Senin, 27 Agustus 2012

Nemesis : “Genocidal Battlefield”, Perang dengan Diri Sendiri


Jangan heran kalau kalian melihat gambar siluet manusia serigala di beberapa titik Kota Bandung. Itu adalah bagian dari propaganda salah satu band Metal Kota Bandung. Ya! Setelah cukup lama menghilang, Nemesis kembali hadir dalam wujud manusia serigala! Rawrrr! Bersiaplah, manusia serigala itu akan muncul di “Genocide Battlefield”, album terbaru Nemesis yang akan segera rilis tahun ini.
Bertempat di kos-kosan daerah Dipatu Ukur, Kamis (5/4) kami mencoba mencuri bocoran “Genocide Battlefield” dari mulut mereka langsung! Ngeri! Langsung saja deh ah, Inilah #WAWANCARRR edisi ke-6 bersama Nemesis.
Halo Nemesis, sudah lama tidak melihat kalian di atas panggung, masih main band? Atau udah jadi parpol?
Sendy : Sebenarnya lama engga muncul karena proses pembuatan album, awal masuk studio Maret 2010, baru selesai tanggal satu Februari kemarin. Ya, ke pending dua tahun.
Ada apa sampai tertahan dua tahun? Apa kendalanya di proses rekaman?
Sendy : Engga sih sebenarnya kalau teknis gitu mah. Proses recording cuma dua bulan. Pending-nya mah gara-gara yang ngerjain album ini teh banyak kerjaan juga, jadi waktunya engga pas.
Lalu, selama dua tahun ini kalian seakan “menghilang”, padahal tahun lalu kami sangat berharap bisa lihat kalian di Bandung Berisik. Kamana tah? Apa ini kebijakan dari management agar kalian fokus di album?
Sendy : Kalau urusan manggung sih, dua tahun yang lalu setelah rekaman selesai, dalam jangka 6-8 bulan setelah itu kamu ganti management, manager ganti. Jadi banyak penyesuaian lagi, bikin timeline baru, segala macem. Itu sih kendalanya.
Setelah sekarang muncul dengan wacana album “Genocidal Battlefield”, apa ada perubahan dari musik kalian? Jadi “sludge” atau “disko pantura” misalnya?
Sendy : Kalau masalah musik mah kedepannya engga akan merubah total.
Ojod : Benang merah dari album pertama masih ada gitu.
Sendy : Cuma dari segi kreativitas masing-masing personelnya juga udah berkembang lumayan. Jadi saya juga ngerasanya dalam tempo dua tahun nunggu ini juga engga percuma, karena dari masing-masing personelnya juga mulai belajar lagi dari awal, memperdalam bidang masing-masing, jadi eksplor lagu-lagu baru juga enak sih. Kalau misalkan mau denger nantilah, kalem we hehe.
Coba bocoran dong, album kalian akan berisi berapa lagu?
Sendy : ada 11 track dan 1 lagu instrumen. 40% bahasa Indonesia, 60% bahasa Inggris
“Buta Batin” dipilih untuk menjadi single pertama kalian di album ini, kenapa?
Sendy : Single dipilih berdasarkan voting ke beberapa temen-temen deket, dan ada yang dipilih oleh produser juga sebagian. Terus banyak masukan dari temen-temen yang akhirnya “Buta Batin” yang keluar. Dan kalau dari kami berlima kenapa setuju milih lagu ini, ya karena lagu ini beda dibandingkan 10 lagu lainnya. Sigana mah ngan ieu nu rada laun teh nya, nu lainna mah ngebut hahaha. Ya lebih easy listening.
Apa yang membuat “Buta Batin” berbeda dengan 10 lagu lainnya?
Sendy : Sebenarnya, ketika kami masuk studio itu justru lagu “Buta Batin” belum selesai. Jadi kami ada proses jamming dan proses kreatifnya. Ide awalnya memang dari saya, tapi proses kreatifnya itu tetep sama temen-temen di studio gitu, terus si “Buta Batin” ini tuh paling terakhir selesainya. Yang paling beda mungkin saya sama Ojod mengisi gitarnya lebih saling bersautan, Dei juga ngisinya engga seperti di lagu-lagu lain, biasanya adrenalinnya teralalu naik jadi gimana gitu, tapi di lagu ini mah engga trelaluover, ditahan gitu. Karena emang saya sebagai kreatifnya pengennya kaya gitu, biar lebih bisa didengar masyarakat luas, lebih menjangkau khalayak.
Ada apa dengan “batin”? Kenapa “buta”?
Sendy : Sebenarnya yang bikin liriknya itu Rangga, vokalisnya. Si eta teuing curhat, teuing naon teu ngarti lah hahaha. Dia bikin lirik ini tuh karena katanya sih pengalaman temen-temen mungkin pernah ditusuk sama temen sendiri gimana gitu rasanya… nya kudu aya si etana meh ngeunah ngajelaskeunna, sieun salah hahaha.
Wah kahatean sigana, leubar si Cepot (Rangga) eweuh, hahaha. Biasanya kalau dari segi lirik, dari mana inspirasinya??
Sendy : Kalau si Rangga sih di album ini inspirasinya lebih ke pengalaman pribadi dan sehari-harinya, si Regha juga gitu sih, yang saya tau lebih pengalaman pribadi dan temen-temennya seperti apa. Kalau mereka berdua discuss tentang lirik ya  begitulah, pengalaman sehari-hari, atau apapunlah.
Ketika mengerjakan album ini, musik apa yang memengaruhi kalian?
Sendy : Ya kalau influence banyak banget ya, beda tiap personel. Kalau saya dengerinnya band-band “trash-area” seperti Metallica, Megadeth, Slayer, dan band-band Swedia, dan beberapa band pop-rock 80’s.
Ojod : Kalau saya lebih ke band-band Eropa yang “gebar-geber” pokoknya. Buat influence doang, saya sendiri juga sebenarnya engga sanggup bikin lagu kaya gitu hahaha.
Dei : Kalau saya justru engga terlalu banyak denger music kaya teman-teman, jadi kalau udah suka sama satu band atau satu aliran musik, ya saya dengerin terus sampe udah bisa nempel. Jadi ya gitu, kalau denger banyak-banyak malah jadi pusing.
Masing-masing personelnya nih, ketika proses rekaman album, pake alat-alatna naon wae?
Dei : Kalau drum mah engga pakai yang luar biasa, saya pakai drum yang ada di Massive Studio, Master Classic Performer setting-an standar, pakai trigger juga, kalau simbal masih tambal-tambal dari berbagai merk. Jadi apa yang saya punya terus bisa menunjang kreativitas album ini dibekel lah semua. Engga ada yang aneh jadinya.
Sendy : Saya sama Ojod sih… sebenarnya yang palling lama di studio itu kami berdua, jadi siga nu bobogohan hahaha. Selama dua minggu itu karena proses kreatif gitar di Nemesis itu paling banyak, Dei sebentar banget, dia 11 lagu itu cuma dua hari, empat shift 11 track. Saya sama Ojod itu hampir dua minggu.
Ojod : Jadi kami itu dua minggu hajar dari shift 1 sampe shift 3 sampe subuh, jadi gentian.
Sendy : Saya pakai Ibanez Series, pick-upnya Seymour Duncan Blackouts, terus Ojod pakai gitarExtreme EMG 81, langsung plug ke ampli. Ya pokoknya mah gitulah simpel engga ada yang “wah”,karena saya dan Ojod gitaris yang percaya jika banyak menggunakan efek-efek tambahan engga akan natural keluarnya, saya lebih percaya distorsi dari gitar colok ke ampli langsung..
Menurut informan kami, kalian bakal rilis album kalian ini di “Bandung Berisik 2012”, betul?
Sendy : Waah kata siapa? Hahaha engga sebenarnya mah rilisnya itu mudah-mudahan bulan ini, tapi saya juga engga tahu pasti tanggal berapa, belum ada kabar, jadi tunggu aja. Kalau masalah launching-nya di Bandung Berisik itu gosip hahaha. Soalnya kami engga mau launching bareng band lain.
Dei : Yang benar itu, kami akan promo besar-besaran di Bandung Berisik.
Promo seperti apa? Apa acaranya bakal di-branding oleh Nemesis? Atau kumaha?
Sendy : Engga sih, mungkin seperti promo-promo biasa aja. Di-announce pas lagi manggung. Nah kalau untuk urusan launching dan segala macemnya sih kami pengennya ada, cuma belum tau kapan dan seperti apa sih. Mudah-mudahan terlaksana sedudah bulan puasa, mudah-mudahan. Tempatnya masih rahasia, da lieur oge rek dimana hahaha.
Berbicara promo, srategi promo seperti apa yang kalian gunakan sebelum rilis? Apa ada propaganda tertentu?
Sendy : Pokoknya kalau ada temen-temen lewat jalan tertentu lihat ada gambar siluet creatures gitu. Dari Maret awal kami udah mulai boombing gambar itu di beberapa tempat, paling banyak di Dago, Pasteur, Pasopati. Kenapa kita milih propaganda seperti ini karena cover albumnya juga engga bakal jauh dari gambar itu.
Kenapa kalian milih propaganda seperti itu?
Sendy : Saya terkesima dengan propaganda punk jaman dulu, dan memang hasilnya bagus, cukup efektif, dan kenapa engga kami coba aja..
Dan kenapa harus gambar manusia serigala? Apa hubungannya dengan “Genocidal Battlefield”?
Sendy : Simpel sih, kami cuma pengen bikin creatures yang emang engga ada, pokonya manusia serigala ini engga biasa, sekedar simbol yang mewakili Nemesis. nanti lihat aja di cover album. Dan berbicara tentang “Genocidal Battlefileld”, bukan berarti bercerita tentang penghancuran masal dalam arti aslinya, tapi lebih pada perang diri kita dengan lingkungan, dengan diri sendiri, yang sifatnya lebih ke kehidupan sehar-hari.
Jadi kapan rilisnya?
Sendy : Mudah-mudahan sih rilis 2 atau 3 minggu dari sekarang. Paling telatnya sih mudah-mudahan awal Mei.
Nah flashback dulu ya. Bagaimana kalian terbentuk? Kenapa harus Nemesis? Apa terinspirasi dari Arch Enemy?
Sendy : Sebenarnya awalnya sih Nemesis itu berempat, saya, Dei, Rangga, dan Regha, Ojod belum masuk. Terbentuk 26 Sepember 2007. Kebetulan sebelum ada namanya, kami udah bikin single pertama, “Angkara” yang dibuat hanya dalam waktu 5 jam. Dan alhamdulilah responnya lumayan. Nama Nemesis sendiri kami pilih karena namanya mewakili aja, kalau di kamus artinya “pembalasan untuk ketidakadilan”. Inspirasinya sebenarnya dari seorang teman, iya memang judul lagu Arch Enemy, tapi dulu kami sama sekali engga tau. Nah di tengah jalan kami sepakat untuk mencari gitaris tambahan, kebetulan saya dan Ojod temen sekelas di SMA.
Lalu apa yang membuat kalian memutuskan untuk mengikuti LA Light Indifest 2008?
Sendy : Waaah pertanyaanna hade euy juara. Itu teh tahun 2008. Pertamanya gini sih, Nemesis pertama manggung itu di UNISBA, acara kolektif tahun 2008, yang datangnya banyak bangetl! Itu momentum pertama Nemesis. Dari situ tuh 2 minggu kemudiannya kami main di AACC, nah minggu depannya tuh ada tragedi AACC, otomatis kan minggu depannya kami engga jadi main kan. Itu tuh kita sempet pusing sebenernya, engga ada kesempatan pengen manggung lagi. Akhirnya si Regha usul “eh ngiluan LA Light Indiefest yuk? Hereuy we ulah di seriuskeun” . Sebenarnya tujuan kami cuma pengen manggung, tapi alhamdulillah masuk di 10 besar Indonesia, masuk di kompilasi LA Light Indiefest 2008, kompilasi ketiga dan mungkin satu-satunya band metal.
Apa ini jadi satu kebanggan untuk kalian?
Sendy : Naon nya.. kami mah let it flow aja, ini mah rezeki. Karena terus terang ya karena kami dapet piagam, maksudnya kaya saya dan temen-temen tuh ngerasa bangga bahwa band metal tuh dapet penghargaan seperti ini jarang-jarang kan. Ya disyukuri aja, terserah orang mau bilang apa karena kami mah underground gitu. Tapi kami milih jenis musik seperti ini bukan memang pengen dapet hal-hal seperti itu. Saya pribadi dan temen-temen main musik itu jujur dan kalau ada orang-orang yang menghargai kenapa engga.
Sejauh apa pengaruh ajang ini untuk karir Nemesis?
Ojod : Setelah terakhir manggung di-launching kompilasi. Alhamdulillah sih banyak yang respect, mungkin engga dari beberapa kota aja ya, semua kota responnya positif . Dari beres kompilasi itu lumayan kami sering-sering manggung ,hampir tiap minggu ada.
Sendy : Kami dapet panggung juga kayanya yang punya acara tau kami keluaran LA Lights Indie Fest juga, terus ada beberapa relasi, dan link juga, lumayan pada tau jadi dapet panggungnya itu dari sana.
Menurut kalian apa positif dan negatif dari ajang ini untuk Nemesis? Tanpa memojokkan salah satu pihak loh.
Sendy : Kalau positifnya terus terang itu promosinya edan ya, mungkin bisa diliat gitu dulu tiap minggu malem ada di TV nasional, ya lumayan. Cuma yang bikin kurang sreg, ajang seperti ini tuh memang ada beberapa kasus kaya pengen mertahanin band buat masuk tapi dengan merubah jenis musik mereka. Sempet kami juga dapet tawaran untuk merubah musik kami. Kalau buat saya pribadi sih ya jangan kalau begitu. Ya mungkin itu negatifnya, karena kalau misalnya saya cari duit, ya saya ambil. Kami mah cuma hereuy nya mimitina ge hahaha. Jadi ya kalau ada tawaran-tawaran yang seperti itu dari ajang-ajang selanjutnya ya saya bilang jangan, karena musik bukan untuk dipaksakan, musik itu sifatnya universal, jadi apapun yang pengen di mainin ya mainin aja musiknya, jangan liat kiri kanan.
Jadi kalian main band bukan untuk nyari uang ya?
Sendy : Terus terang ya, kalau uang, ketenaran, dan segala macem itu mah bonusnya mungkin, ngikutin. Saya main musik itu karena pertama, saya suka, kedua saya pengen mengasah kemampuan saya. Karena saya berpikirnya itu kalau pekerja, pagi-pagi dia ngantor terus pulang lagi. Kalau pemain band beda. Sabtu-Minggu manggung, senang-senang, pulang dapet temen baru. Nah hal-hal seperti itu yang engga mungkin kami dapet dari pekerjaan biasa.
Ojod : Ya itu lah lebih ke kepuasan hati. Sama kaya Sendy, lebih ingin mendalami sejauh mana saya bisa mengeksplor kemampuan bermusik.
Dei : Band bagi saya jadi wadah menyalurkan emosi, tenaga, pikiran. Terus senang, marah, sedih, segala rupa mun urang bisa dituangkeun ke permainan pattern-pattern atau beat tertentu tibatan neunggelan batur hahaha.
Seandainya masing-masing harus punya band lain selain Nemesis, pengen punya band seperti apa?
Sendy : Terus terang pengen punya band rock euy, pengennya sih..
Ojod : Band reggae atau melodic punk.
Dei : Kalau saya lebih pengen ke progressive rock.
Seandainya (lagi), Ketika Nemesis manggung kalian tidak diperbolehkan memakai baju hitam dan harus memakai baju yang warnanya mencolok, pilih warna apa?
Sendy : Hmm naon nya? bereum mereun geus paling aman hahaha.
Dei : Biru lah, paling make baju persib kitu hahaha.
Ojod : Yaa hijau boleh.
Sendy : Beda-beda tea warna na balodor ahahaha
Apa perbuatan paling “nakal” yang pernah kalian lakukan?
Sendy : Oh enya, SD mah urang pernah euy nyokot barang di salah satu store yang cukup terkemuka, urang nyokot permen nu wangi-wangi tea, tapi tah bener satpam jigana geus di magic ku urang jadi si eta teu ngadenge hahah jadi urang lolos kitu.
Ojod : Urang mah naon nya euy. Standar budak baong Bandung lah. Tong disebutkeun eta mah basa ngora, geus tobat ayeuna mah hahaha. Mabok lah, semata keur kasenangan sama satu lagi, buat galau hahaha.
Dei : Mun urang mah basa SD, jaman babeh urang masih ngaroko, jadi aya puntung di asbak, penasaran tea rasana rokok, ai pek teh teu ngeunah jadi neupi ayeuna tau ngudud gara-gara teu ngeunah eta hahaha
Aduh pertanyaanna beak, cik hobi masing-masing?
Sendy : Urang mah ayeuna keur resep main RC euy, Remote Control tea, lumayan tah lalieur.
Ojod : Kalau saya sekarang lagi olahraga tangan, Game Online, Dota hahaha.
Dei : Kalau saya mah hobi ya itu terus sama drum, jadi kalau engga bongkar pasang ya coba-coba cari beat-beat yang aneh.
Tipe cewe?
Dei : Ya engga terlalu tinggi engga terlalu pendek, rambut engga terlalu panjang engga terlalu pendek, kulit engga terlalu hitam engga terlalu putih, yang penting giginya bagus engga ada gingsul hahaha
Ojod : All in lah, nu jiga pegawai bank, SPG nu cociks lah hahaha
Sendy : Nu panjang buukna teu nanaon, pondok mah teu nanaon. Nya fisik mah euy da engke oge geus kolot mah teu ngeunaheun we angger, ayeua mah neanganna nu ngeunaheun we, kaya siapa yaa.. kaya Raisa lah boleh cociks.
Satu kata untuk Nemesis!
Sendy : Heavy!
Ojod : Taw taw!
Dei : Nyaman!
Deskripikan ROI! RADIO dalam satu kalimat!
Sendy : Naon nya, 666 we lah.
Dei : Garelo lah pokona maraneh.
Ojod : Ngacak.
Mari kita tunggu saja kehadiran “Genocidal Battlefield” di tahun ini. Semoga “manusia serigala” ini benar-benar merupakan sosok berbeda yang belum pernah ada. YAA sampai jumpa di #WAWANCARRR edisi selanjutnya. Taw Taw Nemesis!
Oleh Boniex Noer dan Citra Adisti

Sabtu, 25 Agustus 2012

Review Album Seringai - Taring 2012



TARING..!!TARING..!!TARING..!! Suatu hal yang mendefinisikan arti seuatu hal yang tajam, kokoh dan mampu mencabik daging apapun. Taring yang saya makasud adalah taring yang dimiliki SERINGAI pioneer thrash metal dari Jakarta yang berangotakan Arian13, Ricky, Sammy dan Khemod ini dengan buas merilis  album yang bertajuk TARING. Full album ke3 dari Seringai ini sangat tajam dan mampu mencabik telinga para penikmat metel khusunya thrash atau heavy metal (memang selalu sulit mengerti musik Seringai) hahaha.  kita mulai dari cover, bila dilihat dari segi ARTWORK mereka tidak pernah melunturkan tengkorak, serigala dan taring pastinya ARTWORK ini memang sudah melekat dengan Seringai dan sialnya ARTWORK ini dikerjakan sendiri oleh ARIAN13 yang dikenal sebagai artworker ulung. Suatu keanehan pada saat saya buka di slide selanjutnya karena disitu ada cerpen dari stand up comedian SOLEH SOLIHUN. Sebuah cerpen fiktif yang menceritakan masa depan manusia yang tersisa untuk berperang melawan serigala ditengah kota, epic. Di album kali ini seringai mempackaging 12 lagu namun ada beberapa lagu yang sudah hangat ditelinga seperti lagu DILARANG DIBANDUNG, PROGRAM PARTY SERINGAI yang sudah cukup sering dibawakan dan lagu TRAGEDI yang dapat diunduh secara gratis untuk para penggemarnya, tersiar kabar pada saat pengunduhan gratis ini lagu tragedi diunduh sekira seribuan lebih dalam hitungan jam .Tapi yang sangat mencuri perhatian adalah lagu yang berjudul FETT, SANG PEMBURU lagu yang didedikasikan untuk fett salah satu karakter antagonis dalam serial star wars dari segi lyrick dan riff gitar dilagu ini sangat berbeda dengan lagu lainnya, lagu ini terdengar lebih fresh dan tentunya BADASS SONG. SERINGAI juga mengcover lagu dari duo kribo (salah satu project rock ahmad albar,ian antono dan ucok AKA) suatu covering lagu yang dibuat sangat Seringai banget (coba dengarkan dan bandingkan). Untuk track 9 LAGU LAMA, lagu ini saya rasa sangat melelah kan untuk sang vocalist ARIAN 13 yang dipaksa bernyanyi dalam satu tarikan nafas hell yeahhhh. LISSOI?? lagu covering yang berasal dari suku batak ini dicover secara akustik dan hura-hura oleh Seringai. Secara keseluruhan album ini masih ngebut penetaan sound yang matang dan masih heavy tentunya. Bila diberi kehormatan untuk memeberikan bintang untuk album ini maka saya akan memeberikan 4 bintang untuk album TARING ini dan saya yakin album ini salah satu relisan bahaya di 2012. \m/ (budcole) 

Minggu, 29 Juli 2012

IVAN SCUMBAG DAN DISKRIMINASI PELAYANAN KESEHATAN


"IVAN SCUMBAG DAN DISKRIMINASI PELAYANAN KESEHATAN"

Oleh Kimun666
Catatan ini saya tulis untuk mengenang 6 tahun wafat Ivan Scumbag (19 April 1978 – 27 Juli 2006). sahabat saya, vokalis Burgerkill. Saya ingin mulai dari mencuplik fragmen dua hari terakhir hidup Ivan dari buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Nama rumah sakit dan ruangan di mana ia dirawat sengaja saya hilangkan dalam artikel ini agar pebahasan tidak menjadi bias. Simaklah,
“…Sehari sebelumnya, 26 Juli 2006.
Pukul setengah satu dini hari. Sakit di kepala Ivan semakin menghebat dan sepertinya sudah tak tertanggungkan lagi. Tubunya yang ringkih sudah tidak kuat lagi menahan derita begitu hebat di kepalanya. Syaraf-syarafnya sama sekali sudah lelah. Ivan kejang-kejang.  Kejang-kejang yang paling parah selama Ivan sakit. Ini membuat Mery yang malam itu menjaganya menjadi panik. Ia mencoba menghubungi Jimbo tapi selalu tidak nyambung. Mery juga menghubungi Andris, mengiriminya pesan pendek mengenai kondisi Ivan tersebut. Tak lama kemudian, Jimbo menelpon, mencari tahu kondisi Ivan. Mery memintanya segera datang ke Antapani karena kondisi Ivan yang memprihatinkan. Jimbo berangkat saat itu juga dari Rancaekek menuju Antapani.
Ivan sudah tidak bisa apa-apa. Mery mencoba membuatnya duduk agar Ivan dapat menghirup udara segar. Namun, untuk duduk pun ia sudah tidak kuat, padahal sepertinya Ivan saat itu sudah tidak kuat menahan buang air kecil. Akhirnya, untuk ke dua kalinya Mery mencoba mengangkat, mendudukkan Ivan. Namun Mery semakin panik melihat kejang-kejang Ivan jadi semakin parah. Ia kejang hebat. Lehernya sangat tegang dan tertarik ke belakang kepalanya. Kaki dan tangannya juga sangat kejang. Tangannya malah terkepal sangat erat. Sementara itu, matanya nyalang terbuka, melotot menatap kosong ke arah sana. Matanya begitu gelap dan pekat. Tiba-tiba tubuh Ivan dipangkuan Mery jadi semakin memberat. Sepertinya, tubuhnya pun mulai mengejang saat itu. Akhirnya, Mery kembali membaringkan Ivan.
Untunglah Jimbo segera datang bersama Dody sepupunya. Sementara itu, orang-orang di rumah Mery juga semua bangun dari tidurnya mendengar kegaduhan-kegaduhan di kamar Mery. Melihat kondisi Ivan yang sangat memprihatinkan, mereka semua siap siaga. Semuanya memegang tangan, kaki dan tubuh Ivan, membantunya mengendurkan otot-ototnya yang semakin kejang. Saat itu, sepertinya ia sudah tidak kuat menahan air seninya. Tubuhnya semakin mengejang, melenting ke belakang. Tiba-tiba Ivan buang air kecil. Air seni membasahi celananya seketika itu juga.
Saat itu semua sepakat, kondisi Ivan sangat kritis dan ia harus segera dibawa ke rumah sakit. Rencananya Ivan akan dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusuf. Setelah Ivan dijaga agar tetap nyaman, semuanya segera sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Mery bahkan sempat ke luar rumah untuk mencari taksi, atau angkot yang bisa dicarter, atau kendaraan apapun yang bisa mengantar Ivan sesegera mungkin. Wida, adik Mery juga terlihat sibuk menghubungi kawan-kawannya, meminta tolong meminjam kendaraan. Sementara itu, Jimbo mengganti celana Ivan dan menyiapkannya untuk dibawa ke rumah sakit. Jimbo juga menghubungi keluarganya, salah satu paman Ivan untuk meminjam kendaraan. Sayangnya, sang paman tidak bisa membantu. Namun, ia segera datang karena rumahnya lumayan dekat dengan rumah Mery. Untunglah, tak  lama kemudian datanglah kendaraan. Sebuah pick-up. Namun, dalam kondisi gawat darurat, mobil itu adalah mobil terbaik di dunia. Yang berbaik hati meminjamkan kendaraannya, bahkan mengantar Ivan ke rumah sakit malam itu adalah Dadan, kawan Arie. Jimbo, Dody, dan Paman Ivan ikut serta. Dengan suka rela Paman Ivan duduk di bagian belakang bak terbuka pick-up malam itu. Mery, Ary, dan Lucky, kakak Mery, serta salah satu kawannya menyusul ke Santo Yusup memakai motor.
Sampai Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit di Bandung Ivan segera ditangani. Ia sempat menolak ketika akan dipasangi infus. Jarum yang sudah menancap di aliran darahnya seketika itu juga direnggut Ivan, hingga darah dari nadinya tumpah ruah menodai ranjang tempat ia dibaringkan. Sebelumnya, sempat ada salah paham antara dokter jaga malam Santo Yusuf dengan Jimbo serta keluarga Ivan yang ikut mengantar.
Dengan lagak ‘tuan tahu segala hal’, sang dokter jaga petantang-petenteng di depan Ivan. Ia menampar-nampar wajah Ivan sambil berteriak,
“Bangun, bangun!”
Melihat Ivan tak juga bangun, sang dokter jaga mulai bertanya macam-macam. Pertanyaan paling parah adalah, “makan obat apa sebelumnya?” Singkatnya, sang dokter jaga menyangka Ivan sebagai korban overdosis narkoba. Serentak, semua yang ada di sana menyangkal pernyataan sembrono sang dokter jaga tersebut. Mereka menegaskan jika Ivan benar-benar sakit dan bukan korban overdosis narkoba.
Setelah manggut-manggut, sang dokter jaga kemudian bertanya ke Mery mengenai riwayat kesehatan Ivan sebelum kejang-kejang.
“Dok, emang dulu Ivan itu user dan bahkan bukan sekedar user. Ia adalah scumbag, tempat sampah di mana semua jenis drugs sudah pernah dia coba. Tapi itu dulu banget, Dok. Lima tahun terakhir hidupnya sudah bisa saya bilang jika ia sudah berubah. Sekarang, dia sudah bisa dibilang sangat, sangat membaik. Menurut dokter yang menanganinya selama ini, dokter Zulkarnain Siri, Ivan itu sakit tuberkolusis atau bronchitis dan selama dua tahun terakhir ini dia minum obat paru. Namun lantaran tidak ada biaya, terapi jalan tersebut tidak pernah tuntas.”
Sang Dokter jaga manggut-manggut lagi setelah mendengar cerita Mery. Akhirnya, ia memutuskan agar Ivan dirawat inap sebelum diperiksa oleh dokter ahli yang akan menanganinya nanti. Awalnya, Ivan akan dirawat di ruang isolasi. Tapi karena penuh, maka Ivan kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Namun, untunglah, tiba-tiba ada tempat kosong di Ruang Maria. Di ruang ini, satu kamar dapat diisi oleh enam pasien dengan penyakit yang berbeda-beda. Namun, sekali lagi kamar ini menjadi sangat lumayan ketimbang harus memindah-mindah lagi Ivan ke rumah sakit-rumah sakit lain yang juga belum jelas tersedia kamar atau tidak. Sambil mengurusi registrasi dan administrasi, pandangan Mery tak pernah sekali pun lepas dari Ivan. Saat itu, Ivan menggumam-gumam tidak jelas. Tangannya tidak bisa diam mencoba merengut jarum infus yang menancap di syaraf-syaraf tangannya. Sepertinya, Ivan sangat kesakitan dengan jarum infus itu. Darah tetap menyembur dari nadinya. Meninggalkan noda-noda darah di ranjangnya. Karena tangan Ivan tidak bisa diam, selalu mencoba untuk merenggut jarum infus, para perawat mengambil inisiatif untuk mengikat kedua tangan Ivan di besi-besi ranjang rumah sakit di mana Ivan berbaring. Semua yang hadir menemani Ivan saat itu membimbing Ivan untuk mengucapkan Istighfar.
“Van Istigfar, Van…”
“Van astaghfirullah, Van…”
Sampai saat itu Ivan masih bisa menggumamkan kalimatullah astaghfirullahhaladzin beberapa kali walau terbata-bata.
Di sela-sela proses perawatannya Ivan terlihat sangat resah. Tubuhnya bergerak-gerak terus mencari kenyamanan yang tak kunjung ia dapatkan. Sementara itu, Ivan juga tak bisa berbuat banyak mengingat posisi kedua tangannya yang masih terikat di besi-besi di pinggir ranjang. Beberapa suster datang tak lama kemudian mengecek kondisi Ivan. Mereka mengukur tekanan darah dan juga mengambil contoh darah untuk diperiksa di laboratorium. Mereka lalu meminta izin kepada Mery untuk memasangkan baju pasien dan kateter di Ivan. Kateter adalah semacam selang yang dimasukan ke lubang penis dan bermuara di sebuah kantong yang mirip labu infus. Fungsinya untuk menampung air seni Ivan, agar jika kebelet, ia tidak usah bergerak dari ranjangnya.
Setelah para suster beres dengan pemeriksaan dan pemasangan kateter, Ivan terlihat sedikit nyaman walau gelisah sepertinya masih betah menggelayutinya. Mery dan Jimbo dengan telaten menemani Ivan saat itu. Ivan masih sangat yang gelisah. Ia berbaring resah, tak bisa diam. Beberapa kali baju pasien yang dikenakannya tanpa daleman itu tersingkap memamerkan bokong dan penisnya. Mery yang siap siaga, beberapa kali menyelimutinya dan menutup gorden ruang tempat Ivan dibaringkan. Sepanjang sisa malam itu dilewati Ivan dengan perasaan tak menentu. Tidurnya sangat gelisah dan berkali-kali tubuhnya kejang-kejang. Ivan berbaring dengan sangat tidak nyaman.
Akhirnya, pagi tiba. Para perawat datang membersihkan tubuh Ivan dengan wash-lap sambil beberapa kali menghibur Ivan. Setelah bersih-bersih badan, Ivan sarapan. Ivan makan dengan lahap pagi itu. Sepertinya, ia sangatlah lapar. Mery menyuapinya. Sayang, nafsu makannya tidak ditunjang oleh kondisi tubuhya. Mulutnya saat itu sudah kaku, tidak bisa dibuka dengan lebar hingga menyusahkan suapan-suapan makanannya. Minum pun, akhirnya Ivan harus mempergunakan sedotan. Beberapa kali, karena terlalu bernafsu, Ivan tersedak.
Saat itu, Ibu serta keluarga-keluarga lainnya sudah datang berkumpul di Santo Yusuf. Ibu Hera sempat menggantikan Mery menyuapi Ivan. Namun, tak lama Mery kembali meneruskan menyuapi Ivan dengan semangat. Saking semangatnya, Ibu Hera sempat memperingati Mery, “Neng Mery jangan banyak-banyak, pelan-pelan nyuapinnya!”. Tapi saat itu yang ada dalam benaknya adalah bahwa Ivan harus sebanyak mungkin diberi banyak asupan minuman dan makanan biar nutrisi dalam tubuhnya terpenuhi, cairan membantu metabolismenya, dan staminanya akan semakin baik. Namun, kondisi Ivan ternyata tidak bertambah baik sepanjang hari itu. Kejang-kejangnya tambah sering. Sepertinya, Ivan tidak kuat menahan sakit yang mendera syaraf-syaraf kepalanya sehingga tubuhnya mengejang menahannya. Tubuhnya kering kerontang saja karena berhari-hari tak ada makanan sama sekali yang masuk menyuplai nutrisi tubuhnya.
Saat itulah, Andris datang. Ia sangat terkejut melihat kondisi Ivan. Segera saja, Andris mengabari kondisi Ivan yang terakhir kepada seluruh personil Burgerkill dan kawan-kawan. Andris tak lama. Ia segera berangkat untuk mengurusi perawatan Ivan dengan janji siangnya ia akan segera kembali. Siang harinya, Kimung, datang. Ia sama sekali tidak menyangka jika kondisi Ivan sangat kritis. Tak seorang pun memberitahu Kimung mengenai sakit Ivan yang parah. Memang sebelumnya, Jimbo pernah menelepon memberitahu jika Ivan sedang sakit dan ingin ketemu dengan Kimung. Namun, dalam pemberitahuan itu Jimbo sama sekali tidak mengisyaratkan jika Ivan sudah sakit sangat parah, hingga Kimung menyangka sakit Ivan sakit biasa-biasa saja. Ia benar-benar terhenyak ketika melihat kondisi Ivan.
Di Bagian Maria Ruang 1-6 Rumah Sakit Santo Yusuf, ruang di mana Ivan dirawat Kimung disambut dengan mata berkaca-kaca Jimbo dan Mery. Mereka bersalaman tanpa banyak berkata-kata. Dan di sanalah Ivan berbaring.
Tubuhnya begitu kurus dan ringkih. Hanya dibungkus kain rumah sakit, sebuah terusan berwarna putih-putih. Rambutnya panjang tergelung di belakang kepala. Wajahnya tanpa ekspresi. Begitu pucat di antara keringat-keringat dingin yang sedikit-sedikit keluar dari pori-porinya. Matanya cekung, sedikit terbuka. Korneanya berada di langit-langit mata. Sedikit erangan-erangan terdengar dari mulutnya yang juga pucat dan sedikit terbuka. Jimbo dan Mery yang setia menungguinya sebentar-sebentar mengipasi Ivan yang tampak kepanansan. Ada juga Neng, sepupu Ivan, dan suaminya ikut menunggui.
“Van…”, sapa Kimung setengah berbisik.
Tak ada jawaban.
Van, ieu urang, Kimung…”[1]
Tetap tak ada jawaban.
Kimung  mengalihkan pandangan bergantian ke Jimbo dan Mery. Memohon penjelasan dari siapapun mengenai kondisi Ivan terkini.
Si Ivan kejang-kejang, ti tadi peuting. Jam dua peuting di bawa ka dieu…”[2] Jimbo menjelaskan, mahfum dengan ekspresi wajah Kimung.
Kimung kembali mengalihkan pandangan, menatap Ivan, lalu menggenggam tangannya. Agak kesulitan ia mencari tangan Ivan. Ternyata kedua pergelangan tangan Ivan terikat ke rangka bangsal yang ia tiduri.
Sementara itu Mery mengipasi Ivan, membelai-belai kening dan rambutnya, menyeka keringat yang mengucur sedikit-sedikit, sambil tak henti-hentinya mengajak Ivan bicara. Menyemangatinya agar sabar dan tabah. Sesekali ia menengadah mengalihkan pandangan pada Kimung dan tersenyum.
Kunaon ditalian leungeunna?”[3] tanya Kimung pada Jimbo.
Kamari si Ivan ngamuk. Embungeun di infus, pas infusan geus dipasang, langsung dicabut deui nepi ka leungeunna garetihan.”[4] sahut Jimbo lirih. Matanya menunjuk ke bercak-bercak darah yang ada di sekitar ranjang yang Ivan tiduri.
Kimung lalu menggenggam tangan kurus itu.  Tangan yang sejak dulu ia kenal betul bentuknya, tato-tato yang ada di atasnya. Tangan itu begitu kejang. Kimung menggenngamnya erat.
Van, ku naon manéh? Sing sabarnya, Van…”[5]
Lalu Kimung terdiam tak tahu apa lagi yang harus dikatakan. Ia tertunduk. Seketika Kimung rasakan jutaan gelombang menghantam dadanya. Menggulung-gulung bergemuruh riuh dalam dirinya. Menghajar-hajar mencoba menjebolkan dinding pertahanan dirinya. Seketika itu juga ia lemas. Namun, ia bertahan. Genggaman tangan itu semakin Kimung eratkan.
“Van…”
Kembali Kimung menyebut nama Ivan.
Saat itu, kawan-kawan Ivan dari ranah musik bawahtanah Ujungberung Rebels datang menjenguk. Mereka adalah Amenk, Man, dan beberapa kawan lainnya. Bergantian mereka berdoa dan membesarkan hati Ivan agar tetap tabah dan semagat menjalani cobaan ini.
***
Kebisuan itu agak mereda ketika dokter yang menangani Ivan tiba dan langsung masuk ruangan di mana Ivan dirawat. Dokter itu masih muda dan matanya memancarkan tingkat optimisme yang tinggi. Sorot mata penuh kehidupan yang dapat menularkan harapan akan hidup kepada siapa pun yang menatapnya. Begitu pula kepada semua yang hadir di sana saat itu, Mery, Jimbo, dan Kimung. Sang dokter memeriksa Ivan dengan seksama. Ia melihat catatan kesehatan Ivan, kemudian memeriksa tubuh Ivan. Detak jantungnya, nadi, hingga memeriksa mata dan mulutnya. Sambil memeriksa sang dokter mengajak berbincang-bincang Mery, Jimbo, dan Kimung yang ada di sekeliling Ivan menunggui pemeriksaan itu.
“Kenapa katanya Ivan ini?” Tanya sang dokter ramah.
“Euu kejang-kejang dokter… “ Jimbo lalu sedikit menceritakan riwayat kesehatan Ivan sejak ia salah didiagnosis paru-paru sampai kejang-kejang parah dan dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusuf.
Sang dokter mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti keterangan Jimbo sambil tetap konsentrasi memeriksa kondisi Ivan. Tiba-tiba dokter menghentikan pemeriksaannya dan berkata,
“Sepertinya penyakit Ivan ada di dalam kepala. Ini terlihat dari kejang-kejang yang dialamainya. Coba ya kita tes…” sahut sang dokter. Ia lalu memegang kepala Ivan dan membalikkannya ke sebelah kiri. Ternyata, kepala Ivan sama sekali tidak bisa menoleh ke arah kiri. Ketika kepala itu dibalikkan ke kiri seluruh tubuh Ivan ikut membalik ke arah kiri. Ketika kepala Ivan dibalikkan ke kanan, seluruh tubuhnya ikut membalik ke arah kanan. Dari fenomena ini saja, dokter menyimpulkan jika Ivan terkena radang yang sangat parah di dalam otaknya. Hanya saja dokter tidak berani menyebutkan penyakit apa yang diderita Ivan.
“Perlu pemeriksaan lebih dalam dan CT Scan untuk menentukan dengan pasti penyakit yang diderita sudara Ivan…” katanya lirih.
“Terus bagaimana caranya CT Scan itu Dok?” tanya Jimbo.
“CT Scan itu scanning organ dalam kepala Ivan, dalam hal ini otaknya. Sepertinya di dalam syaraf otak Ivan ada sebuah benjolan yang mengganggu kinerja otak. Bila benar apa yang saya perkirakan, maka saudara Ivan harus segera dioperasi. Operasinya pun bukan sebuah operasi yang mudah. Kita harus mempertahankan posisi benjolan itu jangan sampai pecah atau berpindah tempat. Jika benjolan itu sampai pecah atau berpindah tempat, maka ini akan menghambat jalan napas saudara Ivan, yang artinya ia akan meninggal…” jawab dokter panjang lebar.
“Terus apakah ada harapan Ivan untuk pulih seperti sedia kala?”
“Harapan tentu saja selalu ada…” dokter menjawab seraya tersenyum. “Namun, dalam kasus saudara Ivan, saya yakin ini akan sangat berat. Sekarang ini, kinerja otaknya sudah sangat minimal. Saudara Ivan sudah tidak bisa lagi memungsikan otaknya untuk mengontrol tubuhnya. Jika pun saudara Ivan sembuh,  kinerja syaraf otaknya tidak akan kembali seperti sedia kala. Akan ada skala penurunan kinerja otak dan bahkan mungkin cacat otak. Namun, semuanya tetap akan kembali kepada saudara Ivan sendiri, apakah niat untuk pulihnya besar atau tidak. Ada terapi khusus yang bisa mengembalikan fungsi otak dan syaraf…”
Jimbo, Mery, dan Kimung manggut-manggut mendengar penuturan sang dokter. Dokter kemudian menegaskan CT Scan dapat dilakukan jika ada persetujuan dari pihak keluaga. Untuk informasi lebih jauh mengenai CT Scan terutama dalam hal administrasi, dokter mempersilahkan Jimbo untuk bertanya ke bagian pelayanan. Dokter sendiri saat itu sudah selesai memeriksa Ivan. Ia lalu memberikan resep yang harus dikonsumsi Ivan, sebelum tindak lebih lanjut diputuskan oleh pihak keluarga. Setelah pamit kepada semua yang ada, sang dokter kemudian meninggalkan ruangan Ivan dan meneruskan memeriksa pasien-pasiennya yang lain. Jimbo mengikutinya dari belakang menuju pelayanan untuk meminta segala informasi mengenai CT Scan.
Ternyata biaya CT Scan tidaklan murah. Sembilan ratus ribu untuk sekali CT Scan dan itu belum termasuk obat-obatan dan biaya perawatan, apalagi operasi. Semua sempat termangu-mangu bingung mencari biaya untuk itu semua. Namun, semua berpikir jelas. Ivan harus segera ditangani. Biaya bisa dicari belakangan. Maka Jimbo dan Mery memutuskan untuk menyetujui CT Scan sambil mereka tetap mencari biaya untuk itu. Kimung sempat menelpon Dhoni, kawan Ivan untuk mengabarkan kondisi Ivan yang sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit Santo Yusuf, sambil bertanya apakah Dhoni bisa membantu biaya perawatan Ivan. Di seberang sana, Dhoni mengatakan ia segera datang ke Rumah Sakit Santo Yusuf.
Sementara itu, resep yang diberikan dokter telah ditebus dan Ivan segera diberikan pengobatan. Waktu menunjukkan pukul satu ketika seorang suster datang untuk membersihkan Ivan, memberinya makan, dan obat-obatan. Ia permisi dulu kepada semua yang hadir untuk memeriksa Ivan. Sehabis pemeriksaan, suster mengganti infus di tangan Ivan. Ketika semua sudah beres, suster lalu mengeluarkan segelas cairan nutrisi mirip susu yahg ternyata adalah makanan Ivan. Ia mulai mengucurkan sedikit demi sedikit cairan putih itu ke dalam selang infus Ivan yang menuju mulut. Ivan sempat tersedak sebentar ketika cairan putih itu masuk ke dalam kerongkonganya. Cepat-cepat sang suster mengambil penyedot dan menyedot cairan yang tak tertelan dari dalam mulut Ivan. Kimung yang penasaran segera mendekati suster,
“Suster boleh saya coba menyuapi kawan saya?”
Suster menatap Kimung, lalu mengangguk sambil tersenyum. Suster mengajari sedikit bagai mana cara memasukkan cairan nutrisi itu melalui infus. Kimung lalu mencobanya. Pelan-pelan cairan nutrisi itu masuk ke dalam kerongkongan Ivan dan terus masuk ke dalam tubuh Ivan. Setiap kucuran selalu Kimung iringi dengan doa semoga dengan makanan itu Ivan segera sembuh. Akhirnya, tak terasa satu gelas cairan nutrisi itu tandas. Hanya sisa sedikit lagi. Suster lalu datang lagi, membersihkan mulut dan wajah Ivan, memeriksa kondisi Ivan sebentar lalu memberikan obat, masih melalui infus yang sama. Setelah itu suster lalu membersihkan lagi wajah Ivan dan setelah semua beres, ia berpamitan untuk memeriksa pasien yang lain.
Setelah makan, Ivan tampak tenang. Namun, beberapa saat kemudian ia menjadi resah. Ia melenguh-lenguh dan kembali kejang-kejang. Kimung, Jimbo, dan Mery yang berada di samping Ivan mencoba menenangkan Ivan. Kimung menggenggam erat tangan Ivan sambil mengusap-usap rambut Ivan. sementara itu Jimbo memijiti kaki Ivan. Mery juga tetap berada di sampng Ivan, menenangkannya agar Ivan tabah dan sabar.
“Van, sabar, Van…”
“Van, istighfar…”
“Van…”
Tak berapa lama, kejang-kejang Ivan mulai mereda. Tangan Ivan yang tadi sangat keras menggenggam tangan Kimung perlahan mengendur. Tubunya berangsur relaks. Tangannya terkulai dan kepalanya terlihat santai, tidak setegang tadi. Dari mulutnya terdengar suara dengkuran. Ivan terlelap. Pelan-pelan Kimung melepaskan genggaman tangan Ivan yang semakin mengedur. Ya, jelas Ivan kini tertidur pulas. Dengkuran terdengar semakin keras ketika tangannya lepas dari genggaman Kimung. Semua yang ada di sana bernafas lega.
Lega melihat Ivan reda dari kejangnya yang begitu menyiksa dan bisa tidur dengan pulas, Kimung yakin Ivan akan segera membaik. Karena itu, ia pamitan kepada Jimbo dan Mery untuk kembali tempat kerjanya dengan janji nanti sore akan kembali menengok Ivan. Setelah berpamitan kepada Jimbo dan Mery, Kimung berpamitan juga kepada Ivan,
Nyét, hampura urang indit heula nya. Ngké soré rék ka dieu deui. Manéh tong macem-macem. Sing geura cageur. Tong poho ngadu’a terus…”[6] Kimung mengecup kening Ivan sebelum meninggalkan ruangan.
Jimbo mengiringi Kimung turun dari ruangan tempat Ivan dirawat, sekalian pergi ke apotek untuk membayar obat Ivan. Di gerbang Rumah Sakit Santo Yusuf, Kimung bertemu dengan Eben, Yayat, Madi, dan Opik yang juga akan menjenguk Ivan. Setelah menyapa dan beberapa saat menceritakan kondisi Ivan yang lumayan tenang dan kini sedang tertidur lelap, Kimung pamitan kepada mereka untuk kembali dulu ke tempat kerjanya dengan janji nanti sore akan kembali menemui Ivan.
Giliran Eben, Yayat, Madi, dan Opik yang mendatangi Ivan di ruangannya. Ketika mereka tiba, Ivan yang tadi tertidur lelap, tiba-tiba bangun dan kondisi lebih kritis lagi. Ia kembali kejang-kejang, bahkan dalam taraf yang semakin parah. Semua yang ada di situ sontak langsung memegangi sekujur tubuh Ivan agar kembali nyaman. Namun, kejang-kejang itu tak juga pergi. Ivan semakin menjadi hingga akhirnya alat deteksi jantung di sebelah rajang Ivan menunjukkan sebuah garis lurus dan satu nada tinggi yang mengkhawatirkan keluar dari mesin itu.
Tiiiiiiiiiiit…
Ivan meninggal!
***
Ivan dinyatakan meninggal, ketika tim dokter dan para perawat sekuat tenaga memberikan dukungan kehidupan ke dalam tubuhnya. Alat pacu jantung, alat-alat kedokteran, para dokter, para suster berseliweran mengguncang-guncang tubuh Ivan, bagaikan memanggil-manggilnya untuk kembali. Mery, Jimbo, Eben, Yayat, dan lain-lain mengawasi dari seberang ruangan dengan tegang. Mereka semua berdoa agar Ivan kembali. Agar Ivan sembuh seperti sedia kala.
Akhirnya, Ivan memang kembali lagi, namun kinerja otak Ivan dinyatakan sudah nol persen. Disfungsi otak itu mempengaruhi seluruh tubuhnya, terutama syaraf, sehingga tidak bekerja dengan baik. Karena itu, tubuh Ivan kejang-kejang terus. Selain itu, disfungsi otak berpengaruh pada kinerja organ lainnya. Hampir semua organ tubuh Ivan saat itu sudah diklaim menurunsampai titik yang paling mengkhawatirkan dan karenanya seluruh daya hidup Ivan harus ditunjang dengan mesin-mesin. Ia juga harus dipindahkan ke Unit gawat darurat (UGD) untuk memudahkan pemeriksaan dan pengawasannya. Ivan dinyatakan koma…”

Orang Miskin Tidak Boleh Sakit, Kebijakan Preventif, dan Upaya Bersama
Begitulah fragmen akhir hidup Ivan, sang rockstar, sosok yang mengangkat musik metal ke tatanan ranah pergaulan musik yang lebih tinggi melalui bandnya Burgerkill. Ivan yang saat itu bisa dikatakan homeless crew sejati, hidup menumpang di rumah Mery sang kekasih, baru saja merilis usaha untuk hidupnya, bisa dikatakan sebagai sosok warga yang belum mampu mencukupi hidupnya. Ketika ia jatuh sakit, ada beban psikologis baik dari diri Ivan mau pun dari lingkungan sekitarnya untuk membawa Ivan ke rumah sakit dan mendapat pelayanan kesehatan. Beban ini bersumber dari faktor biaya yang dikhawatirkan sangat tinggi dan tak mampu dibayar. Dan ketika akhirnya ia dibawa ke rumah sakit, ternyata ia tidak segera mendapatkan pelayanan yang layak.
Dan Ivan bukanlah satu-satunya yang mengalami nasib seperti itu. Media-media begitu sering mengabari kita kasus-kasus yang terkait dengan buruknya pelayanan yang berbau aroma diskriminasi oleh rumah sakit terhadap pasien dengan Asuransi Kesehatan Orang Miskin (Askeskin). LBH menyebutkan sepanjang tahun 2010 ada 413 keluhan yang datang berkaitan dengan pelayanan masalah kesehatan dan ini masih fenomena gunung es karena jumlah itu hanya secuil yang nampak dari ribuan kasus yang terjadi namun tak terkabarkan di Indonesia.
Praktek diskriminasi pelayanan kesehatan sangat erat kaitannya dengan kelas sosial suatu masyarakat. Determinasi kelas sosial didominasi oleh dua indikator, yaitu pekerjaan dan pendapatan. Seseorang yang menduduki pangkat tinggi dalam suatu pekerjaan secara tidak langsung akan mendapatkan pelayanan nomor satu. Sebaliknya seseorang dengan pekerjaan berpendapatan rendah atau bahkan yang tanpa pekerjaan akan mendapatkan pelayanan yang tidak layak. Hal ini bertentangan dengan prinsip non-diskriminasi yang tercantum dalam International Covenant on Civil and Political Right (ICCPR) pasal 2 ayat 1. Masyarakat miskin atau masyarakat kurang mampu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 903/Menkes/V/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2011 berhak mendapatkan Jaminan Sosial masyarakat (Jamkesmas) yang merupakan bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi fakir miskin dan masyarakat kurang mampu yang iurannya dibayarkan pemerintah. Dengan dilaksanakannya Jamkesmas, diharapkan tingkat kesehatan masyarakat akan meningkat.
Pada pelaksanaannya, sikap petugas pelayanan kesehatan di suatu rumah sakit tidak seperti itu. Perlakuan kasar hingga “korupsi” prosedur pemeriksaan kesehatan sering kali terjadi, terlebih pada proses pemberian obat dan perawatan tingkat lanjut. Pasien kurang mampu yang seharusnya ditangani cepat justru mendapat pelayanan yang lambat atau proses administrasi berbelit-belit. Belum lagi penanganan yang berkesan seadanya, sikap petugas yang tidak mengayomi pasian, pemberian obat generik yang termasuk obat kelas dua dan terbawah bagi pasien-pasien yang seharusnya mendapatkan obat yang sesuai dengan stadium sakit yang diderita. Hal ini jelas berdampak langsung pada kondisi kesehatan pasien di kemudian hari.
Keengganan melayani orang miskin yang sakit dan rentannya dokter salah mendiagnosis penyakit juga kerap mewarnai buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia terhadap orang miskin. Yang membuat miris, hal ini terjadi justru ketika pemerintah menganggarkan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin. Yang lebih miris lagi, ternyata arah pendulum politik ternyata sangat berpengaruh terhadap kebijakan pelayanan kesehatan bagi orang miskin ini. Para politikus cenderung lebih menganggarkan dana besar ke daerah berkantong pemilih besar dari pada ke kawasan yang memang membutuhkannya, sehingga pembangunan infrastruktur kesehatan serta komitmen pelayanan kesahatan bagi masyarakat awam cenderung terbengkalai.
Pemerintah sebenarnya sudah memiliki program Jaminan Kesehatan Masyarakat (kelanjutan dari program Jaring Pengaman Sosial di sektor kesehatan sejak tahun 1998). Namun karena pemerintah ingin mengejar target Millenium Development Goals (MDGs) maka implementasi program ini banyak mengalami masalah. Jaminan Persalinan (Jampersal) misalnya diberikan dengan tidak membedakan antara masyarakat kaya dan miskin sehingga diskriminasi pelayanan kesehatan terhadap orang miskin masih terus terjadi. Kecenderungan sistem pembayaran yang tidak profesional dan akuntabel juga memungkinkan terjadinya mismanajemen dan kebocoran anggaran sehingga banyak dana yang seharusnya dipergunakan rakyat miskin, menjadi menguap. Ini mengakibatkan terjadinya pengetatan sistem pembayaran klaim dan lambannya proses pencairan dana dari pusat ke unit pelayanan sehingga menimbulkan keengganan para pelaku kesehatan di lapangan melayani pasien miskin.
Ini juga diperparah dengan tidak akuratnya pendataan masyarakat yang dianggap berada di garis kemiskinan sehingga program Askeskin menjadi salah sasaran dan tersia-sia. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah regulasi pemerintah terutama menyangkut Undang-undang Praktek Kedokteran, Undang-undang Keperawatan, distribusi tenaga kesehatan, pendidikan tenaga kesehatan dan sebagainya, apakah sudah benar dan sinergis dengan kebijakan-kebijakan lain di bidang kesehatan atau justru menjadi sumber masalah dalam implementasi kebijakan kesehatan pro orang miskin.
Kompas dalam lamannya merilis beberapa poin penting yang patut diperhatikan dalam pelayanan kesehatan pro miskin, simaklah,
- Jasa medik tidak dipengaruhi oleh kelas pasien, tapi dibayarkan berdasarkan jumlah pasien yang ditangani tanpa memandang apakah pasien kelas VIP maupun biasa sama saja.
- Tidak ada obat yang tidak tersedia di RSU, termasuk obat-obat yang direkomendasikan oleh dokter-dokter spesialis. Ini alasan dokter sering memberikan resep luar, artinya pasien dibebani dengan pembelian obat yang tidak tersedia atau kehabisan stok obat di apotek RSU.
- Resep tidak diberikan kepada keluarga pasien untuk menebusnya atau mengambilnya, akan tetapi rumah sakit telah memiliki unit tersendiri yang menangani masalah resep dan apabila terjadi ketiadaan obat di apotek rumah sakit maka tanggungan dari manajemen rumah sakit untuk menggantikannya dengan jalan apapun misalkan saja pihak manajemen mengusahakan untuk mendapatkan obat tersebut di apotek luar rumah sakit. Hal ini juga untuk mengantisipasi adanya kemungkinan resep aneh diberikan pada pasien miskin karena ketika visite dokter biasanya tidak sampai detail mengetahui apakah ini pasien miskin atau pasien mampu.
- Remunerasi bagi tenaga kesehatan agar para pelaku kesehatan tidak berorientasi menambah penghasilan diluar dari apa yang sudah mereka dapatkan. Hal ini sepertinya tidak pernah di perhatikan oleh pemerintah pusat sejak reformasi, sementara di dunia pendidikan, di lembaga keuangan, lembaga penegak hukum sudah dilaksanakan sejak lama. Jadi janganlah heran apabila pelaku kesehatan kebanyakan hidup di dua alam yaitu PNS sebagai alam yang menjamin hari tua dengan pensiunnya, dan alam swasta yang menjanjikan penghasilan lebih untuk menunjang kemapanan dan hedonisme pada usia muda produktif.
Amanat dalam Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 juga nampaknya belum bisa melindungi rakyat dalam pelayanan kesehatan khususnya bagi warga miskin. Urban Poor Consortium (UPW) Indonesia menilai hal ini terjadi karena dua faktor. Yang pertama, pivatisasi pelayanan kesehatan yang menghapus atau mengurangi subsidi kepada rumah sakit pemerintah sehingga rumah sakit ini cenderung mengutamakan pasien yang memiliki uang. Faktor yang ke dua adalah kebijakan pelayanan kesehatan untuk rakyat miskin pada dasarnya tidak memenuhi keharusan sebagaimana digariskan dalam konstitusi. Alokasi dana dari anggaran belanja negara untuk pelayanan kesehatan juga harus menjadi skala prioritas dengan jumlah yang cukup untuk memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas.
Di tengah sengkarut masalah, sistem, teknis dan administrasi kesehatan di Indonesia, pemerintah seharusnya mengarahkan kebijakan preventif bagi pembangunan kesehatan rakyatnya. Ini berkaitan erat dengan kemudahan mendapatkan akses informasi mengenai kesehatan sosial masyarakat serta pendidikan kesehatan dari usia dini. Ini juga termasuk keamanan pangan untuk rakyat, di mana rakyat terjamin pangannya dari bebas dari zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Di titik ini hukum mencakup ranah pergulatan lain dalam penjaminan kesehatan masyarakat seperti kebijakan perdagangan, industri, dan pendidikan.
Selanjutnya, masyarakat juga harus terus proaktif dalam pemerataan pelayanan kesehatan ini. Menggantungkan segala hal kepada pemerintah bukanlah suatu sikap yang baik karena kesehatan masyarakat adalah masalah bersama yang harus ditangani bersama pula. Pengembangan sistem pengobatan tradisional murah berbasis kearifan tradisional, menyediakan sarana dan program-program olah raga untuk sesama warga, penyediaan fasilitas publik yang gratis dan terbuka untuk berolahraga, berkomunikasi, dan bersosialisasi antar mereka yang pada gilirannya akan menyumbangkan hal yang besar untuk peningkatan kualitas kesehatan fisik, psikologis, dan sosial warga. Ini bisa dilakukan jika pemerintah masih juga gagal menyediakan fasilitas publik yang memadai dan bisa diakses gratis oleh warga masyarakat. Menyediakan halaman kita yang luas untuk dipergunakan sebagai tempat beraktivitas seperti di pedesaan-pedesaan adalah hal kecil yang bisa dilakukan.
Menjaga lingkungan yang bersih serta mendidik anak-anak serta adik-adik mengenai masalah kesehatan sejak dini juga menjadi tugas seluruh warga negara. Pendidikan mengenai lingkungan hidup, kesehatan, dan pentingnya menjaga alam dan keselarasannya dengan manusia patut diberi perhatian lebih karena dari sinilah semua manusia berasal. Betapa bagus jika pendidikan yang dilakukan bersama-sama ini bersifat inklusif dan integrative. Inklusif dalam arti tidak dilakukan secara eksklusif hanya di tatanan sosial masyarakat tertentu tapi mencakup seluruh tatanan masyarakat. Sedangkan integratif bisa berarti dilakukan bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat dalam program yang mandiri dan murni tanpa kecenderungan kepentingan apa pun kecuali penyehatan generasi. Pendidikan berwawasan alam dan lingkungan hidup yang sehat juga akan menunjang program-program pembangunan berkelanjutan dan membina generasi muda untuk berpikir cerdas dan panjang dalam melakuakan berbagai hal.
Memberikan pekerjaan dan pendapatan, membukakan kesempatan kerja dan beraktualisasi di ranah ekonomi dan sosial kepada orang tak mampu, sekecil apa pun itu, merupakan upaya yang  bisa dilakukan bersama-sama. Tak hanya mendapatkan profit ekonomi, dengan bekerja ada pelepasan beban psikologis yang pada gilirannya akan menunjang kesehatan jiwa. Dengan bekerja, orang juga terlatih untuk terus berpikir mengembangkan dirinya dan ini menunjang serta member motivasi seseorang untuk senantiasa sehat walafiat.
Hal lainnya adalah secara aktif berpartisipasi dalam proses politik dalam kehidupan sosial. Warga harus yakin bahwa warga akan memilih sosok-sosok pemimpin yang mampu memperbaiki kondisi diskriminasi dan buruknya pelayanan kesehatan warga. Ini mungkin sangat utopia mengingat untuk memilih poitisi yang baik dan benar-benar memperhatikan hak warga adalah bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun yang paling penting dari sini adalah satu pelajaran bahwa warga juga patut, berhak, dan wajib aktif ikut serta dalam menentukan kebijakan publik.
Akhirnya, jika kita berbicara mengenai hak warga, maka berujung juga ke hati nurani. Dengan iklim sosial dan pola komunikasi yang intens di antara warga diharapkan terjalin kedekatan individu dengan lingkungan sosialnya. Ini akan membangun jiwa yang bersih dan sehat sehingga akan berpengaruh secara fisik kepada individu-individu yang menjalaninya.
Dan kesehatan yang paling utama, memang terbagun dari perasaan peduli terhadap sesama.
Wallohualam…
I miss you brother Ivan Scumbag…
Penulis adalah guru dan musisi

Bahan bacaan :
Kimung. 2006. Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Bandung : Minor Books
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/04/08/awas-hati-hati-orang-miskin-tidak-boleh-sakit/
http://okezone.com/read/2011/03/15/338/43/diskriminasi-kesehatan-langgar-hak-asasi-rakyat/
http://www.suarantb.com/2012/05/10/Sosial/detil%.html

[1] “Van, ini aku, Kimung…”
[2] “Si Ivan kejang-kejang dari tadi malem. Jam dua dini hari dibawa ke sini…”
[3] “Kenapa tangannya diikat?”
[4] “Kemaren si Ivan ngamuk. Ga mau diinfus, as infusan udah dipasang langsung dicabut lagi sampe tangannya berdarah-darah.”
[5] “Van kenapa kamu? Sabar ya…”
[6] “Nyet aku cabut dulu ya. Ntar sore balik lagi. Kamu jangan maca-macam. Cepet sembuh. Jangan lupa berdoa terus…”

Minggu, 13 Mei 2012

Sepanjang Jalanan Bandung Berisik

OLEH KIMUNG

Keberadaan Bandung Berisik dapat ditelusuri dari komitmen salah satu sayap pergerakan Ujungberung Rebels tahun 1995, Extreme Noise Grinding (ENG).Didirikan 31 Desember 1994, ENG berkomitmen membangun tiga hal dasar untuk kemajuan musik metal Ujungberung : kru, media, dan pergelaran musik sendiri. Kru yang dibentuk dinamakan Homeless Crew, terdiri dari seluruh musisi Ujungberung era pertengahan 1990an yang bersama-sama saling belajar memahami penataan suara dan organsasi panggung untuk mendukung band kawan-kawan mereka. Media sendiri yang digarap untuk menyebarkan informasi mengenai metal Ujungberung dan Bandung adalah zine Revolution Programs atau Revograms.Zine ini terbit pertama kali Maret 1995 dan digadang-gadang sebagai zine pertama di Indonesia.Sementara itu, pergelaran musik sendiri yang digarap Homeless Crew adalah Bandung Berisik. Sejak awal, ENG dan Homeelss Crew setuju jika band-band yang layak tampil di Bandung Berisik adalah band-band yang sudah memiliki lagu-lagu ciptaan sendiri dan merekam lagu-lagu tersebut ke dalam sebuah album, minimal demo. Ini ditekankan sebagai upaya untuk mendidik mental dan profesionalitas bermusik yang kuat di kalangan musisi metal Ujungberung. Dalam komitmen ini, Bandung Berisik pertama kemudian diberi tema “Bandung Berisik Demo Tour Ujungberung”.

Bandung Berisik Demo Tour Ujungberung, Lapangan Kaum Kidul, 23 September 1995
Tahun 1995 ketika Bandung Berisik pertama digelar, Ujungberung sedang dilanda gairah bermusik yang sagat hebat.Puluhan band dengan berbagai hasrat musik lahir di sini.Walau didominasi death metal, diam-diam band-band punk, hardcore, pop, bahkan hiphop muncul larut di Ujungberung. Keragaman hasrat musik ini terus menjadi semangat dalam mengembangkan komunitas, termasuk dalam penggarapan Homeless Crew, zine Revograms, dan tentu saja pergelaran Bandung Berisik.
Rapat-rapat kecil mulai digelar sejak pertengahan 1995 di kediaman Ivan Scumbag yang juga merupakan markas ENG. Satu kendala utama pergelaran adalah minimnya dana produksi pertunjukan. Beberapa solusi dibicarakan, namun selalu menemui jalan buntu. Saat itu, dalam penggarapan seuah pergelaran, dana produksi biasanya dikumpulkan dari dana talangan anggota komunitas atau kelompok kerja yang menggarap acara. Namun ini tentu sebuah kedala besar mengingat anak-anak Ujngberung bukanlah tipikal bocah-bocah kaya yang bisa dengan gampang menggelontorkan uang.Jangankan untuk patungan menggelar acara, untuk biaya sehari-hari saja mereka selalu kelimpungan.
Titik terang datang bulan Agustus 1995 dari Yayat, Dani Pieces, Agus Sacrilegious, Yayan, beberapa kawan Kaum Kidul, Kang Soleh Koeple, serta Kang Memet Syaf, sang pemilik Studio Palapa, studio legendaris tempat latihan anak-anak Ujungberung. Ketika itu, kawan-kawang Kaum Kidul yang memang aktif di organisasi pemuda Karang Taruna akan menggelar acara agustusan tanggal 23 September 1995. Acara ini akan digelar malam hari, namun Kang Memet mengungkapkan jika tata suara sudah dipasang sejak pagi. Mendengar keterangan itu, Dinan mengusulkan bagaimana jika pagi hingga sore harinya, tata suara acara agustusan ini digunakan untuk bandung Berisik dan dilanjutkan oleh hiburan puncak agustusan Kaum Kidul di malam harinya. Para pengurus Karang Taruna dan juga Kang Memet dari Studio Palapa selaku sponsor pergelaran spontan menyambut ide ini.
Tema pergelaran lalu disepakati “Bandung Berisik 1 Demo Tour” atau BB Ikarena acara ini ditata sedemikian rupa akan direkam secara live sebagai upaya perekaman band-band Ujungberung serta kawan-kawan lain di Bandung. Dana operasional untuk membiayai acara sepenuhnya memakai uang kas anggota ENG yang jumlahnya sangat terbatas sementara band yang disepakati manggung di Bandung Berisik I adalah Sacrilegious, Jasad, Infamy, Sonic Torment mewakili Ujungberung; Behead, Full Of Hate, dan Insanity mewakili komunitas musik Taman Lalu Lintas, Fatal Death mewakili Grind Ultimatum Cihampelas, serta Morbus Corpse dan Tympanic Membrane mewakili Bandung Lunatic Underground.Semua band yang manggung di BB 1 wajib membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri.
Publikasi BB I melalui pamphlet fotokopian yang disebar di kawasan nongkrong komunitas UG dan sekolah-sekolah di seputaran Kota Bandung.Publikasi juga dibantu oleh band-band yang berinisiatif membuat pamflet sendiri.Pembuatan gambar latar panggung acara BB1 ukuran 3 x 3 meter masih menggunakan media kain kanvas, cat tembok dan kayu aneka warna dan kuas.Yang menggambar adalah Dinan, dibantu Ivan, Kimung, dan anak-anak Ujungberung lainnya.ID card panitia diperbanyak dengan sistem repro menggunakan kamera Dinan dan dicetak di Palapa Photo Studio.Semalam suntuk jajaran panitia BB1 berkutat menyelesaikan semua pekerjaannya, dari mulai mengeset panggung dan tata suara yang berasal dari Studio Palapa, hingga mendekorasi panggung.
Acara BB1 digelar Sabtu, 23 September 1995.Sejak jam 10 pagi penonton mulai memenuhi lahan kosong seluas 100 m yang biasa digunakan Kimung untuk melatih anak-anak kecil Kaum Kidul bermain bola di belakang toko Kalimas Ujungberung. Lahan itu menjelang siang semakin sesak oleh anak muda yang didominasi pakaian hitam, mengepung panggung sederhana tanpa atap, berlatar dekorasi dengan tulisan “Bandung Berisik 1 Demo Tour”.
Satu demi satu band mulai tampil dengan maksimal. Hingga hari ini kenangan akan penampilan band-band ini tak akan terlupakan. Semua tampil maksimal dengan karakter sendiri-sendiri di tengah sekitar 700an penonton yang hadir.Sacrilegious misalnya yang menyembelih kelinci dan meminum darahnya di panggung sebelum menggeber lagu-lagunya.Atau Infamy dengan vokalis Ivan Scumbag yang tampil super brutal.Atau Sonic Torment yang provokatif dengan lirik-lirik berbahasa Sunda.Atau Yadi behom yang keningnya bercucuran darah setelah terhantam aksi brutal Yayat dalam bermain gitar di Jasad. Atau Insanity yang menjadi band pamungkas sekaligus band yang menjadi panutan anak-anak Ujungberung.
BB I adalah wujud komitmen anak-anak Ujungberung dalam mengembangkan komunitasnya. Hingga saat itu, pergelaran ini dirasakan penting untuk digelar kembali karena secara total berhasil menjadi wahana yang menampung hasrat bermusik anak-anak metal Ujungberung dan Bandung.

Bandung Berisik II, GOR Saparua, 20 Juli 1997
Era 1996-1997 komunitas musik bawahtanah Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan do it yourself mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk aktivitas. Dari mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan konsep distribusi dan promosinya, pembuatan media informasi berupa zine hingga kepada penggarapan acara musik yang mengandalkan semangat kolektivisme.Industri musik besar pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar.Pasca meledaknya grup Slank dengan album Generasi Biru-nya yang melahirkan komunitas Slanker, otomatis pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa.Media-media besar juga mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas musik bawahtanah dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak besar yang bertarget penjualan anak muda pada saat itu membahas fenomena pergerakan musik bawahtanah terutama yang terjadi di Kota Bandung.
Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik bawahtanah pada saat itu yang seolah-olah dirancang menjadi “trend musik masa kini”. Musik bawahtanah pun akhirnya meledak dan mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia utamanya di Pulau Jawa, hingga lahirlah berbagai komunitas musik bawahtanah di Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya, dan Medan. Beberapa pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala kecil.Di Kota Bandung sebagai barometer musik bawahtanah, setiap minggu GOR Saparua menjadi langganan acara-acara musik yang diorganisir oleh beberapa komunitas di Kota Bandung. GOR Saparua selalu dipenuhi oleh massa musik bawahtanah yang rata-rata berusia belia yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang, dan kota lainnya.
Komunitas Ujungberung sendiri, pasca BB I mengalami kemajuan yang signifikan.Melihat begitu antusias publik terhadap musik bawahtanah, Homeless Crew memutuskan untuk menggelar kembali Bandung Berisik.

Syahdan, suatu sore di bulan Maret 1997, di pinggir jalan raya Ujungberung digelar rapat Bandung Berisik II (BB II). Ada beberapa agenda yang dibahas pada rapat perdana tersebut, yaitu pendanaan yang dilakukan melalui patungan anggota komunitas Ujungberung Rebels, dana investasi dari Mas Harry HR Production, penyusunan kepanitiaan yang berjumlah enam puluh orang, penetapan ketua panitia oleh Dinan dan wakilnya Yayat, serta komitmen keuntungan BB II yang akan digunakan sebagai biaya produksi kompilasi band-band Ujungberung yang rencananya dirangkum dalam album kompilasi Ujungberung Rebels.Kelomok kerja BB II lalu menamakan diri Bungur Enterprise.Ditetapkan pula dua puluh lima band dari berbagai hasrat musik yang akan tampil di BB II, yaitu Puppen, Jasad, Turtles Jr, Retribeauty (Surabaya), Trauma (Jakarta), Bedebah, Disinherit, Blind To See, The Bollocks, Runtah, Anti Septic (Jakarta), Naked Truth, Noise Damage, Hell Gods, Burgerkill, Rotten Corpse, Step Forward (Jakarta), Sonic Torment, Total Riot, Embalmed, Jeruji, Infamy, Forgotten, Morbus Corpse, dan Balcony.BB II digelar di GOR Saparua tanggal 20 Juli 1997.
Strategi publikasi masih sama dengan BB I dengan kualitas poster yang kini jauh lebih baik, dicetak oleh HR Production. BB II juga memberikan keleluasaan kepada band-band yang tampil untuk membuat media publikasi mereka sendiri.Selain membantu publikasi acara, aktivitas ini juga membina rasa memiliki Bandung Berisik di antara band-band yang tampil.Revograms juga turut membantu publikasi BB II melalu penerbitan Revograms III dan IV oleh Homeless Crew.Akhirnya BB II sukses digelar.Imbas dari pergelaran ini sangat nyata, yaitu dengan rilisnya kompilasi Ujungberung Rebels yang kemudian berganti judul menjadi Independen Rebels (Independen Records, 1998). Semenjak rilisnya kompilasi ini, komunitas Ujungberung yang saat itu disebut sebagai komuniats ENG atau Homeless Crew mulai dikenal juga sebagai komunitas musik metal Ujungberung Rebels.
Bandung Berisik III, Gor Saparua, 7 April 2002 
Era akhir 1990an dan awal 2000an pergelaran-pergelaran musik di Bandung semakin ramai, namun sayang tidak diiringi oleh pengembangan kualitas pertunjukan.Panggung secara kualitas tidak dijaga, baik dalam manajemen panggung, maupun kualitas tata suara yang terkesan disamaratakan, yang akibatnya, performa band-band secara umum di Bandung ikut turun.Kualitas pelayanan pada penonton yang hanya disuguhi penampilan band yang biasa saja, dekorasi panggung yang seadanya dan faktor kenyamanan dan keamanan yang tidak diperhatikan secara serius juga sangat tidak mendidik komunitas.Tipikal pergelaran musik juga masih mengutamakan kuantitas daripada kualitas band.Rata-rata acara menampilkan band diatas 15 band bahkan sampai 30 band hingga acara menjadi monoton dan membosankan.
Karena itulah, Ujungberung Rebels mengikrarkan komitmen untuk menggelar Bandung Berisik yang sama sekali beda dengan pergelaran secara umum. Munculnya generasi muda musik bawahtanah juga meneguhkan komitmen akan kesadaran dokumentasi di kalangan Ujungberung Rebels. Dokumentasi yang tak hanya disimpan tapi juga ditamplkan. Karena itulah, BB III kemudian dipersiapkans ebagai pergelaran sekaligus pemutaran dokumentasi band-band  yang tampil di acara ini. BB III juga menampilkan sedikit band, hanya dua belas band yang tampil sehingga dengan demikian, tiap band mampu tampil secara maksimal. Konsep panggungnya dibuat menyerupai ring tarung bebas, lengkap dengan ram kawat yang memagari panggung. Suntikan dana, terutama datang dari trio Mbie, Firman Napi Records, dan Arin.
Untuk film dokumenter, Addy Gembel mempercayakan penggarapannya kepada Lela dan kawan-kawan.Film diputar selama pergelaran berlangsung.Acara berjalan lancar dan semakin siang, penonton semakin banyak memadati.Data terakhir jumlah penonton yang hadir pada saat itu mencapai 10.000 penonton.Padahal kapasitas GOR Saparua hanya dapat menampung 5000 penonton.Terjadi penumpukan penonton di luar GOR Saparua yang berakibat timbulnya berbagai macam kerawanan.Sempat terjadi aksi keributan yang melibatkan penonton yang memaksa masuk dengan cara menjebol pintu samping dengan barisan keamanan Baby Riot War Machine Squad.Beberapa orang dari pihak Baby Riot War Machine Squad bahkan mengalami luka-luka akibat aksi pengeroyokan dan pelemparan yang dilakukan oleh penonton.
Walau secara keseluruhan pertujukan di panggung lancar, namun tak urung akibat sesaknya penonton dalam GOR Saparua, mengakibatkan banyak penonton yang pingsan selama jalannya acara.Data penonton yang pingsan mencapai 200 orang sepanjang pertunjukan, ditambah lagi banyaknya fenomena penonton yang kerasukan atau kesurupan.Satu orang penonton mengalami cedera serius hingga harus dievakuasi ke rumah sakit. Acara ini juga menjadi panggung terakhir bagi band Sacrilegious sebelum mereka menyatakan diri bubar.
Bandung Berisik III mendulang sukses. Namun demikian ada beberapa poin penting yang ditandai anak-anak Ujungberung Rebels sebagai kendala-kendala utama yang menghambat proses produksi Bandung Berisik III. Berbelitnya jalur birokrasi perijinan GOR Saparua akibat sengketa kepemilikan lahan menjadi faktor utama.Panitia dipingpong antara Pemkot, Pemrov dan tentara.Aksi percaloan tiket dan premanisme juga tak kalah mengganggu panitia dalam mengatur arus penonton.Selama acara berlangsung terasa betul jika kapasitas dan keamanan GOR Saparua yang sudah tidak layak lagi dipakai sebagai gedung pertunjukan musik.Namun demikian, di balik semua kendala tersebut, Bandung Berisik III mendulang sukses besar.Dua hal yang dijadikan parameter adalah dapat dikembalikannya uang para investor sesuai perjanjian dan berakhirnya acara dengan aman dan tidak terjadi hal-hal yang menimbulkan kerawanan.

Bandung Berisik IV “Ka Surga!” Open Air Rock Festival 10 Agustus 2003 
Pasca acara Bandung Berisik 3 terjadi banyak perubahan yang signifikan di peta komunitas lokal terutama komunitas musik ekstrim di daerah Bandung Timur. Daerah seperti Cicadas, Cicaheum, Sindanglaya, Cibiru, Cileunyi, Jatinangor, Rancaekek, Cicalengka dan Tanjungsari mulai berani menggelar acara musik ekstrim dengan konsep yang sama yaitu menampilkan potensi musik dari komunitas lokal tersebut. Mulai dari level acara Agustus-an hingga acara yang memang spesifik untuk jenis musik tertentu.Bahkan dampaknya mulai tampak dikota-kota lainnya disekitar Jawa Barat. Nama-nama acara pun dibuat untuk menunjukan identitas kota asal. Misalnya Sukabumi Bergetar, Cianjur Rusuh dan lain-lain.
Perkembangan musik ekstrim yang begitu pesat di wilayah Bandung timur dan kota-kota di sekitar Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya pada masa itu menginspirasi kembali komunitas Ujungberung Rebels untuk menggelar kembali acara Bandung Berisik. Kali ini konsepnya adalah tur.Pembicaraan ke arah tersebut mulai sering dilakukan. Konsep awalnya adalah membawa tur tujuh band asal Ujungberung dan dikolaborasikan dengan tiga band dari komunitas lokal di kota yang disinggahi. Rencana band yang akan dibawa tur tersebut adalah Burgerkill, Jeruji, Forgotten, Jasad, Disinfected, The Cruels dan Dinning Out. Sembilan kota di wilayah Jawa Barat menjadi tujuan BB IV. Agenda tur yang sudah tercatat September 2002 adalah 1 September 2002 di Sumedang, 8 September 2002 di Cianjur, 15 September 2002 di Garut, 22 September 2002 di Tasikmalaya, dan 29 September 2002 di Cirebon.Adapun di bulan Oktober 2002, tercatat 6 Oktober 2002 di Sukabumi, 13 Oktober 2002 di Purwakarta, 20 Oktober 2002 di Bekasi, dan 27 Oktober 2002 di Bogor. Naun masalah dana menjadi kendala utama yang membuat BB IV urung digelar sesuai jadwal.
Awal 2003 BB IV kembali akan digelar dengan konseptor Addy gembel, Man Jasad, dan Mbie. BB IV akan digelar lebih sederhana di pabrik roti kawasan Aracamanik, Ujungberung. Ide ini tentu saja ditentang keras oleh Yayat.Dalam pandangan Yayat, BB sudah berjalan sedemikian epic dan harus dipertahankan bahkan ditambahkan kualitasnya.Ia sangat tidak setuju jika BB digelar dalam kondisi seadanya. BB IV akhirnya disepakati akan digelar dalam skup pergelaran yang semakin besar, bertempat di Stadion Persib tanggal 10 Agustus 2003 bertepatan dengan acara Soundrenalin. Yayat menegaskan ia tak peduli bentrok acara dengan Soundrenalin karena ia sangat yakin BB akan mendapat respon lebih massif. Pergelaran ini sudah megakar di anak-anak music metal dan semua pasti akan datang ke BB daripada ke Soundrenalin.
Untuk mengejar kualitas BB IV, kepanitiaan dirobah dengan menetapkan Andris sebagai ketua dan Addy gembel sebagai wakil. Selain itu, pencarian dana melalui investor dan sponsor dilakukan. Kerja sama juga terus dibina ke pengurus Persib dan Viking Bandung Heru Joko, serta kepada Pemerintah Kota Bandung, saat itu walikotanya Aa Tarmana untuk izin penggunaan Stadion Persib. Band-band yang tampil di BB IV adalah Burgerkill, Balcony, Infamy, Jeruji, Turtles Jr, Lumpur, Forgotten, Dinning Out, Virus, Jasad, Geboren, Rocket Rockers, Crusade, The Cruels, dan Siksa Kubur. Panggungnya aan dibangun 45 X 20 m, dengan dua panggung dram di kiri dan kanan panggung, tata suara 100.000 watt, 100 meter barikade, dua buah genset, serta sepasukan baby Riot War Machine Assault, Tamara Fitness, Viking Persib, dan Yon Zipur Ujungberung sebagai kru keamanan.Promo dilakukan semakin massif dengan pembuatan iklan khusus untuk tayang di radio, pamflet yang dicetak, hingga pembuatan pamflet sendiri oleh band yang tampil.Sementara itu Madi dan Irvine bertindak sebagai MC acara.
 BB IV mulai digelar tepat jam 11 siang, menampung 25 ribu audiens yang datang dari Medan, Sulawesi, Kalimantan, beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Jakarta, dan tentu saja Jawa Barat. Berbagai attitude khas penonton dari berbagai hasrat musik diperlihatkan di BB IV, yang jelas energy audiens bagai tak habis untuk pogo, headbang, slamdance, moshing, hingga akhirnya acara berakhir jam 22.15 ditutup oleh band Virus.
Dua hari setelah acara selesai dilakukan evaluasi.Semua kewajiban panitia pada investor telah dilaksanakan tepat waktu dengan nilaisesuai kesepakatan. Setelah diaudit akhirnya nilai keuntungan bersih BB IV adalah Rp.16.000,00. Uang itu oleh Andris sang ketua dibelikan Garpit sebungkus dan kopi dua gelas untuk semua jajaran panitia yang hadir. Kembalian belanjanyanya diinfakkan ke kotak amal masjid.

Bandung Berisik V Rebel Meets Rebel, 11 Juni 2011
Setelah BB IV, anak-anak Ujungberung Rebels tenggelam dalam kesibukan masing-masing band. Beberapa kali rencana gelaran BB dibicarakan di lingkaran dalam Ujungberung Rebels, namun selalu mentah.Pasca tragedy AACC 9 Februari 2008, bahkan pernah dibentuk dua kali kepanitiaan BB.Yang pertama dipegang oleh duet Yayat – Jemi dan yang ke dua dipegang oleh duet Bebi – Addy Gembel.Kedua kepanitiaan ini juga gagal mengeksekusi pergelaran BB.Selain kesibukan yang luar biasa dari masing-masing tokoh Ujungberung Rebels, tuntutan perbaikan kualitas dan kuantitas BB juga menjadi hal yang terus dikejar.
Titik terang BB mulai terlihat ketika Gio—keponakan Kang Memet Studio Palapa Ujungberung—mengajukan diri untuk meggarap BB melalui event organizernya, Atap Promotion, awal tahun 2011. Ia datang dengan segenap konsep pertunjukan spektakuler, menyanggupi memenuhi beberapa konsep lain yang diajukan Ujungberung Rebels, dan berkomitmen penuh mengangkat BB ke taraf pergaulan sosial yang lebih luas di Kota Bandung dan juga Indonesia. Dengan visi yang luas serta rencana pendanaan yang matang, BB V akhirnya mulai dijalankan oleh Ujungberung Rebels dan Atap Promotion.
BB V konsepnya adalah konser terbuka dengan dukungan panggung besar, tata cahaya hebat, tata suara 250.000 watt, serta konsep pertunjukan yang layak diterapkan berdasarkan standar bisnis pertunjukan. Ini merangkum penataan acara yang sengaja disusun dramatis dari awal, pertengahan pertunjukan, hingga klimaks yang ditata sespektakuler mungkin. Band yang mengemban beban berat memungkas klimaks pergelaran ini adalah Burgerkill yang saat itu harus diakui masih tetap terdepan dalam kemajuan musik metal Indonesia. BB V menampilkan Burgerkill, Jasad, Forgotten, Seringai, Disinfected, Bleeding Corpse, Outright, Komunal, Rosemary, Jeruji, Down for Life, Beside, Tcukimay, Critical Defacement, Turbidity, Infamy, Parau, Godless Symptoms, Screaming Factor, Gugat, dan Cranial Incisored. Dalam menjaga ritme pertunjukan dan kenyamanan audiens, panitia menyusun berbagai aturan serta mengeluarkan buklet panduan pertunjukan bagi audiens.
Yang patut dicatat juga adalah bahwa BB V melanjutkan tradisi yang sudah dimulai di BB IV, di mana Ujungberung Rebels—dikawal oleh Atap Promotion—terus menjaga kerja sama dengan berbagai pihak dalam penyelenggarapaannya. Dalam rangkaian praproduksi BB, pertemuan dengan pihak aparat pemerintahan, dewan legislatif, kepolisian, serta tentara terus dibina.
30.000 audiens lebih tercatat datang membeli tiket BB yang digelar di Brigif Cimahi 11 Juni 2011 itu. Esoknya, BB mendominasi headline media lokal dan nasional dan selama dua pekan kemudian terus perbincangan media. Hingga kini legasi mengenai Bandung Berisik sebagai pergelaran musik paling legendaris terus mengemuka.

Bandung Berisik VI Maximum Aggression, 18 & 19 Mei 2012
Selepas Bandung Berisik V, Ujungberung Rebels dan Atap Promotion segera mempersiapkan pergelaran Bandung Berisik VI. Sepajang 2011 dan awal 2012 berbagai persiapan terus dilakukan termasuk perekrutan para pekerja yang menggarap BB IV.1000 orang pekerja lebih telah direkrut, dipersiapkan untuk menggarap BB VI.Kru terus dipersiapkan dengan mengambil spirit gairah berkarya Ujungberung Rebels.Kebanyakan diambil dari generasi muda untuk mempertajam Bandung Berisik sebagai momen regenerasi dan perbaikan kualitas komunitas.
Maximum Aggression dipilih menjadi tema besar BB VI mengingat semakin luasnya ranah pergaulan dan kompleksitas pengembangan dinamika komunitas musik yang lebih inklusif dan integratif.Karena itu semangat pergelaran yang kental dengan nuansa keragaman terus didorong untuk mencapai tujuan penghargaan setinggi-tingginya terhadap musik dan hasrat yang menjebol hasrat perbedaan yang selama ini seakan di-eksis-kan di rak-rak penjualan CD.
BB VI digelar tanggal 18 dan 19 Mei 2012 di Lapangan Udara Sulaiman Bandung.Perkiraan audiens yang akan hadir mencapai lebih dari 30.000, didominasi oleh anak-anak muda yang—sekali lagi—akan semakin mempertajam fungsi pergelaran sebagai media pembelajaran yang paling efektif untuk pemberdayaan potensi komunitas dan regenerasi demi hari esok yang lebih baik.
 
Penulis adalah guru dan musisi