Senin, 31 Agustus 2026

Koleksi Rilisan Fisik Di Era Digital

Di era digital anak-anak sekarang lebih memilih mendengarkan lagu di platfrom digital,walaupun tidak semuanya tapi kebanyakan anak-anak sekarang lebih memilih mendengarkan lagu di platfrom digital seperti Spotify,Joox,Youtube & lain-lain. Tapi anak-anak zaman dulu jika ingin mendengarkan lagu atau album secara keseluruhan,harus menabung atau menyisihkan uang saku yang di berikan orang tua mereka untuk membeli rilisan fisik yang mereka suka. Seperti Cd,kaset&piringan hitam walaupun harganya agak mahal,tapi menurut saya harga untuk sebuah rilisan fisik itu relatif terjangkau.Saya mulai membeli rilisan fisik pada tahun 2010 kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA),rilisan fisik pertama yang saya beli adalah Cd dari band Nudist Island album 'For All The Best".
Lalu Cd ke-dua yang saya punya Goodboy Badminton "Going Out" 2010,saya beli di Riotic yang berada di Toko "Rock House" Bandung jl.Dewi Sartika sebelum alun-alun Bandung.Tempat yang sama waktu saya membeli cd Nudist Island.
Lalu sempat beberapa bulan atau mungkin 1 tahun tidak membeli rilisan fisik,karena masih minta uang dari orang tua,jadi belum bisa beli setiap ada rilisan baru.Lalu pada bulan juni 2011 saya membeli album terbaru dari Burgerkill "Venomous" di konser Bndung Berisik V yang di selenggaran di Lapangan Brigif Cimahi,kebetulan waktu itu Burgerkill rilis album "Venomous" bertepatan pada tanggal,bulan&tahun yang sama seperti di selenggarakannya konser "Bandung Berisik V".Saat saya beli Cd Burgerkill "Venomous" dapat poster gratis gambar cover album "Venomous".tapi sialnya pada waktu itu saya menitipkan tas saya di temannya teman saya yang waktu itu baru kenal di Bandung Berisik V,saya juga sempat berpisah sama teman saya karena waktu seringai atau jasad yang main saya lupa lagi. Sempat berpisah sampai mungikin 3 jam lebih saya mencari teman saya tidak ketemu,hingga ketemu saat selesai acara Bandung Berisik V,karena saya menitipkan tas saya di teman saya.Waktu saya buka tas saya ternyata Cd Burgerkill "Venomous" saya hilang sekaligus poster cover album "Venomous" sial sekali.Saya harus menunggu sekitar 3 atau 4 minggu baru cd Burgerkill "Venomous" ada di distro.Lalu saya membelinya di distro "Omuniuum" jl.cieumbeluit Bandung tapi saya tidak dapat poster cover album "venomous" setidaknya dapat cdnya.
Pada tahun 2014 saya sudah bekerja lalu bisa membeli cd pakai uang sendiri,saya mulai mengkoleksi rilisan fisik terutama cd,dengan berbagai genre yang berbeda dari mulai metal,hardcore,punk,death metal,grindcore,emo,thrash metal DLL.Hingga sekarang mungkin sudah terkumpul 20 lebih karena saya tidak pernah menghitung CD-CD saya dari band lokal & untuk band mancanegara hanya beberapa saja,karena harga cd band mancanegara lebih mahal ketimbang cd band-band lokal.
Dan akhir-akhir ini saya mulai mengkoleksi kaset pita walaupung baru sedikit kaset pita koleksi saya,baru 4 kaset pita.
Dukung terus musisi-musisi dan band-band yang kalian suka dengan membeli rilisan fisik mereka entah itu Cd,Kaset Pita & vinyl.Krena itulah salah satu cara kita menghargai para musisi yang telah bersusah payah membuat lagu,lalu lirik lagu,album.Dan harus membeli album yang original jangan bajakan,jangan dwoload lagu atau album ilegal.

Rabu, 22 Juli 2026

Balik Ke Setelan Pabrik : Bring Me The Horizon Rilis Dehumanized ,Lagu Dethcore Pertama Setelah 20 Tahun

Dehumanized, lagu terbaru dari Bring Me The Horizon kayaknya bikin banyak fans-nya happy nih. Single yang masuk ke album “Count Your Blessings | Repented” ini jadi lagu deathcore terbaru mereka sejak album “Count Your Blessings” dirilis tahun 2006. Album “Count Your Blessings | Repented” sendiri tuh album yang direproduksi dan bakal dirilis utuh 10 Juli 2026 nanti. Gimana gimana? Suka sama lagunya gak nih?

SERINGAI ‘IV: Anastasis’ ALBUM REVIEW High Octane Production. April 15th, 2026 Heavy metal

Ikatan antara pendengar dan band/musisi itu, kalau dipikir-pikir, mirip banget sama relasi interpersonal antar manusia. Tapi seperti hubungan manusia pada umumnya, gak semua koneksi antara pendengar dan musisi mampu bertahan di frekuensi yang sama selamanya. Kadang selera pendengarnya yang jalan lebih dulu, sementara bandnya masih nyaman dan anteng di titik yang sama, padahal referensi dan preferensi si pendengar udah melebar ke mana-mana. Kadang juga terjadi sebaliknya, band-nya berevolusi ke arah yang justru ditolak mentah-mentah para fans-nya sendiri, efek si pendengar mungkin masih keras kepala dan terpaku pada formula lama, sementara bandnya sudah sibuk menyongsong horison yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya. Ada juga momen baik band/musisi dan pendengar sama-sama berubah seiring waktu, tapi keduanya melangkah ke arah berbeda, sampai akhirnya segala keterikatan yang dulu terasa kuat perlahan memudar begitu saja. Perkenalan ogut dengan SERINGAI sebenarnya agak telat (jadi gak bisa dibilang fans garis keras), karena baru mulai masuk radar sekitar tahun 2008, setahun setelah mereka merilis debut legendaris ‘Serigala Militia’. Pertemuan gua dengan SERINGAI, yang berbarengan sama obsesi baru gua terhadap KOMUNAL dan GHAUST di kurun waktu yang hampir bersamaan, bisa dibilang cukup krusial, karena mereka mampu menggeser atensi gua terhadap musik underground lokal ke ranah di luar tech/brutal death. Momennya pun juga pas banget, karena waktu itu gua lagi keracunan katalog label macam Rise Above, Relapse, Hydra Head, Southern Lord, dan Translation Loss Records, jadi pas nemu tiga band lokal yang bermain di frekuensi serupa, bikin gua makin senang menyelami scene lokal.
Namun, perlahan keterikatan gua dengan musik SERINGAI mulai memudar sejak mereka merilis ‘Taring’ tahun 2012 silam. Bukan berarti albumnya jeblok secara kualitas, cuma entah kenapa, komposisi yang mereka tulis untuk rilisan tersebut, terasa terlalu hingar-bingar dan party-oriented banget, kalau dari tangkapan kuping gua pribadi saat itu. Pas gua nonton mereka manggung sih, energinya masih dapet banget, tapi ketika diputer pas lagi sendirian, mayoritas lagu-lagunya gak terlalu beresonansi secara personal, dan hanya “Gaza”, “Serenada Membekukan Api”, dan “Tragedi” saja yang mampu meresap. Mungkin juga karena di periode itu preferensi pribadi gua mulai terkunci, sekaligus makin tenggelam ke spektrum doom yang lebih gelap nan suram, death metal primitif, sampai black metal diluar second wave atau swedish-an, yang kebetulan selaras sama kondisi mental yang lagi acak-acakan waktu itu. Jadi, meskipun sempet lama denial seraya menghirup dalam-dalam copium, karena masih ikut ngantri pas SERINGAI ngerilis 7 inch ‘Tragedi / Sang Lelaki’ dan reissue ‘High Octane Rock’, ketika ‘Seperti Api’ keluar gua cuma denger sekilas tanpa ngerasa apa-apa, alias udah masuk fase full dikesampingkan begitu saja. Sampai akhirnya SERINGAI kembali lewat album penuh keempat mereka, ‘IV: Anastasis’, yang dilepaskan pasca periode sangat berat bagi band ini, menyusul wafatnya Ricky Siahaan (Rest In Power) pada awal tahun 2025 lalu. Jujur aja, gua nyemplung ke album ini tanpa harapan muluk apa-apa, cuma sekadar penasaran aja sama album terbaru mereka. Bahkan single yang udah dilepas duluan pun, sengaja gua lewatin biar kesan sayatan pertamanya gak kena spoiler duluan. Dan ternyata, dengan bangsatnya, ‘Anastasis’ langsung bisa bikin rahang mangap bin menganga. Hampir tiap beberapa menit sekali selalu ada momen yang bikin gua refleks ngomong “god damn” atau “Hell Yea Brother” dalam hati. Lebih gilanya lagi, pas albumnya selesai bergema, bawaannya langsung pengen muter ulang lagi dari awal. Sensasinya kayak baru bangun tidur, belum sempet mandi, malah tiba-tiba langsung kena gampar PowerSlap hall of famer, Layne “Koa” Viernes. Tapi alih-alih tumbang dan terkapar, gua malah makin berapi-api dan adrenalin langsung tak terkendali. Serigala yang di artwork sampul ‘Serigala Militia’ dan ‘Taring’ sudah jadi tulang belulang, kini bangkit kembali dari Helheim karena gerah dengan kondisi Indonesia yang semakin semrawut dan absurd beberapa tahun terakhir. SERINGAI sendiri langsung menyalak penuh murka kependem lewat “Melunaskan Dendam”, diamana secara fondasi masih setia di jalur heavy rock khas mereka, yang telah membawa grup ini menjadi raksasa di kancah musik keras nasional selama hampir dua dekade. Belum sempat ngambil napas setelah diajak berpacu dalam agresi di lagu pertama, pendengar langsung dihajar “Matinya Kepakaran” yang punya aroma-aroma HIGH ON FIRE kuat, namun dengan belokan tajam di bagian pertengahan. Ditambah lagi, di sisa 44 detik terakhir, SERINGAI malah bikin pangling karena turut memasukan groove super renyah ala CARCASS, lalu diakhiri eksplosi riff macam CAVE IN. Kekuatan terbesar ‘Anastasis’, selain terletak pada tingkat variasinya yang gak ada duanya, juga ada pada kekuatan songwriting-nya yang efektif dan langsung nancep tanpa resistensi. Mulai dari sing-along anthem “Sejati”, dengan chorus yang punya daya nyantol sinting, berlanjut ke “Senarai Feses”, sebuah nomor penuh api dendam beroktan tinggi, yang bisa dijadikan alat justifikasi untuk mengumpat “Anjing… Bangsat… Jahanam” di tempat umum. Biasanya gua rada masa bodo dan cenderung males, kalau ada band yang masukin cover song ke dalam album (walaupun ada pengecualian seperti “Necropolis” dari MANILLA ROAD, yang dibawakan ulang oleh VISIGOTH dalam debut LP mereka), tapi harus diakui, “Perang Bintang” merupakan pilihan fantastis, sebuah tembang new wave dari PUNK MODERN BAND, yang digubah menjadi trek hard rock adiktif, yang rasanya cuma kurang cowbell aja. Belum cukup sampai di situ, SERINGAI menggelontorkan bonus personal lewat rekaman ulang nomor favorit gua dari periode 2010’an, yang sekarang terdengar lebih menggigit dan bertenaga dari versi 7 inch-nya dulu. Masuk fase kedua (Side B) ‘Anastasis’, SERINGAI masih belum kehabisan pertamax turbo, walaupun begitu, biar pendengar tak kelewat kelojotan, mereka akhirnya menyisipkan sebuah nomor buat cooling down dikit. Tapi jangan salah men!, alih-alih menyodorkan tembang semi-power ballad atau ambient/instrumental interlude, SERINGAI justru melontarkan sebuah mid-tempo heavy metal banger, yang sangat mujarab dalam menjaga momentum tetap menyala, sekaligus jadi sebuah jari tengah kepada manusia-manusia narsistik yang merasa dirinya paling rebel, tapi ujung-ujungnya paling jadi pahlawan kemarin sore. Memasuki sisa enam belas menit menuju akhir, materi yang ditawarkan justru makin gelap, diawali dengan track bernuansa d-beat, “Membungkam 98”, yang menolak memori kelam tragedi Mei 98 disterilkan oleh narasi resmi penguasa, sebuah sejarah yang pengen ditutup-tutupi oleh pemangku kekuasaan, demi mengaburkan borok para dalang. Lagu berikutnya tak kalah muram, “Habis Gelap Terbitlah Suram”, lagu tentang kerakusan manusia bikin bumi makin sekarat, yang singkat, lugas, dengan groove NWOAHM-ish lumayan sakit. Sedangkan “Pulang” membahas isu lebih personal, yang sangat relatable bagi mereka yang sedang bergelut dengan depresi dan suicidal thoughts, dimana blackened shrieks-nya layaknya menjelma jadi bisikan-bisikan setan yang sedang menggiring kepala ke jurang nestapa paling dalam, penulisan liriknya juga tajam dan presisi, bait seperti “kembali ke semesta, selesai aku berdarah” dan ‘badan hanyalah sebuah wadah, jiwa hampa aku ingin pulang”, punya muatan emosional yang gak main-main, belum lagi extended instrumental section yang melodis di bagian akhir, mampu jadi ruang katarsis untuk meluapkan segala luka yang terpendam di dalam jiwa. “Akar” berhasil tampil sebagai lagu instrumental yang sangat bernyawa, bukan sekadar selingan atau intermisi sekedar numpang lewat, baik penjiwaan, progresi hingga strukturnya jelas terarah, seandainya ‘Anastasis’ diakhiri dengan “Akar” tokk!, album keempat SERINGAI ini sebenarnya sudah punya finalitas yang sangat paripurna. Seperti api perlawanan yang masih menolak padam, lewat kobaran distorsi meraung-raung di 68 detik penghabisan “Akar”, SERINGAI ternyata belum selesai menendang bokong kalian, karena “Tirani Lagi” sudah disiapkan sebagai agresi pamungkas. Sebuah manifesto pembangkangan dan penolakan terhadap fasisme, yang masih menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Lagu yang punya aransemen beraura BOLT THROWER tersebut, juga menandai kontribusi perdana Angga Kusuma (BILLFOLD, COLLAPSE, SSSLOTHHH, ASIA MINOR, ex-TARING) sebagai peramu aransemen di tubuh SERINGAI. Ditempa selama kurang lebih delapan tahun, ‘Anastasis’ menjelma sebagai warisan yang membanggakan dari sang riffmeister, Ricky Siahaan. Tiap detiknya digarap dengan intensi yang tegas dan terukur. Tracklist-nya padat tanpa filler, semua lagu ditempatkan secara taktis, dan keputusan menjaga durasi untuk stay di bawah 40 menit sangatlah tepat. Karena menurut gua, album metal non-avant-garde atau non-progresif, idealnya memang dipatok jangan sampe melebar diatas 40 menit. ‘Anastasis’ bahkan jadi album SERINGAI pertama yang gak punya satupun lagu yang skippable, karena ‘Serigala Militia’ sekalipun kadang masih bisa bikin gua pencet tombol skip/next 1-2 nomor tergantung mood. ‘Anastasis’ bukan hanya album terbaik yang pernah SERINGAI rilis, tapi juga sangat pantas kalau dinobatkan sebagai salah satu album rock terbaik dalam sejarah musik Indonesia. Lebih jauh lagi, dari sisi tata suara, separasi instrumen, arsitektur sonik, kejernihan sound, performa, energi, eksekusi hingga tonase suaranya, berhasil membuat ‘’Anastasis’ jadi album heavy metal lokal dengan produksi terbaik yang pernah gua dengar. Dengan ‘IV: Anastasis’, SERINGAI mendirikan monumen raksasa yang rasanya bakal jadi tolok ukur baru bagi para pengusung heavy rock/metal lokal di kemudian hari. Dan kalau mengingat momen di Synchronize Fest 2025 lalu, Khemod sempat berkelakar: “Selagi SERINGAI gak ada, BURGERKILL, KOMUNAL, dan semua band metal, nikmatilah saat kalian”, dan lewat album sebrengsek ini, the riff-lords themselves sudah kembali turun gelanggang untuk merebut singgasana musik keras di belantika musik bawah tanah Indonesia.

Gitaris Seringai, Ricky Siahaan Meninggal karena Serangan Jantung

Musisi dan DJ Jepang, Freya Fox mengabarkan Ricky Siahaan meninggal dan sudah dikonfirmasi polisi Tokyo karena mengalami serangan jantung.
Ricky Siahaan, gitaris band metal Seringai meninggal pada Sabtu, 19 April 2025 pukul 22.10 waktu Jepang dalam usia 48 tahun di Tokyo karena mengalami serangan jantung. Ia meninggal di tengah tur yang digelar Seringai bertajuk Seringai Wolves of Asia Tour. Dalam lawatan ke Jepang, Seringai tengah mengikuti Gekiko Fest yang digelar malam ini. Ricky dikabarkan meninggal seusai tampil bersama bandnya. Musisi dan disjoki Jepang, Freya Fox mengabarkan berita duka ini melalui cuitannya di X. "BREAKING NEWS FROM TOKYO: band rock heavy metal Indonesia terkenal. Drummer Seringai tiba-tiba meninggal dalam konser mereka di Tokyo," cuitnya tiga jam lalu. Ia belum mengetahui posisi Ricky di Seringai. Kematian Ricky Siahaan Dikonfirmasi Kepolisian Tokyo Satu jam lalu, Freya mengoreksi kekeliruannya. "Koreksi: Gitaris Ricky Siahaan meninggal secara tragis karena serangan jantung. Sumber dekat saya mengonfirmasi dari kepolisian Tokyo," tulisnya.

Suguhan Musik Cepat dan Singkat Negatifa di Album Perdana

Negatifa adalah unit powerviolence asal Jakarta yang menandai kemunculan mereka lewat perilisan album perdana bertajuk self-titled. Personel Negatifa terdiri dari anggota band keras lokal seperti Seringai, Masakre, Stride, dan Cryptical Death. Negatifa adalah Arian 13 (vokal), Dimas Tirta Arwana (bas), Darma Respati Putra (gitar), dan Indrawan Juniarsyah (drum). Dalam unggahan Instagram-nya, Arian sempat bercerita bahwa proyek ini dibentuk sejak tahun lalu. “Awalnya ingin menjalankan kembali band hardcore/powerviolence, Aparatmati, dengan almarhum Eben, tapi selepas Eben pergi, proyek band tersebut kandas,” tulis Arian. Setelah menjalani proses penggarapan lagu-lagu sejak akhir tahun lalu dan selesai di bulan Maret 2025, Negatifa akhirnya hadir dengan album bernuansa hardcore punk yang cepat dan singkat. Berisikan 11 lagu dalam durasi 11 menit, album S/T Negatifa turut menyisipkan elemen sludge metal seperti Noothgrush, terkadang thrashy, juga blast beat grindcore. Dari sisi lirik, band mengangkat tema-tema tentang berbagai tema seperti betapa menyebalkannya orang-orang di dalam skena tertentu, sampai bagaimana para penegak keadilan memperlakukan orang dengan semena-mena. Selain diluncurkan di berbagai layanan streaming musik, album perdana ini juga sudah dilepas dalam format cakram padat via Grimloc Records. Videoklip untuk trek pertama “Unity/Ruang Aman” juga sudah bisa disaksikan via kanal YouTube NEGATIFA. Negatifa akan melangsungkan show perdana mereka di acara The Chosen Few garapan Ordo Nocturno hari Kamis (22/05) dan berbagi panggung dengan Kilat, Rassuk, Feral Wound, dan Spitrage. Kabarnya, dalam acara tersebut band akan menjual merchandise berupa kaus. Mari saksikan.

Rabu, 04 Maret 2026

Burgerkill Rilis Single ‘Kontinum”, Era Baru Kembalinya Vicky Mono

Burgerkill merilis single terbaru mereka berjudul “Kontinum” pada 1 Februari 2026 melalui kanal resmi YouTube band; dipresentasikan sebagai “kesinambungan yang utuh tanpa jeda mutlak,” trek ini menjadi manifesto padat tentang kesinambungan, konfrontasi, dan pembaruan. Lagu ini dibuka dengan intro atmosferik yang sarat ketegangan, lalu meledak dengan suara menghantam khas Burgerkill , riff ketat yang menggiling, serangan ritmis presisi, dan bobot tonal tanpa kompromi – menjadikan musik itu sendiri wadah bagi lengkung ritual liriknya. Secara lirik, Kontinum bergerak melalui imaji api, darah, pelindung, dan empati yang terkubur, menegaskan bahwa luka dan sejarah bukanlah titik akhir melainkan bahan mentah untuk transformasi. Tuntutan chorus “Berikan pijar Matahari” hadir sebagai imperatif bagi cahaya katalis dan kejelasan. Referensi filosofis seperti taruk pati, amor fati, dan nomos menambatkan trek ini dalam pemikiran eksistensial dan sosial, mengubah penyerahan diri menjadi tindakan disiplin, serta menyerukan pertanggungjawaban moral yang mengonfigurasi ulang diri dan tatanan sosial. Lagu ini menampilkan kesinambungan sebagai praksis, membingkai ulang kelelahan dan luka sebagai bukti bertahan hidup, dan menggunakan imaji alkimia tentang pembakaran serta kelahiran kembali untuk menandai metamorfosis, bukan sekadar kehancuran. Aransemen lagu mengontraskan segmen sederhana dengan ledakan perkusi yang padat, bergantian antara bisikan mantera dan teriakan komando, serta membangun dari keheningan forensik menuju pelepasan katarsis. Pilihan produksi mencerminkan pergerakan lirik dari keruntuhan menuju kondisi yang berakar kuat. Pembukaan atmosferik mempersiapkan pendengar untuk kekuatan penuh suara khas Burgerkill dan memperkuat momentum ritualistik yang menyusul. Saat Burgerkill merilis Kontinum, mereka menghadirkan lebih dari sekadar sebuah lagu – ini adalah sebuah deklarasi. Kontinum menegaskan bahwa sejarah, rasa sakit, dan ingatan adalah bahan pembaruan; trek ini menyalurkan energi murni sekaligus kedalaman reflektif, menghadapi apa yang telah terjadi, menolak berakhir secara mudah, dan menuntut cahaya di saat nalar meredup. “Kontinum membingkai ulang sejarah dan rasa sakit sebagai bahan bakar untuk kelahiran kembali dan transformasi. Trek ini menuntut sebuah pertanggungjawaban: ia mengubah luka menjadi bahan bakar dan ingatan menjadi ritual.” Burgerkill adalah band metal Indonesia yang dikenal dengan penampilan intens dan visi artistik tanpa kompromi. Kontinum menandai sebuah babak baru: sebuah pernyataan arang sekaligus reflektif yang menempatkan suara khas band dalam kerangka filosofis dan komunal. Artwork by Dady Dwi Satrya, music composed by Agung Ridho, lyrics by Vicky Mono, arranged by Burgerkill

Senin, 02 Februari 2026

Setelah 4 Tahun, Vicky Mono 'Pulang' ke Burgerkill

Grup band beraliran metal asal Bandung, Burgerkill, mengumumkan kembalinya sang vokalis, Vicky Mono. Vicky menjadi frontman menggantikan Ronald Alexander Radja Haba yang berpisah sejak akhir tahun 2025. Ronald telah menjadi vokalis Burgerkill sejak 2021. Materi vocalnya di Burgerkill punya karakter yang memberi sentuhan warna baru dalam rilisan lagu seperti 'Roar of Chaos', 'Resilient Blood' hingga Hollow. Sementara Vicky Mono, memutuskan bergabung dengan grup band death metal, DeadSquad. Bersama sang gitaris, Stevi Item, karakter vocal monster Vicky begitu terasa dalam lagu 'Enigmatic Pandemonium' hingga kolaborasi dalam lagu Il Sogno bersama Isyana Sarasvati. Setelah empat tahun, Vicky Mono memutuskan untuk bereuni dengan Burgerkill. Di band cadas asal Ujungberung, Bandung itu, karakter vocal Vicky Mono memang tak tergantikan dan begitu membekas di hati para Begundal, sebutan untuk fans Burgerkill. Pengumuman reuni Vicky Mono dan Burgerkill disampaikan langsung DeadSquad. Sebagai gantinya, DeadSquad kemudian merekrut vokalis baru bernama Awan Graham. "Big announcement untuk Pasukan Mati dan seluruh pecinta musik extreme di mana pun berada. Kami DeadSquad dengan ini menetapkan 1 Februari 2026 sebagai momentum dalam menghormati permintaan pribadi Vicky Mono untuk kembali ke Burgerkill. Kami menyetujui langkah ini sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar dari kami, yaitu para penggemar musik keras terutama para Begundal. Kembalinya Vicky Mono ke Burgerkill adalah momen yang lama dirindukan oleh Begundal," tulis pengumuman di akun Instagram DeadSquad sebagaimana dilihat detikJabar, Senin (2/2/2026). "Vicky Mono telah menjadi bagian dari perjalanan DeadSquad dan akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar DeadSquad dan Pasukan Mati. Ini bukan perpisahan, melainkan perjalanan. Di saat yang sama, kami meneruskan perjalanan ini bersama Awan Graham sebagai vocalis DeadSquad, sebagai bentuk komitmen kami untuk tetap berada di jalur musik extreme dan terus berkarya di sini, selamanya." "Saat informasi ini diumumkan, kami tengah menjalani tour di Taiwan. Kami sangat senang bisa kembali ke Taiwan dan bertemu dengan teman-teman komunitas Indonesian Metalhead Taiwan di Taichung, Taipe dan Kaohsiung. Doakan kami, guys! We love you, Vicky! Welcome, Awan!" tutup pengumuman tersebut. Kembalinya Vicky ke Burgerkill memang sudah menjadi rumor di kalangan Begundal. Pria bernama lengkap Yupi Yupiki itu telah menjadi vokalis Burgerkill sejak 2007, sepeninggalan vokalis fenomenal, Ivan Scumbag. Sementara, Burgerkill belum memberikan pengumuman resmi setelah bereuni dengan Vicky Mono. Namun pada Minggu (1/2) malam, sebuah konser bertajuk 'Kontinum Unleashed The Uprising' di Braga Sky, Bandung, telah digelar dengan membawa Vicky Mono di posisi vokalis.

Selasa, 30 Desember 2025

Burgerkill Umumkan Perpisahan dengan Sang Vokalis, Ronald

Band metal asal Bandung, Burgerkill, mengumumkan vokalis mereka, Ronald A. Radja Haba, kini sudah tidak jadi bagian dari band. Informasi ini disampaikan lewat akun Instagram resmi Burgerkill, Selasa (30/12). "Burgerkill telah berpisah dengan Ronald A. Radja Haba. Kami berterima kasih atas dedikasi, energi, dan momen-momen yang telah dibagikan di atas dan di luar panggung," tulis Burgerkill. Ronald diketahui jadi vokalis Burgerkill sejak 2021, menggantikan Vicky Mono. Ronald ikut Burgerkill tampil di berbagai panggung musik, termasuk panggung luar negeri. Sampai saat ini Burgerkill belum memberi penjelasan soal alasan di balik perpisahan tersebut. Burgerkill menyebut keputusan ini artinya membuka lembaran baru ke depan bagi band. "Kami mendoakan kekuatan dan kesuksesan baginya di jalan selanjutnya," lanjut Burgerkill. Burgerkill kini beranggotakan Agung (gitar), Ramdan (bass), dan Puput (drum). Band metal itu memastikan bahwa aktivitas mereka terus berlanjut, meski tanpa Ronald di posisi vokal. "Perjalanan berlanjut. Babak baru sedang ditulis. Sampai jumpa di tahun 2026," tutup Burgerkill.

Sabtu, 13 September 2025

Burgerkill dan Demo yang Mengawali Segalanya

Arsip berupa enam lagu demo awal Burgerkill dicetak ulang. Supremasi Burgerkill berawal dari lagu-lagu ini.
Sisi dalam kemasan piringan vinil album Demo 1996/1997 dari band Burgerkill berisi foto-foto dan poster dari era awal mereka. Burgerkill masih aktif sampai sekarang dan menjadi salah satu band metal disegani di kancah internasional. Kisah from zero to hero sering kali jadi bahasan menarik untuk disimak. Supremasi band Burgerkill di kancah metal lokal dan internasional termasuk di dalamnya. Kaset demo yang nyaris menjadi mitos diwujudkan dalam bentuk piringan hitam oleh Grimloc Records. Dari situ kita tahu titik berangkat band metalcore ini. Cakram vinil ini berjudul resmi Demo1996/1997 (Palapa/40124 Session). Judul itu mengacu pada dua sumber demo kaset. Yang pertama direkam Burgerkill pada 1996 di Studio Palapa, kawasan sekitar tempat mangkal mereka di Ujungberung, ujung timur Kota Bandung, Jawa Barat. Yang kedua direkam 1997 di studio 40124, daerah Sukasenang; studio yang dikelola Richard Mutter, drumer Pas Band kala itu.

"Burgerkill Bikin Perayaan Spesial 30 Tahun: Konser hingga Reuni Epik"

Burgerkill, band metal kebanggaan Bandung, lagi siap bikin panggung panas lewat konser spesial Resilient Show: Re-Union - The Past, Present, and the Future yang bakal digelar besok, Sabtu, 13 September 2025, di Graha Manggala Siliwangi, Bandung. Bukan cuma konser biasa, ini momen yang bisa dibilang sakral buat metalhead: Vicky Mono, Abah Andris, Ugum, Toto, dan Kimung, nama-nama yang udah lama ditunggu, bakal balik panggung bareng formasi Burgerkill sekarang. Belum lagi ada Fadly dari Padi yang ikutan jadi tamu spesial, seperti yang dijanjikan di siaran persnya, Jumat (12/9/2025). Yang bikin makin istimewa, konser ini juga digelar pameran perjalanan 30 tahun Burgerkill. Ada arsip, memorabilia, sampai dokumentasi visual yang bikin kita flashback ke masa-masa awal band ini lahir di Bandung pada 1995. Dari underground kecil-kecilan sampai sekarang jadi ikon metal Indonesia yang disegani, Burgerkill memang bukti nyata kalau ketangguhan bisa bikin band bertahan sepanjang generasi. "Show ini lebih dari sekadar konser. Ini adalah perayaan ketangguhan, persatuan, dan ikatan yang nggak bisa diputuskan antara Burgerkill dan komunitas kami. Kami ingin menghormati masa lalu, merangkul masa kini, dan menginspirasi masa depan bersama," jelas Burgerkill. Tiga dekade, lusinan panggung, ribuan crowd, dan cerita jatuh-bangun, semua terangkum di malam itu. Jangan sampai kelewatan, karena konser ini bakal jadi bukti kalau satu hal gak pernah berubah: Burgerkill never dies.

Selasa, 08 Juli 2025

Slipknot Akhirnya Manggung di Hammersonic, Terima Kasih Sudah Bersabar!

Penantian panjang penggila musik metal alias metalhead akhirnya terbayar. Slipknot benar-benar tampil di Jakarta melalui acara Hammersonic Festival 2023. Slipknot tadinya dijadwalkan datang ke Indonesia pada Hammersonic yang dihelat akhir Maret 2020. Petaka datang 25 hari menjelang acara dimulai, tepatnya 2 Maret 2020. Kala itu, kasus pertama covid-19 resmi diumumkan. Pembatasan aktivitas langsung diterapkan pemerintah. Termasuk melarang kegiatan yang menghadirkan keramaian seperti konser musik. Seperti puluhan bahkan ratusan konser musik lain di Indonesia, Hammersonic mengalami nasib sial harus menunda hajatan mereka. Hammersonic kemudian melakukan penjadwalan ulang ke 15-17 Januari 2021. Namun, lagi-lagi nasib kurang beruntung menghampiri. Rencana itu harus ditunda lagi karena semakin meningkatnya kasus pandemi di Indonesia. Tahun 2022 sempat dipilih menjadi waktu alternatif, tapi baru pada tahun ini perhelatan Hammersonic akhirnya digelar pada 18-19 Maret 2023. Vokalis Slipknot, Corey Taylor sepertinya sadar dengan penantian panjang penggemarnya di Indonesia. Sesaat setelah membuka penampilannya lewat lagu "Disasterpiece" dan "Wait and Bleed", Corey mengucapkan terima kasih kepada penggemarnya yang sabar menanti sampai selama ini. "Akhirnya. Akhirnya saya bisa mengucapkan kata yang sudah cukup lama ingin diucapkan. Akhirnya Slipknot ada di Indonesia," ujar Corey Taylor.
"Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya kami bisa tampil di sini. Saat semuanya sudah siap, akses seluruh dunia ditutup. Tapi terima kasih atas kesabaran kalian," lanjutnya. Slipknot sepertinya tahu malam itu bakal jadi malam tak terlupakan bagi penggemar mereka di Indonesia. Maka dari itu, mereka menyuguhkan kesan pertama yang istimewa dengan lenghadirkan lagu-lagu populer mereka seperti "Before I Forget", "The Heretic Anthem", "Psychosocial", "Spit It Out" hingga "Duality". Slipknot juga sempat membawakan lagu terbaru berjudul "The Dying Song" yang merupakan bagian dari album anyar mereka. "Ini adalah penonton terbaik yang pernah kami lihat, terima kasih," ucap Taylor.
Aksi Slipknot yang enerjik seakan menular kepada ribuan orang yang memadati Pantai Karnaval, Ancol. Mereka mampu menghadirkan aksi panggung mumpuni sehingga membuat penonton berjingkrak dan melompat. Setelah sempat melakukan encore, band asal Iowa itu menuntaskan penampilan dengan lagu legendaris mereka yakni, "People=Shit" dan "Surfacing".

Selasa, 24 Juni 2025

Perayaan 30 Tahun, Burgerkill Gelar Tur Sumatera

Band metal asal Bandung, Burgerkill akan segera menggelar tur ke kawasan Sumatera pada Juni 2025 ini. Pengumuman tur bertajuk 'Burgerkill Resilient Tour 2025' itu diumumkan melalui akun resmi di Instagram. "Burgerkill Resilient Tour 2025 - Chapter Sumatera. Setelah sekian lama, akhirnya Burgerkill kembali menyapa tanah Sumatera," ungkap Burgerkill, Jumat (6/6). Grup yang kini beranggotakan Agung Hellfrog (gitar), Ramdan Agustiana (bass), Putra Pra Ramadhan (drum), dan Ronald Alexander (vokal) itu mengadakan Resilient Tour 2025 sekaligus dalam rangka perayaan 30 tahun Burgerkill. Dalam tur kali ini, Burgerkill bakal menjelajah sejumlah kawasan Sumatera, seperti Palembang, Pekanbaru, Jambi, Padang, Tebing Tinggi, dan Takengon. Berikut jadwal lengkap Burgerkill Resilient Tour 2025 - Chapter Sumatera: Palembang (14 Juni 2025), Jambi (15 Juni 2025), Padang (17 Juni 2025), Pekanbaru (19 Juni 2025), Tebing Tinggi (21 Juni 2025), dan Takengon (22 Juni 2025). "Kami sangat antusias untuk bertandang lagi dengan para Begundal Sumatera yang selalu liar," lanjut Burgerkill. Personel Burgerkill mengaku tidak sabar untuk melibas kawasan Andalas lewat tur kali ini.

Rabu, 23 April 2025

Ricky Siahaan Meninggal karena Serangan Jantung

Kepergian Ricky Siahaan, gitaris Seringai menyisakan duka bagi banyak pihak, termasuk para fans, Serigala Militia. Apalagi Seringai ketika itu sedang menjalankan tur di Taiwan dan Jepang. Dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Rabu (23/4/2025), Seringai menyatakan Ricky Siahaan meninggal dunia karena serangan jantung. "Berdasarkan keterangan resmi tim medis setempat, almarhum mengalami serangan jantung tidak lama setelah tampil bersama Seringai dalam acara Gekiko Fest - bagian dari rangkaian Wolves of East Asia Tour 2025 di Taiwan dan Jepang," tertera dalam keterangan pers. Saat ini, Seringai dan keluarga Ricky Siahaan dibantu Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo yang telah menyusun rencana repatriasi jenazah. Adapun jenazah Ricky Siahan bakal sampai di Jakarta pada Kamis petang, 24 April 2025. Lebih lanjut, Ricky Siahaan bakal disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat. Kemudian dilakukan ibadah penghiburan sebagai salah satu rangkaian sebelum dimakamkan. Lalu dalam informasi itu juga tertera Ricky Seringai bakal dimakamkan di San Diego Hills pada Sabtu, 26 April 2025 pukul 14.00 WIB. Sebelumnya juga dilakukan acara tutup peti dan ibadah pelepasan pada 09.30 sampai 11.00 WIB.

Jumat, 21 Juni 2024

BALIK KE EROPA, BURGERKILL GELAR EURO RAMPAGE TOUR

Band metal asal Bandung, Burgerkill, akan kembali menjalani tur Eropa yang diberi tajuk “Burgerkill Euro Rampage Tour 2024". Melalui akun Instagram resminya, Burgerkill menginformasikan bahwa mereka akan tampil di enam kota yang tersebar di tiga negara, yaitu Belanda, Jerman, dan Hungaria. Rangkaian tur Burgerkill akan dimulai di Cafe The Jack, Eindhoven, Belanda pada 13 Juni 2024 dan Metal Frenzy Open Air, Gardelegen, Jerman pada 14 Juni 2024. Dari Jerman, grup band asal Kota Kembang tersebut akan melanjutkan turnya dengan bertandang ke S8 Underground Club, Budapest, Hungaria pada 15 Juni 2024. Setelah Hungaria, pelantun lagu Tiga Titik Hitam itu akan melanjutkan turnya di Sz Fla Fla, Herford, Jerman dan The Cave, Amsterdam, Belanda pada 21 Juni 2024. Masih di negara yang sama, Burgerkill akan melanjutkan konsernya sekaligus menjadi penutup dalam rangakaian tur konsernya di Eropa pada 23 Juni 2024 di De Pul, Uden, Belanda. Dalam rangkaian tur konsernya di Eropa kali ini juga akan turut dimeriahkan oleh beberapa grup band metal internasional lainnya seperti, Inflinktion, Ost + Front, Crystal Viper, Asinhell, Spasm, Deimosdawn. Selain nama diatas, ada juga Teegarten, Wormrot, Morne, Wolfs Moon dan lain sebagainya. Gelaran tur konser itu, bukan menjadi yang pertama kali bagi Burgerkill untuk unjuk gigi di kancah musik internasional. Sebelumnya, pelantun lagu Pledge To Fight itu beberapa kali memang kerap menggelar konser internasionalnya di berbagai negara. Terakhir kali, band metal itu mengadakan tur konsernya di Eropa pada 2022 lalu.

Profil Eloy Casagrande Drummer Baru Slipknot, Gebuk Mainan Drum dari Usia 7 Tahun

Eloy Casagrande lagi jadi buah bibir, khususnya di skena musik ekstrem dunia. Dia baru saja 'dilantik' jadi drummer baru unit metal asal Iowa, Slipknot. Eloy Casagrande menggantikan posisi Jay Weinberg yang sebelumnya didepak dari band berusia lebih dari dua dekade itu. Rumor Eloy gabung Slipknot juga telah mencuat sejak lama. Bersama Slipknot, Eloy Casagrande akhirnya jalani panggung perdana. Acara tersebut digelar secara 'sederhana' di California pada 25 April lalu.
Di panggung tersebut, para personel memakai kostum dan topeng klasik mereka di era album Self-titled (1999). Rasa penasaran fans pun terjawab seperti apa rupa topeng yang dikenakan Eloy Casagrande sebagai member baru. Tak banyak aksen, topeng Eloy Casagrande hampir mirip karakter Joey Jodirson yang berwana putih. Ini jauh berbeda dengan topeng milik Jay. Lantas, siapa sebenarnya Eloy Casagrande? Eloy Casagrande merupakan musisi kelahiran Brasil pada 29 Januari 1991, yang berarti kini baru berusia 33 tahun. Ya, kemungkinan besar, Eloy member termuda di Slipknot. Bakat bermusik Eloy, terutama pada drum terlihat sejak berusia 7 tahun. Oleh ibunya, dia beri mainan drum. Sadar dengan minat Eloy, ibunya kemudian membelikan drum sungguhan agar terus berlatih hingga mahir memainkan alat musik tersebut.
Keputusan sang bunda membelikan seperangkat drum tak sia-sia. Betapa tidak, pada usia 13 tahun, Eloy memenangi sebuah festival bernama Batuka International Drumer Fest yang digagas Vera Figueiredo. Prestasi Eloy belum berhenti, bahkan makin menanjak. Setahun setelah festival tersebut, dia kembali jadi juara di festival Modern Drummer's Undiscovered Drummer Contest. Dari sana, Eloy jalani tur Amerika Serikat. Eloy kecil beranjak remaja, kemudian dewasa. Pada November 2011, dia bergabung dengan band cadas raksasa asal Brasil, Sepultura. Ketika itu dia menggantikan posisi Jean Dolabella.
Bersama Sepultura, Eloy menghasilkan tiga album studio. Hingga pada Februari 2024, Eloy cabut dari band tersebut. Kini, Eloy Casagrande bermusik bersama Corey Taylor dan kawan-kawan. Selain Slipknot, dia juga masih aktif bersama Casagrande & Hanysz. Itu dia profil singkat Eloy Casagrande. Semoga ada karya baru bersama Slipknot dalam waktu dekat ya!

Senin, 06 November 2023

Jay Weinberg Hengkang dari Slipknot Usai Bergabung Sejak 2014

Jay Weinberg resmi keluar dari Slipknot usai bergabung sejak 2014. Drummer itu hengkang usai menjadi personel Slipknot menggantikan posisi yang ditinggalkan Joey Jordison pada 2013. Kabar itu pertama kali diumumkan lewat situs resmi dan akun media sosial Slipknot. Namun, pengumuman yang dirilis via media sosial itu terpantau sudah dihapus, sementara pengumuman di situs resmi masih muncul. Situs resmi Slipknot itu juga sudah tak lagi menampilkan profil Jay Weinberg dalam daftar personel band hard rock tersebut. "Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Jay Weinberg atas dedikasi dan semangatnya selama sekitar sepuluh tahun terakhir," tulis keterangan resmi itu, Minggu (5/11). "Tidak ada yang bisa menggantikan energi asli Joey Jordison, tetapi Jay menghormati bagian-bagian Joey dan berkontribusi pada tiga album terakhir sehingga kami, band, dan para fan mengapresiasinya," lanjutnya. "Namun seperti biasa, Slipknot bertekad untuk terus berkembang. Band ini telah memutuskan untuk membuat keputusan kreatif dan berpisah dengan Jay," sambung pernyataan resmi itu.
Jay Weinberg bergabung dengan Slipknot mulai 2014 silam. Ia menggantikan Joey Jordison, personel awal yang membentuk Slipknot bersama Shawn Crahan dan Paul Gray pada 1995. Sejak saat itu, Weinberg ikut terlibat dalam sejumlah proyek musik Slipknot. Sebut saja 5: The Gray Chapter (2014), We Are Not Your Kind (2019), dan The End, So Far (2022). Jay Weinberg juga bergabung dengan Slipknot dalam dua tur konser dunia, yakni Prepare for Hell Tour pada 2014 hingga 2016 dan We Are Not Your Kind World Tour pada 2019 hingga 2021. Dengan demikian, Slipknot tercatat berpisah dengan dua personel sepanjang 2023. Sebelum Weinberg, Craig Jones juga mundur dan tidak lagi menjadi kibordis Slipknot. Ia hengkang setelah 27 tahun bersama band itu. Kabar mundurnya Craig Jones juga dikonfirmasi dalam pengumuman resmi Slipknot pada Juni 2023. "Kepada para penggemar kami, Slipknot mengumumkan bahwa kami telah berpisah dengan Craig Jones. Kami mendoakan yang terbaik untuk kiprah Jones di masa mendatang," tulis akun resmi Slipknot, dikutip dari People pada Kamis (8/6). Slipknot kini beranggotakan 8 personel dengan Shawn Crahan sebagai satu-satunya anggota asli band tersebut. Selain Crahan, Slipknot saat ini beranggotakan Mick Thomson, Corey Taylor, Sid Wilson, Jim Root, Alessandro Venturella, Michael Plaff, dan seorang musisi rahasia.

Minggu, 15 Oktober 2023

REVENGE THE FATE RILIS VIDEO KLIP DARI LAGU BARU, “AMERTA”

Band beraliran deathcore asal Bandung, Revenge The Fate (RTF) telah mengeluarkan lagu baru yang berjudul “Amerta” dan sudah bisa dinikmati di berbagai digital streaming platform sejak 20 September 2023 lalu. Menyusul perilisannya, RTF juga merilis video klip “Amerta” ke YouTube pada (10/10). Lagu “Amerta” jadi salah satu amunisi baru Revenge The Fate setelah terakhir kali merilis lagu tahun 2021 lalu. Belum genap satu bulan di YouTube, video klip mereka sudah ditonton lebih dari 9ribuan kalo Luar biasa dalam waktu singkat konsistensi mereka dipengaruhi dengan rajin produksi karyanya dengan benang merah musik RTF. Dalam perilisan lagu barunya ini juga disusul oleh luapan merchandise eksklusif yang berisikan tshirt, poster, sticker pack, dan zip bag. **

Minggu, 24 September 2023

Burgerkill dan Erwin Gutawa Orchestra Berkolaborasi di Forestra 2023

Band metal, Burgerkill akan menjadi salah satu bintang tamu dalam pertunjukan musik Forestra 2023. Grup asal Bandung beranggotakan Ronald (vokal), Agung (gitar), Ramdan (bass), dan Putra (drum) mengaku sangat antusias terlibat dalam acara yang diadakan di kawasan Orchid Forest Cikole, Bandung pada 26 Agustus 2023 itu. Sebab, Burgerkill akan berkolaborasi dengan Erwin Gutawa Orchestra untuk pertama kalinya di Forestra 2023. "Ini adalah pengalaman mahal yang belum pernah kami coba sebelumnya, kolaborasi dengan Erwin Gutawa Orchestra dan tampil di hutan," kata gitaris Burgerkill, Agung Hellfrog di Orchid Forest Cikole, Bandung, Rabu (9/8). Para personel Burgerkill ternyata telah lama mendambakan bisa berkolaborasi dengan Erwin Gutawa Orchestra. Meski sudah pernah berkolaborasi dengan grup orkestra lainnya, pertunjukan di Forestra 2023 tentu akan menjadi pengalaman dan pencapaian baru. "Kami sudah pernah dua kali kolaborasi dengan orkestra. Dari dahulu pengin banget bareng Erwin Gutawa, akhirnya bisa," jelasnya. Burgerkill dan Erwin Gutawa Orchestra bakal menyiapkan penampilan spektakuler untuk Forestra 2023. Kedahsyatan musik metal dari Burgerkill bakal menyatu dengan nuansa orkestra yang diiringi oleh sekitar 50 pemain. "Rencana kami membawakan 4 lagu, lagu yang belum pernah dibawakan sama orkestra," imbuh Agung Burgerkill. Selain kehadiran Burgerkill, Forestra 2023 juga menampilkan sederet musisi lintas genre lainnya. Para kolaborator lain yakni, Barasuara, David Bayu, Rahmania Astrini, Feel Koplo, Sore, Gabber Modus Operandi, Aurelie dan Rahmania Astrini, serta penampilan spesial dari White Shoes and Couples Company dan Sore. "Musisi yang kami ajak yakni musisi yang kami kagumi," beber Jay Subyakto sebagai Creative Director Forestra. Digelar oleh ABM by Barry Akbar, Forestra 2023 akan digelar di kawasan Orchid Forest Cikole, Bandung pada 26 Agustus 2023. Tiket Forestra 2023 yang dijual mulai Rp 180 ribu sudah dapat dibeli secara online melalui laman resmi penyelenggara. CEO ABM by Barry Akbar menyebut ekstravaganza musikal orkestra dari Forestra 2023 akan membalut harmoni alam dengan tema konservasi dan kecemerlangan para musisi ternama dalam ragam kolaborasi. Dia berharap Forestra 2023 dapat memberikan suguhan spektakuler lantaran menjadi orkestra hutan terbesar di Asia Tenggara. "Lewat Forestra 2023, saya ingin mengajak semua orang kembali ke hutan," tutupnya.

Seringai dan Burgerkill gelar tur “High Octane Metal Engine”

Dua raksasa metal tanah air, Seringai dan Burgerkill, akan menggelar tur bersama pada pertengahan Juli 2023 ini. Dalam tur bertajuk High Octane Metal Engine (H.O.M.E) Tour tersebut, Seringai dan Burgerkill seakan mengumumkan mereka BERANI BERSUARA BESAR, serta berjanji untuk menguras adrenalin fans musik keras di wilayah Jawa Barat. Tur yang dipromotori oleh Rich Music ini sebenarnya adalah mimpi lama band asal Bandung dan Jakarta tersebut. “Ini adalah rencana yang sudah ada sejak lama antara Seringai dan Burgerkill untuk tour bersama, bahkan sejak almarhum Eben masih ada. Group WhatsApp sudah dibuat sudah sejak lama antara kedua band, hahaha. Dan akhirnya bisa terwujud, semoga tur ini juga menghidupkan kembali ekosistem pertunjukan musik yang sempat tertunda selama pandemi,” ucap Edy Khemod, drummer Seringai. Sementara Rich Music selaku promotor, mengaku menggarap tur Seringai x Burgerkill bukan cuma untuk memuaskan fans musik saja, tetapi juga “menularkan” spirit. “Seringai dan Burgerkill bagi Rich Music bukan hanya sekedar band, tapi juga sebuah movement bagi fanbasenya masing-masing, dengan semua ‘legacy’ yang mereka berikan. Spirit tersebut yang ingin Rich Music bawa kepada seluruh penikmat musik keras di Indonesia. Spirit untuk berani bersuara besar walaupun harus berhadapan dengan segala stigma terhadap musik keras dan keterbatasan yang ada,” papar Mochamad Andika, founder dan CEO dari Rich Music. “Semoga stigma terhadap penyelenggaraan acara dengan konten musik keras dari semua pihak terkait, dapat perlahan berbalik menjadi dukungan yang positif karena penyelenggaraan acara tentunya digarap secara profesional oleh penyelenggara dan dinikmati secara tertib dan disiplin oleh para penikmat,” lanjutnya.
Fans yang hadir ke High Octane Metal Engine (H.O.M.E) Tour dijamin akan mendapatkan momen-momen berharga yang tak bisa dilihat di gigs Seringai atau Burgerkill biasanya. “Yang sudah bisa diduga tentunya ada performance kolaborasi antara Seringai dan Burgerkill. Tapi yang lebih menarik adalah adanya sesi lunch and discussion bersama para personel band. Bagian dari kegiatan sharing dan mengangkat ekosistem musik keras, kita akan ada sesi ngobrol santai dan intimate antara para personel band dengan para pelaku ekosistem musik keras di berbagai titik. Diharapkan dengan kegiatan ini kita bisa jadi saling berbagi, bukan hanya dari para personil band berbagi ilmu tapi juga membangun jejaring dengan para pelaku ekosistem,” lanjut Khemod. Yap, memang ada beberapa kategori tiket untuk tur tersebut. Pertama, Early The Strong (early entry ticket) seharga Rp50.000, Individu Merdeka (1 pc pre-sale ticket) RP75.000, Double Kill Package (2 pcs pre-sale ticket) dibanderol Rp120.000, dan Kawanan (5 pcs pre-sale ticket) seharga Rp275.000. Akan ada juga intimate lunch dan sharing session with the band yang cara mengikutinya akan diumumkan segera. Tiket dapat dibeli di tiketapasaja.com. Seringai x Burgerkill – High Octane Metal Engine (H.O.M.E) Tour akan dimulai pada 15 Juli di Bandung, 23 Juli di Kab. Cirebon, 29 Juli di Subang, 13 Agustus di Garut, dan 27 Agustus di Cianjur.

Doomsday Open Air 2023 Bakal Guncang Metalhead di Bandung

Metalhead di Bandung bakal segera dimanjakan dengan penampilan sejumlah band-band cadas di acara Doomsday Open Air 2023. Event ini rencananya dihelat di Lapangan Wiradhika Secapa AD, Kota Bandung pada Sabtu (23/9/2023). Mengutip laman Instagram resminya, Doomsday Open Air bakal diisi sejumlah musisi cadas seperti Burgerkill, Seringai, Jasad, Beside hingga Komunal. Selain itu, band ska asal Yogyakarta, Shaggydog, hingga Rocket Rockers dan The Panturas juga akan memeriahkan acara yang dihelat pada akhir pekan itu. Head Project Doomsday Open Air Angga Triawan Kuswara mengatakan, pihaknya ingin menghadirkan konser musik yang berkesan untuk para penonton yang datang. Selain menyuguhkan 3 panggung sekaligus, line up band yang memeriahkan Doomsday juga berasal dari berbagai aliran. "Kita berusaha doomsday diproyeksi tidak menjadi event yang segmented, tapi pengen melebar. Bisa dikatakan underground bukan hanya musiknya tapi pergerakan mereka yang cadas. Terus juga pengin lebih eksklusif, pengin menampilkan konser musik metal yang nyaman, kayak datang ke konser-konser pop biasa. Jadi penonton bisa nonton dengan selow, enggak dikejar-kejar rundown," katanya, Kamis (21/9/2023). Angga menuturkan, seluruh band bakal bergantian tampil di atas dua panggung megah yang terbagi atas Destruction Stage dan Apocalypse Stage. Dibekali tata suara yang berkekuatan maksimum serta dukungan tata lampu dan multimedia yang menarik, dua panggung tersebut dipastikan bakal menjadi altar musik keras yang menjamin histeria penonton untuk merangsek ke moshpit. Selain itu juga ada Experimental Lounge yang dikemas sebagai set pertunjukan musik dengan konsep intimate gigs. Para performance yang tampil di sana dianggap memiliki karakter musik cadas yang berbalut lirik lucu nan absurd, serta punya performa yang menghibur. Pada area yang berjargon "Merry Metal Mayhem: Laughs, Riffs, and Rocking Roars" tersebut bakal ada aksi seru Bonga-Bonga dan Vlaar. Ditambah ada live karaoke session bersama Hari Generasi X Buux Frederiksen yang akan memandu lagu-lagu punk hits internasional untuk dinyanyikan lantang bersama-sama dengan para pengunjung. "Pada intinya, biar kawan-kawan itu tahu bahwa konser metal itu tidak semengerikan di IG atau YouTube. Jadi kalian harus datang langsung menonton dan menikmati. Kita pun mencoba terus memperbaiki setiap tahun biar audience-nya nyaman," ungkapnya. Sejak dihelat pada 2010, Doomsday Open Air sudah menjadi satu gigs yang paling dinantikan metalhead di Tanah Air. Tahun ini, Doomsday menyiapkan sekitar 10 ribu tiket yang sudah mulai ludes diburu para pecinta musik cadas.