Selasa, 17 September 2013
Sabtu, 14 September 2013
Lamb Of God Rilis Ulang "As The Palace Burn"
Lamb Of God akan merilis edisi ulang tahun ke-10 untuk album "As The Palace Burn" pada bulan November.
Setelah menjernihkan master rekaman album asli, band ini menggaet produser Josh Wilbur (yang juga memproduseri "Wrath" dan "Resolutiom" CD) dan juga me-remix "Palaces".
Menemani re-release album ini, Lamb Of God juga merilis DVD dokumenter tentang proses rekaman dan kisah di balik musik album ini, yang menampilkan wawancara dengan Devin Townsend, anggota band dan produser saat ini, Josh Wilbur
Rabu, 11 September 2013
Metallica Unveil ‘Through The Never’ Documentary Clips
Metallica have released the first two episodes of Hit The Lights: The Making Of Through The Never, a revealing behind-the-scenes documentary about the creation of the metal legends’ new 3D movie. These first glimpses into the making of the movie include an interview with producer Charlotte Huggins and a nerd-friendly look at the construction and technological wizardry behind the unique sound stage that is so integral to the movie’s visual impact.
With its spectacular stage production and groundbreaking combination of eye-mincing live footage and dramatic narrative, Through The Never amounts to one of the most ambitious projects in Metallica’s extraordinary history. The movie made its world premiere at the 38th annual Toronto International Film Festival on September 9 and is set to hit screens across the US in October. Meanwhile, the Through The Never soundtrack will be released via the band’s new Blackened Recordings imprint on September 24.
Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter II Capai Klimaks Di Ujung Berung
TAK PERCUMA BURGERKILL MEMILIH UJUNGBERUNG SEBAGAI TEMPAT TERAKHIR DALAM RANGKAIAN DJARUM SUPER ROCKADVENTURE 2013 CHAPTER II. DI SINI, DI TANAH KELAHIRAN SENDIRI, RANGKAIAN TUR BERTAJUK SPIT THE VENOM SESI JAWA BARAT BENAR-BENAR MENCAPAI KLIMAKS.
JELANG satu jam sebelum Outright dan Dismemberment Torture dijadwalkan memberi hidangan pembuka, tanda-tanda Lapangan Yon Zipur, Ujungberung, Minggu (1/9) malam, bakal jadi medan ekstase para Begundal memang sudah terlihat. Para Begundal sudah berjejal di pintu masuk sebelum panitia mempersilakan mereka meluruk Lapangan Yon Zipur. Seketika para Begundal mengerubungi booth Djarum Super yang menyediakan berbagai macam merchandise event Djarum Super RockAdventure 2013 with Burgerkill dan juga official merchandise Burgerkill yang dilumat habis oleh para Begundal yang ingin membeli merchandise-merchandise tersebut. Sayup-sayup dari seberang panggung tempat Burgerkill, Outright dan Dismemberment Torture akan unjuk gigi, terdengar suara lagu Under The Scars yang tak asing lagi di telinga para Begundal di sebuah booth lainnya. Booth SuperMusic ID ternyata unjuk gigi dengan mainan terbarunya yaitu SuperGuitar dan menantang para Begundal untuk main dan menyelesaikan lagu Under The Scars secara sempurna! Gak tanggung-tanggung, untuk para Begundal yang mampu menyelesaikan 15% dari lagu Under The Scars, tim SuperMusic ID menyediakan hadiah keren berupa ShoutTees di mana para Begundal bisa bikin t-shirtnya sendiri yang di dalamnya terdapat sablonan tweet para Begundal yang ditweet via aplikasi ShoutTees.
Begitu Burgerkill didaulat MC untuk tampil ke atas pentas, crowd langsung membentuk dua medan mosh di kanan dan kiri bibir panggung, sontak sarat dengan teriakan kolektif saat Ebenz dan kawan-kawan membuka aksi dengan nomor Darah Hitam Kebencian yang juga merupakan lagu pembuka di album Beyond Coma and Despair (Revolt! Records, 2006). Begundal sepertinya tidak rela membiarkan Vicky Mono berteriak sendirian di balik corong mikropon. Setiap repertoar yang disajikan Burgerkill, selalu disambut sing along oleh para Begundal.
Terlebih lagi ketika Burgerkill menyuguhkan nomor-nomor wajib seperti Under the Scars, Angkuh, atau Shadow of Sorrow. Muncul teriakan dari para Begundal agar Burgerkill mengeluarkan Sakit Jiwa. Tapi untuk malam itu, salah satu lagu masterpiece Burgerkill tersebut ternyata tidak masuk dalam daftar repertoar.
Meski demikian, tidak terlihat sama sekali resam kecewa dari wajah para Begundal. Mereka larut dalam ekstase kolektif yang seolah tidak akan berakhir sepanjang 1,5 jam Burgerkill beraksi di atas panggung. Dan seperti sudah terkonsep dengan jitu, Burgerkill menutup aksi malam itu dengan lagu Atur Aku. “Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Dan ini lagu terakhir dari kami malam ini. Atur Aku,” teriak Vicky.
Sejurus kemudian keliaran tak terperi mewabah di mosh pit. Atur Aku membawa Begundal untuk mencapai klimaks malam itu. Tepuk riuh dan kembang api memungkas gigs terakhir Djarum Super Rock Advanture 2013 Chapter II dengan sebuah catatan ekselen.
Semua Puas
Seorang Begundal yang badannya basah kuyup oleh keringat, Rangga, mengaku sangat puas menyaksikan band panutannya beraksi selama 1,5 jam. “Ini konser Burgerkill terlama kedua setelah di Venomous Alive tahun lalu. Tapi malam ini lebih liar dan lebih memuaskan. Saya sangat-sangat puas. Hanya satu yang kurang, mereka tidak membawakan lagu Sakit Jiwa,” ujar Begundal asal Cibaduyut tersebut.
Rasa puas dan juga bangga terlontar dari dua band pembuka, Outright dan Dismemberment Torture. “Saya sudah jadi pengagum Burgerkill sejak masih duduk di bangku SMP. Dan tentu saja sebuah kebanggaan ketika band kami, Outright, didaulat jadi pembuka konser Burgerkill di Ujungberung ini,” tutur Hardi, vokalis Outright.
Kepuasan juga terpancar dari drumer Dismemberment Torture, Dani Papap. “Ujungberung tempat kita lahir. Saya, Ebenz, dan lainnya, berangkat ngeband sama-sama. Dan semuanya sekarang masih berada di sini sebagai sebuah keluarga besar. Tentu saja saya bangga bisa membantu Burgerkill menggelar konser sekeren ini di tanah kelahiran sendiri. Saya juga senang, karena ini konser teredan yang pernah dilakoni Dismemberment Torture di Ujungberung. Sebelumnya kami pernah juga menggelar gigs di Ujungberung. Dua-tiga kali. Tapi tidak sedahsyat ini,” cetus Papap.
Secara jujur Papap mengakui Burgerkill adalah salah satu band yang mengangkat nama Ujungberung menjadi dikenal sebagai salah satu kiblat metal di tanah air. “Satu hal yang saya salut dari mereka. Sampai saat ini ketika Burgerkill sudah menjelma jadi band besar, para personelnya masih tetap berpijak di bumi. Ebenz masih seperti 20 tahunan lalu ketika kami pertama kenal. Ia masih sering main ke tempat saya untuk sekadar bernostalgia sambil tukar pikiran. Ia masih mau mendengarkan masukan dari rekan-rekan. Saya salut dengan mereka,” imbuh Papap.
Kerja Keras
Papap mengaku tidak heran jika Burgerkill bisa menjelma jadi band hebat seperti sekarang. “Mereka punya semua modal untuk jadi band sukses. Yang paling utama, mereka mau bekerja keras sepanjang waktu. Itu faktor utama yang menjadikan mereka seperti sekarang,” ujar Papap.
Hal tersebut diamini Ebenz saat ditemui dalam kondisi masih bermandi peluh di belakang panggung ketika baru saja memuaskan para Begundal dalam jadwal terakhir Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter II. “Ya, kalau boleh sedikit menepuk dada, Burgerkill bisa seperti sekarang karena kerja keras. Dan tentu saja dukungan kalian, para Begundal,” ungkap Ebenz.
Ebenz menyebut kesuksesan konser malam itu juga sebagai buah kerja keras semua pihak. “Megapro sebagai event organizer dan semua kru Burgerkill memeras pikiran dan tenaga untuk menyiapkan tur Spit the Venom ini,” aku salah satu pendiri Burgerkill ini.
Djarum Super RockAdventure 2013 yang dikemas dalam tajuk Spit the Venom Tour ini menjadi rangkaian tur terpanjang yang pernah dilakoni Burgerkill. Pada Chapter I di Jawa Tengah, mereka mendatangi delapan kota. Sedangkan dalam pada Chapter II untuk daerah Jawa Barat, Burgerkill menghajar delapan dari sembilan kota yang dijadwalkan. Jadwal meet and greet di Sumedang (23/8) harus dibatalkan.
“Dan itu kami lakukan secara spartan. Tentu saja ini sangat menguras tenaga. Kalau boleh menyebut, inilah salah satu masalah utama Burgerkill saat menjalani tur kali ini. Karena dilakukan nyaris saban hari, kami harus pandai-pandai menjaga stamina,” urai Ebenz.
Namun Ebenz mengaku sangat puas dengan hasil yang dicapai dalam dua chapter pertama, terutama konser di Ujungberung. Ebenz menuturkan, sengaja memilih Ujungberung sebagai tempat pamungkas dalam rangkaian Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter II. Langkah itu sebagai penghormatan terhadap kota tempat mereka lahir dan besar.
Sepanjang berdirinya, sudah tidak terhitung berapa kali Burgerkill mendapat kesempatan beraksi di Bandung. “Tapi, khusus di Ujungberung, baru dua kali. Dan yang keduanya, ya malam ini. Hasilnya jauh di luar ekspektasi. Kami tidak menyangka sambutan para Begundal bisa sedahsyat ini,” tambah Ebenz.
Akan tetapi, Burgerkill tidak akan berhenti hanya karena telah mencapai klimaks di Ujungberung. Apalagi mereka sudah ditunggu jadwal Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter III yang meliputi Jabotabek dan Jawa Timur. “Habis ini, kami beristirahat sejenak. Setelah itu kita geber lagi di Spit the Venom Tour Chapter III,” teriak Ebenz.
JELANG satu jam sebelum Outright dan Dismemberment Torture dijadwalkan memberi hidangan pembuka, tanda-tanda Lapangan Yon Zipur, Ujungberung, Minggu (1/9) malam, bakal jadi medan ekstase para Begundal memang sudah terlihat. Para Begundal sudah berjejal di pintu masuk sebelum panitia mempersilakan mereka meluruk Lapangan Yon Zipur. Seketika para Begundal mengerubungi booth Djarum Super yang menyediakan berbagai macam merchandise event Djarum Super RockAdventure 2013 with Burgerkill dan juga official merchandise Burgerkill yang dilumat habis oleh para Begundal yang ingin membeli merchandise-merchandise tersebut. Sayup-sayup dari seberang panggung tempat Burgerkill, Outright dan Dismemberment Torture akan unjuk gigi, terdengar suara lagu Under The Scars yang tak asing lagi di telinga para Begundal di sebuah booth lainnya. Booth SuperMusic ID ternyata unjuk gigi dengan mainan terbarunya yaitu SuperGuitar dan menantang para Begundal untuk main dan menyelesaikan lagu Under The Scars secara sempurna! Gak tanggung-tanggung, untuk para Begundal yang mampu menyelesaikan 15% dari lagu Under The Scars, tim SuperMusic ID menyediakan hadiah keren berupa ShoutTees di mana para Begundal bisa bikin t-shirtnya sendiri yang di dalamnya terdapat sablonan tweet para Begundal yang ditweet via aplikasi ShoutTees.
Begitu Burgerkill didaulat MC untuk tampil ke atas pentas, crowd langsung membentuk dua medan mosh di kanan dan kiri bibir panggung, sontak sarat dengan teriakan kolektif saat Ebenz dan kawan-kawan membuka aksi dengan nomor Darah Hitam Kebencian yang juga merupakan lagu pembuka di album Beyond Coma and Despair (Revolt! Records, 2006). Begundal sepertinya tidak rela membiarkan Vicky Mono berteriak sendirian di balik corong mikropon. Setiap repertoar yang disajikan Burgerkill, selalu disambut sing along oleh para Begundal.
Terlebih lagi ketika Burgerkill menyuguhkan nomor-nomor wajib seperti Under the Scars, Angkuh, atau Shadow of Sorrow. Muncul teriakan dari para Begundal agar Burgerkill mengeluarkan Sakit Jiwa. Tapi untuk malam itu, salah satu lagu masterpiece Burgerkill tersebut ternyata tidak masuk dalam daftar repertoar.
Meski demikian, tidak terlihat sama sekali resam kecewa dari wajah para Begundal. Mereka larut dalam ekstase kolektif yang seolah tidak akan berakhir sepanjang 1,5 jam Burgerkill beraksi di atas panggung. Dan seperti sudah terkonsep dengan jitu, Burgerkill menutup aksi malam itu dengan lagu Atur Aku. “Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Dan ini lagu terakhir dari kami malam ini. Atur Aku,” teriak Vicky.
Sejurus kemudian keliaran tak terperi mewabah di mosh pit. Atur Aku membawa Begundal untuk mencapai klimaks malam itu. Tepuk riuh dan kembang api memungkas gigs terakhir Djarum Super Rock Advanture 2013 Chapter II dengan sebuah catatan ekselen.
Semua Puas
Seorang Begundal yang badannya basah kuyup oleh keringat, Rangga, mengaku sangat puas menyaksikan band panutannya beraksi selama 1,5 jam. “Ini konser Burgerkill terlama kedua setelah di Venomous Alive tahun lalu. Tapi malam ini lebih liar dan lebih memuaskan. Saya sangat-sangat puas. Hanya satu yang kurang, mereka tidak membawakan lagu Sakit Jiwa,” ujar Begundal asal Cibaduyut tersebut.
Rasa puas dan juga bangga terlontar dari dua band pembuka, Outright dan Dismemberment Torture. “Saya sudah jadi pengagum Burgerkill sejak masih duduk di bangku SMP. Dan tentu saja sebuah kebanggaan ketika band kami, Outright, didaulat jadi pembuka konser Burgerkill di Ujungberung ini,” tutur Hardi, vokalis Outright.
Kepuasan juga terpancar dari drumer Dismemberment Torture, Dani Papap. “Ujungberung tempat kita lahir. Saya, Ebenz, dan lainnya, berangkat ngeband sama-sama. Dan semuanya sekarang masih berada di sini sebagai sebuah keluarga besar. Tentu saja saya bangga bisa membantu Burgerkill menggelar konser sekeren ini di tanah kelahiran sendiri. Saya juga senang, karena ini konser teredan yang pernah dilakoni Dismemberment Torture di Ujungberung. Sebelumnya kami pernah juga menggelar gigs di Ujungberung. Dua-tiga kali. Tapi tidak sedahsyat ini,” cetus Papap.
Secara jujur Papap mengakui Burgerkill adalah salah satu band yang mengangkat nama Ujungberung menjadi dikenal sebagai salah satu kiblat metal di tanah air. “Satu hal yang saya salut dari mereka. Sampai saat ini ketika Burgerkill sudah menjelma jadi band besar, para personelnya masih tetap berpijak di bumi. Ebenz masih seperti 20 tahunan lalu ketika kami pertama kenal. Ia masih sering main ke tempat saya untuk sekadar bernostalgia sambil tukar pikiran. Ia masih mau mendengarkan masukan dari rekan-rekan. Saya salut dengan mereka,” imbuh Papap.
Kerja Keras
Papap mengaku tidak heran jika Burgerkill bisa menjelma jadi band hebat seperti sekarang. “Mereka punya semua modal untuk jadi band sukses. Yang paling utama, mereka mau bekerja keras sepanjang waktu. Itu faktor utama yang menjadikan mereka seperti sekarang,” ujar Papap.
Hal tersebut diamini Ebenz saat ditemui dalam kondisi masih bermandi peluh di belakang panggung ketika baru saja memuaskan para Begundal dalam jadwal terakhir Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter II. “Ya, kalau boleh sedikit menepuk dada, Burgerkill bisa seperti sekarang karena kerja keras. Dan tentu saja dukungan kalian, para Begundal,” ungkap Ebenz.
Ebenz menyebut kesuksesan konser malam itu juga sebagai buah kerja keras semua pihak. “Megapro sebagai event organizer dan semua kru Burgerkill memeras pikiran dan tenaga untuk menyiapkan tur Spit the Venom ini,” aku salah satu pendiri Burgerkill ini.
Djarum Super RockAdventure 2013 yang dikemas dalam tajuk Spit the Venom Tour ini menjadi rangkaian tur terpanjang yang pernah dilakoni Burgerkill. Pada Chapter I di Jawa Tengah, mereka mendatangi delapan kota. Sedangkan dalam pada Chapter II untuk daerah Jawa Barat, Burgerkill menghajar delapan dari sembilan kota yang dijadwalkan. Jadwal meet and greet di Sumedang (23/8) harus dibatalkan.
“Dan itu kami lakukan secara spartan. Tentu saja ini sangat menguras tenaga. Kalau boleh menyebut, inilah salah satu masalah utama Burgerkill saat menjalani tur kali ini. Karena dilakukan nyaris saban hari, kami harus pandai-pandai menjaga stamina,” urai Ebenz.
Namun Ebenz mengaku sangat puas dengan hasil yang dicapai dalam dua chapter pertama, terutama konser di Ujungberung. Ebenz menuturkan, sengaja memilih Ujungberung sebagai tempat pamungkas dalam rangkaian Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter II. Langkah itu sebagai penghormatan terhadap kota tempat mereka lahir dan besar.
Sepanjang berdirinya, sudah tidak terhitung berapa kali Burgerkill mendapat kesempatan beraksi di Bandung. “Tapi, khusus di Ujungberung, baru dua kali. Dan yang keduanya, ya malam ini. Hasilnya jauh di luar ekspektasi. Kami tidak menyangka sambutan para Begundal bisa sedahsyat ini,” tambah Ebenz.
Akan tetapi, Burgerkill tidak akan berhenti hanya karena telah mencapai klimaks di Ujungberung. Apalagi mereka sudah ditunggu jadwal Djarum Super RockAdventure 2013 Chapter III yang meliputi Jabotabek dan Jawa Timur. “Habis ini, kami beristirahat sejenak. Setelah itu kita geber lagi di Spit the Venom Tour Chapter III,” teriak Ebenz.
Selasa, 10 September 2013
Ujung Berung Spit The Venom Show 2013
Penampilan kedua kami ditempat lahir dan awal kami bermusik setelah 18 tahun lamanya. Dan ini menjadi sebuah perayaan besar bagi kami sekaligus mengakhiri konser kami untuk wilayah Jawa Barat. Lap. Yon Zipur Ujungberung kini telah menjadi saksi bisu dalam perjalanan tour Spit the Venom 2013, sekitar 7000 begundal datang dan ingin menjadi bagian dari perjalanan bermusik kami.
Semangat dan antusisame mereka kami banggakan untuk terus mau bersama kami menebar sensasi music bawah tanah melalui karya musik kami. Penampilan dua band teman kami OUTRIGHT dan Dismemberment Torture juga ikut terlibat membentuk atmosfir yang liar selama acara berlangsung.
Begundal salute untuk Kalian! Ujungberung anjing edan! Hail…
























Senin, 26 Agustus 2013
Metallica: Terima Kasih Jakarta
ars Ulrich (drum), Kirk Hammet (gitar) dan Robert Trujillo (bas) itu sukses mempuaskan penggemarnya di Jakarta.
Berturut-turut lagu Hit the Lights, Master of Puppets, Ride the Lightning, For Whom the Bell Tows, Welcome Home (sanitarium), ...And Justice for All, Blackened, The Unforgiven, Sad But True, Harvester of Sorrow, Nothing of Sorrow, Nothing Else Matters, Fade to Black, One, Enter Sandman, Creeping Death, Fight Fire with Fire, Seek and Destroy, dinyanyikan yang disambut teriakan penonton --dengan tak lupa-- tiga jari salam mental terangkat ke atas.
Sang frontman, James Hetfield pintar memeriahkan suasana dengan aksi konyol sehingga penonton tertawa. Misalnya ketika penonton meminta Metallica kembali bernyanyi dengan koor kompak, "We want more!"
James lalu memegang gitar dan berpura-pura akan memakai tali gitar tapi kemudian batal untuk mengecoh penonton. Tapi aksi James itu justru bikin tertawa. Apalagi ketika James benar-benar mengalungkan gitarnya dan mulai mengelurkan intro musik berikutnya, penonton langsung berjingkrak dan bersorak kesenangan.
Di pertengahan lagu Enter Sandman, James menyapa penonton. "Jakarta! Can you hear it? Can you feel it?" teriak James yang dibalas teriakan histeris dari penonton, "Yeeess!"
Keramahan Metallica tampak ketika James berteriak lagi, "Thats right, keluarga untuk Metallica adalah hal yang penting. Kalian adalah bagian dari itu," kata James.
Untuk sebuah grup metal, Metallica bisa dibilang sopan dan menyenangkan. Mereka kerap memberikan tanda terimakasih dengan menaruh tangan di dada dan membungkuk.
"Terima kasih banyak Jakarta! Kita akan bertemu lagi!" teriak mereka bergantian memberikan salam di akhir konser. Metallica lalu membentangkan bendera Indonesia merah putih yang bertuliskan Metallica dan di bawahnya bertuliskan Solo-Indonesia. Penonton tertawa.
Rabu, 24 Juli 2013
Raih Golden Gods Award 2013, Burgerkill Tour 14 Kota Bersama Djarum Super Rockadventure 2013
Jerih payah Ebenz, Vicky, Agung, Andris dan Ramdan dalam membentuk babak baru Burgerkill telah berbuah hasil pencapaian yang tidak mereka kira. Sekumpulan anak muda cadas asal Ujung Berung, Bandung, berhasil menyabet gelar penghargaan musik metal bergengsi kelas dunia, Golden Gods Awards 2013. Sebuah penghargaan musik cadas Internasional yang diselenggarakan oleh majalah musik metal asal Inggris, Metal Hammer, menobatkan Burgerkill sebagai pemenang Golden Gods Award 2013 kategori Metal as F*ck mengalahkan beberapa kandidat nama-nama besar seperti Jason Newsted, Pussy Riot, Nergal dan Sea Shepherd. Penghargaan ini merupakan sebuah bukti dan taji metal Burgerkill di mata Internasional dan sekaligus membuat nama Indonesia semakin diperhitungkan dalam kancah Internasional, khususnya scene musik cadas.
Dilansir dalam situs Metal Hammer, “Burgerkill adalah definisi yang sangat tepat sebagai pelopor tahun 2013. Selamat, kalian layak menang.” Bahkan Metal Hammer pun juga memuji video klip Burgerkill ‘Under The Scars’, yang diambil dari album terbaru mereka, ‘Venomous’. Kategori Metal as F*ck adalah sebuah kategori penghargaan yang diberikan kepada band-band metal yang menjadi pelopor atas ruang lingkup band tersebut berada, seperti Burgerkill yang mewakili scene musik cadas Indonesia –mungkin ditengah citra buruk Indonesia diluar negeri sebagai Negara yang tingkat korupsinya tinggi, ada sebuah ‘permata’ yang bersinar dalam bidangnya– yang paling sukses di industri musik Indonesia. Selain itu, Burgerkill dapat dikatakan saat ini memiliki Begundal –sebutan untuk fans Burgerkill– paling besar di Indonesia.
Untuk merayakan pencapaian gemilang mereka di dunia Internasional, Burgerkill bersama Djarum Super Rock Adventure 2013 mengadakan tour panjang di 14 kota Indonesia dengan tema Spit The Venom. “Pada Djarum Super RockAdventure 2013 ini para penggemar Burgerkill bisa berinteraksi dan merasakan secara langsung, mulai dari pemilihan kota tempat konser yang diadakan secara online voting, sampai ikut merasakan pengalaman mulai dari persiapan konser, mengikuti seluruh kegiatan tur, sampai berada di dalam satu bus dengan Burgerkill. ” ujar Roland Halim selaku Brand Manager Djarum Super. “Kami bangga menjadi band pertama di Djarum Super Rockadventure 2013 ini. Djarum Super Rock Adventure 2013 menjadi media kami menyapa Begundal di berbagai daerah Indonesia. Kami siap berikan penampilan terbaik sekaligus merayakan kemenangan kami di Golden Gods Award 2013” kata Ebenz, pentolan sekaligus gitaris Burgerkill, saat jumpa pers di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (20/6).
Saat jumpa pers Djarum Super RockAdventurer 2013 with Burgerkill di Hotel Sutan, Senayan, Jakarta Pusat, Burgerkill juga sempat memainkan 4 lagu dengan format akustik yang diantaranya terdapat dalam album terbaru mereka Venomous.
Dari hasil online voting saat ini, 4 kota pertama yang dikunjungi Burgerkill dalam konser Djarum Super Rock Adventure 2013 adalah Solo (25 Juni), Yogyakarta (26 Juni), Semarang (29 Juni), dan Purwokerto (02 Juli). Untuk 10 kota lainnya akan menyusul setelah bulan Ramadhan selesai diantaranya, Malang, Madiun, Banjar, Tasikmalaya, Majalengka, Cimahi, Subang, Tangerang, Cibinong dan Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
