"BANDUNG BERISIK MMXIII"
- VERSUS THE WORLD -
SABTU, 13 APRIL 2013
STADION SILIWANGI BANDUNG
JASAD
BURGERKILL
SERINGAI
SIKSA KUBUR
NOXA
JERUJI
OUTRIGHT
ROCKET ROCKERS
ALICE
AUMAN
DEVADATA
REVENGE THE FATE
AND MANY MORE !!!
Tiket Presale : Rp.35.000,-
Bonus Gelang BB ( TERBATAS !! )
TICKET BOX AT :
RSJ DISTRO - Cangkuang Jl.Banjaran - Soreang Bandung
MOUTLEY - Jl.Diponegoro No.26 Bandung
GOGS STORE - Jl.Buahbatu No.239 Bandung
CHRONIC ROCK - Jl.Sawah Kurung No.19 Bandung
RIOTIC - Jl.Sumbawa No.61 Bandung
OMUNIUUM - Jl.Ciumbuleuit 151B Lt.2 Bandung
AESTHETICS - Jl.Kolonel Masturi 182 Cimahi
FH BOLD - Jl.Sulta Agung 3C Bandung
LINOLEUM - Jl.Sari Asih Blok 3 No.21 Sarijadi Bandung
Pieces - Jl.Rumah Sakit Ujungberung Bandung
Reaktor - Jl.Tanjung Sari 251 Tanjungsari
Tiket box lainnya segera diupdate !!
For more info :
www.bandungberisik.com
Kamis, 28 Februari 2013
Bandung Berisik ''Versus The World''
"BANDUNG BERISIK MMXIII"
- VERSUS THE WORLD -
SABTU, 13 APRIL 2013
STADION SILIWANGI BANDUNG
JASAD
BURGERKILL
SERINGAI
SIKSA KUBUR
NOXA
JERUJI
OUTRIGHT
ROCKET ROCKERS
ALICE
AUMAN
DEVADATA
REVENGE THE FATE
AND MANY MORE !!!
Tiket Presale : Rp.35.000,-
Bonus Gelang BB ( TERBATAS !! )
TICKET BOX AT :
RSJ DISTRO - Cangkuang Jl.Banjaran - Soreang Bandung
MOUTLEY - Jl.Diponegoro No.26 Bandung
GOGS STORE - Jl.Buahbatu No.239 Bandung
CHRONIC ROCK - Jl.Sawah Kurung No.19 Bandung
RIOTIC - Jl.Sumbawa No.61 Bandung
OMUNIUUM - Jl.Ciumbuleuit 151B Lt.2 Bandung
AESTHETICS - Jl.Kolonel Masturi 182 Cimahi
FH BOLD - Jl.Sulta Agung 3C Bandung
LINOLEUM - Jl.Sari Asih Blok 3 No.21 Sarijadi Bandung
Pieces - Jl.Rumah Sakit Ujungberung Bandung
Reaktor - Jl.Tanjung Sari 251 Tanjungsari
Tiket box lainnya segera diupdate !!
For more info :
www.bandungberisik.com
HELLPARTY "Queen Of Passion"
"HELLPARTY" adalah event kolektif bulanan HELLPRINT yg hampir 1 tahun ini vakum, dan mengawali tahun 2013 ini HELLPARTY akan dilanjutkan lagi dalam rangka soft opening dari Distro Hellprint Poster dan Stiker. dan untuk event kali ini sementara kolektif / udunan nya di hilangkan dulu.
Tema HELLPARTY kali ini adalah "QUEEN OF PASSION". Dipastikan semua Band yang tampil diantara personilnya ada sesosok PEREMPUAN. Event ini menunjukan bahwa diantara kita ini ada beberapa wanita yg passion nya sangat tinggi ke musik indie / underground. Dan semoga Menginspirasi Wanita2 Lain Untuk Bisa Membuktikan Keberadaan Dan Totalitas Mereka Kepada Komunitas Ini Dan Menunjukan Bahwa Perempuan Pun Bisa Berkarya Tanpa Ada Batasan Apapun!
HELLPRINT Proudly Present
Soft Opening Distro Hellprint Poster & Stiker
"HELLPARTY - QUEEN OF PASSION"
Minggu, 24 Maret 2013
Indoor Pos 4 - Lanud Sulaiman Bandung
Mulai Jam 10.00 - 19.30 WIB
Featuring :
RESTLESS
GUGAT
PORNOSTAR
SKAMIGO
DEMONSDAMN
NOTHING NEW
SUPER TETRA
GIRLZEROTH
TRAIN FOR FLY
PIGPHOBIA
YOUTHFULL AGGRESSION
NECRO TERROR
FAITH MUST PAIN
LIFE AFTER DEATH
BETWEEN
TIRANI
ONE SPIRIT FOR ALL
ILLUTION OF THE DEATH
FEARLESS
ALERION ADELPHIA
AZTEC 13
Harga Tiket Presale Rp 25.000,-
Tiket Online : 331751F7
- Bewok : 089605042068
- Sassa : 089605044688
Tiket Box :
HELLPRINT - RSJ DISTRO - ROCK N REBEL - DARK CASTLE - MAD DEVIL - HELICON - KEHED - CODENINE - LINOLEUM - INJUSTICE - DESTRUCTION - SAUNG SAUYUNAN - CHRONIC ROCK - SURGA DISTRO - MANGPRANG ATTACK - ULTRAS - BUPER - REAKSI ARE ME DIVISION - D-THRONE - HELL VS HEAVEN - BEDOG CEPOT - REMAINS - PIECES - DISTRO BUDAK HIDEUNG - BLACKBALL - XTAB DISTRO - AESTHETICS - SOUL NOISE - ROTTENSOUL - BABAUNG - FICTION - MAGNETIC - DISTRO PERSIB HARDCORE - ASEP MORGOTH METALMANIA
HELLPRINT Proudly Present
Soft Opening Distro Hellprint Poster & Stiker
"HELLPARTY - QUEEN OF PASSION"
Minggu, 24 Maret 2013
Indoor Pos 4 - Lanud Sulaiman Bandung
Mulai Jam 10.00 - 19.30 WIB
Featuring :
RESTLESS
GUGAT
PORNOSTAR
SKAMIGO
DEMONSDAMN
NOTHING NEW
SUPER TETRA
GIRLZEROTH
TRAIN FOR FLY
PIGPHOBIA
YOUTHFULL AGGRESSION
NECRO TERROR
FAITH MUST PAIN
LIFE AFTER DEATH
BETWEEN
TIRANI
ONE SPIRIT FOR ALL
ILLUTION OF THE DEATH
FEARLESS
ALERION ADELPHIA
AZTEC 13
Harga Tiket Presale Rp 25.000,-
Tiket Online : 331751F7
- Bewok : 089605042068
- Sassa : 089605044688
Tiket Box :
HELLPRINT - RSJ DISTRO - ROCK N REBEL - DARK CASTLE - MAD DEVIL - HELICON - KEHED - CODENINE - LINOLEUM - INJUSTICE - DESTRUCTION - SAUNG SAUYUNAN - CHRONIC ROCK - SURGA DISTRO - MANGPRANG ATTACK - ULTRAS - BUPER - REAKSI ARE ME DIVISION - D-THRONE - HELL VS HEAVEN - BEDOG CEPOT - REMAINS - PIECES - DISTRO BUDAK HIDEUNG - BLACKBALL - XTAB DISTRO - AESTHETICS - SOUL NOISE - ROTTENSOUL - BABAUNG - FICTION - MAGNETIC - DISTRO PERSIB HARDCORE - ASEP MORGOTH METALMANIA
Senin, 25 Februari 2013
Sejarah Bandung Underground
SALAH BESAR JIKA MENGANGGAP BANDUNG UNDERGROUND HANYA SEBUAH SCENE ATAU SUBKULTUR. IA TELAH MENJELMA JADI PENANDA JAMAN KETIKA GAIRAH BERMUSIK DIMANIFESTASIKAN KE DALAM SEMANGAT PEMBERONTAKAN TERHADAP KEMAPANAN, KEBERSAMAAN UNTUK MENGATASI KETERBATASAN, SERTA EKSISTENSI DIRI.
BARUDAK Bandung selalu punya cara tersendiri untuk berinteraksi dengan jamannya. Generasi Gito Rollies dan Deddy Stanzah, misalnya, menunjukkan spirit pemberontakan mereka dengan menganut gaya hidup urakan-ugal-ugalan. Sambil, tentu saja, tidak lupa berlaku-pagu via musik. Dan rock ‘n roll dipilih menjadi rel untuk menghela gerbong gejolak jiwa mereka.
Generasi Gito Rollies dikenal sangat badung. Tapi faktanya prestasi mereka dalam bermusik sangat istimewa. Itulah yang menyebabkan kebadungan mereka bisa ditolerir sejarah. Bahkan sejarah malah berbalik menyanjung mereka sebagai figur-figur prestisius.
Lebih-kurang dua dekade setelah era keemasan angkatan Gito Rollies dan Deddy Stanzah berlalu, generasi muda Bandung menganut cara lain dalam menunjukkan eksistensinya. Ketika ruang arusutama didominasi kemestian bernama komodifikasi yang selalu berbaju proyeksi mengejar keuntungan materi semata — sehingga tidak memberi spasi memadai buat spirit lain di luar itu, mereka memilih jalan lain dalam mengekspresikan letupan-letupan liar dalam benak mereka. Letupan-letupan itu awalnya mengecambah secara sendiri-sendiri di titik-titik tertentu. Maka kemudian, tumbuhlah beberapa kantung komunitas. Sekadar menyebut, ada komunitas TU yang biasa nongkrong di Jalan Teuku Umar. Band-band semacam Balcony atau Take A Stand mengerek komunitas ini. Komunitas ini kemudian melahirkan kompilasi historikal bertajuk Brain Baverages.
Ada juga komunitas Balkot yang doyan nangkring di Balai Kota Bandung. Di samping fokus pada musik, mereka ini punya kecenderungan mengakrabi olahraga ekstrem skateboarding. Mungkin ini ada kaitannya dengan saujana Balkot yang memang cukup asoy dijadikan tempat bermain papan luncur. Bahkan di kemudian hari komunitas ini mengidentifikasikan diri sebagai salah satu scene yang meletakkan fondasi subkultur skateboarding di kota kembang.
Sampai kemudian di era mutakhir awal 2000-an, masih di Balkot, muncul pula komunitas lain bernama Kolektif Balkot Jam Lima Sore. Komunitas yang bersulih nama menjadi Balkot Terror Project ini adalah sebuah gerakan kolektif yang dibangun secara sel dengan semangat memelihara kemurnian ideologi bermusik. Di mata mereka, betapa pun arus komodifikasi terhadap scene sudah sedemikian dahsyat dan merongrong idealisme, gelombang komersialisasi tetap harus dilawan dengan segenap upaya (catatan: untuk Kolektif Balkot Jam Lima Sore akan dibahas dalam tulisan khusus).
Semangat D.I.Y (Do It Yourself) pun jadi pilihan. Mereka menggelar gigs atau mengeluarkan rilisan — baik album maupun newsletter — secara permana dan murni swadaya. Gigs digelar dengan cara kolektif, dalam arti setiap band yang main harus urunan untuk sekadar menyewa alat musik dan tempat. Sebuah solusi yang kemudian jadi pilihan ketika minta ijin untuk menggelar acara sepelik mencari jarum di padang ilalang. Sementara rilisan dikemas sesederhana mungkin, nu penting kumaha carana lagu uing bisa didengekeun ku batur. Pola penggandaan CD dengan menggunakan personal komputer pun kerap ditempuh dan lantas dijual dengan harga: ceban!!!
Jangan lupakan pula sekelompok pengusung idealisme dan ideologi punk yang sampai sekarang tetap panceg dina galur berinteraksi dengan sejawatnya di sekitar kawasan perbelanjaan Bandung Indang Plaza (BIP). Jangan pernah menganggap sepele kontribusi mereka dalam meletakkan fondasi Bandung Underground. Salah satu gigs bersejarah bernama Gorong-Gorong Bandung dicetuskan Dadan Ketu, salah seorang peretas komunitas tersebut.
Bukan hanya gigs Gorong-Gorong, Dadan Ketu bersama PI Crew — nama lain dari komunitas BIP — menancapkan pula tonggak lain bernama Bandung’s Burning. Sebuah rilisan berisi kompilasi sejumlah band punk yang mencatat sukses luar biasa. Band-band seperti Jeruji, Runtah, The Bollocks, atau Keparat, harus diakui, terkerek namanya berkat kompilasi yang dirilis menggunakan label Riotic Records itu.
Dan voila… komunitas paling fenomenal tentu saja Ujungberung Rebel. Komunitas ini tumbuh sedemikian rupa jadi kisi-kisi penting harakah musik bawah tanah kota kembang. Tidak hanya komitmen tinggi panceg dina galur memainkan musik-musik ultragaduh, di sana juga ada geliat ekonomi kreatif-kerakyatan mulai dari jualan kaus, tukang sablon, sampai mendirikan perusahan rekaman independen yang sangat marak. Harus kita akui, komunitas inilah yang mencancapkan fondasi, pengaruh, dan kontribusi paling besar terhadap Bandung Underground.
Tak bisa dipungkiri, kantung-kantung komunitas itulah yang menjadi noktah-noktah penyangga dari sebuah fenomena bernama Bandung Underground. Sebuah fenomena peradaban yang gaungnya kini tidak hanya terdengar di ranah nasional, melainkan juga sudah merambah sampai ke mancanegara. Sayangnya, subkultur ini harus menjalani masa-masa paling sulit sejak awal 2008. Tepatnya selepas tragedi AACC yang ditandai meregangnya sebelas orang nyawa dalam acara peluncuran album perdana Beside.
Satu hal penting yang mesti digarisbawahi, betapa pun identik dengan band-band bising, keliru juga jika kita menganggap Bandung Underground melulu dihuni dan dibesarkan oleh band-band punk, hardcore, metal, jeung sajabana. Sejumlah godfather yang meletakkan fondasi Bandung Underground justru tidak memainkan musik metal. Sebut saja Richard Mutter. Bersama Yukie, Bengbeng, dan Trisno di Pas Band, Richard tidak memainkan metal sefrontal yang diperagakan Sonictorment, Forgotten, atau Jasad. Demikian pula dengan Pure Saturday yang sampai saat ini tetap dianggap sebagai salah satu peletak tiang pancang eksistensi Bandung Underground. Ada pula band indiepop klasik seperti Kubik atau Cherry Bombshell.
Meski demikian, kita tidak bisa menyalahkan persepsi khalayak jika Bandung Underground diidentikan dengan band-band bising. Sebab, salah satu momen yang membuat istilah Bandung Underground berkibar kencang seperti sekarang memang berkat imbas kesuksesan sebuah gigs metal bernama Bandung Underground.
KELAHIRAN
Sebuah literatur menyebutkan, istilah underground sudah dipakai di Majalah Aktuil pada 70-an. Istilah itu muncul untuk mendeskripsikan sebuah gaya bermusik dengan memainkan lagu-lagu kencang yang substansinya amat sarat dengan perlawanan terhadap sistem nan mapan. Tentu saja saat itu istilah Bandung Underground belum muncul atau setenar sekarang. Meski demikian, kota kembang tetap mengirimkan wakilnya ke garda depan saat khalayak bicara musik underground. Ada grup bernama Super Kid dan Giant Step, dua band legendaris yang sangat diperhitungkan dalam sejarah rock tanah air. Mereka dianggap ‘gerilyawan’ pengacau patron industri musik tanah air yang saat itu didominasi lagu-lagu pembangkit buluh perindu.
Super Kid dan Giant Step tidak sendirian dalam meletakkan fondasi musik ala bawah tanah. Ada AKA dan SAS dari Surabaya, Terencem dari Solo, sampai grup rock paling legendaris di tanah air, God Bless, yang mengibarkan bendera ibu kota. Dan kita sama sekali tidak bisa memungkiri, merekalah yang meletakkan kisi-kisi subkultur bermusik ala underground. Setidaknya mereka telah mengajak generasi muda untuk memberontak terhadap nilai-nilai kolot yang mengungkung kreativitas.
Beruntunglah, apa yang mereka bangun tidak sampai kehilangan benang merah terhadap generasi setelahnya. Khususnya di Bandung, apa yang sudah diretas The Rollies, Super Kid, atau Giant Step, diteruskan oleh anak-anak muda generasi 90-an. Salah satu embrio terpenting scene Bandung Underground diyakini lahir dari Studio Reverse, yang terletak di daerah Sukasenang. Adalah Richard Mutter dan Helvi, dua figur penting di balik lahirnya Reverse. Studio ini dianggap penting bukan hanya karena menyediakan tempat berlatih buat band-band bising. Reverse memegang peran krusial dalam sejarah Bandung Underground saat mendirikan distro yang menyediakan pernak-pernik musik dari mancanegara. Kaset, CD, kaos, poster, dan lain-lain, tersedia di sana. Dengan cara itu, ibaratnya, Reverse membukakan jalan bagi para scenester untuk bersinggungan dengan dunia luar.
Richard kemudian menindaklanjuti sumbangsih penting buat scene dengan mendirikan Pas Band dan label rekaman independen dengan nama unik, 40.1.24. Pas Band ditahbiskan sebagai grup munggaran di Indonesia yang merilis album secara independen pada 1993. Album mereka bertajuk Four Through The S.A.P mencuri perhatian setiap orang yang punya gendang telinga tebal dan tak heran bila 5000 keping kasetnya tandas diburu orang dalam waktu satu setengah kejap.
Empat tahun kemudian, masih dengan bendera 40.1.24, Richard juga merilis sebuah mahakarya kompilasi yang diberi tajuk Masaindahbangetsekalipisan. Kompilasi ini layak disebut mahakarya bukan hanya karena memuat band-band anjisuranjis-edunsuredun macam Burgerkill dan Puppen, tapi juga menyodorkan sebuah inisiasi kepada publik mundial bahwa aing ge bisa nyieun nu kieu!
Tanpa konsep distribusi yang muluk dan ribet, gaung Four Through The S.A.P dan Masaindahbangetsekalipisan tembus ke mana-mana. Pada waktu bersamaan, sebuah stasiun radio yang tak kalah anjisuranjis-edunsuredun bernama GMR (singkatan dari Generasi Muda Radio), tengah mengibarkan bendera ke angkasa dengan sekencang-kencangnya. Peran Radio GMR sangat krusial sebagai media penyambung antara band dan anak muda bergendang telinga tebal. Inilah radio yang secara konsisten menyediakan frekuensinya untuk disesakki musik-musik bising melulu. Lagu-lagu dari kedua album tersebut nyaris saban hari menderu-deru di frekuensi 104.4 FM.
Ketika spasi buat musik ultragaduh di tempat lain masih sangat dikebiri, GMR dengan lantang memutar lagu-lagu dari band dengan nama-nama asing. Bukan hanya rilisan dari band lokal, tapi juga grup dari luar negeri. Radio inilah yang membuat barudak kota kembang cepat akrab dengan grup seperti Carcass, Benediction, Gorfest, dan sejibun band inspiratif lain. Sebuah kondisi yang tak terjadi di tempat lain. GMR juga punya kepedulian maksimal jadi media publikasi verbal rilisan-rilisan lokal. Bahkan rilisan amatir pun mereka mau memutarkannya (Catatan: tentang GMR akan dibahas khusus pada bagian lain).
SCENE
Di antara sejumlah faktor yang membuat Bandung Underground cepat besar, komunitas adalah faktor yang sangat penting — kalau tidak boleh menyebut paling penting. Merekalah yang menyemai embrio dan memeliharanya agar terus hidup di antara himpitan setumpuk persoalan.
Walaupun dianggap sebagai ikon komersial, pusat pertokoan Bandung Indah Plaza (BIP) ternyata punya peran penting dalam sejarah Bandung Underground. Tempat ini jadi kilometer nol kelahiran sebuah komunitas sangat klasik yang menamakan diri Bandung Death Metal Area alias Badebah. Komunitas ini lahir di tangan para penggila thrash, death metal, dan grindcore. Prokalamator komunitas ini adalah Uwo, vokalis band Funeral asal Sukaasih, Ujungberung. Di samping Funeral, para personel band Jasad dan Necromancy juga secara intens menggerakkan scene ini.
Babedah tumbuh tanpa disekat perbedaan aliran musik, sebab kemudian barudak dari bermacam latar belakang pun turut bergabung. Bendera Badebah makin berkibar setelah dijadikan program siaran di Radio Salam Rama Dwihasta yang bermarkas di Sukaasih, Ujungberung. Di tangan kuartet penyiar Agung-Dinan-Uwo-Iput, program ini mengudara pada rentang 1992 hingga 1993 dan sertamerta jadi primadona. Ukurannya sederhana: 200 sampai 300 pucuk kartu pos mampir ke markas Radio Salah Rama Dwihasta saban pekan. Eusina macem-macem, mulai menta lagu nepi ka nitip salam keur dulur nu lain.
Di tempat berbeda, barudak lain juga membangun komunitas masing-masing atau bergabung dengan komunitas yang sudah terbentuk. Para scenester tidak hanya menjadikan komunitas-komunitas ini sebagai tempat nongkrong. Mereka juga menjadikan komunitas sebagai sarana untuk membangun jejaring dan mengembangkan ide.
Barudak Ujungberung lagi-lagi berada di garda depan. Di sebuah studio musik bernama Palapa, insting bergaul hanya untuk jadi ajang nongkrong pengisi waktu senggang, pelahan-lahan dikoreksi sehingga membuahkan hasil yang lebih produktif. Setelah ritual nongkrong sudah dianggap mentok dan tidak menghasilkan apa-apa, mereka kemudian membentuk Extreme Noise Grinding (ENG). ENG sukses membuka jaringan ke mana-mana, sampai ke luar kota bahkan mancanegara.
ENG membuat konsep berkomunitas jadi lebih terarah. Salah satu sumbangsih terbesar ENG adalah gigs metal yang sangat fenomenal bernama Bandung Berisik. Zine Revograms yang dirilis kali pertama pada Maret 1995 bisa menghajar mata scenester juga berkat ENG. Revograms sangat inspirasional karena jadi zine underground munggaran di tanah air.
Kelebihan ENG ada pada kemampuannya memberdayakan lingkungan. Mereka tidak hanya menempa anggota komunitas dalam hal bagaimana bermusik yang baik. Alhasil, ENG sanggup ngigelan jaman. Scene ini kemudian bersulih rupa jadi Homeless Crew yang sangat identik dengan Ujungberung. Nama Homeless Crew dicetuskan Ivan Scumbag sebagai manifestasi penolakan terhadap (lagi-lagi) kemapanan.
Tahun 1997, sejumlah band yang aktif di Homeless Crew sepakat merilis kompilasi Ujungberung Rebels yang ultrahistorikal di bawah bendera Independen Records. Kompilasi ini tak memuat hal lain kecuali musik ultragaduh dari band-band edan yang di kemudian hari semuanya jadi metalhead. Sedemikian historikalnya Ujungberung Rebels, sehingga tak ada satu pun band yang ikut dalam kompilasi ini yang tidak menjadi legenda. Tak heran bila publik menjadikan kompilasi ini sebagai salah satu relief sejarah terpenting Bandung Underground.
Saking besarnya efek kompilasi Ujungberung Rebels, barudak Homeless Crew pun kadang disebut Ujungberung Rebels. Sampai sekarang, komunitas ini tanpa henti melahirkan band dan musik yang mematikkan.
GIGS
Bandung Underground mencapai puncak kejayaan ketika GOR Saparua secara berkala menggelar gigs. Inilah tempat yang menjadi titik api Bandung Underground. Semangat bermusik yang diusung masing-masing komunitas mengalir dan bermuara ke GOR Saparua. Di sinilah nama-nama angker seperti Puppen, Jasad, Forgotten, Burgerkill, Jeruji, Blind to See, Balcony, Turtle Jr., Koil, dan sederet nama lain, dibaptis jadi wakil generasi terbaik Bandung Underground.
Nonton gigs di GOR Saparua lantas menjadi ritus wajib bagi para scenester. Saban akhir pekan GOR tersebut ibarat muara tempat bertemunya berbagai kepentingan, mulai dari vokalis band yang hendak merentang otot leher, pagawai drum yang gatal ingin menghajar snar sekencang-kencangnya, sampai hasrat penonton yang ingin memeras keringat di dalam GOR Saparua yang ventilasinya teu bisa disebut alus. Dan jangan lupakan satu hal, di sana ada pula geliat ekonomi. Sebab, faktanya sejumlah gigs di GOR Saparua berhasil mengeruk keuntungan materi yang lumayan. Belum lagi kiprah para penjaja makanan dan minuman ringan serta calo tiket.
Yeahhh… Saparua kadung identik dengan Bandung Underground, padahal gigs serupa sebenarnya kerap pula dihelat di tempat lain. Semuanya berawal dari Hullaballo I yang digelar pada 1994. Inilah tombol pelatuk yang memicu pentas-pentas musik underground. Bandung Underground, Gorong-Gorong, Campur Aduk, Bandung Berisik, Boomer Underground, atau Master of Underground, tak akan mudah dilupakan siapa pun yang pernah menyaksikannya. Bayangkan, GOR Saparua yang kapasitasnya tidak seberapa, penuh sesak sampai teu bisa usik saat pentas-pentas tersebut digelar.
Namun saat GOR Saparua semarak dengan gigs edan, di sisi lain terjadi sebuah ironi. Hegemoni band-band seperti Burgerkill atau Puppen (sekadar menyebut nama) atas panggung GOR Saparua, membuat banyak grup kecil tak memperoleh kesempatan memadai untuk mengecap sangarnya beraksi di sana.
Sebagai bentuk perlawanan, kemudian lahirlah pola gigs kolektif di awal 2000-an. Band yang tak kunjung mendapat kesempatan tampil di GOR Saparua, berinisiatif menggelar gigs mandiri. Caranya, setiap band yang mau tampil urunan sejumlah uang. Uang yang terkumpul lalu dijadikan modal untuk menyewa alat dan tempat. Di sana mereka main sepuasnya dan memekikkan kalimat: gigs aing kumaha aing!
Karena kadung mengusung semangat D.I.Y, tiket dijual dengan banderol pikaseurieun. Ada gigs yang menjuat tiket dengan harga dua rebu perak. Dan biasanya tiket dijual tidak terlalu lama. Setelah itu, penonton bisa ngabres bebas asup.
Masa keemasan GOR Saparua langsung menguap saat pemerintah kota tidak lagi memberi ijin menggelar pertunjukkan di sana. Praktis, barudak Bandung pun kesulitan mencari tempat untuk menggelar pentas. Pola gigs kolektif pun kian mendapat angin. Jika sebelumnya menyewa tempat-tempat murah seperti gudang tak terpakai atau garasi mobil rumah seorang kawan, polanya kemudian beralih dengan cara menyewa studio musik. Uangnya lagi-lagi hasil urunan band yang tampil. Gigs semacam ini biasa disebut studio show. Studio Jawara di bilangan Jalan Lengkong Besar hampir tiap pekan merelakan ruangan sempitnya dipakai pogo dan anjrut-ajrutan. Juga Studio Grama di Jalan Cihampelas dan Studio Elang di dekat kawasan Bandara Husen Sastranegara.
Pola gigs kolektif atau studio show semakin jadi pilihan paling realitis setelah meletus Tragedi AACC pada 9 Februari 2008. Sebelas anak muda tewas dalam acara peluncuran album Beside. Inilah titik nadir sejarah gigs Bandung Underground. Untuk beberapa waktu acara musik bising di kota kembang seperti mati suri.
Meski demikian, semangat untuk menggelar acara tak pernah padam hanya gara-gara pemerintah memberlakukan ketentuan ekstra ketat dalam mengeluarkan ijin pagelaran. Setahun berselang, pelahan-lahan sejumlah komunitas mulai bisa menggagas dan menggelar kembali gigs skala besar. Salah satu yang tetap langgeng adalah Death Fest, kendati dalam dua kali pagelaran harus dilaksanakan di kompleks tentara. Bahkan memasuki tahun 2011, gigs metal pelahan-lahan kembali semarak, termasuk bangkitnya Bandung Berisik yang sudah tertidur selama lima tahun.
RILISAN
Ketika hasrat menggelar gigs terbentur bermacam hal, semangat merilis karya musik tetap tumbuh subur. Meski di lain pihak, seperti dikatakan empunya Riotic Record Dadan Ketu, “Ngarilis album band underground mah tong ngarep untung! Ieu mah urusan hate!”.
Dalam hal ini, sekali lagi, kita harus berterima kasih kepada Richard Mutter dengan label 40.1.24-nya yang telah merilis kompilasi Masaindahbangetsekalipisan pada 1993. Inilah rilisan yang menginspirasi siapa pun tanpa kecuali.
Tapi, jangan pernah lupakan kompilasi Injak Balik yang dirilis pada 1997 dalam bentuk piringan piringan hitam oleh label asal Perancis, Tian An Men 89 Records. Popularitasnya memang tidak semenjulang Masaindahbangetsekalipisan atau Ujungberung Rebel, namun rilisan yang hanya dicetak 500 kopi ini layak digolongkan sebagai tonggak sejarah. Injak Balik memuat lagu dari Puppen, Runtah, Jeruji, Piece of Cake, Deadly Ground, Savor of Filth, Turtles Jr., dan All Stupid. Dan yang terpenting, Injak Balik asilnya bisa didengarkan dengan gramafon karena berformat vinyl. Sebuah sensasi luar biasa buat siap pun yang memilikinya!
Tahun 1997, Riotic Records mengeluarkan Bandung’s Burning-Bandung Punk Rock Storm Volume 1 yang menghajar gendang telinga dengan suguhan rawk dari sederet band ikon punk seperti Keparat, Jeruji, Runtah, Rotten to the Core, Turtle Jr., Total Riot, dan The Bollocks. Tiga belas tahun berselang, Bandung’s Burning Volume 2 dirilis. Kali ini dengan semangat perlawanan lebih gigih.
Sebuah kompilasi yang sangat eksklusif karena hanya digandakan seratus keping turut mewarnai generasi pertama Bandung Underground. Album tersebut diberi tajuk Bandung Holocaust, kompilasi sederet band crustcore, dirilis Holocaust Records pada 1997.
Dari kubu indiepop, Fast Forward (FFWD) Records, yang kebetulan milik Helvi, tak mau kalah langkah. Bahkan label ini sudah merintis rilisan band dari luar negeri sejak 1999. The Chinkees dari Amerika, Cerry Orchard (Perancis), dan 800 Cheries, adalah gelombang pertama band dari mancanegara yang albumnya didistribusikan FFWD di pasar lokal. FFWD secara konsisten mempertahankan gayanya sampai sekarang.
Oh ya… bicara soal rilisan, jangan kesampingkan Extreme Soul Productions (ESP). Menggunakan nama ESP Records, label milik Iwan D ini sudah mulai merintis album-album dari band beraliran deathmetal dan sebangsanya sejak 1996. Baik band luar negeri, terlebih lagi grup domestik. Salah satu produk prestisius dari ESP adalah kompilasi band-band ultragaduh bertajuk Brutally Sickness. Sempat tertidur beberapa waktu, Iwan kembali membesut ESP sejak 2009.
Di samping kompilasi, sejak Puppen melepas This Is Not a Puppen EP dan Pas Band merilis Four Through The S.A.P, rilisan album dari band-band lain tak pernah berhenti mengalir. Sampai detik ini. Demikian pula dengan label rekaman, tak kalah semarak dengan kemunculan grup-grup musik anyar. Yang paling mutakhir adalah Rottrevore Records yang gigih menjembatani kinarya grup-grup metal untuk kemudian menjadikannya sebuah produk yang bisa menyelusup ke balik gendang telinga.
ZINE, LITERATUR, KAOS
Jika Reverse dan label 40.1.24 jadi pionir dalam urusan rekaman, maka fondasi penting dalam hal literasi adalah Revograms. Adalah Dinan — vokalis Sonic Torment — yang membidani kelahiran zine ini tahun 1995. Inilah batu pertama budaya literasi Bandung Underground yang menginspirasi terbitnya puluhan, bahkan ratusan, newsletter di kemudian hari.
Jika sekarang orang lebih banyak membicarakan Trolley atau Ripple sebagai bagian penting budaya literasi Bandung Underground, itu karena dua zine ini lahir dalam kemasan aduhai. Berbeda dengan kebanyak zine yang hanya foto kopian. Padahal di luar Trolley atau Ripple, terlalu banyak zine bagus yang sangat berpengaruh. Sebut saja Tigabelas, Membakar Batas, atau Beyond Barbed Wire yang sangat provokatif itu.
Belakangan budaya tulis mulai menapaki undakan lebih baik dengan berdirinya toko-toko buku keren seperti Tobucil, Ultimus, Rumah Buku, dan Omuniuum. Bahkan kemudian muncul pula Minor Books, sebuah penerbitan yang digagas orang-orang gila dengan komitmen gila pula. Satu masterpiece Minor Books adalah buku biografi Ivan Scumbag berjudul Myself: Scumbag Beyond Life and Death karya Kimung yang terbit pada 2007.
Semangat mengekspresikan ghirah bermusik ke dalam bentuk literatur berbanding lurus dengan geliat ekonomi di bidang merchandise band, dalam hal ini kaos. Industri clothing yang tumbuh secara masif membuat band mudah meliris merchandise. Dibanding album musik atau zine, harus diakui, merilis merchandise adalah cara paling pragmatis untuk menyambung napas band itu sendiri.
Pada akhirnya, Bandung Underground memang bukan sekadar musik ultragaduh, rilisan album, zine, atau lain-lain. Lebih dari itu, Bandung Underground adalah lapangan tempat menyiasati hidup yang kadung disumpeki setumpuk sistem yang kadang tidak cocok dengan keinginan ideal kita. Tapi bukankah itu sebuah kesadaran yang tak boleh padam, agar Bandung Underground terus langgeng ti baheula nepi ka ayeuna jeung salawasna! Hail yeahhh!!! (disarikan dari berbagai sumber)
BARUDAK Bandung selalu punya cara tersendiri untuk berinteraksi dengan jamannya. Generasi Gito Rollies dan Deddy Stanzah, misalnya, menunjukkan spirit pemberontakan mereka dengan menganut gaya hidup urakan-ugal-ugalan. Sambil, tentu saja, tidak lupa berlaku-pagu via musik. Dan rock ‘n roll dipilih menjadi rel untuk menghela gerbong gejolak jiwa mereka.
Generasi Gito Rollies dikenal sangat badung. Tapi faktanya prestasi mereka dalam bermusik sangat istimewa. Itulah yang menyebabkan kebadungan mereka bisa ditolerir sejarah. Bahkan sejarah malah berbalik menyanjung mereka sebagai figur-figur prestisius.
Lebih-kurang dua dekade setelah era keemasan angkatan Gito Rollies dan Deddy Stanzah berlalu, generasi muda Bandung menganut cara lain dalam menunjukkan eksistensinya. Ketika ruang arusutama didominasi kemestian bernama komodifikasi yang selalu berbaju proyeksi mengejar keuntungan materi semata — sehingga tidak memberi spasi memadai buat spirit lain di luar itu, mereka memilih jalan lain dalam mengekspresikan letupan-letupan liar dalam benak mereka. Letupan-letupan itu awalnya mengecambah secara sendiri-sendiri di titik-titik tertentu. Maka kemudian, tumbuhlah beberapa kantung komunitas. Sekadar menyebut, ada komunitas TU yang biasa nongkrong di Jalan Teuku Umar. Band-band semacam Balcony atau Take A Stand mengerek komunitas ini. Komunitas ini kemudian melahirkan kompilasi historikal bertajuk Brain Baverages.
Ada juga komunitas Balkot yang doyan nangkring di Balai Kota Bandung. Di samping fokus pada musik, mereka ini punya kecenderungan mengakrabi olahraga ekstrem skateboarding. Mungkin ini ada kaitannya dengan saujana Balkot yang memang cukup asoy dijadikan tempat bermain papan luncur. Bahkan di kemudian hari komunitas ini mengidentifikasikan diri sebagai salah satu scene yang meletakkan fondasi subkultur skateboarding di kota kembang.
Sampai kemudian di era mutakhir awal 2000-an, masih di Balkot, muncul pula komunitas lain bernama Kolektif Balkot Jam Lima Sore. Komunitas yang bersulih nama menjadi Balkot Terror Project ini adalah sebuah gerakan kolektif yang dibangun secara sel dengan semangat memelihara kemurnian ideologi bermusik. Di mata mereka, betapa pun arus komodifikasi terhadap scene sudah sedemikian dahsyat dan merongrong idealisme, gelombang komersialisasi tetap harus dilawan dengan segenap upaya (catatan: untuk Kolektif Balkot Jam Lima Sore akan dibahas dalam tulisan khusus).
Semangat D.I.Y (Do It Yourself) pun jadi pilihan. Mereka menggelar gigs atau mengeluarkan rilisan — baik album maupun newsletter — secara permana dan murni swadaya. Gigs digelar dengan cara kolektif, dalam arti setiap band yang main harus urunan untuk sekadar menyewa alat musik dan tempat. Sebuah solusi yang kemudian jadi pilihan ketika minta ijin untuk menggelar acara sepelik mencari jarum di padang ilalang. Sementara rilisan dikemas sesederhana mungkin, nu penting kumaha carana lagu uing bisa didengekeun ku batur. Pola penggandaan CD dengan menggunakan personal komputer pun kerap ditempuh dan lantas dijual dengan harga: ceban!!!
Jangan lupakan pula sekelompok pengusung idealisme dan ideologi punk yang sampai sekarang tetap panceg dina galur berinteraksi dengan sejawatnya di sekitar kawasan perbelanjaan Bandung Indang Plaza (BIP). Jangan pernah menganggap sepele kontribusi mereka dalam meletakkan fondasi Bandung Underground. Salah satu gigs bersejarah bernama Gorong-Gorong Bandung dicetuskan Dadan Ketu, salah seorang peretas komunitas tersebut.
Bukan hanya gigs Gorong-Gorong, Dadan Ketu bersama PI Crew — nama lain dari komunitas BIP — menancapkan pula tonggak lain bernama Bandung’s Burning. Sebuah rilisan berisi kompilasi sejumlah band punk yang mencatat sukses luar biasa. Band-band seperti Jeruji, Runtah, The Bollocks, atau Keparat, harus diakui, terkerek namanya berkat kompilasi yang dirilis menggunakan label Riotic Records itu.
Dan voila… komunitas paling fenomenal tentu saja Ujungberung Rebel. Komunitas ini tumbuh sedemikian rupa jadi kisi-kisi penting harakah musik bawah tanah kota kembang. Tidak hanya komitmen tinggi panceg dina galur memainkan musik-musik ultragaduh, di sana juga ada geliat ekonomi kreatif-kerakyatan mulai dari jualan kaus, tukang sablon, sampai mendirikan perusahan rekaman independen yang sangat marak. Harus kita akui, komunitas inilah yang mencancapkan fondasi, pengaruh, dan kontribusi paling besar terhadap Bandung Underground.
Tak bisa dipungkiri, kantung-kantung komunitas itulah yang menjadi noktah-noktah penyangga dari sebuah fenomena bernama Bandung Underground. Sebuah fenomena peradaban yang gaungnya kini tidak hanya terdengar di ranah nasional, melainkan juga sudah merambah sampai ke mancanegara. Sayangnya, subkultur ini harus menjalani masa-masa paling sulit sejak awal 2008. Tepatnya selepas tragedi AACC yang ditandai meregangnya sebelas orang nyawa dalam acara peluncuran album perdana Beside.
Satu hal penting yang mesti digarisbawahi, betapa pun identik dengan band-band bising, keliru juga jika kita menganggap Bandung Underground melulu dihuni dan dibesarkan oleh band-band punk, hardcore, metal, jeung sajabana. Sejumlah godfather yang meletakkan fondasi Bandung Underground justru tidak memainkan musik metal. Sebut saja Richard Mutter. Bersama Yukie, Bengbeng, dan Trisno di Pas Band, Richard tidak memainkan metal sefrontal yang diperagakan Sonictorment, Forgotten, atau Jasad. Demikian pula dengan Pure Saturday yang sampai saat ini tetap dianggap sebagai salah satu peletak tiang pancang eksistensi Bandung Underground. Ada pula band indiepop klasik seperti Kubik atau Cherry Bombshell.
Meski demikian, kita tidak bisa menyalahkan persepsi khalayak jika Bandung Underground diidentikan dengan band-band bising. Sebab, salah satu momen yang membuat istilah Bandung Underground berkibar kencang seperti sekarang memang berkat imbas kesuksesan sebuah gigs metal bernama Bandung Underground.
KELAHIRAN
Sebuah literatur menyebutkan, istilah underground sudah dipakai di Majalah Aktuil pada 70-an. Istilah itu muncul untuk mendeskripsikan sebuah gaya bermusik dengan memainkan lagu-lagu kencang yang substansinya amat sarat dengan perlawanan terhadap sistem nan mapan. Tentu saja saat itu istilah Bandung Underground belum muncul atau setenar sekarang. Meski demikian, kota kembang tetap mengirimkan wakilnya ke garda depan saat khalayak bicara musik underground. Ada grup bernama Super Kid dan Giant Step, dua band legendaris yang sangat diperhitungkan dalam sejarah rock tanah air. Mereka dianggap ‘gerilyawan’ pengacau patron industri musik tanah air yang saat itu didominasi lagu-lagu pembangkit buluh perindu.
Super Kid dan Giant Step tidak sendirian dalam meletakkan fondasi musik ala bawah tanah. Ada AKA dan SAS dari Surabaya, Terencem dari Solo, sampai grup rock paling legendaris di tanah air, God Bless, yang mengibarkan bendera ibu kota. Dan kita sama sekali tidak bisa memungkiri, merekalah yang meletakkan kisi-kisi subkultur bermusik ala underground. Setidaknya mereka telah mengajak generasi muda untuk memberontak terhadap nilai-nilai kolot yang mengungkung kreativitas.
Beruntunglah, apa yang mereka bangun tidak sampai kehilangan benang merah terhadap generasi setelahnya. Khususnya di Bandung, apa yang sudah diretas The Rollies, Super Kid, atau Giant Step, diteruskan oleh anak-anak muda generasi 90-an. Salah satu embrio terpenting scene Bandung Underground diyakini lahir dari Studio Reverse, yang terletak di daerah Sukasenang. Adalah Richard Mutter dan Helvi, dua figur penting di balik lahirnya Reverse. Studio ini dianggap penting bukan hanya karena menyediakan tempat berlatih buat band-band bising. Reverse memegang peran krusial dalam sejarah Bandung Underground saat mendirikan distro yang menyediakan pernak-pernik musik dari mancanegara. Kaset, CD, kaos, poster, dan lain-lain, tersedia di sana. Dengan cara itu, ibaratnya, Reverse membukakan jalan bagi para scenester untuk bersinggungan dengan dunia luar.
Richard kemudian menindaklanjuti sumbangsih penting buat scene dengan mendirikan Pas Band dan label rekaman independen dengan nama unik, 40.1.24. Pas Band ditahbiskan sebagai grup munggaran di Indonesia yang merilis album secara independen pada 1993. Album mereka bertajuk Four Through The S.A.P mencuri perhatian setiap orang yang punya gendang telinga tebal dan tak heran bila 5000 keping kasetnya tandas diburu orang dalam waktu satu setengah kejap.
Empat tahun kemudian, masih dengan bendera 40.1.24, Richard juga merilis sebuah mahakarya kompilasi yang diberi tajuk Masaindahbangetsekalipisan. Kompilasi ini layak disebut mahakarya bukan hanya karena memuat band-band anjisuranjis-edunsuredun macam Burgerkill dan Puppen, tapi juga menyodorkan sebuah inisiasi kepada publik mundial bahwa aing ge bisa nyieun nu kieu!
Tanpa konsep distribusi yang muluk dan ribet, gaung Four Through The S.A.P dan Masaindahbangetsekalipisan tembus ke mana-mana. Pada waktu bersamaan, sebuah stasiun radio yang tak kalah anjisuranjis-edunsuredun bernama GMR (singkatan dari Generasi Muda Radio), tengah mengibarkan bendera ke angkasa dengan sekencang-kencangnya. Peran Radio GMR sangat krusial sebagai media penyambung antara band dan anak muda bergendang telinga tebal. Inilah radio yang secara konsisten menyediakan frekuensinya untuk disesakki musik-musik bising melulu. Lagu-lagu dari kedua album tersebut nyaris saban hari menderu-deru di frekuensi 104.4 FM.
Ketika spasi buat musik ultragaduh di tempat lain masih sangat dikebiri, GMR dengan lantang memutar lagu-lagu dari band dengan nama-nama asing. Bukan hanya rilisan dari band lokal, tapi juga grup dari luar negeri. Radio inilah yang membuat barudak kota kembang cepat akrab dengan grup seperti Carcass, Benediction, Gorfest, dan sejibun band inspiratif lain. Sebuah kondisi yang tak terjadi di tempat lain. GMR juga punya kepedulian maksimal jadi media publikasi verbal rilisan-rilisan lokal. Bahkan rilisan amatir pun mereka mau memutarkannya (Catatan: tentang GMR akan dibahas khusus pada bagian lain).
SCENE
Di antara sejumlah faktor yang membuat Bandung Underground cepat besar, komunitas adalah faktor yang sangat penting — kalau tidak boleh menyebut paling penting. Merekalah yang menyemai embrio dan memeliharanya agar terus hidup di antara himpitan setumpuk persoalan.
Walaupun dianggap sebagai ikon komersial, pusat pertokoan Bandung Indah Plaza (BIP) ternyata punya peran penting dalam sejarah Bandung Underground. Tempat ini jadi kilometer nol kelahiran sebuah komunitas sangat klasik yang menamakan diri Bandung Death Metal Area alias Badebah. Komunitas ini lahir di tangan para penggila thrash, death metal, dan grindcore. Prokalamator komunitas ini adalah Uwo, vokalis band Funeral asal Sukaasih, Ujungberung. Di samping Funeral, para personel band Jasad dan Necromancy juga secara intens menggerakkan scene ini.
Babedah tumbuh tanpa disekat perbedaan aliran musik, sebab kemudian barudak dari bermacam latar belakang pun turut bergabung. Bendera Badebah makin berkibar setelah dijadikan program siaran di Radio Salam Rama Dwihasta yang bermarkas di Sukaasih, Ujungberung. Di tangan kuartet penyiar Agung-Dinan-Uwo-Iput, program ini mengudara pada rentang 1992 hingga 1993 dan sertamerta jadi primadona. Ukurannya sederhana: 200 sampai 300 pucuk kartu pos mampir ke markas Radio Salah Rama Dwihasta saban pekan. Eusina macem-macem, mulai menta lagu nepi ka nitip salam keur dulur nu lain.
Di tempat berbeda, barudak lain juga membangun komunitas masing-masing atau bergabung dengan komunitas yang sudah terbentuk. Para scenester tidak hanya menjadikan komunitas-komunitas ini sebagai tempat nongkrong. Mereka juga menjadikan komunitas sebagai sarana untuk membangun jejaring dan mengembangkan ide.
Barudak Ujungberung lagi-lagi berada di garda depan. Di sebuah studio musik bernama Palapa, insting bergaul hanya untuk jadi ajang nongkrong pengisi waktu senggang, pelahan-lahan dikoreksi sehingga membuahkan hasil yang lebih produktif. Setelah ritual nongkrong sudah dianggap mentok dan tidak menghasilkan apa-apa, mereka kemudian membentuk Extreme Noise Grinding (ENG). ENG sukses membuka jaringan ke mana-mana, sampai ke luar kota bahkan mancanegara.
ENG membuat konsep berkomunitas jadi lebih terarah. Salah satu sumbangsih terbesar ENG adalah gigs metal yang sangat fenomenal bernama Bandung Berisik. Zine Revograms yang dirilis kali pertama pada Maret 1995 bisa menghajar mata scenester juga berkat ENG. Revograms sangat inspirasional karena jadi zine underground munggaran di tanah air.
Kelebihan ENG ada pada kemampuannya memberdayakan lingkungan. Mereka tidak hanya menempa anggota komunitas dalam hal bagaimana bermusik yang baik. Alhasil, ENG sanggup ngigelan jaman. Scene ini kemudian bersulih rupa jadi Homeless Crew yang sangat identik dengan Ujungberung. Nama Homeless Crew dicetuskan Ivan Scumbag sebagai manifestasi penolakan terhadap (lagi-lagi) kemapanan.
Tahun 1997, sejumlah band yang aktif di Homeless Crew sepakat merilis kompilasi Ujungberung Rebels yang ultrahistorikal di bawah bendera Independen Records. Kompilasi ini tak memuat hal lain kecuali musik ultragaduh dari band-band edan yang di kemudian hari semuanya jadi metalhead. Sedemikian historikalnya Ujungberung Rebels, sehingga tak ada satu pun band yang ikut dalam kompilasi ini yang tidak menjadi legenda. Tak heran bila publik menjadikan kompilasi ini sebagai salah satu relief sejarah terpenting Bandung Underground.
Saking besarnya efek kompilasi Ujungberung Rebels, barudak Homeless Crew pun kadang disebut Ujungberung Rebels. Sampai sekarang, komunitas ini tanpa henti melahirkan band dan musik yang mematikkan.
GIGS
Bandung Underground mencapai puncak kejayaan ketika GOR Saparua secara berkala menggelar gigs. Inilah tempat yang menjadi titik api Bandung Underground. Semangat bermusik yang diusung masing-masing komunitas mengalir dan bermuara ke GOR Saparua. Di sinilah nama-nama angker seperti Puppen, Jasad, Forgotten, Burgerkill, Jeruji, Blind to See, Balcony, Turtle Jr., Koil, dan sederet nama lain, dibaptis jadi wakil generasi terbaik Bandung Underground.
Nonton gigs di GOR Saparua lantas menjadi ritus wajib bagi para scenester. Saban akhir pekan GOR tersebut ibarat muara tempat bertemunya berbagai kepentingan, mulai dari vokalis band yang hendak merentang otot leher, pagawai drum yang gatal ingin menghajar snar sekencang-kencangnya, sampai hasrat penonton yang ingin memeras keringat di dalam GOR Saparua yang ventilasinya teu bisa disebut alus. Dan jangan lupakan satu hal, di sana ada pula geliat ekonomi. Sebab, faktanya sejumlah gigs di GOR Saparua berhasil mengeruk keuntungan materi yang lumayan. Belum lagi kiprah para penjaja makanan dan minuman ringan serta calo tiket.
Yeahhh… Saparua kadung identik dengan Bandung Underground, padahal gigs serupa sebenarnya kerap pula dihelat di tempat lain. Semuanya berawal dari Hullaballo I yang digelar pada 1994. Inilah tombol pelatuk yang memicu pentas-pentas musik underground. Bandung Underground, Gorong-Gorong, Campur Aduk, Bandung Berisik, Boomer Underground, atau Master of Underground, tak akan mudah dilupakan siapa pun yang pernah menyaksikannya. Bayangkan, GOR Saparua yang kapasitasnya tidak seberapa, penuh sesak sampai teu bisa usik saat pentas-pentas tersebut digelar.
Namun saat GOR Saparua semarak dengan gigs edan, di sisi lain terjadi sebuah ironi. Hegemoni band-band seperti Burgerkill atau Puppen (sekadar menyebut nama) atas panggung GOR Saparua, membuat banyak grup kecil tak memperoleh kesempatan memadai untuk mengecap sangarnya beraksi di sana.
Sebagai bentuk perlawanan, kemudian lahirlah pola gigs kolektif di awal 2000-an. Band yang tak kunjung mendapat kesempatan tampil di GOR Saparua, berinisiatif menggelar gigs mandiri. Caranya, setiap band yang mau tampil urunan sejumlah uang. Uang yang terkumpul lalu dijadikan modal untuk menyewa alat dan tempat. Di sana mereka main sepuasnya dan memekikkan kalimat: gigs aing kumaha aing!
Karena kadung mengusung semangat D.I.Y, tiket dijual dengan banderol pikaseurieun. Ada gigs yang menjuat tiket dengan harga dua rebu perak. Dan biasanya tiket dijual tidak terlalu lama. Setelah itu, penonton bisa ngabres bebas asup.
Masa keemasan GOR Saparua langsung menguap saat pemerintah kota tidak lagi memberi ijin menggelar pertunjukkan di sana. Praktis, barudak Bandung pun kesulitan mencari tempat untuk menggelar pentas. Pola gigs kolektif pun kian mendapat angin. Jika sebelumnya menyewa tempat-tempat murah seperti gudang tak terpakai atau garasi mobil rumah seorang kawan, polanya kemudian beralih dengan cara menyewa studio musik. Uangnya lagi-lagi hasil urunan band yang tampil. Gigs semacam ini biasa disebut studio show. Studio Jawara di bilangan Jalan Lengkong Besar hampir tiap pekan merelakan ruangan sempitnya dipakai pogo dan anjrut-ajrutan. Juga Studio Grama di Jalan Cihampelas dan Studio Elang di dekat kawasan Bandara Husen Sastranegara.
Pola gigs kolektif atau studio show semakin jadi pilihan paling realitis setelah meletus Tragedi AACC pada 9 Februari 2008. Sebelas anak muda tewas dalam acara peluncuran album Beside. Inilah titik nadir sejarah gigs Bandung Underground. Untuk beberapa waktu acara musik bising di kota kembang seperti mati suri.
Meski demikian, semangat untuk menggelar acara tak pernah padam hanya gara-gara pemerintah memberlakukan ketentuan ekstra ketat dalam mengeluarkan ijin pagelaran. Setahun berselang, pelahan-lahan sejumlah komunitas mulai bisa menggagas dan menggelar kembali gigs skala besar. Salah satu yang tetap langgeng adalah Death Fest, kendati dalam dua kali pagelaran harus dilaksanakan di kompleks tentara. Bahkan memasuki tahun 2011, gigs metal pelahan-lahan kembali semarak, termasuk bangkitnya Bandung Berisik yang sudah tertidur selama lima tahun.
RILISAN
Ketika hasrat menggelar gigs terbentur bermacam hal, semangat merilis karya musik tetap tumbuh subur. Meski di lain pihak, seperti dikatakan empunya Riotic Record Dadan Ketu, “Ngarilis album band underground mah tong ngarep untung! Ieu mah urusan hate!”.
Dalam hal ini, sekali lagi, kita harus berterima kasih kepada Richard Mutter dengan label 40.1.24-nya yang telah merilis kompilasi Masaindahbangetsekalipisan pada 1993. Inilah rilisan yang menginspirasi siapa pun tanpa kecuali.
Tapi, jangan pernah lupakan kompilasi Injak Balik yang dirilis pada 1997 dalam bentuk piringan piringan hitam oleh label asal Perancis, Tian An Men 89 Records. Popularitasnya memang tidak semenjulang Masaindahbangetsekalipisan atau Ujungberung Rebel, namun rilisan yang hanya dicetak 500 kopi ini layak digolongkan sebagai tonggak sejarah. Injak Balik memuat lagu dari Puppen, Runtah, Jeruji, Piece of Cake, Deadly Ground, Savor of Filth, Turtles Jr., dan All Stupid. Dan yang terpenting, Injak Balik asilnya bisa didengarkan dengan gramafon karena berformat vinyl. Sebuah sensasi luar biasa buat siap pun yang memilikinya!
Tahun 1997, Riotic Records mengeluarkan Bandung’s Burning-Bandung Punk Rock Storm Volume 1 yang menghajar gendang telinga dengan suguhan rawk dari sederet band ikon punk seperti Keparat, Jeruji, Runtah, Rotten to the Core, Turtle Jr., Total Riot, dan The Bollocks. Tiga belas tahun berselang, Bandung’s Burning Volume 2 dirilis. Kali ini dengan semangat perlawanan lebih gigih.
Sebuah kompilasi yang sangat eksklusif karena hanya digandakan seratus keping turut mewarnai generasi pertama Bandung Underground. Album tersebut diberi tajuk Bandung Holocaust, kompilasi sederet band crustcore, dirilis Holocaust Records pada 1997.
Dari kubu indiepop, Fast Forward (FFWD) Records, yang kebetulan milik Helvi, tak mau kalah langkah. Bahkan label ini sudah merintis rilisan band dari luar negeri sejak 1999. The Chinkees dari Amerika, Cerry Orchard (Perancis), dan 800 Cheries, adalah gelombang pertama band dari mancanegara yang albumnya didistribusikan FFWD di pasar lokal. FFWD secara konsisten mempertahankan gayanya sampai sekarang.
Oh ya… bicara soal rilisan, jangan kesampingkan Extreme Soul Productions (ESP). Menggunakan nama ESP Records, label milik Iwan D ini sudah mulai merintis album-album dari band beraliran deathmetal dan sebangsanya sejak 1996. Baik band luar negeri, terlebih lagi grup domestik. Salah satu produk prestisius dari ESP adalah kompilasi band-band ultragaduh bertajuk Brutally Sickness. Sempat tertidur beberapa waktu, Iwan kembali membesut ESP sejak 2009.
Di samping kompilasi, sejak Puppen melepas This Is Not a Puppen EP dan Pas Band merilis Four Through The S.A.P, rilisan album dari band-band lain tak pernah berhenti mengalir. Sampai detik ini. Demikian pula dengan label rekaman, tak kalah semarak dengan kemunculan grup-grup musik anyar. Yang paling mutakhir adalah Rottrevore Records yang gigih menjembatani kinarya grup-grup metal untuk kemudian menjadikannya sebuah produk yang bisa menyelusup ke balik gendang telinga.
ZINE, LITERATUR, KAOS
Jika Reverse dan label 40.1.24 jadi pionir dalam urusan rekaman, maka fondasi penting dalam hal literasi adalah Revograms. Adalah Dinan — vokalis Sonic Torment — yang membidani kelahiran zine ini tahun 1995. Inilah batu pertama budaya literasi Bandung Underground yang menginspirasi terbitnya puluhan, bahkan ratusan, newsletter di kemudian hari.
Jika sekarang orang lebih banyak membicarakan Trolley atau Ripple sebagai bagian penting budaya literasi Bandung Underground, itu karena dua zine ini lahir dalam kemasan aduhai. Berbeda dengan kebanyak zine yang hanya foto kopian. Padahal di luar Trolley atau Ripple, terlalu banyak zine bagus yang sangat berpengaruh. Sebut saja Tigabelas, Membakar Batas, atau Beyond Barbed Wire yang sangat provokatif itu.
Belakangan budaya tulis mulai menapaki undakan lebih baik dengan berdirinya toko-toko buku keren seperti Tobucil, Ultimus, Rumah Buku, dan Omuniuum. Bahkan kemudian muncul pula Minor Books, sebuah penerbitan yang digagas orang-orang gila dengan komitmen gila pula. Satu masterpiece Minor Books adalah buku biografi Ivan Scumbag berjudul Myself: Scumbag Beyond Life and Death karya Kimung yang terbit pada 2007.
Semangat mengekspresikan ghirah bermusik ke dalam bentuk literatur berbanding lurus dengan geliat ekonomi di bidang merchandise band, dalam hal ini kaos. Industri clothing yang tumbuh secara masif membuat band mudah meliris merchandise. Dibanding album musik atau zine, harus diakui, merilis merchandise adalah cara paling pragmatis untuk menyambung napas band itu sendiri.
Pada akhirnya, Bandung Underground memang bukan sekadar musik ultragaduh, rilisan album, zine, atau lain-lain. Lebih dari itu, Bandung Underground adalah lapangan tempat menyiasati hidup yang kadung disumpeki setumpuk sistem yang kadang tidak cocok dengan keinginan ideal kita. Tapi bukankah itu sebuah kesadaran yang tak boleh padam, agar Bandung Underground terus langgeng ti baheula nepi ka ayeuna jeung salawasna! Hail yeahhh!!! (disarikan dari berbagai sumber)
Integriti Alone At Last Belum Habis
MARI KITA TIDAK BICARA SIKLUS SEBUAH GENRE MUSIK. TENGOKLAH ALBUM INI SEBAGAI EFFORT YANG LAIK DIJADIKAN TENGARA BAHWA ALONE AT LAST BELUM HABIS.
DUA belas lagu — termasuk intro dan satu bonus track berupa lagu lama yang diarensemen sedikit beda — yang tersaji dalam album Integriti rasanya terlalu ringkas dijadikan cermin untuk melihat perjalanan sebuah band yang berumur genap sepuluh tahun pada 2012 ini. Jika dicermati lebih saksama lagu per lagu secara subtil memang tampak jelas ada perbedaan dibanding mini album Sendiri vs Dunia (2004) atau album Jiwa (2008). Namun, album ini lebih cocok diposisikan sebagai upaya peneguhan dari Alone At Last dalam menghadapi siklus hidup ketika dunia tidak lagi sepenuhnya berada dalam genggaman. Juga lebih layak disebut keberhasilan sebuah upaya pendewasaan ketimbang nostalgia mengenang masa emas efek album Sendiri Vs Dunia dan Jiwa.
Itulah mungkin yang jadi alasan ketika Alone At Last mengangkat lagu Saat Dunia Tak Menatap Ke Arahmu sebagai singel pertama dari album Integriti. Simak dua bait lirik yang ada di pertengahan lagu tersebut… Simpan semua lirihmu lepaskan lelahmu/ besarkan hatimu jangan palingkan wajahmu/ ….
Dan faktanya mereka memang sama sekali belum memalingkan wajah dari skena yang telah membesarkan nama Alone At Last. Meskipun berulang kali mengklaim tidak pernah mengisolasi diri dengan batasan genre tertentu, Alone At Last masih berada di ordinat penting ketika orang membicarakan skena emo tanah air. Bahkan andai saja mereka tidak merilis album Integriti sekalipun.
Entah sudah diproyeksikan sejak jauh-jauh hari, Alone At Last merilis Integriti di tahun ketika umur mereka genap menginjak bilangan satu dasawarsa (Alone At Last didirikan pada 2002). Yang jelas momentum perilisan Integriti terasa sangat tepat untuk beberapa kondisi. Pertama, ketika gaung skena emo lokal sudah lagi kencang, album Integriti rasanya bisa sedikit membangkitkan nostaljik jika genre ini pernah begitu booming di tahun-tahun silam. Dalam kasus ini, Integriti bukan hanya kemasan selusin lagu. Persetan dengan apa pun yang terkandung di dalamnya, baik itu musikalitas atau substansi lirik. Yang pasti, skena emo lokal butuh album-album seperti ini dari band-band berpengaruh seperti Alone At Last.
Kedua, momen perilisan Integriti — entah disengaja atau tidak — begitu ritmis dalam segi rentang waktu. Ada rentang masing-masing empat tahun dari mini album Sendiri Vs Dunia ke album penuh Jiwa dan lalu ke Integriti.
Apakah kemudian album Integriti bakal berdampak signifikan terhadap perkembangan skena emo di tahun-tahun ke depan, itu bukan persoalan yang terlalu krusial untuk dibahas. Yang lebih penting Alone At Last telah menunjukkan sebuah effort tentang pentingnya integritas. Integritas yang telah menjadikan mereka bisa seperti sekarang.
DUA belas lagu — termasuk intro dan satu bonus track berupa lagu lama yang diarensemen sedikit beda — yang tersaji dalam album Integriti rasanya terlalu ringkas dijadikan cermin untuk melihat perjalanan sebuah band yang berumur genap sepuluh tahun pada 2012 ini. Jika dicermati lebih saksama lagu per lagu secara subtil memang tampak jelas ada perbedaan dibanding mini album Sendiri vs Dunia (2004) atau album Jiwa (2008). Namun, album ini lebih cocok diposisikan sebagai upaya peneguhan dari Alone At Last dalam menghadapi siklus hidup ketika dunia tidak lagi sepenuhnya berada dalam genggaman. Juga lebih layak disebut keberhasilan sebuah upaya pendewasaan ketimbang nostalgia mengenang masa emas efek album Sendiri Vs Dunia dan Jiwa.
Itulah mungkin yang jadi alasan ketika Alone At Last mengangkat lagu Saat Dunia Tak Menatap Ke Arahmu sebagai singel pertama dari album Integriti. Simak dua bait lirik yang ada di pertengahan lagu tersebut… Simpan semua lirihmu lepaskan lelahmu/ besarkan hatimu jangan palingkan wajahmu/ ….
Dan faktanya mereka memang sama sekali belum memalingkan wajah dari skena yang telah membesarkan nama Alone At Last. Meskipun berulang kali mengklaim tidak pernah mengisolasi diri dengan batasan genre tertentu, Alone At Last masih berada di ordinat penting ketika orang membicarakan skena emo tanah air. Bahkan andai saja mereka tidak merilis album Integriti sekalipun.
Entah sudah diproyeksikan sejak jauh-jauh hari, Alone At Last merilis Integriti di tahun ketika umur mereka genap menginjak bilangan satu dasawarsa (Alone At Last didirikan pada 2002). Yang jelas momentum perilisan Integriti terasa sangat tepat untuk beberapa kondisi. Pertama, ketika gaung skena emo lokal sudah lagi kencang, album Integriti rasanya bisa sedikit membangkitkan nostaljik jika genre ini pernah begitu booming di tahun-tahun silam. Dalam kasus ini, Integriti bukan hanya kemasan selusin lagu. Persetan dengan apa pun yang terkandung di dalamnya, baik itu musikalitas atau substansi lirik. Yang pasti, skena emo lokal butuh album-album seperti ini dari band-band berpengaruh seperti Alone At Last.
Kedua, momen perilisan Integriti — entah disengaja atau tidak — begitu ritmis dalam segi rentang waktu. Ada rentang masing-masing empat tahun dari mini album Sendiri Vs Dunia ke album penuh Jiwa dan lalu ke Integriti.
Apakah kemudian album Integriti bakal berdampak signifikan terhadap perkembangan skena emo di tahun-tahun ke depan, itu bukan persoalan yang terlalu krusial untuk dibahas. Yang lebih penting Alone At Last telah menunjukkan sebuah effort tentang pentingnya integritas. Integritas yang telah menjadikan mereka bisa seperti sekarang.
Jangan Ragu Jadi Musisi Metal
TULISAN INI BUKAN MURNI OPINI SAYA. IBARAT KAMERA, OTAK DAN JARI SAYA HANYA BERTINDAK SELAKU REFLEKTOR. SEKADAR MEMANTULKAN APA YANG SAYA SIMAK DENGAN SEDIKIT MEMBERI BIAS DI SANA-SINI DARI. ILHAMNYA SENDIRI MUNCUL DARI HASIL MELOTOTIN STATUS CHE, VOKALIS CUPUMANIK. SEPERTI BIASA, JANGAN TERLALU DIMASUKAN KE HATI. WOLES SAJA. SEBAB, INI BUKAN MASALAH PENTING. DA EUWEUH DEUI URUSAN NU LEUWIH PENTING — MEMINJAM ISTILAH KAJUL HELLPRINT — TIBATAN LALAJO PERSIB.
SAYA selalu merasa beruntung bisa mengakses beberapa referensi penting, kadang bahkan secara prodeo alias cuma-cuma. Seperti Selasa (26/11) kemarin. Indera penasaran saya langsung bereaksi ketika Mang Dinan, artworker kugiran dari The Illuminator, ngetag beberapa cuplikan Majalah Metal Hammer edisi Desember 2012 yang membahas tentang skena tempat kita menarik napas. Sumpah, Metal Hammer adalah salah satu kitab haluan hidup saya. Saya selalu merasa bagaikan butiran-debu-yang-tak-tahu-arah-jalan-pulang tiap kali membaca majalah ini. Baik dari segi kemasan/artistik dan terlebih cara mereka mengupas sesuatu. Sangat influensif dan tentu saja referensif pula (anjirrr, istilah naon deuih eta). Jika suatu saat punya duit, saya punya cita-cita mau bikin majalah underground dengan kemasan menyerupai Metal Hammer.
Karena penasaran, siangnya saya langsung cabut ke kantor Kompas. Seorang kawan yang jurnalis harian ini biasanya membeli Metal Hammer secara berkala. Dan, alhamdulillah dia sudah punya edisi Desember. Tadinya, jika teman itu belum punya, saya mau merapat ke Common Room. Siapa tahu Mang Dinan masih baca majalah itu di sana dan saya bisa minjem barang sebentar. Hahahaha… katingali aing teu mampu meuli majalah!
Saya tidak terlalu tertarik dengan ulasan lain. Saya interes dengan review tentang skena metal Indonesia. Tapi, yah seperti ekspektasi sebelumnya, tidak banyak hal baru. Ulasan seperti itu sudah sering saya temukan. Termasuk ulasan tentang Burgerkill. Bedanya, yang satu ini dikemas dalam bahasa Inggris dan yang membahasnya bukan media kelas ecek-ecek. Metal Hammer, mabrohhh!
Meski demikian ada beberapa poin yang tetap menarik. Salah satunya quote dari Ebenk Burgerkill di halaman 72: “My father keep asking me to get a different job, but I don’t care about money.”
Sebuah kalimat yang sangat bombastis, saya kira. Boleh jadi Ebenk bisa bicara seperti itu karena ia telah sukses bersama Burgerkill. Secara langsung atau tidak, Burgerkill telah mengantarnya mencapai kesuksesan hidup. Dulu Ebenk boleh tidak peduli dengan uang, tapi sekarang uang sangat peduli dengannya.
Tapi lepas dari itu, kalimat tersebut memang layak dijadikan trigger buat siapa pun yang saat ini menapakkan kakinya di skena metal, terutama buat mereka yang tengah merajut mimpi dengan jadi pemain band. Bahwa, mencari kehidupan — dengan tolok ukur paling gampang: duit — tidak hanya sekadar bisa dikais dengan bekerja kantoran. Bahwa, ada jalan hidup lain yang bisa kita andalkan untuk menghidupi diri sendiri, lalu kemudian anak istri, dan bahkan kalau mungkin memberdayakan lingkungan kecil kita.
Dan ucapan Ebenk yang jadi quote Metal Hammer terasa memiliki benang merah dengan celotehan Che di dinding facebook pribadinya. Che menukil cerita sukses NOAH saat konser di Makassar yang harga tiketnya mencapai dua juta perak dan ternyata tetap laku goreng bak kacang keras. “Level dunia pertunjukan band di Indonesia sudah meningkat. Harga tiket konser NOAH mencapai Rp 2 juta. Sementara tiket kelas festival konser Sting di Jakarta Rp 1.800.000. NOAH gokil, harga tiketnya setara musisi dunia,” ulas Che.
Tapi, inti ucapan Che bukan di situ. Ia bermaksud member spirit buat pegawai band dari kalangan indie, cutting edge, underground, atau apalah istilahnya. “Oke, kita lupakan NOAH. Mari kita tengok kawan-kawan kita dari kalangan band yang nggak punya majikan. Ada cerita menarik dari salah satu kru Cupumanik yang jadi roadis sebuah band metal asal Jakarta. Dia cerita kalo tiap personel band metal tersebut mendapat pemasukan sekitar Rp 6 juta saban bulan. Itu di luar uang manggung,” cerita Che lagi.
Ada ucapan Che yang sangat dalam tentang kasus ini, “Sekarang kesempatan meraih rejeki terbuka lebar buat anak band indie. Dan faktanya, rejeki Tuhan di wilayah profesi jadi anak band (indie) tidak kering. Mari kita buka mata, apa pun profesinya, sukses itu milik orang yang yakin dan rela berkeringat deras.”
Anjroott… ini saya kira kalimat yang sangat inspirasional buat kalian yang saat ini main band. Banyak fakta yang menunjukkan, beraktivitas di skena metal bisa juga hidup layak. Burgerkill memang lagi-lagi jadi contoh ideal. Tapi di luar Burgerkill, masih banyak lagi contoh.
Oke, memang benar, kecuali untuk segelintir band, uang tampil band-band metal sangat tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Tapi, kita akan mati kelelahan jika terus-terusan berkubang dalam masalah ini. Kita memang bukan kalangan komersialis murni yang bisa mematok harga manggung segini atau segitu. Selalu ada ewuh pakewuh atas nama jalinan pertemanan. Alih-alih terjebak dalam situasi ini, sebuah band lebih baik mencari jalan lain untuk menghidupi diri. Berjualan merchandise sama sekali bukan profesi haram menurut agama. Memanfaatkan jalinan pertemanan di komunitas untuk mencari peluang hidup, adalah hal yang wajar dan sah menurut hukum.
Silakan bereksploitasi di sana. Jangan pula memberati diri dengan embel-embel tudingan sell out alias menggadaikan idealisme. Kita perlu hidup. Perlu berdaya. Perlu berpikir memiliki istri dan keluarga dengan taraf ekonomi yang layak. Tentu saja dari hasil main band, bukan yang lain. Sebab, jika kaya dari hasil menjadi direktur BUMN mah nggak rock ‘n roll atuh coy. Kaya dari hasil bermain band metal, itu baru funky. Utopis memang, tapi bukan berarti tidak bisa digapai.
BERHENTI MENGEMIS
Di luar soal itu, masih ada celotehan Che yang tidak kalah menarik. Yakni, tentang cara mengapresiasi musisi lewat membeli CD original. Dalam celotehannya, Che mengaku ada orang yang bertanya di akun twitter miliknya: “Che, apakah dengan cara member CD original sebuah band berarti kita sudah menghargai musisi?”
Che lalu menjawab, “Jangan membeli CD (Cupumanik) hanya karena ingin menghargai. Belilah sesuatu atas dasar suka. Sebuah penghargaan terhadap karya musik bisa dimulai dari kata suka. Prinsip ekonomi/transaksi jual beli antara pasar dengan band bermuara di situ. Prinsip sederhananya dan hukum yang masih berlaku masih seperti ini: gue suka, gue beli. Saya sendiri sudah berhenti menyemburkan pernyataan: hargai kita dong, beli CD original kami dong! Sebab, bagi kami, kalau memang kalian suka tentu akan membeli karya Cupumanik tanpa paksaa. Sesederhana itu kok!”
Dalam kalimat lain Che ingin berujar, jika orang belum mau beli apa pun yang dikeluarkan Cupumanik (entah itu album, merchandise, atau tiket konser) berarti belum menyukai. Oleh karena itu, jangan menggerutu atau ngambek dengan keadaan tersebut. Justru sebaliknya, jika orang belum mau beli karya kita, itu berarti peringatan bagi kita untuk memperbaiki diri biar band kita terlihat cantik, mengkilap, mentereng, unyu-unyu. Jika band kita sudah keren, tanpa harus mengemis pun mereka akan naksir. Jika sudah naksir maka kecenderungan untuk membeli karya kita jadi lebih besar. So, mari berhenti mengemis! Dan tentu saja tetap woles, kawan! (Aang)
SAYA selalu merasa beruntung bisa mengakses beberapa referensi penting, kadang bahkan secara prodeo alias cuma-cuma. Seperti Selasa (26/11) kemarin. Indera penasaran saya langsung bereaksi ketika Mang Dinan, artworker kugiran dari The Illuminator, ngetag beberapa cuplikan Majalah Metal Hammer edisi Desember 2012 yang membahas tentang skena tempat kita menarik napas. Sumpah, Metal Hammer adalah salah satu kitab haluan hidup saya. Saya selalu merasa bagaikan butiran-debu-yang-tak-tahu-arah-jalan-pulang tiap kali membaca majalah ini. Baik dari segi kemasan/artistik dan terlebih cara mereka mengupas sesuatu. Sangat influensif dan tentu saja referensif pula (anjirrr, istilah naon deuih eta). Jika suatu saat punya duit, saya punya cita-cita mau bikin majalah underground dengan kemasan menyerupai Metal Hammer.
Karena penasaran, siangnya saya langsung cabut ke kantor Kompas. Seorang kawan yang jurnalis harian ini biasanya membeli Metal Hammer secara berkala. Dan, alhamdulillah dia sudah punya edisi Desember. Tadinya, jika teman itu belum punya, saya mau merapat ke Common Room. Siapa tahu Mang Dinan masih baca majalah itu di sana dan saya bisa minjem barang sebentar. Hahahaha… katingali aing teu mampu meuli majalah!
Saya tidak terlalu tertarik dengan ulasan lain. Saya interes dengan review tentang skena metal Indonesia. Tapi, yah seperti ekspektasi sebelumnya, tidak banyak hal baru. Ulasan seperti itu sudah sering saya temukan. Termasuk ulasan tentang Burgerkill. Bedanya, yang satu ini dikemas dalam bahasa Inggris dan yang membahasnya bukan media kelas ecek-ecek. Metal Hammer, mabrohhh!
Meski demikian ada beberapa poin yang tetap menarik. Salah satunya quote dari Ebenk Burgerkill di halaman 72: “My father keep asking me to get a different job, but I don’t care about money.”
Sebuah kalimat yang sangat bombastis, saya kira. Boleh jadi Ebenk bisa bicara seperti itu karena ia telah sukses bersama Burgerkill. Secara langsung atau tidak, Burgerkill telah mengantarnya mencapai kesuksesan hidup. Dulu Ebenk boleh tidak peduli dengan uang, tapi sekarang uang sangat peduli dengannya.
Tapi lepas dari itu, kalimat tersebut memang layak dijadikan trigger buat siapa pun yang saat ini menapakkan kakinya di skena metal, terutama buat mereka yang tengah merajut mimpi dengan jadi pemain band. Bahwa, mencari kehidupan — dengan tolok ukur paling gampang: duit — tidak hanya sekadar bisa dikais dengan bekerja kantoran. Bahwa, ada jalan hidup lain yang bisa kita andalkan untuk menghidupi diri sendiri, lalu kemudian anak istri, dan bahkan kalau mungkin memberdayakan lingkungan kecil kita.
Dan ucapan Ebenk yang jadi quote Metal Hammer terasa memiliki benang merah dengan celotehan Che di dinding facebook pribadinya. Che menukil cerita sukses NOAH saat konser di Makassar yang harga tiketnya mencapai dua juta perak dan ternyata tetap laku goreng bak kacang keras. “Level dunia pertunjukan band di Indonesia sudah meningkat. Harga tiket konser NOAH mencapai Rp 2 juta. Sementara tiket kelas festival konser Sting di Jakarta Rp 1.800.000. NOAH gokil, harga tiketnya setara musisi dunia,” ulas Che.
Tapi, inti ucapan Che bukan di situ. Ia bermaksud member spirit buat pegawai band dari kalangan indie, cutting edge, underground, atau apalah istilahnya. “Oke, kita lupakan NOAH. Mari kita tengok kawan-kawan kita dari kalangan band yang nggak punya majikan. Ada cerita menarik dari salah satu kru Cupumanik yang jadi roadis sebuah band metal asal Jakarta. Dia cerita kalo tiap personel band metal tersebut mendapat pemasukan sekitar Rp 6 juta saban bulan. Itu di luar uang manggung,” cerita Che lagi.
Ada ucapan Che yang sangat dalam tentang kasus ini, “Sekarang kesempatan meraih rejeki terbuka lebar buat anak band indie. Dan faktanya, rejeki Tuhan di wilayah profesi jadi anak band (indie) tidak kering. Mari kita buka mata, apa pun profesinya, sukses itu milik orang yang yakin dan rela berkeringat deras.”
Anjroott… ini saya kira kalimat yang sangat inspirasional buat kalian yang saat ini main band. Banyak fakta yang menunjukkan, beraktivitas di skena metal bisa juga hidup layak. Burgerkill memang lagi-lagi jadi contoh ideal. Tapi di luar Burgerkill, masih banyak lagi contoh.
Oke, memang benar, kecuali untuk segelintir band, uang tampil band-band metal sangat tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Tapi, kita akan mati kelelahan jika terus-terusan berkubang dalam masalah ini. Kita memang bukan kalangan komersialis murni yang bisa mematok harga manggung segini atau segitu. Selalu ada ewuh pakewuh atas nama jalinan pertemanan. Alih-alih terjebak dalam situasi ini, sebuah band lebih baik mencari jalan lain untuk menghidupi diri. Berjualan merchandise sama sekali bukan profesi haram menurut agama. Memanfaatkan jalinan pertemanan di komunitas untuk mencari peluang hidup, adalah hal yang wajar dan sah menurut hukum.
Silakan bereksploitasi di sana. Jangan pula memberati diri dengan embel-embel tudingan sell out alias menggadaikan idealisme. Kita perlu hidup. Perlu berdaya. Perlu berpikir memiliki istri dan keluarga dengan taraf ekonomi yang layak. Tentu saja dari hasil main band, bukan yang lain. Sebab, jika kaya dari hasil menjadi direktur BUMN mah nggak rock ‘n roll atuh coy. Kaya dari hasil bermain band metal, itu baru funky. Utopis memang, tapi bukan berarti tidak bisa digapai.
BERHENTI MENGEMIS
Di luar soal itu, masih ada celotehan Che yang tidak kalah menarik. Yakni, tentang cara mengapresiasi musisi lewat membeli CD original. Dalam celotehannya, Che mengaku ada orang yang bertanya di akun twitter miliknya: “Che, apakah dengan cara member CD original sebuah band berarti kita sudah menghargai musisi?”
Che lalu menjawab, “Jangan membeli CD (Cupumanik) hanya karena ingin menghargai. Belilah sesuatu atas dasar suka. Sebuah penghargaan terhadap karya musik bisa dimulai dari kata suka. Prinsip ekonomi/transaksi jual beli antara pasar dengan band bermuara di situ. Prinsip sederhananya dan hukum yang masih berlaku masih seperti ini: gue suka, gue beli. Saya sendiri sudah berhenti menyemburkan pernyataan: hargai kita dong, beli CD original kami dong! Sebab, bagi kami, kalau memang kalian suka tentu akan membeli karya Cupumanik tanpa paksaa. Sesederhana itu kok!”
Dalam kalimat lain Che ingin berujar, jika orang belum mau beli apa pun yang dikeluarkan Cupumanik (entah itu album, merchandise, atau tiket konser) berarti belum menyukai. Oleh karena itu, jangan menggerutu atau ngambek dengan keadaan tersebut. Justru sebaliknya, jika orang belum mau beli karya kita, itu berarti peringatan bagi kita untuk memperbaiki diri biar band kita terlihat cantik, mengkilap, mentereng, unyu-unyu. Jika band kita sudah keren, tanpa harus mengemis pun mereka akan naksir. Jika sudah naksir maka kecenderungan untuk membeli karya kita jadi lebih besar. So, mari berhenti mengemis! Dan tentu saja tetap woles, kawan! (Aang)
The Illuminator Artworkfest Goremageddon 2012
MAKIN pesatnya perkembangan musik metal bukan hanya ditandai dengan tingginya intensitas kemunculan band baru serta kian menggilanya kreativitas bermusik. Di sektor lain, bisnis merchandise yang berkenaan dengan musik metal juga menggeliat tak kalah pesat. Hal itu ditandai dengan semakin banyaknya vendor yang mengkhususkan diri memproduksi merchandise band-band lokal.
Kecenderungan itu berimbas pula terhadap kebutuhan artwork. Sebab, artwork jadi salah satu unsur penting — kalau tidak boleh menyebut paling penting — dalam produksi merchandise.
Tingginya permintaan terhadap artwork memicu bermunculannya para seniman gambar (artworker). Namun, di lain pihak, tidak semua merchandiser dan artworker membekali dirinya dengan etika yang baik. Kasus pembajakan karya, baik yang berupa ripping maupun pencurian gambar secara total, selalu terulang dari hari ke hari.
Bersandar pada kenyataan itulah, para artworker yang tergabung dalam The Illuminator menggelar Artworkfest 2012 pada 9-16 November 2012 di Fourspeed Parlor, Jalan Aggrek No 42, Bandung. Melalui program yang diberi jargon Goremageddon ini, The Illuminator bermaksud menginisiasi para artworker tentang bagaimana pentingnya etika.
Ini bukan pameran pertama yang digagas The Illuminator. Pada 19 November sampai 4 Desember 2010, bertempat di Gallery Padi Artground, The Illuminator pernah menggelar The Illuminator Artwork Exhibition. Eksibisi tersebut jadi tonggak penting dalam sejarah para artworker, yang selama ini memang kurang begitu diperhatikan.
The Illuminator sendiri adalah perkumpulan para seniman gambar yang mengkhususkan diri membuat artwork yang berkaitan dengan musik metal. Selain menggelar pameran dan membangun komunitas secara intens, The Illuminator juga menggagas sebuah institusi pendidikan bawah tanah pertama di Bandung yang mengkhusukan diri memberikan edukasi tentang bagaimana belajar ilustrasi dan mendesain artworkd untuk merchandise band.
Seperti pada pameran yang pertama, The Illuminator Artworkfest 2012 bukan hanya akan diisi parade gambar. Dalam acara ini, The Illuminator juga telah menyusun serangkaian agenda mulai dari live music, kurasi, diskusi, sampai berbagi pengetahuan tentang beraktivasi di dunia artwork seperti teknik menggambar sampai membahas pentingnya etika dalam berbisnis.
Panitia memperkirakan ada sekitar 100 karya 30 seniman artwork yang bakal berpartisipasi dalam The Illuminator Artworkfest 2012 Goremageddon. Sejumlah artworker yang sudah konfirmasi turut ambil bagian di antaranya Gustav Insuffer, Yusep ‘Mortem Art’, Dinan Art, Ridwan Bulldog, dan beberapa artworker muda.
“Kami memang ingin melibatkan lebih banyak seniman artwork. Dengan makin banyakanya peserta dan karya, diharapkan mampu meningkatkan persaingan sehat di antara sesama seniman gambar maupun pelaku bisnis merchandise,” tutur Dinan Art, penggagas The Illuminator.
Kamis, 14 Februari 2013
Biografi Dead Vertical
Satu lagi Grinders cadas asal timur kota Jakarta yang terbentuk sejak 22 November 2001 silam. Berawal dari persahabatan empat pemuda dengan kesamaan selera pada musik cadas. Menurut mereka, Dead Vertical mempunyai arti 'Matinya hubungan vertikal antara Tuhan dan Manusia'. Dalam formasi awal Iwan [vokal], BoyBleh [gitar/vokal], Bony [bass], dan Andriano [drums], DV sudah mulai bikin lagu-lagu sendiri dalam karakter crust-grind yang sangat terinspirasi oleh Napalm Death, Terrorizer, Sepultura, Brutal Truth, Repulsion, dsb. Lirik lagu-lagu mereka bertemakan sosial, kehidupan sehari-hari, dan kondisi aktual yang terjadi di dunia ini. Pada pertengahan 2003, Andriano mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh Bimo [eks Free To Decide]. Kemudian DV merilis debut album bertajuk Fenomena Akhir Zaman lewat label The Eye Music pada awal tahun 2004. Selepas album perdana itu, Bimo juga cabut dan digantikan oleh Arya Blood, seorang drummer veteran yang pernah memperkuat Highlander, For My Blood, Panic Disorder dan Looserz.
Di akhir 2005, Iwan mengundurkan diri sehingga formasi DV menjadi tiga orang. Dalam formasi trio itu, DV makin aktif dan menghasilkan musikalitas yang lebih terkonsep. Tetap di jalur grindcore, namun dengan karakter yang lebih brutal dan padat. Di awal tahun 2006 mereka melepas mini album yang bertitel Global Madness secara independen. Semenjak mini album tersebut, nama DV mulai melambung dan banyak diundang manggung dalam berbagai gigs. Menjelang akhir tahun 2007, DV mendapat tawaran kontrak dari Rottrevore records untuk merilis album keduanya. BoyBleh dkk langsung merekam materi musiknya di studio Bintang 41 [Bandung] dengan sound engineer Toteng Forgotten. Pada bulan April 2008, Rottrevore records merilis album kedua DV yang dalam titel Infecting The World. Rekaman ini berisi 22 lagu dengan karakter musik yang lebih brutal, agresif, padat, serta kental dengan nuansa grindcore ala eropa.
LAST SECONDS OF PARANOIA Dead Vertical sempat mencapai highlight-nya ketika diajak tampil sebagai band pembuka konser Napalm Death di Jakarta, tahun 2007 lalu. Dalam rekaman Infecting The World, DV juga mengajak DJ Winky untuk mengisi sampling intro dan outro pada album tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)