Selasa, 15 Januari 2013
'We Will Bleed', Dokumenter Burgerkill Akhirnya Keluar
Selasa, 15 Januari 2013 17:31
Kapanlagi.com - Setelah penantian sekian lama, akhirnya band cadas kebanggaan kota Bandung, Burgerkill merilis video dokumenternya. Video ini dirilis dalam format DVD yang siap memuaskan para Begundal (julukan fansnya) seantero nusantara.
Seperti dipaparkan di akun twitternya DVD ini berisikan 2 keping, disk pertama berisikan film dokumenter berdurasi 90 menit. Sedangkan disk kedua berisi 10 video klip Burgerkill yang di antaranya ada 4 klip dari album baru.
Burgerkill merilis 2 versi DVD ini. Versi pertama Limited Deluxe Boxset dengan kemasan yang menarik dan banyak bonus seperti textile flag poster, woven patch, sticker, photo cards, guitar pick dan lain-lainnya. Sedangkan untuk versi standar beda kemasan hanya berisikan keping disk dan stiker saja. Untuk kemasan boxset dibanderol dengan harga Rp 300.000 dan dirilis secara terbatas 666 copy dan untuk versi standar dibanderol seharga Rp 75.000.
Pre order We Will Bleed versi boxset dibuka pada hari ini 15 Januari hingga pukul 22 Januari 2013. Versi standar akan dijual secara bebas di toko-toko CD seluruh Indonesia pada 2 Februari 2013. So Begundal, don't miss it guys.
(kpl/twt/faj)
Senin, 14 Januari 2013
Available now for pre-order! “We Will Bleed” Limited Deluxe Edition Boxset DVD
Guys,
DVD akan dirilis dalam dua versi:
Limited Deluxe Edition Boxset (666 pcs only)
Dirilis tgl 23 Januari 2013 dan hanya dijual di website Burgerkill dengan system pre-order yang akan dibuka mulai tanggal 15 Januari – 22 Januari 2013. Cara pemesanan ada disini.
Boxset akan dijual dengan harga Ro 300.000,-, yang isinya:
1 DVD Documentary Movie +/- 90 menit
1 DVD Video Klip : 10 video Burgerkill termasuk 4 video terbaru yg belum pernah di publish (Under The Scars, House Of Greed, Through The Shine, An Elegy)
1 pcs Burgerkill Textile Flag
2 pcs Burgerkill Photocard
1 pcs Woven Patch
1 pcs Guitar Pick
1 pcs Signed Certificate
1 pcs ‘We Will Bleed’ Sticker
1 pcs Giveaway Coupon
Regular
Dirilis tanggal 2 Februari 2013 serentak di toko2 CD Nasional. Rencananya akan dijual dengan harga Rp 75.000, yang isinya:
1 DVD Documentary Movie +/- 90 menit
1 DVD Video Klip : 10 video Burgerkill termasuk 4 video terbaru yg belum pernah di publish (Under The Scars, House Of Greed, Through The Shine, An Elegy)
1 pcs ‘We Will Bleed’ Sticker
Selasa, 08 Januari 2013
Review Album Nile - At The Gate Of Sethu (2012)
Sejak Awal Kemunculan Band Brutal/Technical Death Metal dengan Konsep dan tema Egyptian era album Pertama mereka " Amongst the Catacombs of Nephren-Ka " tahun 1998 Kancah Extreme metal seakan akan terbius oleh terobosan baru mereka melahirkan Genre baru yang memadukan Konsep Mesir Kuno Egyptian dalam Musik Death Metal, membuat band yang mulai Eksis Tahun 1993 ini semakin banyak diperbincangkan beberapa Media Internasional oleh Terobosan Kerennya ini. perjalanan karir band ini memang tidaklah gampang untuk membuat Komposisi Musik seperti yang mereka mainkan ini, pengalaman dan Pengetahuan Tentang Tradisi Etnis Mesir Kuno haruslah mereka Kuasai secara benar, sehingga Seorang Gitaris berbakat seperti Karl Sanders memang sejak awal menekuni dunia Tentang Etnis Mesir kuno secara Akademis, selain sebagai Fakultas pendidikan dan beberapa Pekerjaannya, Karl Sanders banyak menuangkan Ide2 fresh-nya tentang Seni Egyptian pada beberapa Lagu Nile dan Proyek solo-nya, dan lambat laun dalam perjalanan Musikalitasnya Nile lebih enjoy menyebut Konsep Musiknya sebagai " Ithyphallic Metal " terlepas dalam Idealisme pasca album " Ithyphallic " Tahun 2007 semakin memantapkan Nile mematenkan Style Extreme Musiknya ini dan memang menjadi pengaruh Baru beberapa Band generasi baru-nya. Mungkin buat Fans Nile di Indonesia yang nonton Penampilan Band Asal Greenville, South Carolina, Amrik pada Perhelatan Festifal Metal Akbar " Hammersonic " beberapa waktu kemaren, semakin Terbius dengan konsep Ithyphallic Metal-nya, dan ga sengaja seperti menciptakan sebuah trend baru tersendiri dikalangan Metalhead tanah air untuk menyukai Konsep Bermusik Nile ini, Hmmm Fenomena klasik dan Klise dah kalau diindonesia yang memiliki Banyak " Musim " ini hehehe. dan masih terngiang ( Bukan Terngiang-nya Ikke Nurjanah loh .ed ) akan Kedasyatan Album terakhir mereka " Those Whom the Gods Detest " Tahun 2009 lalu masih menyimpan Sihir yang belum hilang dari Sugesti Metalhead dan Nile Fans! seperti Karl Sanders dan Dallas Toler-Wade sebuah Team Arkeolog yang menggali Beberapa Tradisi Kuno Mitologi mesir Kuno untuk terus dituangkan dalam Harmonisasi Riffing sadis-nya, sehingga mendengarkan lagu2 Nile kita seperti diajak kembali Berpetualang mengingat kembali era Keemasan Jaman Mesir Kuno dengan segala Kebudayaannya yang Kaya itu. I like the way Karl can make the most exotic and intricate patterns and scales work for death metal and when mixed with Dallas's intense, edgy vocal and guitar playing, they make a sound that is so unique and memorable that it defines Nile, dan Tugas terakhir dipikul oleh Drummer Berbakat Populer, George Kollias untuk menuangkan segala Ide2 Fresh-nya Menghantamkan Blastbeat mematikannya !! tidak hanya banyak mengangkat tentang Beberapa Mitologi Mesir Kuno, Nile juga kali lebih banyak mengungkap tentang beberapa Mitologi Hindustan tentang Epic Ramayana dengan menempatkan Kisah Jembatan purba misterius sepanjang 30 Km yang menghubungkan antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) ini diperkirakan telah berumur 1.000.000 tahun lebih. Jembatan yang dinamakan "Vanara Sena" atau pihak NASA menyebutnya sebagai Jembatan Adam menuai berbagai macam perkiraan berkaitan dengan umur dan sejarah jembatan tersebut. Umat hindu meyakini Jembatan Adam berkaitan erat dengan Epik Ramayana di mana disebutkan jembatan tersebut dibangun oleh Rama dan sekutunya, para manusia kera, yang dibantu para Dewa untuk membantu Rama menjangkau Srilanka guna menyelamatkan istrinya, Shinta, dari raja raksasa, Rahwana. Mitologi tersebut kerap dijuluki Rama Bridge (Raam Sethu) merupakan salah satu “Mysterious Places in the World’s” adalah rantai batu kapur buatan (bukan karena peristiwa alam) antara pulau Mannar, didekat Sri Lanka barat laut dan Rameswaram, di pantai tenggara India. Sosok frontman Karl Sanders dan Dallas Toler-Wade selain jenius membuat Riffing yang pentatonik, juga lebih mendalami tentang Mitologi Negara2 di Timur Tengah sebagai Salah Satu Subyek pembuatan lirik yang tentunya bukan sekedar Cerita Isapan jempol karena memang semuanya telah didasari dengan sebuah Tesis yang mereka lakukan sendiri. mengawali serangan awal dengan " Enduring the Eternal Molestation of Flame " dengan sebuah Intro Etnis Timur Tengah dalam 33 Detik yang setelah itu George Kollias langsung menggebrak dengan Fast Blastbeat yang meledak2 !! perpaduan Pummeling Shredding Riff Gaya pentatonik Pekat dengan Nada2 Etnis Egyptian duo Gitaris Karl Sanders dan Dallas Toler-Wade tetap melakukan Pekerjaannya dengan sangat baik mempertahankan Trademark Nile, dengan Sharpness Riffing Sound yang kian mantap dan dewasa, Sounding Nile memang lebih mulai banyak terdengar berbeda dengan segi Aransemen musik yang masih Teknikal dan Matematika strukturnya selalu Dipenuhi dengan Fast Part, Ithyphallic’s opener; though it carries a vaguely similar atmosphere, it’s a more compact listen. !! yang selanjutnya " The Fiends Who Come to Steal the Magick of the Deceased " yang diperkenalkan sebelumnya pada beberapa media, Nile menambahkan beberapa gaya Pentatonik Etnis Hindustan banget pada beberapa Struktur Riffing-nya, Sebuah Track yang semakin mempertontonkan Kepiawaian Nile memainkan sesuatu yang Unik dan Beda dalam Death Metal Movement !! perpaduan Mantap Skill drummer George yang meladeni Konteks Nada Rumit duo Gitarisnya. " The Inevitable Degradation of Flesh " semakin menyerang dengan tanpa ampun melalui alur musik yang serba mengandalkan Kecepatan dengan talenta yang asli memang luar biasa !! Intro Hindustan String pada " When My Wrath Is Done " menjadi track yang akan sedikit pada part awal mengajak Gw sejenak untuk Headbang sebelum mencicipi kembali Konvensional Riffing Dasyatnya. beberapa Solo Melodius juga tidak terhindarkan buat ditampilkan terus di komposisi semua lagunya. 10 Track dalam durasi total 47:45 semakin tidak mengecewakan untuk Nile Fans! yang diakhiri oleh Track berdurasi panjang " The Chaining of the Iniquitous " yang memakan waktu 07:05, Nile lebih banyak melakukan Sentuhan2 Pentatonik yang lebih terasa Epic. Kualitas Musisi yang no comment Plus Mengagumkan, bikin Rilisan ini selalu mendapat tempat spesial untuk para Fans, mantan Bassis dan Vokalis Nile, Jon Vesano yang bergabung selama hampir 4 tahun di tubuh Nile juga ikut menyumbangkan beberapa Vokalnya di sini bersama dengan Jason Hagan lebih sebagai Additional Vokal. Ultimately, it is all in the details. If you haven't heard this album yet, give it a spin. And then give it another spin, and another and so on and so forth. I promise you, you will find new stuff to appreciate with each play-through.
Review Album Putrid Pile - Blood Fetish 2012
One Man project Populer ini memang tetap mendapat tempat di hati Para penggemarnya dengan gaya Cool-nya, PUTRID PILE digambarkan oleh Frontmannya adalah " sick-ass drum machine band with pounding slam riffs and deep guttural vocals". weww !! memang apa yang diungkapkan Ma Shaun LaCanne, Mantan Gitaris band Death Metal Num Skull ini terbukti dan terbayar di Karya2nya dan bukan Omong kosong seperti kebanyakan Band2 sekarang di Scene Indonesia yang Bikin Gw merasa gerah dengan beberapa Statement-nya yang Kebanyakan BULLSHIT !! mungkin Epidemi Ego yang luar biasa menjangkiti Pikiran dan otak untuk Lebih cepat dikenal atau diakui sebagai yang " Paling " ngeri lah, Top lah, Kontroversial lah, bla bla bla... seharusnya temen2 discene harus mengikuti apa yang di ungkapkan oleh seorang Shaun LaCanne ini, Make A real Word not Bullshit Words !, beberapa Waktu kemaren Shaun LaCanne dengan Putrid Pile sempat membuat Decak kagum pada penampilannya di Negeri Kita, One Man project Yang Bagus !! setelah Album terakhir " House of Dementia " tahun 2009 setelah itu disusul split-nya dengan Viral load, Shaun Harus beberapa Kali tertunda menyelesaikan materi Barunya ini disela2 Tour-nya. namun semua sudah terjawab dengan Full album ke- 4 ini masih digandeng oleh Sevared Records, sebuah Proyek Ego dengan Kualitas terbaik menjadi Menu Utama dalam bermain Brutal Death Metal yang Killer !! masih menampilkan gempuran Brutal Death Metal dengan elemen Slam Groovy Maksimal disempurnakan lagi dengan US death Metal Sound yang kental inilah Putrid Pile !! " Blood Fetish " langsung Menggayang setelah diawali dengan 25 detik Intro, masih terjaga Kualitas Bermain Shaun untuk mengendalikan semua Keinginannya sendiri mengaransemen Extreme Musick, Pummeling Streching Razor Riffing Mantap tetap menjadi Komoditas Utama Shaun melancarkan Agresi-nya, beberapa Gaya Riffing Cannibal Corpse dan Breakdown Part yang Asyik dipamerkan disini, ga heran aja nih lagu memang pantas menjadi Titel utama dengan Urutan terdepan, sebuah Konsep yang semakin matang dibuat Shaun sebagai bentuk progresi Musikalitas-nya dibeberapa materi sebelumnya. Drum Programming yang Lebih terdengar Manusiawi siap Mencabik2 Isi Perut kalian. " Necroneat-o " terasakan beberapa gaya Grindcore Riffing ala Napalm Death dipadukan dengan Slashing Riffing Gaya Disavowed Era " Perceptive Deception ", perfect and just all around brutal, they really fit well with the riffs and brutal open string tremolos. Sentuhan Old School Dan New School Death metal tetap di Olah sedemikian Cool Oleh Shaun demi Menciptakan Aroma Death Metal yang kental. seperti pada Track " Pottymouth " kita akan Sedikit merasakan Gaya Rolling On Harmony Riff gaya Morbid Angel era " Altars Of Madness ", yang kemudian di taburi dengan Fucking Totally Slamming Karakter Internal Bleeding, " Face-Pounding Madness " Kedasyatan Cannibal Corpse bertemu dengan Disavowed Blastbeat, This really Fucked Fast Intense Track, it was brutal nonetheless !! kemudian " Tortured Soul "skullfuckingly brutal slabs of death/grind with catchy riffs, really fast blast beats, and some absurdly brutal grooves, Sentuhan gaya Old School Death Metal amat terasa Juga ditrack ini pada Part awal-nya, sepertinya gw sedang Mendengarkan kembali Konsep yang dimainkan oleh One Man Project sejenis, Bloodsoaked !!, " Operation Splatterhouse " adalah Fast brutal Guttural Track yang paling singkat disini, cuman membutuhkan durasi selama 35 detik aja ! kemudian " Strangulation Is the Only Answer ", kemudian kita merasakan kembali Bagaiman Shaun memainkan kembali Gaya Riffing Konvensional Khas Cannibal Corpse, making these riffs some of the most absurdly fast and technical that the project has ever produced. Hingga ke menit2 terakhir di 32:43, Siksaan Kejam Masih berlaku tanpa ampun dari lagu2 yang diaransemen oleh seorang Shaun LaCanne tetap konsis Membawa Nuansa Death Metal Lama Hingga baru dengan beberapa Sentuhan grindcore Riffing. you might say, but no, LaCanne's guitar work is nicely varied and, while nothing all too innovative, enjoyable to listen to. Also, he solos, a trait that is missing from many brutal death metal bands today, so this album is a fresh breath of air in that regard. You Must BUY CD Now !!!
Mengenang 34 Tahun Alm. Ivan Scumbag
Ivan Firmansyah, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan adalah pionir pendobrak Ujungberung Rebels. Bersama bandnya, Burgerkill, ia membuat terobosan-terobosan besar yang lalu semakin mengangkat dinamika musik independent ke tataran yang lebih tiinggi dan fenomenal. Yang kemudian menjadi sangat personal, dengan segala pencapaianya, ivan tak lantas berubah menjadi sosok yang lain. Ia tetep dengan segala kerendahan hatinya, membumi bersama rereka yang mengusungnya.Keterlibatanya dalam dunia tarik suara tak bisa diragukan lagi. Band Burgerkill tak bisa dipisahkan darinya lasmana dua sisi mata uang. Kegigihanya dalam berdendang menorehkan beberapa karya monumental. Hingga kini terkenang dalam ingatan pecinta musik underground, diantaranya; “DUA SISI” MC Album, Riotic Records, (2000), “BERKARAT” MC & CD Album, Sony Music Ent. Indonesia, (2003), “DUA SISI REPACKED” MC & CD Album, Sony Music Ent. Indonesia, (2005), “BEYOND COMA AND DESPAIR” MC & CD Album, Revolt! Records, (2006)
Beberapa Penghargaan Yang Pernah Diterima OlehAlm. Ivan Scumbag-Nominator “Band Independent Terbaik” versi majalah NEWSMUSIK Indonesia, (2000)- Exclusive 1 year Endorsement “PUMA Sports Apparel” USA, (2001)- Exclusive 2 year Endorsement “INSIGHT Clothing” Australia, (2002)- Award “Best Metal Production” (“Berkarat”, Sony Music Ent.), AMI AWARDS, (2004)- Salah satu Album Terbaik (“Beyond Coma…”, Revolt! Records) versi majalah RIPPLE Indonesia, (2006)- 20 Album Indonesia Terbaik (“Beyond Coma…”, Revolt! Records) versi majalah ROLLING STONE Indonesia, (2006)- Original Soundtrack “Hantu Jeruk Purut” Movie, Indika Film, (2006)- Original Soundtrack “Malam Jum'at Kliwon” Movie, Indika Film, (2007)
Hari ini tepat Tanggal 19 April 2012, genap 34 Tahun umur Alm. Ivan Firmansyah a.k.a Ivan Scumbag. Sosok yang tak pernah terlupakan di Scene Underground Kota Bandung dan Dunia Internasional.Mungkin memang raga Ivan telah tiada.Akan tetapi jiwanya akan terus bernyanyi dialam sana dan akan tetap selalu dikenang oleh kita semua sepanjang masa.
Rajasinga Batalkan Sisa Rangkaian Tur Sirkus Neraka “Melibas Andalas 2012″
Rajasinga (Foto: Asywal Badri)
Insiden. Itulah yang terjadi saat unit grindcore, Rajasinga, menjalani tur beberapa kota untuk belahan pulau Sumatera, bernama Sirkus Neraka “Melibas Andalas 2012″. Insiden itu, terjadi saat mereka berkeliling bersajian dengan musiknya di kota Padang. Insiden itu, terjadi pada tanggal 19 September 2012. Insiden itu, terjadi di kota ketiga yang pada awalnya menjadi persinggahan kelima, namun terjadi pembatalan di Banda Aceh dan Lhokseumawe tanggal 14 dan 15 September 2012.
Secepat kilat insiden itu segera dijelaskan dan diluruskan oleh Revan yang mengisi dram untuk Rajasinga. Dari rilisan catatan “Klarifikasi Dan Kronologis Kejadian Di Padang, 19 Sep 2012 (Sirkus Neraka Tour Melibas Andalas)” yang dirilis dalam laman facebook Rajasinga, Revan menuliskan, “Ada kesalahpahaman yang terjadi antara kami dan segerombolan orang yang mengaku street punk kota Padang.Pada saat Rajasinga perform di acara, Indra Morrg (Bassist/Vocalist) sempat berucap “Padang, anjing kalian keren sekali…” Perkataan yang ekspresif ini, dianggarp isu rasis oleh oknum street punk tadi. ” Revan melanjutkan, “ Mereka menganggap kami berucap Padang=Anjing. Setelah lagu terakhir kami mainkan, salah seorang dari mereka mulai menyerang kami (Rajasinga), dan sempat terjadi dorong-dorongan.”
Refleks merangsang, Revan langsung menarik Morrg dan Biman (gitar/vokal) untuk berlindung di belakang panggung. Alih-alih ingin menyelamatkan diri, mereka telah dikepung di belakang panggung saat mencoba kabur melalui pintu belakang. Saat itu Rajasinga bersama Badrun (fotographer), beberapa teman, dan dua orang panitia. “Tapi sial, saya dan Morrg tidak berhasil lolos” tulis Revan.
Revan dan Morrg terpojok. Mereka diserang. Dilempari beruntun dengan piring, gelas, dan botol berbahan kaca. Revan melanjutkan tulisannya,“Salah satu dari orang menyerang kami, terluka di alis sebelah kiri karena terkena pantulan pecahan kaca yang dilempar temannya sendiri dan terjatuh dengan kepala luka berdarah”. Etikat baik mereka yang meminta pertolongan untuk korban salah lempar hingga berhasil membawa korban keluar ternyata dibaca sebagai ulah perbuatan Revan dan Morrg oleh sebagian gerombolan yang masih berada diluar lokasi (belakang panggung).
Tak ada lagi sikap persuasif, layaknya peribahasa dimana ada gula disitu ada semut. Gerombolan itu menyerbu masuk dan melempari dengan benda-benda kaca, kursi, balok, batu bata, atau apapun yang gerombolan itu temukan. Bawah kursi, itulah yang menamengi Revan dan Morrg dari serangan pukulan dan lemparan.
Tameng itu tak berarti apa-apa. Revan dan Morrg dibawa keluar lalu bergantian mendapatkan bogem mentah. Insiden itu perlahan menunjukkan perangainya saat di belakang tempat pertunjukan merupakan asrama tentara. Mereka diselamatkan oleh seorang perwira yang melihat mereka dipukuli. Revan dan Morrg diamankan sampai salah satu panitia menjemput mereka dan membawa klinik untuk dirawat.
“Saya menderita luka dalam di lutut kanan dengan lima jahitan, memar disekujur tubuh, dan luka gores dilengan dan kaki akibat pecahan kaca yang dilemparkan ke kami. Indra Morrg mengalami hal yang lebih kurang sama dengan saya, dengan tambahan dua jahitan di kepala depan, jari kelingking kiri patah, dan siku lengan kiri terdislokasi.” jelas Revan mengenai kondisinya.
Dengan kondisi yang sudah dijelaskan diatas, Revan membeberkan “Dengan berat hati, dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan, saya mewakili Rajasinga terpaksa harus membatalkan sisa rangkaian Tour Sirkus Neraka “Melibas Andalas 2012” di Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bandar Lampung. Sampai saat menulis berita ini, Jeruji masih berdiskusi mempertimbangkan untuk tetap meneruskan tour ini atau tidak, mengingat shock dan trauma yang kami alami. Mohon maaf kepada teman-teman panitia yang sudah mencurahkan seluruh usaha untuk mendukung Tour ini. Kami sangat menghargai segala effort yang sudah kalian lakukan.”
Revan yang merupakan produk asli Minang ini mengaku prihatin dengan insiden tersebut. Dia menempatkan jalinan silaturahmi namun mendapatkan kemalangan. “Keji” dia telah mendpatkan makna kata itu. Revan mengaku lengah tidak memperhitungkan oknum-oknum yang ternyata kurang menyukai Rajasinga. “Kami bukan petarung, kami tidak suka buat onar, kami suka senang, bukan rusuh… kami cuma mau main MUSIK… Apakah begitu susahnya Rajasinga diterima oleh oknum yang menyerang kami?!” tegasnya.
Dia juga memberikan informasi bawah gerombolan street punk yang menyerang mereka itu–dari awal acara mulai–memang sudah bertindak anarkis. Mulai dari menjebol tiket, menakuti penonton lain, dan memaksa untuk ikut main di acara tersebut. “Sedari awal kami mulai menaiki panggung, kami diteriaki “artis” “komersil” beberapa kali. Sampai akhirnya, ucapan ekspresi dari mulut Morrg menjadi pemicu yang tidak masuk akal.”
Orasinya kemudian mempertanyakan tentang skena musik yang telah dibangun selama ini, mengenai tindakan premanisme yang terjadi dalam lingkungan musik. “Apakah akan ada korban-korban berjatuhan dari saudara kita berikutnya? Apakah benar kita semua “bersaudara”?” tanyanya.
Saat ini mereka sudah dalam posisi aman dan pembuat masalah sedang dilacak oleh teman-teman komunitas di kota Padang. Menurut Revan, itu tugas penting buat mereka. Dan mereka siap bertanggung jawab.
“Bandung, kami pulang…” bubuh Revan di akhir tulisannya.
Jeruji dan Rajasinga Siap ‘Melibas Andalas’ Dengan Tur Sirkus Neraka
Sirkus Neraka, adalah sebuah tajuk dari perjalanan tur musikal oleh dua band asal kota Bandung yaitu Jeruji dan Rajasinga. Kedua band ini adalah grup musik yang masih produktif dalam berkarya, dan menjajal panggung secara reguler, maupun dalam rangkaian tur, pada umumnya ke kota-kota yang tersebar di Indonesia.
Setelah dengan sukses menyelenggarakan “Sirkus Neraka, chapter I; Jawa – Bali – Lombok” diakhir tahun 2011 silam, kini saatnya “Sirkus Neraka, chapter II; Melibas Andalas” digelar. Babak kedua dari tur kali ini, mengambil tempat hampir di seluruh ibukota provinsi pulau Sumatra yang dulunya terkenal dipanggil “Andalas”. Sangat disayangkan dua jadwal di Nanggroe Aceh Darussalam dibatalkan, karena alasan perijinan yang sulit.
Jadwal tur Sirkus Neraka – Melibas Andalas:
• 15 September – Medan, Sumatra Utara
• 16 September – Ranto Prapat, Sumatra Utara
• 19 September – Padang, Sumatra Barat
• 21 September – Pekanbaru, Riau
• 23 September – Jambi, Jambi
• 26 September – Bengkulu, Bengkulu
• 28 September – Palembang, Sumatra Selatan
• 30 September – Bandar Lampung, Lampung
Sirkus Neraka merupakan inisiatif yang mandiri. Semua konsep, jadwal panggung, dan sistematika tur, dirancang sendiri oleh Jeruji dan Rajasinga, dengan bantuan dari jaringan musik independen di tiap kota, sebagai penyelenggara acara. Semangat yang dibawa dalam tour ini, lebih kepada promosi materi album terbaru, sekaligus untuk memperluas jaringan dan koneksi sesama pelaku dan peminat musik ditiap kota yang didatangi.
Menyelenggarakan tur di pulau Sumatra itu memang mengandung misteri. Mungkin ini adalah ide mustahil bagi sebagian band. Mengingat jarak tempuh antar kota yang jauh (rata-rata 12 jam perjalanan darat), belum lagi kondisi jalanan yang belum selurus dan semulus jalur Pantura di pulau Jawa. Sangat menantang. Anggap saja ini sebuah proyek “ketuk pintu”, dan jikalau jalur tour Sumatra ini berhasil, mungkin saja setelah ini akan terbuka peluang bagi band lain untuk melakukan hal yang sama. Semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)





