Jumat, 24 Desember 2021

Gandeng Ronald Vokalis Carnivored, Burgerkill Kembali Ganas Lewat Lagu Baru 'Roar of Chaos': Persembahan 100 Hari Wafatnya Eben!

Terjawab sudah setelah Eben wafat, apakah Burgerkill lanjut atau bubar. Burgerkill kembali, dengan Ronald Alexander vokalis Carnivored, merilis lagu Roar of Chaos.

Memang, paska meninggalnya sang gitaris Alm. Eben, banyak publik bertanya-tanya arah musikal dari Burgerkill di masa depan.

Terlebih, mantan vokalis Vicky Mono juga lebih dulu hengkang pada beberapa momen sebelumnya.

Namun legacy dari Burgerkill emang sudah terpatri begitu kuat, sehingga para personel sisa pun personel terbaru tinggal menyempurnakan keberingasan dari Burgerkill.

Sebuah single terbaru pun dirilis pada hari Sabtu (18/12/21) yang juga dipersembahkan untuk 100 hari wafatnya Eben.

Bersama vokalis yang juga memperkuat band death metal Carnivored ini, nyawa ganas dari Burgerkill pun menjadi semakin optimal.

Kehadiran lagu ini seakan-akan memberikan penghormatan yang paling total dari seluruh awak Burgerkill kini kepada mendiang Eben.

Gandeng Ronald Vokalis Carnivored, Burgerkill Kembali Ganas Lewat Lagu Baru 'Roar of Chaos': Persembahan 100 Hari Wafatnya Eben!


Burgerkill - Roar of Chaos

Burgerkill - Roar of Chaos

 Terjawab sudah setelah Eben wafat, apakah Burgerkill lanjut atau bubar. Burgerkill kembali, dengan Ronald Alexander vokalis Carnivored, merilis lagu Roar of Chaos.

Memang, paska meninggalnya sang gitaris Alm. Eben, banyak publik bertanya-tanya arah musikal dari Burgerkill di masa depan.

Terlebih, mantan vokalis Vicky Mono juga lebih dulu hengkang pada beberapa momen sebelumnya.

Namun legacy dari Burgerkill emang sudah terpatri begitu kuat, sehingga para personel sisa pun personel terbaru tinggal menyempurnakan keberingasan dari Burgerkill.

Sebuah single terbaru pun dirilis pada hari Sabtu (18/12/21) yang juga dipersembahkan untuk 100 hari wafatnya Ebem.


Bersama vokalis yang juga memperkuat band death metal Carnivored ini, nyawa ganas dari Burgerkill pun menjadi semakin optimal.

Kehadiran lagu ini seakan-akan memberikan penghormatan yang paling total dari seluruh awak Burgerkill kini kepada mendiang Eben.

Dilepas bersama dengan video klip yang intens, padat, dan menyenangkan dalam satu waktu, 'Roar of Chaos' mengeluarkan teriakan penuh amarah yang telah terpendam lama.

Sampai artikel ini ditulis, belum dikonfirmasi apakah materi ini menjadi peninggalan terakhir dari mendiang Eben atau materi yang dibawa secara segar oleh sisa awak Burgerkill.

Yang jelas, hadirnya 'Roar of Chaos' membuat para Begundal nggak perlu khawatir lagi dengan kabar Burgerkill yang selalu dinanti.

Pasti lo semua udah penasaran kan dengan ganasnya Burgerkill bareng vokalis terbarunya, simak nih keberingasan mereka lewat video klip 'Roar of Chaos' 

Jumat, 10 Desember 2021

"Eben Burgerkill Meninggal, Dimakamkan di Halaman Rumah hingga Duka Musisi"

Kabar duka kembali hadir di dunia hiburan Tanah Air. Gitaris Burgerkill, Aries Tanto atau lebih dikenal dengan nama Eben Burgerkill, meninggal dunia pada Jumat (3/9/2021) pukul 16.15 WIB. Kabar meninggalnya Eben dibenarkan oleh salah satu temannya, Edi Brokoli. Berikut ini fakta dari meninggalnya Eben Burgerkill. 1. Diduga akibat jantung Edi mengatakan, dugaan sementara, Eben meninggal dunia karena jantung. “Enggak ada sih (penyakit), kayaknya jantung untuk sementara dugaannya,” ucap Edi lagi. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Eben sempat tampil di acara musik sebelum meninggal dunia. Namun, di sela-sela sedang manggung, Eben mengalami serangan jantung. Baca juga: Eben Burgerkill Meninggal Dunia, Para Musisi Tanah Air Berduka Atas kejadian tersebut, Eben juga sempat pingsan. Eben Burgerkill lantas dilarikan ke Rumah Sakit Bungsu, tetapin nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia. 2. Dimakamkan di halaman rumah Jenazah Eben dimakamkan di pekarangan sisi depan rumahnya yang asri pada Sabtu (4/9/2021). Hal ini diungkapkan oleh istri Eben Burgerkill, Anggi Pratiwi, yang mengatakan bahwa Eben sempat meminta untuk dimakamkan di rumah saja. Baca juga: Burgerkill Rilis Mini Album Killchestra dalam Format CD “Sebelumnya saya bilang kalau enggak ada duluan, saya mau dimakamkan di rumah saja. Tahunya malah dia duluan,” kata Anggi, dikutip dari Tribun Seleb. 3. Sempat mengisi di acara ulang tahun God Bless Eben sempat tampil memukau di panggung pada konser 48 Tahun Godbless: Mulai Hari Ini yang ditayangkan secara virtual pada Selasa (31/8/2021) dari gedung International Convention Exhibition, Tangerang, Banten. Selain beraksi di panggung, Eben dan Agung, tandemnya di Burgerkill, juga berlaku sebagai pembawa acara. Baca juga: Oktober, Band Cadas Burgerkill Gelar Tur 16 Kota di Amerika Serikat Eben dan Agung memainkan gitar akustik di lagu ”Syair Kehidupan”. Mereka berdua juga mengisi bagian interlude lagu ”Musisi” bersama seluruh personel God Bless, dan empat gitaris lain, yaitu Cella dari band Kotak, Stevie Item dan Karis dari DeadSquad, serta Ezra Simanjuntak. 4. Duka dari rekan-rekan Kepergian Eben meninggalkan kesan baik, sekaligus duka yang mendalam bagi God Bless. ”Kami amat sangat kehilangan. Kami menghormati dia sebagai musisi yang punya visi di kancah musik rock Indonesia,” ucap Denny mewakili God Bless. Dia menceritakan, Achmad Albar mengucapkan terima kasih kepada Eben, Burgerkill, dan manajemennya. Baca juga: Cerita Deasquad dan Burgerkill Usai Invasi Eropa ”Om Iyek (Achmad Albar, vokalis God Bless) bilang kepada teman-teman Burgerkill untuk terus menjaga semangatnya. Pergerakan teman-teman musisi seperti Burgerkill ini yang bisa membuat industri panggung dan rekaman jalan terus,” ucap Denny, menirukan pesan tertulis Albar. Tak hanya God Bless, teman-teman Eben lainnya seperti Rian D’MASIV hingga Gerald Situmorang mengucapkan duka. “Innaalillahi wainnailaihi rajiun .. Selamat jalan kang @ebenbkhc Al fatihah,” tulis Rian D’Masiv. “RIP Kang Eben Burgerkill… Turut berduka cita untuk keluarga dan keluarga besar Burgerkill,” tulis Gerald melalui Instagram story. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Eben Burgerkill Meninggal, Dimakamkan di Halaman Rumah hingga Duka Musisi", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/hype/read/2021/09/04/082142166/eben-burgerkill-meninggal-dimakamkan-di-halaman-rumah-hingga-duka-musisi?page=all. Penulis : Cynthia Lova Editor : Tri Susanto Setiawan Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Rabu, 08 September 2021

Review: Burgerkill- Dua Sisi (Album, 2000

Bandung kerap kali dikenal sebagai penghasil band-band keras jempolan di masa berjayanya musik underground di sekitar medio ‘90-an. Terlebih, kota dengan julukan Kota Kembang ini juga sempat menjadi arena tempat berlaganya musik arus pinggir dengan minat termasif yang pernah dicatat sejarah musik dalam negeri lewat berbagai helatan yang terselengara di kota tersebut.

Ujungberung menjadi salah satu rumah tempat lahirnya band-band tersebut. Tak terkecuali nama Burgerkill yang besar di sana. Mengawali langkahnya di tahun 1995, lima tahun setelahnya  mereka pun mengenalkannya secara utuh (sebelumnya sempat melepas beberapa isinya melalui berbagai kompilasi) mahakarya hardcore sekaligus debut album penuh dengan tajuk Dua Sisi (2000). 

Dua Sisi adalah salah satu artefak hardcore terpenting di kancah lokal. Sebelum kemudian mereka memuntahkan legacy selanjutnya melalui Berkarat (2003), album ini rasanya menjadi rilisan vital yang membangun pondasi konsistensi mereka (baik dalam musik maupun spirit)  hingga hari ini.

Formasi klasik berisikan Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah (vokal), True ‘Eben’ Megabenz (gitar), Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias ‘Kimung’ (bas), dan Toto Supriatin (drum) merakit berbagai suara yang kala itu masih banyak dipengaruhi oleh beragam senyawa hardcore. Mulai dari New York hardcoreEuropean hardcore, hingga old school hardcore.

Di bawah bendera Riotic Records milik Dadan Ketu (saat ini manajer Burgerkill), mereka memadati Dua Sisi dengan muatan 12 trek berisikan; “Heal The Pain”, “Revolt”,”Let’s Fight”, “M.T.P.M”, “Hancur”, “Sakit Jiwa”, “My Self”, “Rendah”, “Homeless Crew”, “Blank Proudnes”, “Everything Sux!”, serta trek cover “Guilty Of Being White” milik Minor Threat

Album ini sempat di-re-issue oleh Sony Music pada tahun 2005. Namun, kali ini “Guilty Of Being White” harus dihapuskan karena urusan izin. Konon, pihak Minor Threat hanya mempersilahkan lagunya dipakai dalam koridor independen. Sehingga mereka pun menggantinya dengan “Everlasting Hope Never Ending Pain”. 

Jika saya, sebagai generasi streaming menikmatinya hari ini melalui layanan musik digital, mungkin nomor ke-12 (baik “Guilty Of Being White” atau “Everlasting Hope Never Ending Pain”) tidak pernah termuat. Beruntung mereka yang berhasil mengamankan rilisan fisiknya jauh-jauh hari sebelum saya menyadari bahwa album ini brilian. Meskipun sebenarnya, trek tersisa pun bisa dibilang lebih dari cukup.

Dua Sisi hampir tak memberikan celah bagi pendengar untuk tidak ikut merasakan kemuakan yang mereka lepehkan dengan tingkat agresivitas di atas rata-rata band hardcore lokal sejawatnya. Sebagai salah satu bentuk dari upaya counter-culture arus utama yang (saat itu dan memang selalu) membosankan, tentu album ini dinilai cukup revolusioner dalam menyampaikan spirit hardcore kepada publik.

Dua Sisi tentu sangat layak dimasukan dalam deretan album hardcore lokal terbaik. Bahkan setelah dua dekade pasca perilisannya. Spirit yang akan terus mengalir dari generasi pembangkang terdahulu ke generasi pembangkang selanjutnya. Sehingga kurun waktu tak lagi berlaku dan akan digantikan dengan kata “sepanjang masa”.

Minggu, 22 Agustus 2021

Daniel Keluar Dari DeadSquad, Nama Band Tersebut udah Dihapus dari Bio Instagram-nya

Belum lama keluar dari jeruji besi, ada kabar mengejutkan lagi dari Daniel Mardhany. Doi resmi keluar dari DeadSquad! "Terima kasih kepada Daniel Mardhany atas semua kontribusinya dalam perjalanan karir DeadSquad sejak tahun 2009." tulis akun Instagram @deadsquad.official, singkat. Memantau akun Instagram Daniel yakni @possessedtomerch, nama DeadSquad memang sudah nggak ada di bio. Bio Instagram Daniel berisi segala proyek musik dan bisnis yang ia kerjakan, plus nama sang istri. Kini, DeadSquad telah dihapus dari daftar.

Rabu, 28 Juli 2021

Mantan Drummer Slipknot Joey Jordison Meninggal Dunia

Mantan drummer sekaligus salah satu pendiri band Slipknot, Joey Jordison, meninggal dunia di usia 46 tahun. Hal itu diumumkan pihak keluarga mendiang pada Selasa (27/7) waktu Amerika Serikat. "Kami sedih mengabarkan berita bahwa Joey Jordison, drummer, musisi, dan seniman yang produktif meninggal dunia dengan damai dalam tidurnya pada 26 Juli, 2021," kata pihak keluarga dalam pernyataan kepada Billboard yang dirilis pada Selasa (27/7) waktu setempat. "Kematian Joey menjadi kehampaan dalam hati kami dan meninggalkan rasa duka tak terkira. Kepada siapapun yang mengetahui Joey, memahami kecerdasannya yang cepat, kepribadiannya yang lembut, hati yang besar, dan kecintaannya pada semua hal tentang keluarga dan musik," lanjutnya. "Keluarga Joey telah meminta kepada teman-teman, penggemar, dan media untuk menghormati kebutuhan kami akan privasi dan kedamaian di momen yang sulit ini. Pihak keluarga akan mengadakan pemakaman secara privat dan meminta media dan publik menghargai keinginan mereka," kata pernyataan tersebut.

Sabtu, 05 Juni 2021

Aillis Buktikan Kalau Band Emo itu Nggak Melulu Bicara Soal Patah Hati

Kalau ditanya hal apa yang paling saya kangenin ketika pandemi ini, maka jawaban saya adalah datang ke micro-gigs. Selain tentunya jadi salah satu tempat favorit buat ketemu sama teman-teman sepermainan, lewat micro-gigs juga saya sering menemukan band-band ajaib nan underrated yang belum terlalu dikenal banyak orang. Bisa dibilang semacam menemukan harta karun. Karena belakangan ini sedang ramai banyak band-band emo yang muncul dan dibahas, saya jadi ingat salah satu band emo yang saya temukan melalui acara micro-gigs pada saat itu. Band yang saya maksud adalah Aillis, unit midwest-emo/skramz asal Bandung beranggotakan Fikri Suryatama (Gitar/Vocal), Akhyar Mustofa (Vokal), Yudha Rizkia (Bass), dan Haris Suryadinata (Drum). Band yang terbentuk sejak tahun 2015 tersebut cukup sering mengisi berbagai micro-gigs, terutama pada acara yang diadakan oleh para sobat emo ataupun sobat hardcore punk. Selain penampilannya yang selalu enerjik dan emosional, ada beberapa hal lain yang membuat saya cukup mengingat Aillis, salah satu di antaranya adalah mereka membawakan musik perpaduan antara midwest-emo dan juga skramz. Sesuatu yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan formula dari band-band lokal yang biasanya hanya cenderung untuk condong ke salah satunya saja.
Fusi antara aransemen midwest-emo yang nggak terlalu heavy lalu kemudian digabungkan dengan pendekatan vokal agresif ala skramz menjadi suguhan utama yang disajikan oleh Aillis pada keseluruhan lagunya. Jadi, kalian tetap bisa mendengarkan permainan gitar dengan sound twinkly, dengan iringan permainan drum bertempo sedang, khas komposisi midwest-emo, namun kemudian ditambahkan dengan teriakan pada bagian vokal. Bayangkan jika Tiny Moving Parts bertemu dengan Suis La Lune, maka hasilnya adalah Aillis. Sebuah kombinasi yang cukup unik. Hingga saat ini, Aillis baru mengeluarkan 1 buah EP, ‘Believe 114’, dan 2 buah single, yaitu ‘Alive’ dan ‘Suarakala’. Kalau dibandingkan dengan usia bandnya, yaa menurut saya hal tersebut masih terbilang kurang produktif, sih. Sebuah hal yang saya sayangkan banget. Padahal secara materi, mereka menyuguhkan sesuatu yang terbilang segar, di tengah banyaknya band emo yang bermunculan namun membawakan formula musik yang bisa dibilang masih terlalu generic. Selain itu, narasi pada lirik yang dibawakan oleh Aillis juga terbilang cukup unik dan berbeda dibandingkan para koleganya. Jika kebanyakan band lokal yang membawa identitas “emo” masih bermain aman dengan narasi klise mengenai percintaan, kuartet tersebut keluar dari jalur dengan membawakan lirik yang membicarakan mengenai kehidupan, sehingga terasa sangat cocok sebagai pengiring kontemplasi diri. Bahkan, pada lagu-lagu yang ada di EP perdananya, Aillis menulis lirik dengan makna spiritual, mengenai hubungan antara makhluk dengan Sang Penciptanya. Aillis seakan membuktikan bahwa band emo itu nggak melulu harus membawakan narasi sedih mengenai percintaan, bisa juga membawakan lirik yang kontemplatif seperti yang mereka lakukan. Membuat kita bisa berintrospeksi dan berkomunikasi dengan diri sendiri. Kalau menurut saya mah, hal itu juga emo banget. Rasanya, jika Aillis ingin merilis sesuatu yang baru, sekarang adalah waktu yang tepat, karena saat ini sudah banyak orang yang mulai aware dan mendengarkan musik midwest-emo/skramz jika dibandingkan ketika awal kemunculan mereka. Saya selalu menunggu kabar ataupun rilisan terbaru dari roster Benalu Records tersebut. Semoga dalam waktu dekat ada kejutan yang dihadirkan oleh Aillis bagi para pendengarnya. Nah, buat kamu yang bosan denger band-band emo yang membawakan narasi soal percintaan atau kalau kalian pecinta permainan gitar muruluk ala Tiny Moving Parts, maka Aillis adalah salah satu alternatif yang bisa kamu dengarkan.

Jumat, 04 Juni 2021

Peran Saparua sebagai Counter-Culture Bandung Era ‘90-an

GOR Saparua sebagai jantung musik arus pinggir Bandung di era ‘90-an memang bukan hanya sekedar mitos. Tempat tersebut merupakan saksi bisu dari gejolak semangat para pemberdaya musik mandiri, terutama jika berbicara mengenai Bandung. Selain sebagai arena yang bersifat magnetis untuk para penggemar musik-musik underground, eksisnya Saparua juga sempat menjadi bidan dari kelahiran beberapa subkultur dari berbagai pergerakan yang tengah berjalan di era itu. Istilah kerennya, counter-culture. Kita mungkin sudah mendengar banyak cerita mengenai tempat bersejarah untuk penggerakan musik arus pinggir lokal yang sudah dibangun sejak tahun 1969 ini. Tak sedikit juga band-band era tersebut yang masih eksis hingga hari ini sebagai saksi bagaimana panggung Saparua sangat menghidupi ekosistem musik underground saat itu. Dimulai dari sana lahirlah komunitas-komunitas kecil, edaran zine sebagai sarana bertukar informasi, serta pandangan hidup yang masih diadaptasi dari musik. Pergerakan-pergerakan mandiri tersebut akhirnya menjadi sebuah counter-culture yang aktif untuk beberapa subkultur yang tengah berlaku di era ‘90-an. Bagaimana tidak? Di saat era itu Nirvana sedang banyak dipertontonkan di layar kaca. Cobain dan koleganya seakan menjadi demam baru lewat “Smells Like Teen Spirit” serta fashion statement mereka. Grunge pun mulai dianggap sebagai the new mainstream era itu. Imbas dari fenomena grunge tersebut pun menyulut beberapa musisi cetakan yang dikemas lebih ‘pop’ di ranah lokal semacam Nugie dan Oppie Andaresta.
Di sisi lain, band-band rock jebolan Log Zhelebour seperti Boomerang dan Jamrud pun sedang banyak diminati pada era itu. Atau jika kita membahas yang lebih populis lagi untuk ranah nasional, rasanya grup-grup pop rock dengan dalih cinta semacam Dewa 19 atau Ada Band pun mulai berdatang dari ranah mayor label. Fenomena tersebut seakan membuat tahun itu mempunyai ilusi bahwa masa itu era yang besar untuk musik rock. Padahal kenyataannya, semua yang disajikan secara populer terasa cukup generik dan membosankan. Di sinilah Saparua memegang peran krusial dan unik sebagai bentuk counter-culture dengan cara yang lebih hardcore, yaitu dengan menyatukan berbagai aliran musik ke dalam satu arena yang dipadati scenesters arus pinggir. Selain sebagai angin segar yang menjadi alternatif dari tren musik populer, panggung musik di GOR Saparua mampu memberikan spotlight untuk beragam band dengan musiknya sendiri ke dalam ekosistemnya. Buktinya tidak hanya band-band underground macam metal atau punk yang bisa berhura-hura di Saparua, band-band pop seperti Pure Saturday dan Cherry Bombshell pun punya nama tersendiri bagi para individu yang mengalami masa kejayaan Saparua di waktu itu. Selain menjadi angin segar untuk asupan musik kancah lokal lewat helatan mandiri, berbagai subkultur yang terseret oleh musik yang berkaitan dengannya pun hidup dan berkembang di lingkup para pelaku di dalamnya. Tak dapat dipungkiri, semua aspek yang berkaitan dengan musik apa pun yang dimainkan di era Saparua menjadi suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan mau tidak mau, para pelakunya pun harus bisa memahami (atau mengamalkan) semua aspek “kebudayaan” atau “pergerakan” yang membuntutinya.
Sebagai contohnya, beberapa komunitas kecil lahir dari “tongkrongan” musik Saparua dan mulai mengakuisisi beberapa titik di kota Bandung. Seperti tongkrongan PI (yang saat ini dikenal sebagai BIP) dan Riotic, distro pertama yang lahir di scene musik dan berawal di Cijerah, hingga Sadar 181. Kolektif-kolektif tersebut lahir dari scene hardcore. Dari komunitas-komunitas yang memiliki perbedaan acuan subkultur tersebut, maka lahirlah pula zine sebagai salah satu media favorit para pelaku di era tersebut untuk menyuarakan opininya sekaligus mempromosikan subkultur yang mereka emban. Poros zine di era Saparua memang terhitung gencar dan marak. Keterbatasan informasi menjadikan produk fisik jauh lebih efisien ketimbang digital. Ketika akses internet tak semudah hari ini, maka zine pun menjadi penopang informasi untuk bertukar referensi dan wawasan. Bahkan mengetahui beberapa kabar terkini di dunia arus pinggir. Contohnya, zine yang diproduksi dari Sadar 181 berjudul Bandung Edge News.
Selain upaya dari komunitas tersebut, spirit straight edge tentu menyelusup lewat band-band yang tampil di era Saparua. Band-band straight edge lokal yang sempat bermain di Saparua seperti Blind To See dan Manusia Buatan tak tentu tak lepas dari peran mengamanahi gaya hidup straight edge untuk diminati di kancah hardcore lokal. Saparua seakan menjadi salah satu sentral budaya tandingan dari budaya populer yang sedang berjalan di eranya. Memantik berbagai pergerakan untuk bergerilya dan menciptakan ekosistem yang berjalan seiringan. Meskipun saat ini arena Saparua sudah tak lagi berfungsi sebagai daratan gigs underground, namun dampak yang ditinggalkannya seakan tak pernah terhapus. Beberapa dari counter-culture tersebut masih berjalan hingga hari ini, tentu peran Saparua tak dapat lepas di dalamnya.