura :) bye bye

Sabtu, 23 Juli 2016

HELLSHOW 2015: KEEP IT IN A FAMILY \M/

HELLSHOW 2015:KEEP IT A FAMILY \m/ Adalah november 2015,ketika eben menelpon saya dan mengajak untuk bermain bersama burgerkill di sebuah konser reunian 2p tahun burgerkill di hellshow 2015.Yang pertama kali terlintas oleh saya seriuskan ajakan ini ? Namun saya tahu eben sangat serius.Seingat saya,sejak eben merilis dokumenter 17 tahun perjalanan burgerkill,we will bleed,The movie,januari 2012,cita-cita untuk bernostalgia reunian sudah eben gulirkan.Ia berkisah,burgerkill saat itu sudah berjalan jauh dengan begitu banyak pencapaian yang spektakuler yang tercapai.Namun ia merasa ada banyak mata rantai yang kabur dalam perjalanan Burgerkill, baik dalam orientasi yang harus dituju, mau pun di rel perjalanan grup ini. Ini terjadi baik di dalam internal keluarga besar Burgerkill mau pun di ranah pecinta musik dan pergerakan kreatif Burgerkill. Di ranah yang lebih luas ia melihat bagaimana anak-anak muda tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dilakukan Burgerkill. Dan pemahaman ideal dalam pemikiran Eben, hanya bisa diberikan melalui sebuah karya atau pertunjukan yang memuat sisi kesejarahan. Saat itulah wacana reunian mulai digulirkan. Lebih jauh Eben sempat mengutarakan keinginannya untuk membuat sebuah album back to roots di mana Burgerkill memainkan musik-musik yang selama ini membentuk Burgerkill baik secara musikalitas maupun secara ideologi. Pertunjukan lalu diteruskan dengan masuknya Ugunk pada gitar dan Andris pada bass di dua lagu dari album Berkarat, dan dua lagu selanjutnya masih dri album Berkarat, Agung masuk menggantikan Ugunk. Usai 10 lagu dua album Dua Sisi dan Berkarat, mulailah Andris pindah ke peranti drum dan bass diisi Ramdhan—personil Burgerkill yang kini dikenal luas oleh ranah musik metal Indonesia. Burgerkill memainkan lagu-lagu dari album Beyond Coma And Despair, Venomous, serta lagu cover “Air Mata Api” dari Iwan Fals dan konser ditutup dengan “Undefeated”, singel terakhir Burgerkill yang dirilis pada Hellshow 2014. Burgerkill juga mengundang Yuli Jasad, sosok yang di tahun 1990an sangat banyak membantu Burgerkill. Yuli Jasad bermain dobel bas bersama Ramdhan di lagu “Atur Aku”. Adalah sebuah kebanggaan bagi saya untuk kembali tampil bersama Burgerkill. Sejak terakhir tampil bersama Burgerkill tahun 2000—15 tahun yang lalu—saya sama sekali tidak pernah membayangkan bisa kembali berada di sana bersama Eben dan Toto. Siang dan malam saya mempersiapkan diri mempelajari lagu-lagu Dua Sisi. Saya meminjam bass milik Agung dan memainkan lagu-lagu yang akan saya mainkan nanti, setiap hari saat bangun tidur dan sebelum tidur sesempat saya. Semalam menjelang Hellshow 2015 saya merasakan gugup yang semakin hebat. Saya tak bisa tidur dan terus berlatih sendiri sepanjang malam.

Kamis, 18 Februari 2016

Buku ‘Rock Memberontak’ tentang Robi 'Navicula' dan Che 'Cupumanik' Siap Diterbitkan

Robi, vokalis dan gitaris Navicula bersama Che, vokalis Cupumanik. YouTube/Eko Prabowo Sebuah buku baru berjudul Rock Memberontak siap diterbitkan pada 28 November mendatang. Buku dengan ketebalan 120 halaman dan dicetak pada kertas berukuran A5 ini akan mengambil fokus pada kisah proses kreatif Che, vokalis Cupumanik dan Robi, vokalis sekaligus gitaris Navicula dalam menciptakan lagu untuk band masing-masing. Sidebar Gitaris Navicula Akan Gelar Tur Mini di Prancis » “Rock Memberontak akan mengupas cara mereka berdua [Che dan Robi] menulis lagu. Bahasan yang diangkat antara lain adalah dari mana ide mereka berasal, apa saja sumber referensi tema dan bunyi mereka, bagaimana proses produksi lagi, hingga penjelasan khusus mengenai beberapa lagu terbesar mereka seperti ‘Grunge Harga Mati’ dan ‘Busur Hujan’,” demikian menurut siaran pers yang diterima oleh Roling Stone. Buku tersebut ditulis oleh Eko Prabowo atau yang lebih akrab disapa Wustuk. Sebelumnya ia pernah menulis buku Dua Senja Pohon Tua dan Saya Ada di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal. Eko tak sendirian, ia turut dibantu oleh beberapa nama seperti; Rudi Adriyanto Kadarman sebagai desainer, David Rorimpandey sebagai ilustrator, Gede Manggala (selaku pihak Edraflo), Raditya Adi Nugraha sebagai videografer, Adi Tamtomo sebagai fotografer, serta Denny Andriyana sebagai pemegang kendali media sosial. Sampul buku 'Rock Memberontak'. (Eko Prabowo)

Kamis, 27 Agustus 2015

Suasana Intim Perilisan “Eleven Heroes” Album Terbaru Dari Beside

Album persembahan Beside untuk korban tragedi AACC Akhirnya, setelah delapan tahun absen membuat album, Beside unit melodic metalcore asal Bandung ini mengeluarakan album penuh kedua mereka mendekati penghujung tahun ini. Untuk merayakannya band beranggotakan Beby (drum), Qq Bokirk (gitar), Izal (bas), Roy (gitar), dan Artgog (vokal) ini mengadakan sebuah acara peluncuran album yang nggak biasa pada Selasa (18/08/15) lalu di Queen Rose Lounge, jalan Pasirkalilki, Bandung. Nah, kenapa disebut nggak biasa? Karena kalau pada umumnya dalam pesta peluncuran album selalu di barengi dengan penampilan langsung si pemilik album, kali ini justru mereka meghilangkan acara tersebut. Tanpa mengurangi kemeriahan acara, jusrtu malah keintiman yang terjalin. Setelah sesi dengar album yang di beri judul Eleven Heroes ini, semua yang hadir pada malam itu berkesempatan menyimak diskusi singkat antara Kimung (Ujung Berung Rebels), Ebenz (Burgerkill), dan Satriyo (Pure Saturday). Yang lebih menyenangkan lagi, semua yang hadir pada malam tersebut bisa bertanya dan berdiskusi secara langsung dengan para personil Beside dengan suasana yang sangat santai ala-ala tongkrongan. “Release party emang sebaiknya seperti ini. Akrab, dan kita bisa ngobrol banyak tentang karya si band itu sendiri,” ujar Ebenz. Bicara tentang album Eleven Heroes ini sendiri juga sangat menarik, karena album ini merupakan persembahan bagi sebelas korban meninggal pada Tragedi AACC, Februari 2008 lalu. Dari segi musik baik aransemen dan lirik, album ini menawarkan sesuatu yang baru dan segar dari Beside. Album yang di garap sejak 2012 lalu ini menyuguhkan sepuluh lagu bertempo tinggi dan sebuah track instrumental yang cukup melodius. Untuk lirik sendiri, Beside cukup apik bermain dengan konsep storytelling, yang membuat album ini terasa ringan dan anthemic tanpa harus mengurangi kualitas album itu sendiri. Sangat berbeda dengan album perdana mereka pada 2007 silam, Againts Ourself. “Kami sengaja menggunakan konsep storytelling, agar lebih memudahkan kami dalam bercerita mengenai apa saja yang yang ingin kami ceritkan dan hal-hal yang sudah kami lalui selama pengerjaan album ini atau selama perjalan kami bermain musik,” tambah Bebi dalam sesi tanya jawab. Eleven Heroes ini dirilis oleh Sulung Extreme Musick (SEM Records) sebuah label rekaman asal Samarinda. Sementara untuk produksi album mereka kali ini dibantu oleh Zoteng (Forgotten) sebagai sound engineer. Sebelumnya, sejak Juni 2015 mereka telah melepas dua single terlebih dahulu yang bejudul “Under Hollow” dan “ Death Of War” yang merupakan bagian dari album Eleven Heroes ini. Mengakhiri pesta perilisan album Eleven Heroes, Beside memberikan kenang-kenangan kepada perwakilan dari keluarga korban tragedi AACC. Seluruh anggota band dan juga yang hadir malam itu menyempatkan untuk berdoa bersama sejenak untuk sebelas korban meninggal dunia dalam peristiwa yang terjadi enam tahun silam tersebut. Bebi juga menambahkan, “ Kesebelas orang yang sudah pergi tersebut tetap akan menjadi bagian dari sejarah Beside.” Suasana penuh suka cita pun begitu terasa malam tersebut terlebih saat Ibu dari salah satu korban memberikan ucapan selamat dan menyemangati Beside untuk tetap maju dan terus berkarya. Selamat buat Beside untuk album barunya, buat yang penasaran dengan album mereka bih P! kasih denger salah satunya. Sikat!