Sabtu, 27 Maret 2021

ALBUM REVIEW: CARNIVORED – LABIRIN

CARNIVORED akhirnya back with vengeance dengan album terbarunya tahun ini, tidak terasa sudah hampir tujuh tahun lama nya semenjak grup death metal asal Pamulang, Tangsel ini memuntahkan album kedua mereka ‘No Truth Found’ tahun 2014 silam. Album tersebut bersama ‘In Praise of Devastation’ dari FUNERAL INCEPTION dan rilisan debut EXHUMATION ‘Hymn To Your God’ telah menjadi artefak penting scene bawah tanah dalam negeri era 2010, selain materi ketiga-nya tergolong lebih fresh dibandingkan mayoritas para pembawa panji-panji death metal tanah air saat itu, yang mayoritas masih bergelut dengan pakem brutal death metal, ketiga album tersebut juga didukung kualitas produksi yang berkelas dan diatas rata-rata, gak kalah dengan hasil garapan musisi-musisi kelas internasional. Selama lebih dari setengah dekade pasca pelepasan ‘No Truth Found’, CARNIVORED tak lantas cepat puas dengan pencapaian mereka dalam album tersebut, disela-sela kesibukan naik turun panggung gigs, CARNIVORED pelan tapi pasti merancang cetak biru untuk album ketiga mereka semenjak tahun 2015, dan bukan CARNIVORED namanya kalau tak memberikan kejutan pada tiap-tiap album baru, dan saya rasa publik bakal sedikit kaget dengan pergeseran gaya death metal yang ada dalam ‘Labirin’. Bagi mereka yang beruntung sempat mendapatkan ‘Demo 2018’, berisikan tiga buah lagu dulu, pasti sudah gak bakalan kaget lagi dengan materi yang CARNIVORED lemparkan kali ini, Tapi bagi yang udah terlanjur berekspektasi telalu tinggi seperti saya, single pertama dari album Labirin yaitu ‘Rintih Mengemis’ sudah bikin kecele.
Memang dalam ‘No Truth Found’ sendiri sudah banyak di susupi oleh groove–groove model GOJIRA dan MESHUGGAH (contoh “Heresy Of The Priest”, “Angel of Piggish” dan “Living Peace In Slavery” misalnya) meskipun masih dalam konteks tech death, ‘Labirin’ masih sangat masuk akal, kurang lebih gaya bermusik CARNIVORED sekarang sejalan seperti ketika DECAPITATED memutuskan untuk meggodok materi death metal yang lebih groove based pasca reuni. ‘Labirin’ dibuka dengan lagu paling lembek dalam album yaitu “Tunduk Raga”, dimana aransemen nya lebih cocok jadi b-sides LAMB OF GOD dan DEVILDRIVER era ‘Pray for Villains’, ‘Labirin’ bakal lebih nendang apabila dibuka dengan “Tools of Silence” yang jauh lebih sukses memamerkan new approach CARNIVORED sekarang, sebuah nomer ganas layaknya kombinasi antara OPETH – “Ghost of Perdition” dengan riff Florida death metal sangar MALEVOLENT CREATION dan sisi melodius FIT FOR AN AUTOPSY. Namun tak semua pendeketan baru yang ditampilkan band ini berhasil, “Sekarat Asa” dan “Sekutu Hitam” menurut saya masih terasa setengah matang dan kurang bumbu sama seperti lagu pembuka “Tunduk Raga”, untung nya album ini diselamatkan dua centerpiece album “Paranoia” lalu “Industrial Casualties”, keduanya berhasil di eksekusi hampir sempurna, cuma “Industrial Casualties” ada baiknya kalau di dengarkan jangan secara ketengan diluar konteks album tanpa sang pengantar (“Paranoia”). Kalau banyak album dipasaran yang terasa sekali front-loaded alias momen-momen terbaiknya berada pada awal album, ‘Labirin’ justru kebalikanya, “Death Invest” bersama “Terjerat Senyap” merupakan dua nomor terbaik dalam album, tetapi posisi dua lagu tersebut dalam tracklist sebenernya bisa ditukar biar pacing berikut flow nya lebih ngena dan masuk akal. Selanjutnya trek semi-paripurna “Angkuh Menjalar” merupakan komposisi paling jauh dari akar death metal yang pernah ditulis CARNIVORED, namun groove yang disajikan lumayan renyah plus bagian verse dan chorus sangat memorable, meski pada bagian breakdown rada terlalu mirip FIT FOR AN AUTOPSY. ‘Labirin’ akhirnya ditutup dengan title track instrumental epik dimana CARNIVORED turut mengundang Stevi Item untuk menyumpangkan permainan lead fantastis nya, penutup tersebut juga menjadi nomor paling ambisius sekaligus progresif dalam ‘Labirin’, punya nuansa dan feels mirip musik pengiring saat melawan Final Boss dalam video game aksi atau RPG, dan eitss jangan langsung menekan tombol eject pemutar CD kalian dulu, karena masih ada hidden track “Geriliya Voodoo” bagi kalian penggemar djent. Meskipun jauh diluar ekspektasi dan ada beberapa lagu yang saya rasa bisa di cut saja, kenekatan CARNIVORED untuk sedikit pindah jalur patut di beri jempol walau eksekusi di beberapa tempat nya masih agak kurang nampol. Kita lihat saja eksplorasi apalagi yang bakal CARNIVORED siapkan dalam album berikutnya, dan semoga gak terlalu lama jaraknya lagi seperti yang sekarang ini.

Rabu, 27 Januari 2021

Enam Tahun Berdir,Debut Album Penuh Sufism:''Republik Rakyat Jelata'' Di Rilis

Untuk para penyuka musik brutal death metal dengan aransemen sederhana, vokal growl dengan artikulasi jelas, tune gitar yang berat, suara bas yang menonjol dan permainan drum yang cepat, 'Republik Rakyat Jelata' dari Sufism dirasa tepat untuk masuk ke daftar dengar. Kuartet death metal asal Cangkuang, Bandung Selatan, Sufism meluncurkan album penuh perdana mereka. Tepatnya pada 13 Desember 2020 di bawah bendera Brutal Mind, Republik Rakyat Jelata dirilis baik dalam bentuk digital maupun fisik. Terdapat sepuluh buah lagu yang disertakan dalam debut album mereka. Berturut-turut,nomer cadas dalam album terbaru Sufism adalah "Republik Rakyat Jelata","Sayatan Nadi Takdir Kebencian","Duruwiksa","Munajat Bejad","Palastra","Rogahala","Kalawasana","Syaitan","Darkness In Your Candle" dan "Mufakat Jahat" Album ini di rasa cocok untuk penyuka musik Brutal Death Metal dengan aransemen yang sederhana,karakter vokal growl dengan artikulasi jelas,tune gitar yang berat,suara bas yang menonjol dan permainan drum yang cepat.
Yang membuat album ini unik terletak pada artwork yang dipakai. Jika biasanya artwork dari album-album death metal dihiasi unsur-unsur kegelapan dan menyeramkan, setan, darah, hingga kematian, justru keasrian suasana pedesaan jadi pilihan Sufism untuk sampul album Republik Rakyat Jelata. Memperlihatkan suasana pedesaan yang sejuk, pematang sawah yang hijau hingga aktivitas petani dan pasar tradisional, sepertinya Sufism berusaha memperlihatkan seperti apa lingkungan hidup para personil sehari-hari. Artwork-nya digarap oleh Aghy R. Purakusuma. Album dari band yang diperkuat oleh Nanang (vokal), Sandy (gitar), Iman (bas) dan Ari (drum) ini direkam di Yeah Music Studio dengan dioperatori oleh Bimo. Untuk urusan mixing & mastering dipercayakan pada Simon (Sanwa Home Recording). Kini, Republik Rakyat Jelata sudah bisa dinikmati lewat cakram padat atau lewat kanal musik streaming, seperti Spotify, Apple Music dan Bandcamp.

Sabtu, 02 Januari 2021

‘Silalatu’ : Bunga Api dan Fragmen Multi Dimensi Dari Forgotten

‘Silalatu’ merupakan sebutan untuk bunga api yang beterbangan tatkala jilatan api membesar. Hal tersebut kemudian Forgotten jadikan sebagai simbol narasi utama, lanjutan dari album Kaliyuga, yang mereka rilis dua tahun lalu Forgotten, salah satu pionir band death metal asal Ujung berung, yang terbentuk pada tahun 1994 lalu ini menjalani 26 tahun perjalannya dengan beberapa buah album dan single berbahaya yang patut disimak. Band yang tumbuh dengan kontroversi serta isian lirik yang bernas dengan ramuan musik death metal ini sejak awal kemunculannya langsung dikenal sebagai band yang menyuarakan hal-hal yang tidak familiar untuk diaminkan banyak orang, yang juga mampu menyulut kontroversi dibanyak kalangan. Tema seputar politik, sosial, ekonomi, hingga yang berkolerasi dengan prinsip pribadi menjadi fokus yang mereka angkat. Forgotten menjadi band yang paling diperhitungkan, ketika band ini mampu meramu lirik yang terbilang frontal ke dalam isian lagu-lagunya. Lagu-lagu semisal “Tuhan Telah Mati”, atau “Selangkangan Agama”, secara estetika dan isiannya, menjadi lagu dengan hujan kritik yang berani, karena banyak bermain diranah sensitif, perihal hal-hal dogmatis, yang berkembang di masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahkan ketika mereka bicara cinta pun, mereka punya sudut pandang yang berbeda lewat padanan lirik “nyatakan cinta dengan lemparan batu”, di lagu mereka yang berjudul “Aku Jatuh Cinta”. Melanjutkan epsiode perjalanan bermusiknya, Forgotten kembali menawarkan karya cipta terbarunya, yang kali ini semua nyala kreasinya bermuara di album berjudul Silalatu. Dilansir dari rilisan pers yang DCDC terima, nama Silalatu merupakan sebutan untuk bunga api yang beterbangan tatkala jilatan api membesar. Hal tersebut kemudian mereka jadikan sebagai simbol narasi utama sebagai lanjutan dari album Kaliyuga, yang mereka rilis dua tahun lalu. Lebih jauh tentang albumnya, diakui pula oleh mereka jika Silalatu merupakan potret dari konflik yang lahir dari krisis multi dimensi yang hari ini hadapi. Mereka membuka album dengan alunan seruling sunda yang mewakili kondisi kehidupan selaras manusia dengan alam, dan tiba-tiba runtuh oleh gemuruh riff mencekam, deru ritme drum dan gedoran bass dan teriakan reportase tentang penjarahan, perampasan ruang hidup, korosi total, fabrikasi ‘kebenaran’, tentang negara sebagai alat destruksi. Tentang sunyi yang dibaliknya tersembunyi rencana-rencana jahat untuk merubah tatanan keselarasan antara manusia dan alam sekitarnya. Berisikan 7 lagu, album Silalatu merupakan kesatuan fragmen dari pembabakan panjang cerita tentang awal proses penghancuran dan upaya-upaya yang kerap hadir menolaknya. Ditulis sebelum pengesahan Omnibus Law dan gelombang aksi protes yang menyertainya akhir-akhir ini, Silalatu merupakan salah satu album lokal yang merepresentasikan kondisi terkini dari proses itu. Dengan kemegahan yang mencekam, riff old-school, agresi dan kecepatan tanpa kompromi, Silalatu adalah Death Metal yang kita kenal dari Forgotten. Dengan pengaruh kental dari death metal Florida semacam Malevolent Creation dan Death, para eksponen NY seperti Cannibal Corpse dan Suffocation hingga melodi bandband death metal Swedia seperti At The Gates dan Dismember. Info lebih lanjut tentang album terbaru Forgotten ini, bisa disimak melalui akun instagram @grimlocrecords

Selasa, 15 Desember 2020

Review EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’

“Yes brads, today is the day! Selamat menikmati mini album terbaru kami ‘Killchestra’ di semua platform digital favorit kalian,” tulis Burgerkill dalam laman Instagramnya. Tepat pada Minggu, 19 April 2020, Burgerkill, band Metal asal Bandung ini merilis EP berisikan 6 lagu dari beberapa album sebelumnya yang telah direkam ulang dan dikolaborasikan dengan orkestra dari Czech Symphony Orchestra pada awal Maret 2018 lalu. Czech Symphony Orchestra adalah sebuah kelompok orchestra yang berasal dari Praha, Republik Ceko. Sedangkan aransemen musik dalam album tersebut dipercayakan kepada Alvin Witarsa. Berikut adalah review EP Burgerkill Killchestra.
1. Anjing Tanah Album ini dibuka dengan lagu berjudul Anjing Tanah, yang diambil dari album Beyond Coma and Despair. Opening Anjing Tanah yang pada album sebelumnya adalah petikan lembut gitar akustik, di album ini digantikan dengan bunyi piano dan biola yang begitu syahdu. Tepat setelah sang vokalis meneriakkan anjing tanah dentuman drum serta distrosi gitar langsung menghilangkan kesyahduan bunyi piano dan biola dari telinga para pendengar, digantikan kegaharan dentuman musik metalcore khas Burgerkill yang terasa lebih gahar dan padat dibandingkan versi lagu ini pada 2006. Hasil mastering tahun 2020 tentu berbeda dengan hasil mastering pada tahun 2006. Serta drum fills dari drummer baru Burgerkill, Putra terasa sedikit berbeda daripada yg ada di rekaman tahun 2006. Perbedaan juga terasa pada bagian vocal, tidak seperti pada tahun 2006 yang diisi oleh vocal Alm. Ivan “Scumbag” Firmansyah, kali ini bagian vocal diisi oleh Vicky, vokalis yang menggantikan posisi Ivan setelah kematiannya. 2. Penjara Batin Selanjutnya dalam review EP Burgerkill Killchestra ini kita akan membahas lantunan EP kedua yang berjudul Penjara Batin. Melodi gitar di awal lagu ini juga terasa cukup berbeda dibandingkan dengan rekaman lagu yang sama pada album Berkarat pada 2004 silam. Dibalut dengan alunan orchestra yang mengiringi, lagu ke dua di EP ini kembali memberikan sebuah pengalaman baru dalam menikmati lagu Penjara Batin. Unsur ketukan drum Thrash Metal terasa cukup kental dalam lagu ini. Melodi serta drum fills yang padat diiringi orchestra yang terkesan mewah membawa pendengar merasakan setiap emosi yang ingin disampaikan dalam lagu ini. 3. An Elegy Dibuka dengan alunan piano dan biola yang menggantikan petikan lembut melodi gitar seperti yang dilakukan Burgerkill di lagu ini pada album Venomous tahun 2011 silam. Kembali para pendengar dimanjakan dengan musik khas orkestra, disambut dengan drum dan bass yang terasa lebih renyah daripada album sebelumnya. Isian biola di tengah lagu yang berusaha membangun emosi pendengar langsung diledakkan pada bagian reff lagu ini. Seperti ingin memberikan tempat bagi Czech Symphony Orchestra. Pada bagian akhir terasa bagian orkestra lebih dominan dari pada Burgerkill yang tentu saja memberikan pengalaman baru. Terkesan seperti Bugerkill ingin meredakan ledakan yang mereka lakukan pada bagian reff. Lagu ini Kembali ditutup dengan piano dan biola, diikuti dengan isian vokal lembut dari sang vokalis Vicky. 4. Only the strong Gahar dan mewah itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hasil kolaborasi Burgerkill dan Czech Symphony Orchestra dalam lagu ini. Terasa sangat berbeda antara yang dilakukan Burgerkill pada lagu ini dalam album Venomous di tahun 2011 dibandingkan pada EP Killchestra. Musik dibuat terasa lebih berat dan rapat serta dengan iringan orkestra yang tak kalah intensnya. Kembali, Burgerkill membawakan musik metal mewah langsung ke telinga pendengar. Home Musik Review EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’MUSIKREVIEWReview EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’FauzanApr 22, 20200 “Yes brads, today is the day! Selamat menikmati mini album terbaru kami ‘Killchestra’ di semua platform digital favorit kalian,” tulis Burgerkill dalam laman Instagramnya. Tepat pada Minggu, 19 April 2020, Burgerkill, band Metal asal Bandung ini merilis EP berisikan 6 lagu dari beberapa album sebelumnya yang telah direkam ulang dan dikolaborasikan dengan orkestra dari Czech Symphony Orchestra pada awal Maret 2018 lalu. Czech Symphony Orchestra adalah sebuah kelompok orchestra yang berasal dari Praha, Republik Ceko. Sedangkan aransemen musik dalam album tersebut dipercayakan kepada Alvin Witarsa. Berikut adalah review EP Burgerkill Killchestra. cover EP Burgerkill - killchestra via Instagram 1. Anjing Tanah Album ini dibuka dengan lagu berjudul Anjing Tanah, yang diambil dari album Beyond Coma and Despair. Opening Anjing Tanah yang pada album sebelumnya adalah petikan lembut gitar akustik, di album ini digantikan dengan bunyi piano dan biola yang begitu syahdu. Tepat setelah sang vokalis meneriakkan anjing tanah dentuman drum serta distrosi gitar langsung menghilangkan kesyahduan bunyi piano dan biola dari telinga para pendengar, digantikan kegaharan dentuman musik metalcore khas Burgerkill yang terasa lebih gahar dan padat dibandingkan versi lagu ini pada 2006. Hasil mastering tahun 2020 tentu berbeda dengan hasil mastering pada tahun 2006. Serta drum fills dari drummer baru Burgerkill, Putra terasa sedikit berbeda daripada yg ada di rekaman tahun 2006. Perbedaan juga terasa pada bagian vocal, tidak seperti pada tahun 2006 yang diisi oleh vocal Alm. Ivan “Scumbag” Firmansyah, kali ini bagian vocal diisi oleh Vicky, vokalis yang menggantikan posisi Ivan setelah kematiannya. 2. Penjara Batin Selanjutnya dalam review EP Burgerkill Killchestra ini kita akan membahas lantunan EP kedua yang berjudul Penjara Batin. Melodi gitar di awal lagu ini juga terasa cukup berbeda dibandingkan dengan rekaman lagu yang sama pada album Berkarat pada 2004 silam. BACA JUGA Review Film Pacific Rim: Uprising (2018) - Sekuel yang Melupakan Kenapa Film Originalnya sangat Menarik Dibalut dengan alunan orchestra yang mengiringi, lagu ke dua di EP ini kembali memberikan sebuah pengalaman baru dalam menikmati lagu Penjara Batin. Unsur ketukan drum Thrash Metal terasa cukup kental dalam lagu ini. Melodi serta drum fills yang padat diiringi orchestra yang terkesan mewah membawa pendengar merasakan setiap emosi yang ingin disampaikan dalam lagu ini. 3. An Elegy Dibuka dengan alunan piano dan biola yang menggantikan petikan lembut melodi gitar seperti yang dilakukan Burgerkill di lagu ini pada album Venomous tahun 2011 silam. Kembali para pendengar dimanjakan dengan musik khas orkestra, disambut dengan drum dan bass yang terasa lebih renyah daripada album sebelumnya. Isian biola di tengah lagu yang berusaha membangun emosi pendengar langsung diledakkan pada bagian reff lagu ini. Seperti ingin memberikan tempat bagi Czech Symphony Orchestra. Pada bagian akhir terasa bagian orkestra lebih dominan dari pada Burgerkill yang tentu saja memberikan pengalaman baru. Terkesan seperti Bugerkill ingin meredakan ledakan yang mereka lakukan pada bagian reff. Lagu ini Kembali ditutup dengan piano dan biola, diikuti dengan isian vokal lembut dari sang vokalis Vicky. 4. Only the strong Gahar dan mewah itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hasil kolaborasi Burgerkill dan Czech Symphony Orchestra dalam lagu ini. Terasa sangat berbeda antara yang dilakukan Burgerkill pada lagu ini dalam album Venomous di tahun 2011 dibandingkan pada EP Killchestra. Musik dibuat terasa lebih berat dan rapat serta dengan iringan orkestra yang tak kalah intensnya. Kembali, Burgerkill membawakan musik metal mewah langsung ke telinga pendengar. Gesekan biola yang terasa begitu intens pada bagian reff serta bunyi terompet sperti ingin memberikan energi lebih kepada pendengar. Rapatnya double pedal Putra Ramadhan membuat musik ini terdengar lebih gahar. Home Musik Review EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’MUSIKREVIEWReview EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’FauzanApr 22, 20200 “Yes brads, today is the day! Selamat menikmati mini album terbaru kami ‘Killchestra’ di semua platform digital favorit kalian,” tulis Burgerkill dalam laman Instagramnya. Tepat pada Minggu, 19 April 2020, Burgerkill, band Metal asal Bandung ini merilis EP berisikan 6 lagu dari beberapa album sebelumnya yang telah direkam ulang dan dikolaborasikan dengan orkestra dari Czech Symphony Orchestra pada awal Maret 2018 lalu. Czech Symphony Orchestra adalah sebuah kelompok orchestra yang berasal dari Praha, Republik Ceko. Sedangkan aransemen musik dalam album tersebut dipercayakan kepada Alvin Witarsa. Berikut adalah review EP Burgerkill Killchestra. cover EP Burgerkill - killchestra via Instagram 1. Anjing Tanah Album ini dibuka dengan lagu berjudul Anjing Tanah, yang diambil dari album Beyond Coma and Despair. Opening Anjing Tanah yang pada album sebelumnya adalah petikan lembut gitar akustik, di album ini digantikan dengan bunyi piano dan biola yang begitu syahdu. Tepat setelah sang vokalis meneriakkan anjing tanah dentuman drum serta distrosi gitar langsung menghilangkan kesyahduan bunyi piano dan biola dari telinga para pendengar, digantikan kegaharan dentuman musik metalcore khas Burgerkill yang terasa lebih gahar dan padat dibandingkan versi lagu ini pada 2006. Hasil mastering tahun 2020 tentu berbeda dengan hasil mastering pada tahun 2006. Serta drum fills dari drummer baru Burgerkill, Putra terasa sedikit berbeda daripada yg ada di rekaman tahun 2006. Perbedaan juga terasa pada bagian vocal, tidak seperti pada tahun 2006 yang diisi oleh vocal Alm. Ivan “Scumbag” Firmansyah, kali ini bagian vocal diisi oleh Vicky, vokalis yang menggantikan posisi Ivan setelah kematiannya. 2. Penjara Batin Selanjutnya dalam review EP Burgerkill Killchestra ini kita akan membahas lantunan EP kedua yang berjudul Penjara Batin. Melodi gitar di awal lagu ini juga terasa cukup berbeda dibandingkan dengan rekaman lagu yang sama pada album Berkarat pada 2004 silam. BACA JUGA Review Film Pacific Rim: Uprising (2018) - Sekuel yang Melupakan Kenapa Film Originalnya sangat Menarik Dibalut dengan alunan orchestra yang mengiringi, lagu ke dua di EP ini kembali memberikan sebuah pengalaman baru dalam menikmati lagu Penjara Batin. Unsur ketukan drum Thrash Metal terasa cukup kental dalam lagu ini. Melodi serta drum fills yang padat diiringi orchestra yang terkesan mewah membawa pendengar merasakan setiap emosi yang ingin disampaikan dalam lagu ini. 3. An Elegy Dibuka dengan alunan piano dan biola yang menggantikan petikan lembut melodi gitar seperti yang dilakukan Burgerkill di lagu ini pada album Venomous tahun 2011 silam. Kembali para pendengar dimanjakan dengan musik khas orkestra, disambut dengan drum dan bass yang terasa lebih renyah daripada album sebelumnya. Isian biola di tengah lagu yang berusaha membangun emosi pendengar langsung diledakkan pada bagian reff lagu ini. Seperti ingin memberikan tempat bagi Czech Symphony Orchestra. Pada bagian akhir terasa bagian orkestra lebih dominan dari pada Burgerkill yang tentu saja memberikan pengalaman baru. Terkesan seperti Bugerkill ingin meredakan ledakan yang mereka lakukan pada bagian reff. Lagu ini Kembali ditutup dengan piano dan biola, diikuti dengan isian vokal lembut dari sang vokalis Vicky. 4. Only the strong Gahar dan mewah itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hasil kolaborasi Burgerkill dan Czech Symphony Orchestra dalam lagu ini. Terasa sangat berbeda antara yang dilakukan Burgerkill pada lagu ini dalam album Venomous di tahun 2011 dibandingkan pada EP Killchestra. Musik dibuat terasa lebih berat dan rapat serta dengan iringan orkestra yang tak kalah intensnya. Kembali, Burgerkill membawakan musik metal mewah langsung ke telinga pendengar. Gesekan biola yang terasa begitu intens pada bagian reff serta bunyi terompet sperti ingin memberikan energi lebih kepada pendengar. Rapatnya double pedal Putra Ramadhan membuat musik ini terdengar lebih gahar. BACA JUGA A Book for Your Shelf: Seri Novel Harry Potter - Dunia Sihir untuk Anak 5. Angkuh Kembali lagi ke lagu di album Beyond Coma and Despair 2006. Diawali dengan alunan musik yang tetap bisa membuat fans dan pendengar headbang, Burgerkill yang mengusung genre metalcore seperti ingin menegaskan ciri khas mereka dalam lagu ini, meski dengan iringan orkestra, music metalcore khas Burgerkill justru terasa lebih kental di lagu ini. Ciri khas metalcore terasa kental pada bagian breakdown di akhir lagu ini. Distrorsi gitar yang terasa lebih berat dibandingkan dengan rilisan sebelumnya, serta drum fill yang terasa lebih padat membuat unsur metalcore kental terasa di penghunjung lagu ini. 6. Tiga Titik Hitam Lagu dari album berkarat (2004) yang seperti punya makna lebih dalam bagi para fans dan pendengar Burgerkill ini kembali direkam dalam EP Killchestra. Diawali hanya dengan iringan musik orkestra yang menyayat emosi. Kembali pendengar diperdengarkan suara Fadli Padi melantunkan lirik yang dituliskan oleh Alm. Ivan Scumbag. Emosi yang berbeda sangat terasa pada lagu ini. Apalagi mengingat bagaimana hubungan lagu ini dengan Alm. Ivan Scumbag. Terasa makin dalam penghayatan dari Fadli dengan iringan orkestra. Pada bagian pertengahan lagu pun saat memasuki bagian puisi begitu emosional. Hingga puncaknya pada saat akhir bagian lagu, saat Fadli membacakan doa untuk Alm. Ivan yang ia kenal pada 2003 saat proses rekaman lagu ini pertama kali. Susunan yang pas untuk lagu terakhir di album ini, karna di sini Burgerkill seperti ingin menunjukkan dedikasinya kepada Alm. Ivan Scumbag. Home Musik Review EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’MUSIKREVIEWReview EP Burgerkill Killchestra: Metalcore + Orkestra = ‘Killchestra’FauzanApr 22, 20200 “Yes brads, today is the day! Selamat menikmati mini album terbaru kami ‘Killchestra’ di semua platform digital favorit kalian,” tulis Burgerkill dalam laman Instagramnya. Tepat pada Minggu, 19 April 2020, Burgerkill, band Metal asal Bandung ini merilis EP berisikan 6 lagu dari beberapa album sebelumnya yang telah direkam ulang dan dikolaborasikan dengan orkestra dari Czech Symphony Orchestra pada awal Maret 2018 lalu. Czech Symphony Orchestra adalah sebuah kelompok orchestra yang berasal dari Praha, Republik Ceko. Sedangkan aransemen musik dalam album tersebut dipercayakan kepada Alvin Witarsa. Berikut adalah review EP Burgerkill Killchestra. cover EP Burgerkill - killchestra via Instagram 1. Anjing Tanah Album ini dibuka dengan lagu berjudul Anjing Tanah, yang diambil dari album Beyond Coma and Despair. Opening Anjing Tanah yang pada album sebelumnya adalah petikan lembut gitar akustik, di album ini digantikan dengan bunyi piano dan biola yang begitu syahdu. Tepat setelah sang vokalis meneriakkan anjing tanah dentuman drum serta distrosi gitar langsung menghilangkan kesyahduan bunyi piano dan biola dari telinga para pendengar, digantikan kegaharan dentuman musik metalcore khas Burgerkill yang terasa lebih gahar dan padat dibandingkan versi lagu ini pada 2006. Hasil mastering tahun 2020 tentu berbeda dengan hasil mastering pada tahun 2006. Serta drum fills dari drummer baru Burgerkill, Putra terasa sedikit berbeda daripada yg ada di rekaman tahun 2006. Perbedaan juga terasa pada bagian vocal, tidak seperti pada tahun 2006 yang diisi oleh vocal Alm. Ivan “Scumbag” Firmansyah, kali ini bagian vocal diisi oleh Vicky, vokalis yang menggantikan posisi Ivan setelah kematiannya. 2. Penjara Batin Selanjutnya dalam review EP Burgerkill Killchestra ini kita akan membahas lantunan EP kedua yang berjudul Penjara Batin. Melodi gitar di awal lagu ini juga terasa cukup berbeda dibandingkan dengan rekaman lagu yang sama pada album Berkarat pada 2004 silam. BACA JUGA Review Film Pacific Rim: Uprising (2018) - Sekuel yang Melupakan Kenapa Film Originalnya sangat Menarik Dibalut dengan alunan orchestra yang mengiringi, lagu ke dua di EP ini kembali memberikan sebuah pengalaman baru dalam menikmati lagu Penjara Batin. Unsur ketukan drum Thrash Metal terasa cukup kental dalam lagu ini. Melodi serta drum fills yang padat diiringi orchestra yang terkesan mewah membawa pendengar merasakan setiap emosi yang ingin disampaikan dalam lagu ini. 3. An Elegy Dibuka dengan alunan piano dan biola yang menggantikan petikan lembut melodi gitar seperti yang dilakukan Burgerkill di lagu ini pada album Venomous tahun 2011 silam. Kembali para pendengar dimanjakan dengan musik khas orkestra, disambut dengan drum dan bass yang terasa lebih renyah daripada album sebelumnya. Isian biola di tengah lagu yang berusaha membangun emosi pendengar langsung diledakkan pada bagian reff lagu ini. Seperti ingin memberikan tempat bagi Czech Symphony Orchestra. Pada bagian akhir terasa bagian orkestra lebih dominan dari pada Burgerkill yang tentu saja memberikan pengalaman baru. Terkesan seperti Bugerkill ingin meredakan ledakan yang mereka lakukan pada bagian reff. Lagu ini Kembali ditutup dengan piano dan biola, diikuti dengan isian vokal lembut dari sang vokalis Vicky. 4. Only the strong Gahar dan mewah itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hasil kolaborasi Burgerkill dan Czech Symphony Orchestra dalam lagu ini. Terasa sangat berbeda antara yang dilakukan Burgerkill pada lagu ini dalam album Venomous di tahun 2011 dibandingkan pada EP Killchestra. Musik dibuat terasa lebih berat dan rapat serta dengan iringan orkestra yang tak kalah intensnya. Kembali, Burgerkill membawakan musik metal mewah langsung ke telinga pendengar. Gesekan biola yang terasa begitu intens pada bagian reff serta bunyi terompet sperti ingin memberikan energi lebih kepada pendengar. Rapatnya double pedal Putra Ramadhan membuat musik ini terdengar lebih gahar. BACA JUGA A Book for Your Shelf: Seri Novel Harry Potter - Dunia Sihir untuk Anak 5. Angkuh Kembali lagi ke lagu di album Beyond Coma and Despair 2006. Diawali dengan alunan musik yang tetap bisa membuat fans dan pendengar headbang, Burgerkill yang mengusung genre metalcore seperti ingin menegaskan ciri khas mereka dalam lagu ini, meski dengan iringan orkestra, music metalcore khas Burgerkill justru terasa lebih kental di lagu ini. Ciri khas metalcore terasa kental pada bagian breakdown di akhir lagu ini. Distrorsi gitar yang terasa lebih berat dibandingkan dengan rilisan sebelumnya, serta drum fill yang terasa lebih padat membuat unsur metalcore kental terasa di penghunjung lagu ini. 6. Tiga Titik Hitam Lagu dari album berkarat (2004) yang seperti punya makna lebih dalam bagi para fans dan pendengar Burgerkill ini kembali direkam dalam EP Killchestra. Diawali hanya dengan iringan musik orkestra yang menyayat emosi. Kembali pendengar diperdengarkan suara Fadli Padi melantunkan lirik yang dituliskan oleh Alm. Ivan Scumbag. Emosi yang berbeda sangat terasa pada lagu ini. Apalagi mengingat bagaimana hubungan lagu ini dengan Alm. Ivan Scumbag. Terasa makin dalam penghayatan dari Fadli dengan iringan orkestra. Pada bagian pertengahan lagu pun saat memasuki bagian puisi begitu emosional. Hingga puncaknya pada saat akhir bagian lagu, saat Fadli membacakan doa untuk Alm. Ivan yang ia kenal pada 2003 saat proses rekaman lagu ini pertama kali. Susunan yang pas untuk lagu terakhir di album ini, karna di sini Burgerkill seperti ingin menunjukkan dedikasinya kepada Alm. Ivan Scumbag. ‘Killchestra’ secara khusus dipersembahkan untuk memperingati ulang tahun ke-42 mendiang eks vokalis Burgerkill, Ivan ‘Scumbag’. “Sebuah album spesial yang kami dedikasikan untuk sahabat kami Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah yang berulang tahun hari ini,” ungkap Burgerkill di laman Instagramnya.
via Instagram Album ini diluncurkan terbatas hanya 300 kopi salinan Boxset Vinyl + CD dan Gatefold Vinyl saja. Tapi para pembaca jangan khawatir bagi yang penasaran dengan EP karna Burgerkill tetap merilis versi digital di beberapa platform musik digital. Itulah review EP Burgerkill Killchestra dari kami, selamat membaca sambil mendengarkan EP nya begundal!

Senin, 14 Desember 2020

NECTURA//ALBUM ''NARASI PENANTANG DARI LANSKAP YANG DI TINGGALKAN''

Terbentuk di ujung berung,Bandung pada tahun 2012,nectura kini berwujud menjadi sebuah band yang tegas bersikap mengusung perubahan dalam setiap karyanya.Sesuai makna di balik namanya.Nectura memang lahir untuk memberikan energi positif bagi para pendengarnya.Selepas album perdananya di tahun 2014 "Awake To Decide" lalu, lalu melalui beberapa perombakan formasi hingga sampai pada titik di mana ini bisa jadi salah satu formasi terbaik dengan adanya Abdul "Abah" kandris dan Aulia Akbar sebagai penjaga tempo dan energi lagu,nectura kini semakin berwarna. Komunikasi musikal antara dua personil baru dan tiga personil lama yang masih di pegang oleh Agung "Owank" Suwandi (vokal),Irvan "Abo" Hardian (Gitar),dan hinhin "Akew" daryana (Gitar) termanifestasikan dalam album rilisan baru mereka di awal tahun 2020 ini.Pesat melintang dari panggung ke panggung membuat mereka semakin solid on-stage dan off-stage.Sampai akhirnya di tahun 2020,Nectura bekerja sama dengan Playloud Records bersepakat untuk merilis sebuah album bertajuk "Narasi Penantang Dari Lanskap Yang Di Tinggalkan" (NPDLYD)".
Tajuk album yang cukup profokatif menjadi penanda bahwa mereka memang abnd baru,tapi dengan muka lama yang sedemikian resahnya melihat bagaimana nilai pertemanan dan persaudaraan yang selama ini di jaga oleh komunitasi di indonesia semakin ambigu.Ambiguitas nilai ini menjadi pesan penting yang ingin di sampaikan pada seluruh pelaku metal tanah air indonesia tercinta ini dengan harapan menjadi autokritik bagi individu yang merasa dirinya pelaku metal.Secara musikal di album kedua ini Nectura berhasilkeluar dari zona nyaman. Perpaduan antara American metal dan European metal masih bisa di identifikasi dari setiap detil instrumen yang di mainkan. Teriakan volakl berbahasa indonesia dengan diksi yang lugas akan memudahkan pendengar menangkap pesan dari 8(dealapan) track yang di sajikan.Sedikit bocoran nya sudah di unggah di media sosial Nectura.Semua pelaku metal yang mempunyai keresahan yang sama dengan Nectura.Seharusnya bisa tetap bertahan melawan tirani yang lambat laun akan mematikan kita,sudah semestinya kita saling rangkul dan dukung satu sama lain untuk menyatukan kekuatan karena "kita kawan bukan lawan". Jadi jangan lupa untuk mengapresiasi labum ke-2 yang akan resmi di rilis pada tanggal bulan maret 2020 Dalam format cakram padat (CD) dengan cover digipack bersamaan dengan beberapa merchendise pendukung lainnya.

Rabu, 23 September 2020

Review Hellcrust "SEJAWAT"

Seperti tak ada hujan atau angin, tiba-tiba Badai Hebat datang menyerang dari Masterpiece gress " Sejawat " Hellcrust yang awalnya adalah memang sebuah band Projekan, en seiring berjalannya waktu makin menunjukkan keseriusannya tidak hanya sekedar eksistensi. karena sejak terbentuk tahun 2011 an, HELLCRUST telah menjadi Konspirasi lahirnya Mimpi buruk bagi DM Fans ! berangkat dari sekedar awal keinginan seorang Wiro-nya Death Valley (vocal) mengutarakan keinginan kepada Gitaris Nyoman Bije setelah liat Performance panggung Misery Index, dan tapa ba bi bu, terbentuklah formasi pertama dan langsung bikin materi sendiri meski belum pernah perform, maka lahirlah debut EP pertama " Dosa " Tahun 2012 via Armstretch Records yang sangat percaya dan menaruh Big Hope pada band proyek'an ini akan sangat diperhitungkan ngeliat line up familiar berbahaya pertama kayak Andyan Gorust (Drums), Bonnie (Bass) dari DeadSquad, Ario (Guitar) dari Carnivored, Wiro (Vocal) dari Death Valley dan Nyoman Bije (Guitar) dari Straightout. mengusung karakteristik Death Metal agresif yang selain menekankan bobot Intensitas juga menyeduhkan warna melodius ramah, sehingga lebih terdengar typical Catchy serta Easy Listening. dan EP ini ga menunggu waktu lama untuk mendapatkan apresiasi hangat saat pertama kali dirilis, artinya Hellcrust sukses ! berjalan pada siklus ke-4 tahun, Hellcrust melahirkan full album pertama-nya " Kalamaut " tahun 2016 masih via Armstretch Records sebagai sebuah keseriusan penuh ketika Drummer Andyan Gorust hengkang dari DeadSquad untuk memperkuat formasi full Hellcrust yang juga mengalami pergantian formasi dengan masuk-nya Gitaris Baken (Kapital, Betrayer, Old Timers, ex-Siksakubur) menggantikan Ario, bassis Bonnie tergantikan oleh Arslan Musyfia (ex-Carnivored, ex-DeadSquad, ex-Funeral Inception, ex-Hatestroke) dan bergabungnya Vocalis Japra ex-Siksakubur menggantikan Vocalis Wiro. semakin mengukuhkan eksistensi nama Hellcrust kian powerfully dikancah metal tanah air, debut " Kalamaut " memberikan Kesejukan serta Kejutan luar biasa yang paling ditunggu tunggu Metalhead fans termasuk Gw. Tetap menyajikan Warna DM agresif yang dibungkus dengan Pesona Aransemen dan Sound terbaiknya sebagai Representasi komposisi spesial musik Hellcrust generasi terbaru ini ! Strangely Understandable Awesomely Lyrics, technical drumming - dark, grand classical-inspired riffs, Great Basslines. The most Technically Demanding Technical Death Metal you will Ever Hear. Manifesting the mind-numbing Complexity of the Music Has Begin ! dan masih kembali dalam siklus 4 tahun, senyap dan tiba-tiba Menerjang dengan badai hebat via full album ke-2 " Sejawat " pada 27 Juni 2020, Kuintet Hellcrust kembali ngasih kejutan dengan berusaha menutup hal yang belum bisa hellcrust terapkan di album sebelumnya, dari mulai eksplorasi permainan, sound, lirik dan lain sebagainya, sehingga inilah yang menjadi dasar dari konsep musik yang membakar lebih energi menyegarkan Hellcrust dengan mengedepankan lagu " Balamaut " lebih kepada dedikasi band baik kepada musik yang dijalani sampai saat ini, dan sebagai dedikasi kepada khalayak Balamaut yang secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari album " Sejawat " ini sendiri. yups debut yang awalnya sudah terdeteksi sejak memperkenalkan single " Rimba Khalayak " pada Awal tahun 2019 silam tidak secara masif terdengar, tiba tiba album ke-2 ini nongol, really surprise ! penggarapan materinya sudah dimulai sejak tahun 2018, diawali oleh part part lagu yang sudah direkam secara mandiri oleh bassis Arslan Musyfia dan Nyoman Bije. kemudian untuk proses brainstroming keseluruhan-nya baru dimulai sejak Hellcrust merilis single " Rimba Khalayak ". masih mempercayakan materinya digarap di Three Sixty Studio, Jakarta, oleh Iskandar Aziz dalam sisi teknis dan Topan Trinanda serta Erwin menjadi sosok dibalik proses mixing dan mastering-nya. seperti memang tidak ingin kehilangan warna era " Kalamaut ", debut ini hanya tinggal menambah kematangan powerfully materi termanis sekaligus menjadi kebersamaan terakhir untuk Vocalis Japra yang dikhabarkan ingin pensiun dari musik dan tongkat estafet sekarang dipercayakan ke Septian Maulana (Belantara, Ex. Siksakubur). selain itu bergabungnya Gitaris Dirk Marthin (Masticator, Abolish Conception) rupanya cukup ngasih suntikan darah segar bagi Hellcrust, dan Gw dah tau banget sepak terjang skill seorang Dirk bakal jadi partner maut, and never stops being heavy and nasty from killer song writing perspective !

Boleh percaya boleh engga, kalo materi baru ini sejak Gw play pertama kali ngasih kesan mengoyak Feel adalah : Barbar !!! dengan Intensitas Riff yang makin sering mempertontonkan progres matang, mengoyak galaksi dengan groundbreaking Intense DM Style tak terukur, mengeluarkan quasar dan memuntahkan luminesensi mereka seperti sedang melintasi cakrawala galaksi, karena hal ini tidak menimbulkan sama sekali keraguan jika penghuni Hellcrust saat ini adalah memang beberapa musisi terbaik di Scene tanah air yang tidak pernah berhenti menjadi berat dan jahat dari perspektif penulisan lagu. dan Hellcrust juga makin menemukan cara untuk menjaga hal-hal tetap Crunchy di lapisan atmosfer, secara efektif menggunakan disonansi, melodi untuk selalu memberikan seluruh materinya ke Taste epik ! and still my Opinion, The same issue I had with the unquestionably Sophisticated material rears it's head once again. Gw mulai aja dengan " Rimba Khalayak ", meski cuman sedikit ngasih Surprized, namun kemasan kali ini taste-nya beda banget sejak pertama kali dikenalkan sebagai Single di awal 2019 lalu. meski tidak langsung menjadi Opening setlist yang menurut Tebakan kita pasti akan meledak hebat, dimulai dengan dual Combo riff catchy lead-in dipadu sentuhan Biola menawan dari Rolanda Sasongko yang juga banyak mengisi komposisi materi " Sejawat ", This is part a fucking epic ! gejolak komposisi awal memang sudah langsung bikin Gw terhipnotis, ketika gemuruh keras Hellcrust mulai berbicara, Gw sedang mencoba merasakan kembali era ke-barbar'an materi seperti " Tentara Merah Darah " & " Eye Cry " nya Siksakubur hasil fermentasi biadab Behemoth era " The Apostasy ", Menggambarkan Soundingnya sendiri membutuhkan fokus pada produksi materi yang tanpa overdubbing terus menerus dan manfaat dari penggunaan synth yang luas. Coz Drummer Andyan Gorust  benar-benar masuk ke dalam karakteristiknya banget, menghasilkan ledakan Bombastis yang benar-benar meluncur ke zona nyaman plus efektif bersama Partner team lebih menantang lagi sekarang, dan mungkin siapapun akan langsung mengenali momen seperti ini. Moodbooster masih berlimpah untuk Hellcrust muntahkan, sehingga adiksi rasanya terus play tanpa skip. untuk Riff dan base aransemen duet maut Bije dan Dirk bekerja di sini berbaur bersama-sama selalu menciptakan karakter stomp low end yang menggelegar melambangkan konsep berat, dan ada banyak slot lead guitar yang mengesankan untuk menjaga agar Fans DM agresif lebih puas menikmati, sentuhan modern namun lebih liar terstruktur dengan cara yang agak sebanding dengan varian modern metal hari ini. Karakter raungan keras Japra masih Gw bilang tetap membawa karakter Khas seorang Japz, Fully anger and Powerfully ! dengan vokal tamu dari Septian Maulana, makin ngasih barbar nih orkestrasi kemarahannya. kemudian " Balamaut ", seperti memang sengaja didedikasi penuh atas Diksi Sejawat sendiri yang dianalogikan sebagai penggambaran Hellcrust sebagai sebuah keluarga, yang merangkul semua pihak, baik para tim di balik layar dan juga penggemarnya dengan satu nomor penghargaan Anthemic track " Balamaut " ! penekanan penghargaan dari Hellcrust atas dedikasi semua pihak yang telah menancapkan andil dan mendukung perjalan Hellcrust di scene musik keras Tanah Air. Timaut yang selalu mendukung Hellcrust dari balik layar dan Balamaut yang selalu hadir dan mensupport Hellcrust di setiap prosesnya hingga berbagi suka duka bersama Hellcrust. Sampai akhirnya komposisi bertajuk " Balamaut " terlahir dan menjadi senjata utama di album ini. dan penulisan lagu ini benar-benar dipersiapkan dengan segala Moodbooster Antemik begitu diledakkan pada performance Hellcrust, maka pecahlah Mosphit oleh para Balamaut. Mainframe Musikal Hellcrust memang tidak banyak bergeser dari konsep era " Kalamaut ", mungkin bedanya, disini sentuhan makin melodius dibeberapa Harmonisasi terbentuk tanpa harus menguras banyak mood, mengalir seperti petir, sepintas digeber dengan sangat dinamis, hingga pada akhirnya kita akan memahami betul konstruksi dasar materi Hellcrust tidak menuntut Konsentrasi penuh dalam mencerna tapi diciptakan dengan kuat, coz secara umum, karakter ini menjadi berbeda dari Sound DM yang lebih agresif secara tradisional. Dengan fokus yang sering menampilkan komposisi kompleks ! Aroma ketukan tajam Andyan kayak memiliki lanskap Trademark tersendiri setelah bermain dibeberapa band, seperti " Parasit Kaki Langit ", ketukannya masih mengingatkan akan Kegesitannya era di DeadSquad. aransemen " Parasit Kaki Langit " penuh dengan penekanan konsep Layering Riff yang saling mengisi tetap jadi aspek utama dari hampir keseluruhan komposisi, sehingga kita harus lebih legowo untuk tidak menilai pada 1 fokus aja, karena memang penampilan Duo pencabik dawai Bije dan Dirk maksimal dan powerfully pake banget. apalagi seperti statemen Hellcrust sendiri jika setiap personel lebih leluasa membuat bagan dari masing masing lagu, dan ketika memasuki tahap pengolahan keseluruhan, kreatifitas dan ide tiap personel selalu terlibat hingga dirasa materi materi yang mereka garap layak untuk dieksekusi menjadi satu kesatuan konsep lagu yang mematikan. Menggerus selanjutnya " Mayoritas Keabsolutan ", ledakan tanpa lelah terus mengekplor kekuatan jahat Konspirasi Musikal. salah satu karakteristik Vocalis Japz adalah Narasi-narasi emosional kuat penuh kebenciannya mencaci maki dibeberapa part lagu. dan ga kalah galaknya, " Suaka Kelayakan ", lagi (lagi) komposisi mengalir mulus meskipun tingkat kemampuan musikalnya High Level, tampak tidak pernah menjadi terlalu rumit penulisannya dicerna oleh Audiens dengan mengulang kegilaan yang sama seakan tanpa berhenti memberi kesan barbar. writing actual songs not mere collections of random riffs and seemingly endless blasts. All these songs have a recognizable beginning, middle and end, which is a commendable evolution from the band’s spectacular debut from a few years prior. The greater prominence and reliance on leads/solos allows for more open compositions, and even the bass guitar has become more important in the overall scope of things. First part yang menarik lagu " Simbiosis 69 ", sentuhan harmoni epik unik antara solo Bass Arslan Musyfia dengan Biola Rolanda Sasongko jadi hiperbola dramatis yang hinggap banget diotak, Hellcrust membungkus semua pengaruh yang berbeda-beda antar member ini dalam paket kontemporer, dan menyajikan barang-barang itu dengan kemilau modern yang Crunchy. ga kalah menarik tentang Opening part track berikutnya adalah " Bacot Patriot Mulut Pemadat ", masih mempertontonkan kembali skill menarik, meski pada level guitar loss senar type-nya terdengar level audio peak pada lini instrumen Guitar ke-2, sehingga cukup ngasih gangguan pada beberapa loss tune senar, but don't worry komposisi-nya selalu mengerikan untuk selalu disimak. mempertaruhkan yang lebih besar dalam mengkomposisi, masih lebih penting bagi Gw daripada aransemen yang memanjakan dan serba eksplosif adalah sentuhan melodi klinis yang ditanamkan ke dalam matriks ritmik, rasanya Gw kayak dihadapkan dalam pemandangan barbar rekayasa Hellcrust, yeah this band had become compelling, folks, or at least, compelling to those who've an interested in this sort of 'all around massive package of technicality and chops. setelah ada Anthemic track sebagai bentuk dedikasi kepada kerabat Hellcrust seperti " Balamaut ", Hellcrust sepertinya masih punya 1 antemik lagi menjadi propaganda, " Salamaut " ! dalam derau white noise fragmen melodi yang menciptakan atmosfir epik, riff terisolasi, dan segmen riff yang berhembus melewati telinga kita dengan begitu cepat sehingga harus menghabiskan setengah dari waktu untuk mencoba mengingat apa yang baru saja kita dengar. penekanan attitude sebuah lirik yang Hellcrust maknai dengan komposisi menawan, seperti ingin membangkitkan kebanggaan tersendiri antara Band dengan para Balamaut, bermandikan peluh, berteriak bersama dan memaki adalah picu frustrasi yang meledak hebat ! setlist pamungkas diselesaikan oleh Instrumental track yang masih kental elemental Epiknya, mendengarkannya ada sebagain attitude kita harus terlarut hingga pada tetes akhir harmonisasi. Bar chords mixed with artificial harmonics and riffs that are utterly monstrous. Every song on here deserves praise. This album can be spun multiple times because with each succeeding hearing, there something new that you can catch up and hear. The music just pounds with lead guitar that's just amazingly executed. I can see why this band has gained such utter influence on the metal scene. They just blow you away with fury and all of that hatred that exists in the music gets spewed forth here. Even the lyrics are comprehensive and well thought out. They blend totally with the music.

Overall, Don't pass this one up because it's such an Sophomore DM Aggressive frenzy! If you've been following this band for a while, then you will hear that intensity show up once again and blow you away. Gw pikir tidak mungkin bagi Gw pribadi mendeskripsikan karya ini secara memadai, berlebihan atau untuk menggemakan kata-kata efeknya terhadap satu ketika seseorang mendengarkannya, karena ini adalah sisi pandang Pribadi setiap individu termasuk Gw. Lagipula, jika Gw dapat menangkap sepenuhnya dampak musik ini dalam bahasa, tidak akan ada alasan untuk itu ada. Hellcrust terus berusaha melampaui bahasa, bahkan melampaui bahasa musik dan sistem tanda / simbol yang telah diciptakan DM selama dekade terakhir untuk mengekspresikan dan menangkap jenis emosi yang mereka tampilkan di sini. Hellcrust tetap berada di puncak genre Death Metal agresif tanah air. dengan tanpa ampun dan kemampuan instrumental cerdas member tampaknya hanya muncul sebagai bentuk lain dari kekejaman, menciptakan labirin demi labirin gelap yang menjerat kehendak seseorang ketika seseorang diseret secara fisik lalu menjerit melalui proses pembedahan setiap lagu, Damn Motherfucker. Jika Gw dapat membandingkan band ini dengan objek atau entitas apa pun, ini memang akan menjadi semacam kelanjutan dari sang mesin pembantaian ! Pada akhirnya, sebagai penyemangat terbaik hanyalah musikalitas itu sendiri, tanpa alasan tanpa perkenalan atau hiburan atau upaya untuk selalu menempatkan monster Ini dalam deretan masterpiece terbaik. meski bukan urusan mudah untuk melepaskan benang merah seorang Andyan Gorust sebagai sang pengendali tempo musikal, dalam benak kita pasti akan coba membayangkan karakteristik khas-nya ketika bareng Siksakubur dan DeadSquad. dan " Sejawat " masih membawa warna kental materi sebelumnya sehingga tepat sekali kalo jadi bab ke-2 nya, waspadai Power dan Intensitas kali ini patut kalian rasakan sendiri Siksaan masif. masih dikerjakan ditempat yang sama mungkin jadi tujuan Hellcrust ingin menyambungkan lagi sebuah Totalitas dan Groundbreaking, damn ! Hellcrust with the writing and selling of this music, would seem to want other bands to follow in their footsteps and take up their banner, their crusade to warp, alter, and revivify the strangled creativity in DM. The only problem is that... I don't know of any bands that could actually follow in their wake, such is the path of destruction this monument leaves behind it and It's well-crafted and serious, which distinguishes from the crowd more than a cheap gimmick would, IT'S SOPHISTICATED !!!

Fraud Melawan Dogma Di "SCANTUARY"


Senin 31 Agustus 2020 menjadi hari yang bersejarah bagi Fraud. Gerombolan hardcore terdepan Surabaya ini meriis album terbaru yang diberi judul Sanctuary. Ini merupakan album ketiga setelah album No Fans Just Friends (2013) dan Movement Before Mouthment (2014). Kali ini mereka bergabung dengan Blackandje Records.

Genderang album Sanctuary dibuka dengan dirilisnya video musik "The Propechy" yang sudah dirilis beberapa bulan sebelumnya yang merupakan awal dari trilogi video yang direncanakan. Rangkaian promosi album ini juga dijalani Fraud, yang kini beranggotakan Bayu Hastutama (vokal), Cscenk (gitar), Soullamb (bass) dan Rama Nada (drums), dengan menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Surabaya ke Jakarta dan Bandung.

Berikut adalah rangkuman wawancara dengan Fraud bersama saya di berbagai program dari “Jumat Membara” di live instagram @blackandje, press con perilisan album Sanctuary di Lawless Burgerbar Kemang Jakarta Selatan, “Deeperground” untuk kanal YouTube Blackandje dan program “Rock On Monday” di demajors radio.

Berselang 5 tahun akhirnya Fraud merilis album baru. Di album–album sebelumnya yang sangat masih kental dengan tema tipikal di kultur hardcore seperti pertemanan atau brotherhood, kemudian di album Sanctuary yang keliatannya mengambil tema lebih berat dan gelap. Apa yang ingin kalian sampaikan di album Sanctuary?

Melalui album Sanctuary kami ingin melawan dogma dan doktrin yang selama ini mengekang kehidupan kami. Secara individu atau dalam kehidupan sosial termasuk juga dalam skena hardcore sekalipun. Dogma–dogma selalu ada. Bagi kami Sanctuary adalah dunia atau suaka yang kami ciptakan untuk berlindung dari dogma dan doktrin tersebut sehingga bisa menemukan kebenarannya masing–masing.

Apa perbedaan album Sanctuary dengan album–album sebelumnya secara sound dan musikalitas?

Secara sound sebenarnya tidak jauh berbeda meski kami terus mengeksplornya tapi perubahannya tidak begitu besar. Kalau secara komposisi lagu dan aransemen sekarang lebih luas lagi eksperimennya. Seperti memasukkan unsur metal terutama thrash metal sehingga mungkin terdengar lebih heavy dibanding album sebelumnya. Tapi unsur hardcore dengan beat down-nya masih tetap kami pertahankan karena itu menjadi ciri khas Fraud. Seperti Bayu yang memberi nada dalam teriakannya di lagu "The Prophecy". Masuknya Rama sebagai drummer baru juga tidak merubah banyak musik kami karena sebelumnya sudah bersama kami baik sebagai teknisi drum ataupun additional drummer, dan sekarang menjadi personil. Jadi tidak dibutuhkan proses adaptasi yang lama. Rama sudah paham musik Fraud seperti bagaimana. Meski Rama juga pasti memberi sentuhan dengan karakter permainannya. Bahkan dengan ekspolarasi tadi malah semakin memperkaya musik Fraud itu sendiri. Inilah musik Fraud yang sekarang. Inilah hardcore-nya Fraud.

Perubahan tersebut pasti menuai beberapa tanggapan beragam ya?

Ya pasti. Tapi sejauh ini tanggapannya masih positif. Banyak yang berkomentar “Wah tambah sangar rek!”

Bagaimana dengan proses kreatif pengarapan lagu untuk album Sanctuary?

Nah, kalau ini kami mengarapnya dengan cara yang berbeda. Untuk album–album sebelumnya kami lebih banyak banyak di studio. Tapi untuk Sanctuary, Kecenk dan Soullamb mengerjakan dan mengumpulkan riff dan part gitar dulu kemudian direkam terus kami merangkainya atau menjahitnya. Setelah itu baru jamming di studio dengan Bayu dan Rama untuk memasukkan part drum dan vokalnya. Ini ternyata lebih efektif dan efisien. Bahkan kami bisa melakukannya di sela–sela jadwal tur di luar kota juga.

Proses rekaman memakan waktu hampir setahun dan tercantum nama Eben dari Burgerkill di album Sanctuary sebagai music director. Bisa diceritakan?

Untuk proses rekaman di lakukan dua studio yang berbeda yaitu Fun House di Bandung untuk gitar dan bass dan Inferno Surabaya untuk drum dan vokal. Ini sebenarnya hanya untuk mencari suasana baru juga. Rekaman di Bandung itu sekalian saat kami ada jadwal manggung di sana juga saran dari Eben. Sementara dengan Eben, kami sudah berteman lama. Kami banyak sharing saat pengerjaan materi lagu. Banyak masukan dari dia yang membuat album Sanctuary. Dengan adanya orang lain diluar band itu juga bisa memberi masukan yang obyektif dan kami di Fraud juga bisa meredam ego masing–masing.

Artwork album Sanctuary sangat keren dan keliatan berbeda dari kebanyakan band hardcore. Siapa yang bikin?


Artwork itu dikerjakan oleh kawan kami seorang arsitek sekaligus seniman bernama Redi Murti yang sering menjadikan konflik horizontal dan narasi marjinal dalam karyanya. Namanya seniman jadi proses penggarapannya ya sesuai suasana hatinya. Dan dia hanya minta dibayar dengan minum sampai mabuk saja..hahaha. Tapi akhirnya Blackandje Records tetap membayar ke dia.

Kalian juga merencanakan merilis video musik dengan konsep trilogi. Bisa dijelaskan maksudnya?

Ya, ide ini karena kegemaran Kecenk dan Soullamb menonton film thriller. Dari dulu kami ingin membuat video klip dengan konsep sepeti film thriller tapi baru kesampaian sekarang. Trilogi ini dimaksudkan bahwa video klip akan terdiri dari 3 bagian yang saling berkaitan. Semacam film seri lah. Video pertama “The Prophecy” sudah dirilis 18 Mei 2020 kemarin di channel YouTube Blackandje Records. Kami bekerjasama dengan Alexa Visual untuk pembuatannya. Bagi kami ini adalah tantangan baru. Selain bereksplorasi dari sisi musikalitas kami mencoba dengan video. Agar pesan yang ingin disampaikan bisa lebih luas juga. Video lirik “This World is Cursing Me” juga sudah dirilis bertepatan dengan perilisan Album Sanctuary kemarin. Dan kami sudah menyiapkan video klip bagian kedua dari trilogi Sanctuary ini, rencananya di akhir tahun akan dirilis. Untuk lagu apa yang dibikin video klip tunggu saja nanti.

Kemudian bergabung dengan Blackandje Records, itu bagaimana ceritanya?

Awalnya kami bertemu di tahun 2018. Tepatnya di sebuah bar di bilangan Menteng Jakarta setelah "Final Wacken Metal Battle Indonesia". Saat itu Kecenk bersama kawan-kawan dari down for life bertemu dengan Blackandje Records, setelah dari pertemuan ini lkami berkomunikasi cukup intens sampai akhirnya disepakati album Sanctuary ini dirilis oleh Blackandje Records. Bagi kami sebuah hal baru bekerjasama dengan label secara profesional. Karena sebelumnya bisa dikatakan kami mengerjakannya sendiri, sekarang ada label yang sangat membantu.

Apa rencana kalian setelah merilis album Sanctuary? Apalagi di tengah pandemi begini bagaimana cara mempromosikannya?


Sebenarnya kami sudah merencanakan rangkaian tur untuk album ini. Bahkan kami merencanakan tur ke luar negeri juga tapi ya mau bagaimana lagi keadaan seperti ini. Merilis album di tengah pandemi adalah pilihan terbaik menurut kami karena kalau pun ditunda juga akan sampai kapan? Kita gak tau sampai kapan pandemi ini selesai. Jadi kami memaksimalkan promosi yang bisa dilakukan seperti dengan perilisan video klip dan beberapa program streaming seperti di "Dark Tones Alliance", "Jumat Membara", "Extreme Moshpit" dan lain – lainnya.

Terakhir apa harapan kalian dari album Sanctuary ini?

Kami ingin apa yang ingin sampaikan di album ini bisa dimengerti dan dipahami dengan cara masing–masing. Dan albumnya tentu dapat dinikmati oleh semua orang.  Dapatkan album Sanctuary dalam format cd dan kaset di www.blackandje.com atau rockshop/distro di kota kalian. (sa)